Al Qaida Membom Acara Maulid Nabi Muhammad di Pakistan


Karachi, 57 orang diperkirakan tewas setelah dua buah bom bunuh diri meledak pada sebuah acara peringatan Maulid Nabi Muhammkkad SAW di Karachi-Pakistan.  Aksi yang terjadi pada sebuah panggung peringatan ini merupakan yang terburuk selama beberapa tahun terakhir. Akibat ledakan bom bunuh diri ini, pemerintah Pakistan segera menyiagakan pasukan polisinya.

Dalam ledakan tersebut, tercatat salah satu tokoh muslim Sunni tewas. Abbas Qadri tewas ketika memimpin para jemaah melakukan doa bersama memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Acara ini telah diselenggarakan oleh organisasi Sunni Jamaat-e-Ahle Sunnah.

Sejauh ini menyebutkan bahwa Lashkar-e-Jhangvi yang berafiliasi dengan organisasi teroris Wahabi Al Qaeda berada di balik penyerangan ini. Para pejabat pemerintahan Pakistan juga menyerukan agar masyarakat tenang menghadapi provokasi yang bisa menyulut aksi kekerasan antar warga.

Sementara itu, kecaman keras datang dari Presiden Pakistan Pervez Musharraf dan Perdana Menteri Shaukat Aziz. Mereka mengutuk pengeboman itu sebagai perbuatan keji. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Musharraf juga telah memerintahkan peningkatan pengamanan di masjid-masjid. 


Imam Husain di Mata Dunia




“Seandainya Husain berjihad (ke Karbala) untuk memenuhi hasrat duniawinya, maka saya tidak mengerti, mengapa saudara-saudara perempuannya, isterinya, dan anak-anaknya, ikut serta menemaninya. Alasan yang masuk akal adalah bahwa dia berjuang semata-mata demi Islam.” (Charles Dickens)

“Pelajaran terbaik yang dapat kita peroleh dari tragedi Karbala adalah bahwa Husain dan sahabat-sahabatnya adalah orang-orang yang memiliki keimanan yang kuat kepada Tuhan-(nya). Mereka menggambarkan bahwa keunggulan kwantitas tidak lagi dianggap ketika telah tampak jelas kebenaran dan kebatilan. Kemenangan Husain adalah (ketika) dia tidak menghiraukan jumlah pasukannya yang sedikit, dan itulah yang membuat saya benar-benar kagum.” (Thomas Carlyle)

“Bersama sahabat-sahabat setianya yang sedikit itu, Husain membangkang bukan untuk mencari kemenangan, bukan juga untuk merebut kekuasaan, apalagi untuk mendapatkan kekayaan, tetapi untuk pengorbanan yang paling tinggi. Rombongan yang gagah berani ini, laki-laki dan perempuan, sudah mengetahui bahwa kedatangan musuh bukan untuk berdamai, bahkan bukan sekadar untuk berperang, musuh memang dipersiapkan untuk membantai. Walau ditolak bahkan setetes air untuk anak-anak kecil, dipanggang di bawah terik matahari, dengan bentangan pasir panas yang membakar, namun tak seorang pun dari mereka yang tergoyahkan untuk sebuah momen dan keberanian menghadapi segala rintangan.” (Dr. K. Sheldrake)

“Imam Husain telah mencabut pemerintahan sewenang-wenang selamanya sampai Hari Kebangkitan kelak. Dia telah mengairi kebun yang kering dari kebebasan dengan gelombang gelora darahnya, dan sungguh dia telah membangkitkan keterlelapan kaum Muslim. Jika Imam Husain bertujuan untuk mendapatkan Kerajaan Duniawi, pastilah ia tidak akan melakukan perjalanan (ke Karbala) seperti yang telah ia lakukan. Husain telah berkubang darah dan debu demi Kebenaran. Sungguh dia, karenanya telah menjadi batu pijakan bagi keyakinan kaum Muslim: Laa ilaha illah Allah (Tiada tuhan kecuali Allah).” (Sir Muhammad Iqbal)

