Label

Kapitalis Perusak Lingkungan di Kedua Kubu Pilpres


Sumber: Koran Arah Juang edisi 62 III-IV Maret 2019

Dalam edisi kali ini kami menurunkan tulisan "Kapitalis Perusak Lingkungan di Kedua Kubu Pilpres" dalam rubrik Perspektif. Bagaimana di kedua kubu tersebar para tuan tanah dan konglomerat agraria. Termasuk para penguasa industri sawit yang bertanggungjawab atas pembakaran hutan, bencana asap, dan pembunuhan brutal terhadap satwa seperti orang utan. Bahkan juga para politisi sekaligus kapitalis yang bisnisnya mengakibatkan penghancuran ekologis.

Lalu di Rubrik Aksi Massa kami meliput "Hari Perempuan Internasional 2019" yang mengulas demonstrasi di berbagai wilayah Indonesia maupun dunia dalam rangka perjuangan pembebasan perempuan dan pergerakan melawan seksisme.

Masih dalam semangat pembebasan perempuan, rubrik Sejarah memuat tulisan "Alexandra Kollontai dan Perjuangan Anti-Seksisme." Mengulas perjalanan kehidupannya, bagaimana perempuan Bolshevik ini mengungkap dan melawan penindasan terhadap perempuan, pengorganisiran massa serta kampanye-kampanye perjuangannya, hingga kontribusinya dalam revolusi terutama dalam penghancuran seksisme.

Berikutnya rubrik Teori mengulas "Tentang Persatuan Serikat Buruh." Bagaimana pentingnya kelas proletar menjunjung tinggi independensi kelasnya di satu sisi sekaligus di sisi lain membangun serta mempertahankan persatuan serikatnya di atas landasan perjuangan kelas melawan penindasan, dikupas dalam tulisan ini. Termasuk pentingnya menghindari perpecahan yang berisiko merugikan perjuangan.

Kemudian rubrik Perjuangan mengupas "Remiliterisasi Sepanjang Rezim Jokowi." Membeberkan rangkaian peristiwa dan manuver politik, bagaimana rezim Jokowi-JK yang digadang-gadang para pendukungnya sebagai penegak HAM dan penjaga demokrasi dari ancaman Prabowo justru menambah jumlah komando ekstrateritorial dan meningkatkan intervensi militeris di ranah sipil, serta apa latar belakangnya.


Terakhir, rubrik Strategi dan Taktik (STRATAK) mengangkat "Partai Massa, Solusi Golput?" Tulisan ini menanggapi mereka yang memandang bahwa Golput atau lebih tepatnya abstain, sebagai masalah. Memetakan bagaimana para abstainer terbagi ke dalam penyebab, latar belakang, dan perspektif politik yang berbeda-beda. Apa yang diperlukan untuk menyikapinya. Termasuk mencermati lebih detail mengenai konsep-konsep alternatif yang disajikan ke massa.

Prospek Sosialis Libertarian Menurut Filsuf Noam Chomsky


Noam Chomsky dikenal luas karena kritiknya terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat, dan karya-karyanya sebagai seorang ahli linguistik. Yang justru kurang dikenal darinya adalah dukungannya yang terus-menerus terhadap tujuan-tujuan sosialis libertarian. Dalam wawancara khusus dengan Red and Black Revolution (RBR), Chomsky memaparkan pandangannya mengenai Anarkisme dan Marxisme, dan prospek sosialisme saat ini. Wawancara ini dilakukan pada Mei 1995 oleh Kevin Doyle, dan pertama kali diterbitkan di Red & Black Revolution No. 2 tahun 1996.

RBR: Pertama, Noam, Anda sudah cukup lama menjadi penganjur ide-ide anarkis. Banyak orang cukup akrab dengan kata pengantar yang Anda tulis pada tahun 1970 untuk Anarchism, karya Daniel Guerin. Namun, baru-baru ini, misalnya dalam film Manufacturing Consent, Anda mencoba menunjukkan kembali potensi anarkisme dan ide-ide anarkis. Apa yang membuat Anda tertarik dengan anarkisme?

CHOMSKY: Saya tertarik dengan anarkisme sejak masih muda, segera setelah saya mulai berpikir tentang dunia secara lebih luas, dan saya tidak punya alasan untuk mengubah pemikiran tersebut. Saya pikir, mencari dan mengenali struktur kekuasaan, hierarki dan dominasi dalam semua aspek kehidupan, lalu menentangnya adalah hal benar. Kecuali ada pembenaran terhadap hal tersebut, maka struktur tersebut tidak sah dan harus dihancurkan supaya lingkup kebebasan manusia dapat bertambah. Anarkisme mencakup kekuasaan politik, kepemilikan dan manajemen, hubungan laki-laki dan perempuan, orang tua dan anak-anak, kontrol kita terhadap nasib generasi mendatang (dorongan moral dasar dari gerakan lingkungan hidup, menurut pandangan saya), dan masih banyak lagi. Tentu saja, ini merupakan tantangan terhadap institusi koersif dan kontrol raksasa: negara, tirani privat yang tidak bertanggung jawab dan mengendalikan hampir seluruh ekonomi dan sektor lain, baik domestik maupun luar negeri. Tapi, tidak hanya itu saja. Hal ini adalah apa yang selalu saya anggap sebagai inti anarkisme: keyakinan bahwa beban pembuktian harus diletakkan di pundak otoritas. Bila tak dapat membuktikan argumen keberadaannya, maka otoritas tersebut harus dihancurkan.

