Diari Sulaiman Djaya (Bagian Pertama)


Oleh Sulaiman Djaya (Penyair)

Berdasarkan riwayat keluarga, aku lahir menjelang fajar. Suatu ketika, saat aku sendirian menjelang siang, aku merangkak sampai di tengah jalan di depan rumah. Padahal di tepi jalan itu ada saluran irigasi yang cukup lebar dan dalam, yang barangkali saja aku dapat saja tercebur jika tak diketahui oleh orang kampung yang lewat dan segera mengangkatku dan menggendongku –demikian menurut cerita beberapa orang di kampung kepadaku ketika aku telah dewasa.

Aku terlahir dari keluarga miskin dan rumahku berada sendirian di tepi jalan dan sungai, tidak seperti orang-orang kampung lainnya. Mayoritas keluarga dari pihak ibuku tidak merestui pernikahan orang tua kami, dan karenanya aku selalu dikucilkan oleh mereka dalam hal-hal urusan keluarga kakekku dari pihak ibuku.

Meskipun demikian, orang-orang di kampungku, terutama kaum perempuan dan ibu-ibu, sangat menghormati ibuku dan aku. Kakek dari pihak ibuku mirip orang Arab dan berhidung mancung, dan tipikal fisik kakek dari pihak ibuku itu menurun (diwariskan) kepada anak-anak pamanku (adik ibuku) yang semuanya berhidung mancung –hingga sepupu-sepupuku (anak-anak paman, adik ibuku) mirip orang-orang Iran dan Arab.

Dan memang, semua orang di kampungku mengatakan bahwa pamanku (adik ibuku) adalah lelaki paling ganteng di kampungku, hingga banyak perempuan yang suka kepadanya. Hanya saja, Tuhan menjodohkannya dengan perempuan Betawi.

Nama kakekku dari pihak ibuku adalah Haji Ali, orang yang pendiam dan sangat tekun bekerja sebagai petani dan perajin perabot rumah-tangga dari bambu dan pohon-pohon pandan. Seringkali, bila ibuku menyuruhku untuk meminjam beras kepadanya, ia sedang menganyam bakul dan tampah dari bilah-bilah pohon-pohon bambu, dan hanya berhenti bekerja bila waktu sholat saja. Sesekali aku harus menunggunya pulang dari sawah, dan pada saat itu aku diajak ngobrol oleh nenek tiriku (yang kurang kusukai). Maklum, nenekku sudah meninggal ketika aku lahir.

Berkat kekayaan kakekku dari pihak ibuku itulah, pamanku (adik ibuku) bisa menempuh pendidikan di perguruan tinggi swasta di Jakarta hingga menjadi sarjana strata satu, hingga ia menjadi satu-satunya orang di kampungku yang kuliah, dan kakekku tentu saja satu-satunya orang di kampungku yang bisa meng-kuliahkan anaknya di perguruan tinggi.

Namun demikian, meski kakekku orang kaya, keluargaku hidup dalam kemiskinan dan keterbatasan karena keluargaku tidak mau mengandalkan kekayaan kakekku. Menurutku hal itu terjadi karena keluarga kami “disisihkan” oleh keluarga besar kami karena mereka tidak menyetujui pernikahan orang tua kami. Dan karena itu ibuku harus bekerja keras menjadi petani dan menanam apa saja yang dapat dijual dan menghasilkan uang, seperti menanam sayur-sayuran, kacang dan rosella. (Bersambung)


Mereka yang Mengaku Keturunan Khazar


Oleh Kevin Alan Brook

Yahudi modern yang terkemuka dan masyarakat Yahudi yang mengaku jalur keluarganya berasal dari Khazar

Dan Rottenberg, pengarang "Finding Our Fathers: A Guidebook to Jewish Genealogy" (edisi 1, 1977), nenek moyangnya berasal dari Austria dan kerajaan Rusia. Beberapa orang istri dari nenek moyangnya mengakui sebagai bangsa Khazar. Karen De Witt, dalam The Washington Post, menulis hal berikut ini pada halaman B3, pada hari Sabtu, tanggal 20 Agustus, 1977 dalam tulisannya berjudul: "Family Lore and the Search for Jewish 'Roots – Ceritera Rakyat dan Mencari Akar-akar bangsa Yahudi'":