“Dia memberikan kepalanya, tetapi dia tidak memberikan tangannya di atas tangan Yazid. Sungguh, Husain adalah pondasi Laa ilaha illa Allah. Husain adalah pemimpin dan dialah pemimpin dari segala pemimpin. Husain sendiri adalah Islam dan dialah yang telah melindungi Islam. Walaupun dia telah memberikan kepalanya (demi Islam) tetapi dia tidak sudi memberikan janji setianya kepada Yazid. Itulah karenanya, (saya katakan) Husain adalah peletak pondasi “Tiada tuhan kecuali Allah!” (Khwaja Moinuddin Chisti)

“Tidak ada pertempuran di dalam peradaban modern maupun sejarah manusia pada masa lalu, yang telah mendapatkan perhatian dan simpati serta kekaguman yang lebih besar dan juga telah memberikan pelajaran yang lebih banyak daripada kesyahidan Husain di pertempuran Karbala.” (Antoine Bara)

“Saya belajar dari Husain bagaimana bersikap ketika diperlakukan secara tidak adil dan bagaimana menjadi pemenang!” (Mahatma Ghandi) 


NU Nyatakan PKS Itu Antek Yahudi dan "Boneka" Amerika Serikat



NU beberapa tahun lalu merilis pernyataan yang cukup mengejutkan yaitu menyatakan bahwa PKS itu adalah antek yahudi dan "Boneka" Amerika Serikat.

Jakarta, NU Online

Pengamat politik internasional KH Hasyim Wahid (Gus Iim) menyatakan, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), salah satu partai politik berbasis Islam yang mulai berkembang di Indonesia hanyalah mainan baru Amerika Serikat.

Dikatakannya, keadaan dunia berubah pasca perang dingin. Dunia menjadi kawasan pasar bebas sehingga dikehendakilah masyarakat yang pro pasar. Sementara kelompok Islam tradisionalis dan modernis dianggap terlalu nasionalis untuk bisa menyesuaikan diri dengan pasar bebas. ”Maka dimunculkanlah Islam baru yang namanya PKS, yang lebih sesuai dengan pasar global,” katanya.

Gus Iim berbicara dalam acara refleksi akhir tahun bertajuk NU dalam Konstalasi Politik Nasional yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau IKA-PMII di aula gedung PBNU Jakarta, Kamis (18/12).

Menurut adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini, sebagai organisasi yang berjenjang global, PKS terpolarisasi dalam beberapa kelompok. “Di dalamnya memang retak-retak. Yang satu berkiblat ke Departemen Luar Negeri Amerika, satu lagi terkait dengan DI/TII tapi semuanya Amerika juga,” katanya.

Menurut Gus Iim, reformasi Indonesia sebenarnya tidak ada. Yang ada hanyalah peristiwa penjatuhan Soeharto oleh Amerika Serikat. Menurutnya, pasca perang dingin Amerika sudah tidak perlu lagi “centeng” di beberapa negara, termasuk Soeharto.

"Gelombang demokratisasi itu sebenarnya tidak ada. yang ada adalah cerita bahwa Amerika sedang sibuk membawa pembaharuan pengelolaan ekonomi di negara kaya minyak dan mineral,” katanya.

Bersamaan dengan itu kelompok Islam tradisionalis dan modernis dianggap sudah tidak dibutuhkan.

Dikatakannya, sebelumnya memang dimunculkan dikotomi Islam tradisionalis dan Islam modernis. Islam yang tradisionalis dalam hal ini diwakili oleh Nahdlatul Ulama (NU) disingkirkan. Kelompok yang identik dengan kaum sarungan ini dianggap tidak layak turut serta dalam pembangunan ekonomi sehingga dianggap tidak berhak mendapatkan akses.

Namun, lanjut Gus Iim, meski tak mendapat akses langsung, kelompok tradisionalis bergerak dan berkembang terus. Anak-anak dari kelompok sarungan ini belajar berbagai macam disiplin ilmu, selain ilmu keagamaan, sehingga bisa beraktifitas di mana-mana.