Kadang-kadang beban tersebut dapat dipenuhi. Jika saya sedang berjalan-jalan dengan cucu-cucu saya, dan mereka tiba-tiba berlari ke tengah jalan yang ramai, saya akan menggunakan tidak saja otoritas, melainkan juga paksaan fisik untuk menghentikan mereka. Tindakan tersebut harus ditantang, namun saya pikir, tindakan tersebut dapat menjawabnya. Selain itu, ada pula berbagai kasus lain; kehidupan merupakan sesuatu yang kompleks, kita memiliki sangat sedikit pemahaman terhadap manusia dan masyarakat, dan pernyataan yang luas pada umumnya cenderung salah ketimbang benar, bahkan bisa membahayakan. Namun perspektif ini tetaplah valid, menurut saya, dan bisa banyak membantu kita.

Di luar generalisasi semacam itu, kita bisa mulai melihat permasalahan, dan di situ lah pertanyaan mengenai kepentingan manusia dan kepedulian mulai muncul.

RBR: Dapat dikatakan bahwa pemikiran dan kritik Anda semakin terkenal saat ini. Selain itu, pandangan Anda sangat dihargai. Bagaimana Anda melihat bahwa dukungan Anda terhadap anarkisme diterima dalam konteks ini? Khususnya, saya tertarik dengan respon yang Anda terima dari orang-orang yang mulai tertarik pada politik untuk pertama kalinya dan, mungkin, menemukan pemikiran Anda. Apakah orang-orang tersebut terkejut dengan dukungan Anda terhadap anarkisme? Apakah mereka tertarik?

CHOMSKY: Sebagaimana Anda ketahui, budaya intelektual pada umumnya mengaitkan ‘anarkisme’ dengan kekacauan, kekerasan, pengeboman, gangguan dan lain-lain. Jadi orang kadang-kadang terkejut kalau saya membicarakan anarkisme secara positif dan mengidentikkan diri saya dengan tradisi utama dalam anarkisme. Namun kesan saya, ide-ide dasar anarkisme dapat diterima dalam masyarakat luas bila segalanya dijernihkan. Tentu saja, bila kita mulai membahas masalah yang lebih spesifik – katakanlah, hakekat keluarga, atau bagaimana bentuk perekonomian dalam masyarakat yang lebih merdeka dan adil – maka pertanyaan dan kontroversi timbul. Tapi memang seharusnya begitu. Fisika tidak dapat benar-benar menjelaskan bagaimana air mengalir dari keran di wastafel. Bila kita mulai mencoba menjawab pertanyaan yang lebih kompleks tentang kemanusiaan, pemahaman kita masih sangat sedikit, dan banyak ruang bagi perbedaan pendapat, percobaan, eksplorasi kemungkinan di tataran intelektual maupun di kehidupan nyata, untuk membantu kita belajar lebih banyak.

RBR: Mungkin, lebih dari pemikiran lainnya, anarkisme telah sering disalahartikan. Anarkisme dapat berarti banyak hal bagi banyak orang. Apakah Anda sering kali harus menjelaskan apa yang Anda maksud dengan anarkisme? Apakah penyalahartian anarkisme merepotkan Anda?

CHOMSKY: Semua penyalahartian merepotkan. Asal-muasalnya dapat ditelusuri dari struktur kekuasaan yang berkepentingan untuk mengaburkan pemahaman yang benar, karena alasan-alasan yang jelas. Kita bisa merujuk Principles of Government karya David Hume. Dia merasa heran, rakyat tunduk pada penguasanya. Dia menyimpulkan, oleh karena “Kekuasaan selalu berada dipihak orang-orang yang diperintah, maka penguasa tidak memiliki dukungan bagi mereka sendiri kecuali opini. Maka, dengan opini lah pemerintahan didirikan; dan ini berlaku dari pemerintahan yang paling despotik dan militeristik hingga yang paling bebas dan merakyat.” Hume sangat cerdik – meskipun bukanlah seorang libertarian menurut standar di masa itu. Dia tentu kurang memperhitungkan apa yang dapat dicapai oleh kekuatan rakyat. Namun, bagi saya secara umum, pengamatannya tampak benar dan penting, terutama dalam masyarakat yang lebih bebas, tempat seni pengendalian opini jadi jauh lebih canggih. Penyalahartian dan bentuk-bentuk pembingungan lainnya berjalan beriringan.

Jadi, apakah penyalahartian merepotkan saya? Tentu saja, sama seperti cuaca yang buruk. Hal ini akan tetap ada selama konsentrasi kekuasaan menciptakan sejenis kelas komisaris yang berupaya mempertahankan konsentrasi kekuasaan tersebut. Karena biasanya mereka tidak terlalu cerdas, atau cukup cerdas untuk tahu bahwa lebih baik mereka menghindari ajang pengemukaan fakta dan perdebatan, maka mereka menggunakan penyalahartian, penjelek-jelekan dan cara-cara lain yang tersedia bagi penguasa dan yang mereka ketahui dapat melindungi mereka. Kita harus memahami mengapa ini semua terjadi, dan mengurainya semampu kita. Itu bagian dari upaya pembebasan – kita sendiri dan orang-orang lain, atau lebih mungkin, orang-orang yang bekerja bersama untuk mencapai tujuan tersebut.