"Rottenberg, yang sudah menelusuri asal-usul keturunan keluarga istrinya jauh ke awal tahun 1800-an dan menemukan sebuah garis yang menghubungkan kembali kepada kerajaan Khazar di Crimea, yang waktunya kembali jauh ke masa silam abad ke-8, catatan bahwa pada waktu itu hanya terdapat orang Yahudi dengan jumlah yang terbatas di dunia."

Dan Rottenberg menuulis dalam bukunya berjudul "Menemukan Para Orang Tua Kami" di halaman 45 ia menyatakan: "Setidak-tidaknya, beberapa orang Yahudi Eropa Timur, dan barangkali banyak sekali, adalah keturunan Khazar. Menggambarkan dengan teliti apakah Anda keturunan dari jalur keluarga Khazar atau bukan, tetapi beberapa keluarga nampaknya memiliki petunjuk. Sebagai contoh, sebuah cabang dari keluarga istriku bernama Tamarin, dari Rusia, memelihara bahwa keluarganya datang dari agama Yahudi atau Judaisme via konversi Khazar dan bahwa keluarganya mengambil namanya dari Tamara, ratu Georgia dalam abad ke-13."

Keluarga Ehud Ya'ari, seorang wartawan Israel terkemuka membuat dokumentasi Mamlekhet ha-Kuzarim 1997, juga mengaku beberapa sumber Khazaria. Mikhael Ajzenstadt, dalam The Jerusalem Post, menulis hal berikut ini di halaman 5, terbitan tanggal 17 Maret, 1997, dalam artikelnya berjudul "An Incredible Journey to the Lost Empire of the Khazars – Sebuah Perjalanan Yang Luar Biasa Ke Kerajaan Yang Hilang Bangsa Khazars":

"[Ehud Ya'ari dikutip mengatakan:] "Sebagai seorang anak saya mendengar bahwa keluarga kami mempunyai keturunan darah bangsa Khazar dan selama 30 tahunan sampai sekarang saya sedang berusaha untuk menemukan informasi mengenai hal mengejutkan ini....[Saya adalah] seorang prajurit dalam pertempuran terakhir dari kerajaan Khazar, sebuah perjuangan yang benar untuk diingat....Dan akhirnya saya berniat untuk mengamankan dana untuk melanjutkan penggalian-penggalian di beberapa tempat, yang sungguh nampak peluangnya. Mimpi saya yang paling menggairahkan adalah keinginan untuk menemukan kuburan salah seorang dari para raja Khazar. Aku percaya bahwa jika kita berhasil hal itu akan merupakan sebuah hal yang penting, setidaknya seperti ketika menemukan Troy atau harta benda Firaun didalam Piramid."

Beberapa orang Yahudi dari shtetl Kurilovich, di Moldova, mengaku "Keturunan Tartar“: "Dalam tahun 1923, ayahku, yang dilahirkan di daerah koloni Yahudi Baron Hirsch, mengunjungi kota kecil Kurilovich, dekat Kishinev, antara Moldavia dan Bessarabia, dimana orang tua mereka datang ke Argentina. Sanak keluarga yang sudah tua meyakinkannya bahwa keluarganya tinggal di sana selama 500 tahunan, dan menambahkan ungkapan yang memberikan khayalan kepadaku dalam jangka waktu lama: 'Kita adalah Yahudi Tartar'. Lima abad akan bersesuaian persis waktunya di mana keturunan-keturunan Khazar bertebaran dari Crimea. Dan pemakaian Tartar 'sebagai ganti 'Khazar'? Barangkali keseleo lidah dan ingatan, bahwa sejarawan-sejarawan tidak akan menunda untuk melakukan perbaikan." Alicia Dujovne Ortiz, "El fantasma de los jázaros", La Nación (Buenos Aires, Argentina, August 19, 1999).