”Orang sekarang kaget melihat orang NU paling rapak ilmunya,” katanya. ”Betapa NU tumbuh dengan luar biasa, tanpa fasilitas negara. Sekarang kalau ada anak NU berusia 30, kalau dikasih kesempatan akan bisa melobi negara di dunia manapun.”

Dalam hal pengembangan teknologi informasi, tambahnya, orang akan kaget melihat peringkat dalam www.alexa.com, situs pemantau rating website seluruh dunia, dimana media informasi NU Online www.nu.or.id menjadi website organisasi sosial kemasyarakatan yang paling banyak dikunjungi di dunia. ”Menurut kenyataan ini, kaum sarungan sudah tidak dianggap enteng,” kata Gus Iim. (nam)

 



Nabi Muhammad Saw di Mata Dunia




“Kesuksesan kehidupan Muhammad yang luar biasa disebabkan semata-mata oleh kekuatan akhlak, bukan pukulan pedang.” (Edward Gibbon)

Michael H. Hart, Profesor astronomi, fisika dan sejarah sains: “Pilihan saya menempatkan Muhammad di urutan teratas dalam daftar orang-orang yang paling berpengaruh di dunia boleh jadi mengejutkan para pembaca dan dipertanyakan oleh banyak orang, tetapi dia (Muhammad) adalah satu-satunya manusia dalam sejarah yang sangat berhasil dalam dua tataran sekaligus, agama (ukhrawi) dan sekular (duniawi).” [The 100: A Ranking Of The Most Influential Persons In History, New York, 1978, h. 33].

William Montgomery Watt, Profesor (Emeritus) Studi Bahasa Arab dan Islam di University of Edinburgh: “Kerelaannya dalam mengalami penganiayaan demi keyakinannya, ketinggian akhlak orang-orang yang mempercayainya dan menghormatinya sebagai pemimpin, dan kegemilangan prestasi puncaknya —semua itu membuktikan ketulusan hatinya yang sempurna. Tetapi kenyataannya, tak seorang tokoh besar pun dalam sejarah yang sangat kurang dihargai di dunia Barat seperti Muhammad. Menganggap Muhammad sebagai seorang penipu akan menimbulkan lebih banyak masalah ketimbang memecahkannya.” [Mohammad At Mecca, Oxford, 1953, h. 52].

Alphonse de Lamartine (1790-1869), Penyair ,negarawan, dan filsuf Prancis: “Ia merupakan cermin kecerdasan filsuf, orator, utusan Tuhan, pembuat undang-undang, pejuang, penakluk pikiran, pembaru dogma-dogma rasional dan penyembahan kepada Tuhan yang tak terperikan; pendiri dua puluh kerajaan bumi dan satu kerajaan langit, dialah Muhammad. Berkaitan dengan semua norma yang menjadi tolak ukur kemuliaan manusia, kita boleh bertanya, adakah manusia yang lebih besar daripada dia?” [Histoire De La Turquie, Paris, 1854, vol. II, h. 276-277].

Reverend Bosworth Smith (1794-1884), Mantan pengawas Trinity College, Oxford: “… Dia Caesar sekaligus Paus; tetapi dia adalah Paus tanpa pangkat Paus dan Caesar tanpa pasukan Caesar. Tanpa tentara tetap, tanpa pengawal, tanpa istana, tanpa pendapatan tetap, jika pernah ada manusia yang memiliki hak untuk mengatakan bahwa dia diperintah oleh Tuhan Yang Maha Benar, dialah Muhammad; karena dia memiliki semua kekuasaan tanpa peralatan dan pendukung untuk itu.” [Mohammed and Mohammedanism, London, 1874, p. 235].

Mohandas Karamchand Gandhi (1869-1948), Pemikir, negarawan, dan pemimpin nasionalis India: “…. Saya semakin yakin bahwa bukanlah pedang yang menaklukkan sebuah daerah bagi Islam untuk hidup pada zaman itu. Kesederhanaan yang teguh, nabi yang sama sekali tidak menonjolkan-diri, kesetiaannya yang luar biasa kepada janjinya, kasih sayangnya yang amat besar kepada para sahabat dan pengikutnya, keberaniannya, kepercayaannya yang mutlak kepada Tuhan dan kepada misinya; inilah, dan bukan pedang, yang mengantarkan segala sesuatu di hadapan mereka dan mengatasi setiap masalah.” [Young India, 1928, Volume X].

