Puisi-puisi Rabindranath Tagore



Doa

Memberkati hati kecil ini, jiwa putih ini
telah memenangkan ciuman surga bagi bumi kita.
Dia mencintai cahaya matahari, dia mencintai
dan melihatnya wajah ibu.
Dia tidak belajar untuk membenci debu,
dan berminat setelah emas.
Genggam dia untuk jantungmu
dan memberkatinya.
Dia telah datang ke negeri ini
menempuh seratus jalan lintas.

Aku tidak tahu bagaimana dia memilihmu
dari orang-orang yang datang ke pintumu,
dan memegang tanganmu
demi meminta jalan.

Ia akan mengikutimu, tertawa dan berbicara,
dan tak ada keraguan dalam hatinya.
Jauhkan kepercayaannya, memimpin lurus
dan memberkatinya. Meletakkan tangannya
di kepalanya, dan berdoa
bahwa meskipun gelombang di bawah mengancam,
namun napas dari atas dapat datang
dan mengisi layar, dan menghembusnya
ke surga perdamaian. Lupakan dia jika kau tidak tergesa,
dan biarkan dia datang ke hati
dan memberkati.


Izinkan

Izinkan aku berdoa bukan agar terhindar
dari bahaya, melainkan agar aku
tiada takut menghadapinya.
Izinkan aku memohon bukan agar
penderitaanku hilang melainkan agar hatiku
teguh menghadapinya,
Izinkan aku tidak mencari sekutu
dalam medan perjuangan hidupku
melainkan memperoleh kekuatanku sendiri.
Izinkan aku tidak mengidamkan
dalam ketakutan dan kegelisahan
untuk diselamatkan, melainkan harapan
dan kesabaran untuk memenangkan
kebebasanku.  Berkati aku, sehingga aku
tidak menjadi pengecut
dengan merasakan kemurahan-Mu
dalam keberhasilanku semata,
melainkan biarkan aku menemukan
genggaman tangan-Mu dalam kegagalanku.

Ihwal Antologi Puisi Candu Rindu



Oleh Sulaiman Djaya*
--

Sajak-sajak yang terkumpul dalam buku antologi Candu Rindu menurut saya pertama-tama mestilah dipahami sebagai sejumlah karya dalam proses pencarian untuk menjadi, baik dari segi isi atau pun bentuk. Yang mungkin juga dapat mengalami kematangan atau malah mengalami kemunduran di kemudian hari. Tergantung kepada ketekunan dan komitmen para penyairnya dalam proses pencarian isi dan bentuk untuk menjadi tersebut. Karena bagaimana pun, proses menulis sebagai ikhtiar estetik sekaligus kerja intelektual membutuhkan pembelajaran dan pergulatan seorang penulisnya. Proses tersebut meniscayakan persentuhan dengan teks-teks dan konteks-konteks yang lainnya, dengan pengalaman, pergaulan, dan pembacaan ulang atas karya-karya para penulis sebelumnya.  Dalam kadar inilah dibutuhkan kerendahan hati seorang penulis atau pun penyair untuk membaca dan belajar dari karya-karya sebelumnya demi menghindari pengulangan yang tidak perlu sekaligus untuk melengkapi kekurangan karya-karya para pendahulunya dan mencari kemungkinan-kemungkinan baru dalam proses penulisan dan penuturan.

Dengan kerendahan hati dan pembelajaran tersebut, seorang penyair tidak akan mudah untuk berpuas diri dengan apa yang telah dicapainya. Melainkan selalu melakukan otokritik, membaca kembali, dan bercermin kepada karya-karya yang telah ditulisnya ketika ia hendak kembali menulis. Karena bagaimana pun mestilah diakui dan diterima dengan lapang dada bahwa ikhtiar berkarya dan menulis tak lain adalah proses itu sendiri.