Sebuah sanak keluarga Yahudi Transylvania yang bertemu dengan saya ketika saya mengatakan kepadanya "Kita bukanlah Semit –kita Turki putih dari Timur Jauh, dan rumah-rumah kita dihancurkan oleh bangsa Rusia." Mereka adalah Bangsa Yahudi dari kota Sfîntu Gheorghe yang sekarang Romania. Meskipun masyarakat mereka telah mencampur dengan beberapa bangsa Hungaria dan Romania, mereka masih merupakan sebuah masyarakat yang kompak dengan pengetahuan selama berabad-abad mengenai asal-muasalnya dari Turki. Dalam tahu 1990-an sebuah ekspedisi genealogi yang disewa oleh Yahudi Transylvanian teman saya yang memberikan konfirmasi telah menemukan tradisi bahwa Yahudi ini adalah Turki. Tidak membuktikan bahwa mereka adalah Khazar. Mereka mungkin bangsa Tatars atau Kipchaks (Cumans) atau Oghuzes. Tetapi hampir bisa dipastikan mereka adalah Khazar, seperti ketika Khazar pindah agama menjadi pemeluk agama Yahudi atau Judaisme dalam jumlah besar dibanding kelompok Turki lain manapun.

Ada juga kasus-kasus Yahudi yang terisolasi dari kota-kota tertentu di Ukraina dan Lithuania yang mengaku dari jalur keluarga Khazar. Kisah-kisah seperti ini membantu untuk membantah pendapat Leon Wieseltier dalam " You Don't Have to Be Khazarian: The Thirteenth Tribe, by Arthur Koestler " (New York Review dari Books, Oktober 28, 1976) di halaman 34 bahwa tidak ada catatan dari sebuah warisan bangsa Khazar pada setiap Yahudi modern.

Iran, Bangsa yang Maju dalam Gempuran Sanksi




Oleh Adel el Gogary

“Presiden Iran (kala itu, yaitu Mahmoud Ahmadinejad) bertekad bahwa dalam memajukan ekonomi Iran, maka harus dilakukan peningkatan kemampuan penguasaan sains dan teknologi atau ilmu pengetahuan untuk menggerakkan ekonomi Iran”

Saya termasuk salah satu orang yang senang sekali mengetahui perkembangan sosial,budaya, politik, dan kecanggihan sains dan teknologi dari negara tetangga. Salah satunya perkembangan negara Iran. Iran merupakan salah satu negara di Timur Tengah yang saat ini sedang mendapat kecaman dari AS atas produksi nuklirnya yang di klaim membahayakan umat manusia. Padahal Iran sudah berkali-kali mengatakan bahwa Iran memproduksi Nuklir untuk tujuan damai dan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, bukan untuk digunakan memproduksi senjata pemusnah massal. Namun AS sepertinya tidak ingin disaingi oleh negara Iran yang perkembangan teknologinya yang semakin canggih.

Iran menurut saya cukup cerdik –membangun basis pengembangan nuklirnya di bawah tanah yaitu sekitar 75 kaki dari permukaan tanah dan tentu saja sulit dihancurkan oleh AS karena keberadaannya berada di pusat padat penduduk. Pabrik utama nuklir ini terletak dekat Natanz, 350 km dari selatan Teheran. Pabrik ini mengerjakan pembuatan mesin-mesin sentrifugal (putaran) dan menampung 50.000 mesin sentrifugal, disamping laboratorium. Iran memang benar-benar mempersiapkan ini semua. Iran meminta Rusia dalam merancang fasilitas sejenis yang digunakan sebagai bunker/tempat persembunyian bagi prajurit dan militer untuk menyelamatkan diri. Bunker ini mirip dengan bunker di Virginia dan Pensylvania yang didesain untuk melindungi para pemimpin AS.