Mungkin hal ini terdengar terlalu menyederhanakan, dan memang demikian. Namun saya masih belum pernah melihat pendapat mengenai kehidupan manusia dan masyarakat yang tidak menyederhanakan permasalahannya, saat absurditas dan pembenaran diri sendiri disingkirkan.

RBR: Bagaimana dengan lingkaran-lingkaran kiri yang lebih mapan, yang bisa diharapkan lebih mengenal apa yang sesungguhnya diperjuangkan anarkisme? Apakah ada kejutan akibat pandangan dan dukungan Anda pada anarkisme?

CHOMSKY: Bila saya paham apa yang Anda maksud dengan “lingkaran-lingkaran kiri yang mapan”, tidak ada banyak kejutan mengenai pandangan saya terhadap anarkisme, karena pandangan saya tentang apa pun sangat sedikit dikenal orang. Lingkaran-lingkaran tersebut bukan tempat saya berurusan. Anda akan jarang sekali menemukan referensi tentang apa pun yang saya katakan atau tulis di sana. Tentu saja, itu tidak sepenuhnya benar. Jadi, di AS (namun lebih jarang di Inggris atau di tempat-tempat lain), Anda akan menemukan sejumlah pemahaman tentang apa yang saya lakukan di sejumlah sektor yang lebih kritis dan independen ketimbang apa yang dapat disebut sebagai “lingkaran-lingkaran kiri yang mapan”, dan saya memiliki kawan-kawan pribadi dan rekan-rekan yang tersebar di sana-sini. Namun, lihatlah buku-buku dan jurnal-jurnal, maka Anda akan paham maksud saya. Saya tidak mengharap apa yang saya tulis atau katakan akan lebih diterima di lingkaran-lingkaran tersebut daripada di himpunan mahasiswa atau ruang editor – tentu saja dengan pengecualian. Pertanyaan ini jarang muncul, sehingga sukar dijawab.

RBR: Sejumlah orang memperhatikan bahwa Anda menggunakan istilah “sosialis libertarian” dalam konteks yang sama dengan “anarkisme”. Apakah menurut Anda kedua istilah itu serupa? Apakah anarkisme menurut Anda sejenis sosialisme? Pernah dikatakan bahwa anarkisme adalah “sosialisme dengan kemerdekaan”. Setujukah Anda dengan pandangan sederhana ini?

CHOMSKY: Pengantar buku Guerin yang Anda kutip itu diawali dengan kutipan dari seorang pendukung anarkisme seabad lalu, yang mengatakan bahwa “anarkisme memiliki punggung yang lebar,” dan dapat memikul beban seberat apa pun. Satu unsur penting anarkisme adalah apa yang secara tradisional disebut “sosialisme libertarian”. Saya mencoba menjelaskan maksudnya dalam pengantar tersebut dan dalam kesempatan lain bahwa istilah tersebut jauh dari orisinal; saya mengambil ide itu dari pemikiran tokoh-tokoh anarkis terkemuka yang saya kutip, dan yang secara konsisten menggambarkan diri mereka sebagai sosialis, dan pada saat yang sama mengutuk keras “kelas baru” intelektual radikal yang berusaha mendapatkan kekuasaan negara dalam arus perjuangan rakyat dan menjadi “Birokrasi Merah” yang kejam sebagaimana diperingatkan Bakunin; yang sering disebut sebagai “sosialisme”. Saya cenderung setuju dengan persepsi Rudolf Rocker bahwa kecenderungan (penting) dalam anarkisme ini ditarik dari pemikiran terbaik dari Pencerahan dan liberal klasik, jauh melebihi yang digambarkannya. Bahkan, sebagaimana telah coba saya tunjukkan, mereka berbeda sangat tajam, bahkan bertentangan dengan doktrin dan praktik Marxis-Leninis, doktrin “libertarian” yang populer di AS dan Inggris, dan dengan ideologi kontemporer lainnya yang pada intinya semuanya tampak mendukung bentuk-bentuk otoritas yang tidak sah, yang bahkan cukup sering merupakan tirani sungguhan.

REVOLUSI SPANYOL
RBR: Dulu, bila Anda membahas anarkisme, Anda sering menekankan contoh Revolusi Spanyol. Bagi Anda, tampaknya ada dua aspek revolusi ini. Pertama, Anda mengatakan bahwa revolusi Spanyol adalah contoh bagus mengenai “anarkisme dalam praktik”. Kedua, Anda juga menekankan bahwa revolusi Spanyol merupakan contoh bagus mengenai apa yang bisa dicapai buruh melalui usaha rakyat sendiri melalui demokrasi partisipatoris. Apakah kedua aspek ini – anarkisme dalam praktik dan demokrasi partisipatoris – merupakan hal yang serupa? Apakah anarkisme merupakan filsafat kekuatan rakyat?

CHOMSKY: Saya ragu-ragu menggunakan kata-kata rumit seperti “filsafat” untuk menjelaskan apa yang sebenarnya sederhana saja. Saya juga tidak nyaman dengan slogan-slogan demikian. Pencapaian buruh dan buruh tani Spanyol, sebelum revolusi dilindas, sangat mengesankan dalam berbagai hal. Istilah “demokrasi partisipatoris” merupakan istilah yang lebih baru, yang berkembang dalam konteks yang berbeda, namun terdapat beberapa kesamaan. Saya mohon maaf bila ini tidak jelas, namun itu karena saya menganggap baik konsep anarkisme maupun demokrasi partisipatoris cukup jelas untuk menjawab pertanyaan apakah keduanya sama.