Dengan demikian, terbitnya buku antologi Candu Rindu dapatlah dimengerti sebagai langkah awal dalam ikhtiar proses berkarya dan menulis sebagai kerja estetik dan intelektual yang dapat dijadikan cermin untuk proses berkarya dan menulis di kemudian hari. Meskipun begitu, bukan berarti sajak-sajak yang terkumpul dalam buku antologi Candu Rindu tak memiliki benih-benih karya berkualitas. Hanya saja sebagai sebuah proses, Candu Rindu bukanlah akhir dari komitmen kerja estetik dan intelektual untuk menjadi. Lebih lanjut perlulah kita baca, tentu saja dalam kadarnya sebagai karya awal dari sebuah proses pembelajaran kerja estetik dan intelektual, sejauh mana sajak-sajak yang terkumpul dalam buku antologi Candu Rindu dapat berbicara tentang sebuah dunia atau pun peristiwa yang dituturkan dan diceritakannya.

Secara umum, sajak-sajak yang terkumpul dalam buku antologi Candu Rindu berkisar tentang penuturan pengalaman pribadi para penyairnya dalam hubungannya dengan dirinya sendiri. Dan kalau pun ada beberapa sajak yang berbicara dan mengambil isu sosial-politik, pun masih dituturkan dan disimbolkan dalam kadar sekedarnya saja. Karena itu menurut saya, penilaian atas Candu Rindu bukanlah dengan mencari otentisitas dan keunikan dalam artiannya yang ketat. Tapi dengan melihat sejauh mana fantasi, imajinasi, dan suasana hati para penyairnya membangun atau pun menceritakan sebuah dunia dan peristiwa yang masih dalam kadar sekedarnya tersebut. Entah sebagai penghiburan, pengalihan, atau pun penyaduran dari dan atas kenyataan yang dihidupi dan dialaminya secara individual.

Dan tentu juga haruslah diakui, sebelum dunia itu dibangun dan diceritakan-dituturkan, disusun, dan dimaknakan secara lain dan berbeda, ada proses peminjaman dan pengutipan, meski dalam kadar sekedarnya saja, dari sejumlah karya para penulis dan para penyair yang dibaca oleh para penyair yang sajak-sajaknya terkumpul dalam buku antologi Candu Rindu, sebelum mereka sendiri memperbaikinya atau malah menguranginya. Entah kemudian hasilnya adalah keunikan dan kebaruan, atau malah hanya menjadi penyair epigonal yang tak mampu menciptakan dunia dan keunikannya sendiri.

Disadari atau pun tidak, disengaja atau pun tanpa disengaja, sebuah karya ditulis dari dan atas karya-karya sebelumnya. Sebuah dunia dibangun dari dan atas dunia yang lainnya sebagai sebuah pertukaran, peminjaman, dan pengutipan. Dengan demikian, mengukur orisinalitas sebuah karya bukan pada ada atau tidak adanya pengaruh dari karya-karya sebelumnya, tapi sejauh mana karya tersebut menceritakan dunianya sendiri secara berbeda dengan cara dan gaya yang mungkin baru atau pun konvensional. Sebab, jika sebuah karya adalah sebuah dunia yang dibangun dan dimilikinya, penilaiannya tertuju pada sejauh mana dunia yang dibangun dan dimilikinya tersebut menceritakan sesuatu dengan keunikannya. Dan di mana letak dunia yang dibangun dan diceritakannya tersebut berada. Dan jika karya tersebut adalah sebuah sajak, maka sajak tersebut ingin bercerita tentang apa dan bagaimana ia menceritakan dunia yang dibangun dan dimilikinya.  

Dalam kerangka tersebut, saya membaca sajak-sajak yang terkumpul dalam buku antologi Candu Rindu adalah sejumlah karya “calon penyair” yang akan menjadi “penyair” jika mereka tetap konsisten untuk menulis dan berkarya untuk waktu-waktu yang akan datang. Sajak-sajak para “calon penyair” ini pun umumnya masih terbilang “umum” dan “sederhana” saja dari segi diksi dan isi. Sajak-sajak para “calon penyair” yang ada dalam buku antologi Candu Rindu belumlah bisa dikatakan telah mampu melakukan pencapaian atau pun melebihi karya-karya para penyair sebelumnya. Begitu pun dunia yang mereka ceritakan umumnya berkutat tentang diri penulisnya.

(2009). Penyair