Iran yang keras dalam mempertahankan keinginannya untuk memproduksi Nuklir ini harus mendapatkan konsekuensi yang menurut saya sangat berat. Akibat yang harus diterima oleh Iran adalah Iran harus menanggung embargo ekonomi dari banyak negara. Iran sudah kenyang dengan berbagai sanksi, sudah 28 tahun Iran mengalami sanksi itu, misalnya saja pada tahun 1995 Persiden AS Bill Clinton melakukan embargo total pada Iran, lalu mengeluarkan UU D’Amato yang melarang perusahaan-perusahaan asing untuk menanamkan modalnya di sektor perminyakan Iran lebih dari US$40 juta per tahun, tapi Iran mampu melewati kesulitan itu dan tetap dapat survive, karena ternyata tidak ada negara yang benar-benar mematuhi peraturan untuk tidak bekerja sama dengan Iran, karena mereka butuh pada Miyak Iran, seperti Inggris dan Prancis yang merupakan sekutu AS. Negara ini tetap menanamkan modalnya yang besar pada bidang energi Iran.

Sanksi lainnya yaitu dilakukan oleh Dewan Keamanan (DK) PBB. DK PBB melarang pejabat dan pengusaha individu melakukan kunjungan ke Iran, jika melanggar maka akan dibekukan asetnya karena akan dianggap terlibat dalam program nuklir Iran. Selain itu sanksi lainnya adalah pembatasan negara dan lembaga keuangan internasional yang akan membuat komitmen untuk melakukan hibah, bantuan keuangan. Hal itu akan menghambat laju perekonomian Iran.

Seperti yang kita tahu bila orang dihadapkan berbagai kesulitan, maka biasanya orang akan cenderung kreatif untuk mencari peluang-peluang atau mencari solusi-solusi yang memungkinkan untuk terlepas dari problem yang membelit negara ini. Iran menjadi negara yang mandiri. Dulu Iran mengimpor gandum, sekarang menjadi negara pengekspor gandum, kemudian di bidang kemiliteran Iran mengembangkan senjata baru yang hebat, misalnya mampu mengembangkan rudal Shihab-1 yang mempunyai daya jelajah antara 300-500 km. Shihab-1 ini merupakan teknologi yang ditiru atau dicangkok Iran dari Rudal Scud-B Rusia yang berdaya jelajah 300 km dan Shihab 2 yang merupakan hasil dari meniru teknologi rudal Rusia yaitu Scud-C.

Negara ini mampu mencangkok atau meniru serta mengembangkannya lebih lanjut dari senjata rudal milik Rusia yang sebelumnya digunakan oleh Iran. Selain itu juga Iran juga mengembangkan kemampuan militer yang mampu menangkis dan menghantam target AS di kawasan Teluk dan Irak yaitu Shihab 3, yang dapat membawa 3 hulu ledak perang sekaligus. Kemudian di bidang telekomunikasi Iran berhasil meluncurkan satelit ke luar angkasa. Selain itu bidang lainnya Iran mampu mengkloning dan membuat mesin mobil sendiri. Iran termasuk negara yang berhasil membangun nuklir sampai berkembang dengan cukup berhasil.

Hal ini terjadi karena Presiden Iran (kala itu, yaitu Mahmoud Ahmadinejad) bertekad bahwa dalam memajukan ekonomi Iran, maka harus dilakukan peningkatan kemampuan penguasaan sains dan teknologi atau ilmu pengetahuan untuk menggerakkan ekonomi Iran. Seperti yang kita tahu bahwa Iran ratusan tahun lalu merupakan pusat ilmu pengetahuan, kebudayaan, filsafat, kedokteran, dan ilmu astronomi, di saat negara Eropa berada di dalam kegelapan.

Menurut sumber lain, jumlah ilmuwan dan teknokrat yang bergerak di bidang penelitian dan pengembangan pada tahun 1987-1997 perbandingannya adalah 560 orang untuk tiap 1 juta Penduduk Iran. Jumlah ini tentunya sangat memadai untuk pengembangan teknologi di bidang militer. Kita juga dapat belajar dari Iran bahwa saat ini dibutuhkan kebijakan pemerintah yang berpihak pada kepentingan ilmu pengetahuan dan sains dan teknologi. Selama ini anggaran untuk riset dan teknologi selalu dipangkas untuk kepentingan lainnya.

Sumber: Ahmadinejad The Nuclear Savior of Teheran Book