RBR: Salah satu pencapaian utama Revolusi Spanyol adalah tingkat demokrasi akar rumput yang dihasilkan. Lebih dari 3 juta orang terlibat. Produksi di wilayah perkotaan dan pedesaan dikelola para pekerja sendiri. Apakah kebetulan bila anarkis, yang dikenal dengan dukungan mereka terhadap kemerdekaan individual, berhasil dalam bidang administrasi kolektif?

CHOMSKY: Sama sekali bukan kebetulan. Gejala-gejala dalam anarkisme yang saya pandang paling persuasif mendorong tercapainya masyarakat yang sangat terorganisasi, mengintegrasikan berbagai jenis struktur (tempat kerja, komunitas dan berbagai bentuk lain dari asosiasi sukarela), namun dikendalikan oleh para pelakunya, bukan oleh mereka yang berada pada kedudukan untuk memerintah (kecuali, lagi, bila otoritas bisa dianggap sah, sebagaimana dalam beberapa hal tertentu).

DEMOKRASI
RBR: Anarkis sering kali menghabiskan banyak tenaga membangun demokrasi akar rumput. Bahkan, mereka sering dituduh “membawa demokrasi ke tingka ekstrim”. Namun, banyak anarkis yang tidak mau menganggap demokrasi sebagai komponen penting dalam filsafat anarkis. Anarkis sering kali menggambarkan politik mereka sebagai sesuatu “mengenai sosialisme” atau “mengenai individu” – jarang tentang demokrasi. Apakah Anda setuju bahwa pemikiran demokratis merupakan unsur utama anarkisme?

CHOMSKY: Kritik terhadap “demokrasi” oleh para anarkis pada umumnya adalah kritik terhadap demokrasi parlementer, karena ia timbul dalam masyarakat dengan ciri-ciri yang amat represif. Misalkan AS, yang “bebas”, sejak awal mulanya. Demokrasi Amerika berdasarkan pada prinsip, yang ditekankan oleh James Madison dalam Konvensi Konstitusional tahun 1787, bahwa fungsi utama pemerintahan adalah untuk “melindungi minoritas yang berkelebihan dari mayoritas.” Kemudian dia memperingatkan bahwa di Inggris, satu-satunya model kuasi-demokratis pada masa itu, jika rakyat kebanyakan diizinkan memiliki peran dalam urusan publik, mereka akan menerapkan reformasi agraria atau “kekejaman” lain, dan bahwa sistem Amerika harus direkayasa sedemikian rupa untuk mencegah kejahatan terhadap “hak-hak kepemilikan”, yang harus dilindungi (bahkan, harus berjaya). Demokrasi parlementer dalam kerangka ini memang layak mendapatkan kritik keras dari kaum libertarian sejati, dan saya masih menyisakan berbagai cirinya yang sangat jelas – perbudakan, sebagai salah satu contoh, atau perbudakan upah yang sangat dikutuk oleh kaum buruh yang tidak pernah mendengar tentang anarkisme atau komunisme hingga abad ke-19 dan sesudahnya.

LENINISME
RBR: Pentingnya demokrasi akar rumput bagi setiap perubahan yang berarti dalam masyarakat tampaknya merupakan sesuatu yang jelas dengan sendirinya. Namun, dulu kaum kiri sendiri tidak memiliki pandangan yang jelas mengenai hal ini. Saya membahas demokrasi sosialis pada umumnya, dan juga Bolshevikisme – tradisi-tradisi kiri yang tampaknya memiliki lebih banyak kemiripan dengan pemikiran elitis daripada praktik demokratis yang tegas. Lenin, sebagai contoh yang lazim, meragukan bahwa para buruh bisa mengembangkan diri lebih dari “kesadaran serikat buruh” – yang saya artikan bahwa dia menganggap bahwa para buruh tidak bisa melihat jauh ke depan di luar keadaan mereka sendiri. Hampir sama dengan sosialis Fabian, Beatrice Webb, yang sangat berpengaruh di kalangan Partai Buruh di Inggris, berpandangan bahwa para buruh hanya tertarik pada “taruhan pacuan kuda”! Dari mana elitisme ini timbul dan apa dampaknya pada kaum kiri?

CHOMSKY: Saya kira, sukar menjawab pertanyaan ini. Jika kaum kiri mencakup “Bolshevikisme”, maka saya akan terang-terangan memisahkan diri dari kaum kiri. Dalam pandangan saya, Lenin adalah salah satu musuh terbesar sosialisme, karena alasan-alasan yang telah saya sampaikan. Pemikiran bahwa buruh hanya tertarik pada taruhan pacuan kuda merupakan absurditas yang akan terbukti kesalahannya dengan sedikit saja memperhatikan sejarah perburuhan atau pers kelas buruh yang independen dan aktif yang tumbuh di berbagai tempat, termasuk kota-kota manufaktur New England yang tidak jauh dari tempat saya menulis ini – ditambah lagi catatan inspirasional perjuangan rakyat yang berani yang ditindas sepanjang sejarah hingga kini. Tengok saja pelosok paling buruk di belahan dunia ini, Haiti, yang dianggap oleh para penjajah Eropa sebagai surga dan sumber kekayaan Eropa yang cukup penting, yang kini hancur, mungkin tanpa mungkin bisa diperbaiki lagi. Dalam beberapa tahun belakangan, dalam kondisi yang sedemikian buruk sehingga tak terbayangkan oleh penduduk negara-negara kaya, rakyat jelata dan kaum miskin kota membangun gerakan demokratis kerakyatan yang berdasar pada organisasi akar rumput yang melampaui pencapaian di negeri mana pun yang saya tahu; hanya komisaris penuh pengabdian yang tidak akan tertawa terbahak-bahak kalau tahu intelektual dan pemimpin politik AS berencana mengajari rakyat Haiti demokrasi.