Edward Gibbon (1737-1794), sejarawan Inggris terbesar di zamannya: “Kesuksesan kehidupan Muhammad yang luar biasa disebabkan semata-mata oleh kekuatan akhlak, bukan pukulan pedang.” [History Of The Saracen Empire, London, 1870].

David George Hogarth (1862-1927), ahli arkeologi Inggris, penulis, dan pengurus Museum Ashmolean, Oxford: “Tindak-tanduk kesehariannya, yang serius ataupun yang sepele, menjadi hukum yang ditaati dan ditiru secara sadar oleh jutaan orang masa kini. Tak seorang pun diperhatikan oleh golongan umat manusia mana pun seperti Manusia Sempurna ini yang diteladani secara saksama. Tingkah laku pendiri agama Kristen tidak begitu mempengaruhi kehidupan para pengikut-Nya. Selain itu, tak ada Pendiri suatu agama yang dikucilkan tetapi memperoleh kedudukan mulia seperti Rasul Islam.” [Arabia, Oxford, 1922, h. 52].

Washington Irving (1783-1859), sastrawan Amerika pertama: “Dia makan secara sederhana dan bebas dari minuman keras, serta sangat gemar berpuasa. Dia tidak menuruti nafsu bermewah-mewah dalam berpakaian, tidak pula ia menuruti pikiran yang sempit; kesederhaannya dalam berpakaian dilatarbelakangi oleh sikapnya yang tidak mempedulikan perbedaan dalam hal-hal yang sepele…. Dalam urusan pribadinya dia bersikap adil. Dia memperlakukan kawan dan orang asing, orang kaya dan orang miskin, orang kuat dan orang lemah, dengan cara yang adil. Dia dicintai oleh rakyat jelata karena dia menerima mereka dengan kebaikan hati dan mendengarkan keluhan-keluhan mereka…. Keberhasilan militernya bukanlah kemenangan yang sia-sia dan sekali-kali tidak membuatnya merasa bangga, karena tujuan semuanya itu bukan untuk kepentingan pribadinya. Ketika dia memiliki kekuasaan yang amat besar, ia tetap sederhana dalam sikap dan penampilannya, sama seperti ketika dia dalam keadaan sengsara. Sangat berbeda dengan seorang raja, dia tidak suka jika, ketika memasuki ruangan, orang menunjukkan penghormatan yang berlebihan kepadanya.” [Life of Mahomet, London, 1889, h. 192-3, 199].

Annie Besant (1847-1933), teosof Inggris dan pemimpin nasionalis India, Presiden Kongres Nasional India pada 1917: “Siapa pun yang mempelajari kehidupan dan sifat Nabi besar dari jazirah Arabia ini, siapa pun yang mengetahui bagaimana ia mengajar dan bagaimana ia hidup, pasti memberikan rasa hormat kepada Nabi agung itu, salah seorang utusan Tuhan yang luar biasa. Dan meskipun dalam uraian saya kepada Anda akan tersebut banyak hal yang barangkali sudah biasa bagi kebanyakan orang, akan tetapi setiap kali saya membaca-ulang tentang dia, saya sendiri merasakan lagi kekaguman yang baru, menimbulkan lagi rasa hormat yang baru kepada guru bangsa Arab yang agung itu.” [The Life and Teachings of Muhammad, Madras, 1932, h. 4].

Edward Gibbon (1737-1794), sejarawan terbesar Inggris di zamannya: “Memorinya (yakni, Muhammad) sangat besar dan kuat, sikapnya sederhana dan ramah, imajinasinya agung, keputusannya jelas, cepat, dan tegas. Dia memiliki keberanian berpikir maupun bertindak.” [History of the Decline and Fall of the Roman Empire, London, 1838, vol.5, h.335].