Antara Birahi dan Teodisi (Puisi dan Sketsa karya Sulaiman Djaya)



Pernah di suatu ketika 
Sebuah puisi adalah raung sunyi 
Dan sebentuk wajah 
Juga selembar kertas 
Yang tak sempat kautulisi kata.

Aku kehilangan bahasaku 
Ketika televisi dan iklan 
Begitu riuh jadi dogma baru. 
Agama berubah kepalsuan 
Dan mimbar-mimbar pertukaran.

Di mana harus kutemukan 
Lembar-lembar firman yang kudus 
Dan suci? Ketika mesjid-mesjid 
Telah diganti pusat-pusat transaksi 
Yang dikhutbahkan para selebriti.

Para pendakwah bicara surga 
Seakan komoditas milik mereka 
Yang selalu siap diperjual-belikan 
Di ajang-ajang penjagalan 
Dan sirkulasi bursa-bursa saham.

Tafakur Subuh

Biarkan dua matamu dibasuh subuh 
Dengan air wudhu di telapak tanganmu. 
Semalam embun tak ada 
Sebab deras hujan 
Telah menggantikan langkah-langkah 
Jarum jam.

Biarkan air wudhu menyentuh wajahmu 
Setelah semalaman kau lelap tertidur
Dan fajar akan menghitung 
Adakah rakaat sembahyangmu 
Seikhlas kau jatuh cinta 

Pada kata yang jadi umpama.
Oh jangan dengarkan, duh Adik tercinta, 
Mereka yang bicara agama 
Layaknya para penjaja harta benda. 
Mari aku bisikkan kepadamu 

Kenapa kita tak pernah bosan
Untuk bertanya. 
Jangan, duh Adik, jangan dengarkan 
Para pengkhotbah dan kaum berjubah 
Yang menganggap iman 
Seakan hanya miliknya.


Mereka tak mengerti kenapa kita 
Menulis puisi dan bergembira 
Dengan segala yang menyimpan 
Tanda tanya. Dengan segala 
Yang membuat kita heran dan tertawa.