Pencapaian mereka sedemikian besar dan mencemaskan penguasa sehingga mereka sekali lagi ditindas dengan teror yang kejam, dengan dukungan AS yang jauh lebih besar daripada yang ia akui, dan mereka tetap tidak menyerah. Apakah akar rumput ini hanya tertarik dengan pacuan kuda?

Saya menyarankan perkataan Rousseau yang beberapa kali saya kutip: “ketika saya melihat segerombolan orang tak beradab yang telanjang bulat mengolok-olok kebejatan moral Eropa, dan menahan lapar, api, pedang dan kematian untuk mempertahankan satu-satunya kemerdekaan yang mereka punya, saya rasa para budak tersebut layak atas kemerdekaannya.”

RBR: Berbicara mengenai hal umum kembali, karya-karya Anda – Deterring Democracy, Necessary Illusions dan lain-lain – secara konsisten membahas peran dan banyaknya pemikiran elitis dalam masyarakat seperti masyarakat kita. Anda menyatakan bahwa dalam demokrasi “Barat” (atau parlementer) terdapat antagonisme terhadap peran atau masukan konkrit dari massa rakyat, kalau-kalau ia mengancam distribusi kekayaan yang tidak adil, yang menguntungkan yang kaya. Karya-karya Anda cukup meyakinkan dalam hal ini, namun, terlepas dari ini, beberapa orang terkejut dengan pernyataan Anda. Sebagai contoh, Anda menyejajarkan politik Presiden J. F. Kennedy dengan Lenin, lebih kurang menyejajarkan keduanya. Selain itu, ini mengejutkan pendukung kedua pihak! Dapatkah Anda memaparkan lebih lanjut validitas perbandingan ini?

CHOMSKY: Saya sebenarnya tidak pernah “menyejajarkan” doktrin intelektual liberal administrasi Kennedy dengan Leninis, namun mencatat beberapa keserupaan yang mencolok – seperti diramalkan Bakunin seabad lalu dalam komentarnya mengenai “kelas baru” ini. Sebagai contoh, saya mengutip pernyataan McNamara mengenai perlunya meningkatkan pengendalian manajerial untuk benar-benar “bebas”, dan bahwa “kurangnya manajemen” menjadi “ancaman bagi demokrasi” untuk menunjukkan bahwa pernyataan macam ini benar-benar suatu pembodohan. Ubahlah beberapa kata dalam pernyataan tersebut, dan kita mendapatkan doktrin Leninis standar. Saya menganggap, akar masalah keduanya cukup dalam. Tanpa klarifikasi lebih lanjut tentang apa yang “mengejutkan” orang, saya tidak bisa berkomentar lebih lanjut. Perbandingan ini spesifik, dan saya pikir keduanya cukup layak dan tepat. Jika tidak, itu merupakan kesalahan, dan saya sangat tertarik untuk mendapat pencerahan akan hal tersebut.

MARXISME
RBR: Secara spesifik, Leninisme merujuk pada suatu bentuk Marxisme yang berkembang bersama V. I. Lenin. Apakah Anda secara tersirat membedakan karya-karya Marx dari kritik khusus Anda terhadap Lenin bila Anda menggunakan istilah “Leninisme”? Apakah Anda melihat keberlanjutan antara pandangan Marx dengan praktik Lenin di kemudian hari?

CHOMSKY: Pernyataan Bakunin tentang bahaya “Birokrasi Merah” yang akan menjadi “yang terburuk di antara semua pemerintah despotik” telah dikumandangkan jauh sebelum Lenin, dan diarahkan pada pengikut Marx. Sebenarnya, pengikut Marx banyak datang dari berbagai jenis; Pannekoek, Luxembourg, Mattick dan lain-lainnya sangat berbeda dengan Lenin, dan pandangan mereka seringkali serupa dengan anarko-sindikalis. Bahkan, Korsch dan kawan-kawannya menulis secara simpatik mengenai revolusi anarkis di Spanyol. Terdapat keberlanjutan antara Marx dan Lenin, namun terdapat pula keberlanjutan ke kaum Marxis yang sangat kritis kepada Lenin dan Bolshevikisme. Karya Theodor Shanin mengenai sikap Marx di kemudian hari terhadap revolusi petani juga relevan di sini. Saya bukan pakar Marx, dan tidak akan mencoba-coba memberikan penilaian serius mengenai mana yang merupakan kelanjutan “Marx sebenarnya”, bahkan bila pertanyaan tersebut bisa terjawab.

RBR: Baru-baru ini, kami mendapatkan sebuah eksemplar Notes on Anarchism (yang diterbitkan kembali oleh Discussion Bulletin di AS tahun lalu). Di dalamnya Anda menunjukkan pandangan “Marx muda”, terutama mengenai pengembangan pemikirannya tentang alienasi di bawah kapitalisme. Apakah Anda sepakat dengan pembagian kehidupan dan karya Marx ini – seorang sosialis muda yang lebih libertarian namun di kemudian hari seorang otoriter yang kaku?

CHOMSKY: Marx muda mendapatkan banyak pengaruh dari lingkungan hidupnya, dan dapat ditemukan banyak keserupaan dengan pemikiran yang menghidupkan liberalisme klasik, berbagai aspek Pencerahan dan Romantisisme Perancis dan Jerman. Sekali lagi, saya tidak cukup paham Marx untuk memberikan penilaian yang mutlak. Kesan saya, Marx muda adalah seorang tokoh akhir Pencerahan, dan Marx tua adalah seorang pegiat otoriter dan analis kritis terhadap kapitalisme yang tidak memiliki banyak alternatif sosialis. Namun itu hanya kesan saya saja.

RBR: Dari pemahaman saya, inti pemikiran Anda tergambar dari konsep Anda mengenai sifat manusia. Dulu, pemikiran tentang sifat manusia mungkin dipandang sebagai terbelakang, bahkan mengekang. Sebagai contoh, aspek tetap dari sifat manusia seringkali jadi alasan bahwa perubahan mendasar ke arah anarkisme tidak mungkin terjadi. Apakah Anda punya pendapat lain? Mengapa?

CHOMSKY: Inti pandangan semua orang adalah konsep mengenai sifat manusia, seberapa pun jauh dari kesadarannya atau tidak dinyatakan secara tersurat. Paling tidak, hal ini berlaku pada orang-orang yang menganggap dirinya agen moralitas dan bukan monster. Entah seorang mendorong reformasi atau revolusi, stabilitas atau kembali ke masa lalu, atau hanya merawat kebunnya sendiri, hal itu berdasar pandangan bahwa yang dilakukannya “baik bagi rakyat”. Namun penilaian tersebut berdasar pada suatu konsepsi mengenai sifat manusia, yang akan diusahakan agar bisa menjadi sejelas mungkin, agar bisa dinilai. Jadi dalam hal ini, saya tidak berbeda dengan orang lain.

Anda benar bahwa sifat manusia dianggap sebagai “terbelakang”, namun pandangan ini adalah hasil dari kebingungan. Apakah cucu saya tidak berbeda dengan batu, kadal, ayam atau monyet? Seseorang yang menganggap ini absurd akan sadar bahwa ada yang disebut “sifat manusia”. Kita tinggal menjawab pertanyaan mengenai apa itu – pertanyaan yang penting dan menarik, dengan daya tarik ilmiah maupun kemanusiaan yang tinggi. Kita memiliki cukup pengetahuan mengenai berbagai aspek tentang hal tersebut, namun bukan yang memiliki signifikansi kemanusiaan yang besar. Selebihnya, kita hanya memiliki harapan dan keinginan, intuisi dan spekulasi.

Tidak ada yang “terbelakang” dari fakta bahwa janin manusia sedemikian terbatas hingga ia tidak menumbuhkan sayap, atau sistem penglihatannya berbeda dengan serangga, atau tidak memiliki insting melacak rumahnya seperti merpati. Faktor-faktor serupa yang membatasi perkembangan organisme juga memungkinkannya ia memiliki struktur yang kaya dan rumit. Sebuah organisme yang tidak memiliki struktur intrinsik determinatif semacam itu, yang secara radikal akan membatasi perkembangannya, akan menjadi makhluk serupa amuba (itu pun jika ada). Lingkup dan batas perkembangan memiliki hubungan logis.

Ambillah bahasa sebagai contoh, salah satu kapasitas khas manusia yang sudah cukup dipahami. Kita memiliki alasan-alasan kuat bahwa semua bahasa manusia sangatlah serupa; seorang ilmuwan dari luar bumi yang memperhatikan manusia akan berkesimpulan bahwa hanya ada sebuah bahasa, dengan variasi-variasi kecil. Alasannya adalah bahwa aspek khusus sifat manusia yang mendasari perkembangan bahasa hanya memungkinkan pilihan yang amat terbatas. Apakah ini membatasi? Tentu saja. Apakah ini membebaskan? Tentu, juga. Batasan-batasan inilah yang memungkinkan sistem ekspresi pemikiran yang kaya dan rumit untuk berkembang dalam cara-cara serupa pada dasar yang amat sederhana, terpisah-pisah dan dengan pengalaman berbeda.

Bagaimana dengan perbedaan manusia yang ditentukan oleh biologi? Bahwa ini ada adalah hal yang benar, dan merupakan sumber kebahagiaan, bukan kecemasan atau penyesalan. Kehidupan di antara manusia klon yang identik tidaklah menyenangkan, dan seorang yang waras akan gembira bahwa orang lain memiliki kemampuan yang tidak ia miliki. Ini sangat dasar. Asumsi lazim mengenai masalah ini bagi saya agak aneh.

Apakah sifat manusia, apa pun itu, mendukung atau menghalangi pengembangan bentuk kehidupan anarkis? Kita tidak memiliki cukup jawaban untuk pertanyaan ini. Ini memerlukan eksperimen dan penemuan untuk menjawabnya.

MASA DEPAN
RBR: Untuk mengakhiri wawancara ini, saya ingin bertanya sedikit tentang beberapa isu kiri baru-baru ini. Saya tidak tahu apakah situasi di AS serupa dengan di sini, namun dengan gagalnya Uni Soviet, terdapat demoralisasi kiri. Ini bukanlah berarti bahwa mereka sangat mendukung apa yang terjadi di Uni Soviet, namun perasaan umum bahwa dengan bubarnya Uni Soviet, sosialisme ikut terseret. Apakah Anda menemukan demoralisasi serupa? Apa pandangan Anda?

CHOMSKY: Tanggapan saya terhadap berakhirnya tirani Soviet serupa dengan reaksi saya terhadap kekalahan Hitler dan Mussolini. Dalam semua kasus tersebut, itu adalah kemenangan semangat kemanusiaan. Ini seharusnya diterima sebagai kabar baik bagi para sosialis, karena sebuah musuh besar sosialisme telah runtuh. Seperti Anda, saya juga heran bahwa orang-orang – termasuk mereka yang menganggap dirinya anti-Stalinis dan anti-Leninis – merasa demoralisasi dengan runtuhnya tirani tersebut. Ini menyingkap bahwa mereka sebenarnya lebih memiliki komitmen pada Leninisme daripada yang mereka percayai.

Namun, terdapat alasan-alasan lain yang perlu diperhatikan dengan hancurnya sistem tirani yang brutal ini, yang “sosialis” sekaligus “demokratis” (ingat bahwa ia mengklaim keduanya, dan klaim kedua ditertawakan di Barat, sementara yang pertama diterima dengan senang hati, sebagai senjata melawan sosialisme – salah satu contoh jasa intelektual Barat pada penguasa). Salah satu alasannya terkait dengan hakekat Perang Dingin. Dalam pandangan saya, ini merupakan contoh khusus “konflik Utara-Selatan”, bila kita menggunakan eufemisme untuk menggambarkan penaklukan Eropa terhadap sebagian besar dunia. Eropa Timur merupakan “Dunia Ketiga” yang asli, dan Perang Dingin sejak tahun 1917 tidak mirip sama sekali dengan reaksi bagian-bagian lain dari Dunia Ketiga untuk mengambil jalannya sendiri, meskipun perbedaan skala memberikan ciri tersendiri bagi konflik ini. Untuk alasan ini, kita bisa beranggapan bahwa wilayah ini akan kembali seperti awalnya: Ceko atau Polandia Barat akan bergabung kembali dengan Barat, sementara yang lain kembali ke perannya sebagai pelayan Eropa, bekas Nomenklatura yang menjadi elit standar dunia ketiga (dengan izin dari penguasa negara-perusahaan Barat, yang memilih mereka dibandingkan alternatif lainnya). Ini bukan masa depan yang menyenangkan, dan menimbulkan penderitaan yang luar biasa.

Alasan kedua berkaitan dengan pelarangan senjata nuklir (deterrence) dan non-blok. Seburuk-buruknya imperium Soviet, keberadaannya memberikan ruang untuk menjadi non-blok, dan untuk alasan yang sinis, kadang-kadang memberikan bantuan terhadap korban serangan Barat. Pilihan itu kini tiada, dan Selatan menderita akibatnya.

Alasan ketiga berkaitan dengan apa yang dinyatakan pers bisnis sebagai “buruh Barat yang dimanjakan” dengan “gaya hidup mewah” mereka. Dengan sebagian besar Eropa Timur di bawah kekuasaan mereka, pemilik perusahaan dan manajer memiliki senjata ampuh baru untuk menindas kelas buruh dan kaum miskin di Barat. GM (General Motors) dan VW (Volkswagen) bisa tidak hanya memindahkan produksi ke Meksiko dan Brasil (atau mengancam untuk melakukan itu, yang akibatnya sama saja), tapi juga ke Polandia dan Hungaria, tempat buruh yang memiliki keterampilan dan terlatih diupah jauh lebih murah. Tentu saja mereka puas dengan itu jika melihat keuntungannya.

Kita bisa belajar banyak tentang Perang Dingin (atau konflik lainnya) dengan melihat siapa yang gembira dan siapa yang tidak setelah perang tersebut berakhir. Dengan kriteria ini, pemenang Perang Dingin adalah elit Barat dan bekas Nomenklatura, yang kini kaya melebihi impian terliar mereka, dan yang kalah adalah sebagian terbesar penduduk Timur dan kelas buruh serta kaum miskin di Barat, juga sektor kerakyatan di Selatan yang berusaha mengambil jalan yang independen.

Pemikiran barusan cenderung menimbulkan histeria di antara intelektual Barat, kalau mereka bisa membayangkannya, yang jarang terjadi. Ini mudah ditunjukkan dan dipahami. Pengamatan yang benar, dan membuka kedok kekuasaan dan hak-hak istimewa; itulah penyebab histeria mereka.

Secara umum, menurut saya, reaksi orang yang jujur terhadap berakhirnya Perang Dingin akan lebih rumit daripada sekedar kepuasan atas jatuhnya tirani yang brutal, dan reaksi-reaksi umum yang banyak muncul terjangkiti kemunafikan yang luar biasa.

KAPITALISME
RBR: Dalam banyak hal, kiri sekarang berada pada titik awalnya pada abad lalu. Seperti pada waktu itu, ia menghadapi suatu bentuk kapitalisme yang sedang menanjak. Kini terdapat lebih banyak “konsensus”, lebih banyak daripada saat lain dalam sejarah, bahwa kapitalisme merupakan satu-satunya organisasi ekonomi yang valid, meskipun kesenjangan kekayaan makin lebar. Terhadap latar belakang ini, bisa dikatakan bahwa kiri tidak yakin mengenai bagaimana cara untuk maju. Bagaimana pandangan Anda terhadap masa ini? Apakah ini menjadi pertanyaan “kembali ke dasar”? Apakah usaha yang dilakukan sekarang harus menekankan tradisi libertarian dalam sosialisme dan pemikiran demokratis?

CHOMSKY: Saya anggap pandangan tersebut sebagian besar merupakan propaganda. Apa yang disebut sebagai “kapitalisme” pada dasarnya adalah sebuah sistem merkantilisme korporatis, dengan tirani privat yang besar dan tidak bertanggung jawab yang memiliki kendali besar terhadap ekonomi, politik, sosial dan kebudayaan, bekerja sama dengan negara yang kuat yang melakukan intervensi besar-besaran terhadap ekonomi domestik dan masyarakat internasional. Ini sangat tepat dalam kasus AS, tidak seperti banyak ilusi yang menutup-nutupinya. Orang kaya dan berhak istimewa lebih enggan menghadapi disiplin pasar saat ini ketimbang dulu, meskipun mereka menganggapnya baik-baik saja bagi rakyat kebanyakan. Sebagai gambaran, pemerintahan Reagan yang berkubang dalam retorika pasar bebas, juga membanggakan bahwa rezim tersebut adalah rezim yang paling proteksionis dalam sejarah AS pasca perang – bahkan lebih daripada gabungan semuanya. Newt Gingrich, yang memimpin “perjuangan” liberal kini, mewakili wilayah yang amat kaya yang mendapatkan lebih banyak subsidi federal daripada wilayah pinggiran urban lainnya di AS. Kelompok “konservatif” yang ingin mengakhiri makan siang gratis bagi anak-anak yang kelaparan juga menuntut naiknya anggaran Pentagon, yang menjadi seperti kondisi di akhir dekade 1940-an namun dalam bentuknya saat ini karena – sebagaimana dijelaskan pers bisnis – industri teknologi tinggi tidak bisa bertahan dalam sebuah “sistem ekonomi ‘pasar bebas’ yang murni, kompetitif dan tidak disubsidi,” dan pemerintah harus menjadi penyelamatnya. Tanpa penyelamat ini, pendukung Gingrich akan menjadi buruh miskin (bila beruntung). Tidak akan ada komputer, peralatan elektronik, industri penerbangan, metalurgi, otomasi dan lain-lain. Anarkis jangan sampai tertipu kebohongan tradisional ini.

Lebih dari sebelumnya, pemikiran sosialis libertarian kini relevan, dan penduduk sangat terbuka terhadapnya. Meskipun terdapat sejumlah besar propaganda korporatik, di luar kelompok terdidik, rakyat masih memiliki sikap tradisionalnya. Di AS, misalnya, lebih dari 80% penduduk menganggap bahwa sistem ekonomi “secara mendasar tidak adil” dan sistem politik sebagai tipuan, yang hanya melayani “kepentingan tertentu”, bukan “rakyat.” Mayoritas menganggap bahwa kelas buruh memiliki peran yang terlalu kecil dalam masalah masyarakat (demikian pula di Inggris), bahwa pemerintah seharusnya bertanggung jawab untuk membantu orang yang memerlukan, bahwa pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan harus diprioritaskan ketimbang pemotongan anggaran dan potongan pajak, bahwa rencana Republikan saat ini melalui Kongres hanya menguntungkan yang kaya dan merugikan rakyat banyak, dan lain-lain. Kaum intelektual bisa mendongengkan cerita yang berbeda, namun tidak terlalu sukar menemukan fakta-fakta yang sebenarnya.

RBR: Di sisi tempat pemikiran anarkis terbukti dengan runtuhnya Uni Soviet – ramalan Bakunin pun terbukti kebenarannya. Apakah Anda berpikir bahwa kaum anarkis harus gembira dari perkembangan umum ini dan dari ketepatan analisis Bakunin? Apakah anarkis harus melihat masa depan dengan keyakinan lebih besar dalam pemikiran dan sejarah mereka?

CHOMSKY: Saya pikir – paling tidak, berharap – bahwa jawabannya tersirat di atas. Saya pikir bahwa masa kini memiliki ancaman yang besar dan tanda-tanda harapan yang juga besar. Apa yang akan terjadi bergantung pada bagaimana kita memanfaatkan kesempatan.

RBR: Terakhir, Noam, pertanyaan yang agak berbeda. Kami telah memesan Guinness untuk Anda. Kapan Anda datang dan meminumnya?

CHOMSKY: Siapkan saja Guinness-nya. Saya harap saya tak akan terlalu lama. Tidak bergurau, saya akan di sana besok andai saya bisa. Kami (saya akan datang bersama istri saya, yang tidak terbiasa dengan perjalanan terus-menerus) menikmati saat-saat yang sangat luar biasa di Irlandia, dan berharap bisa pulang. Kenapa nggak ya? Kami tidak mau membuatmu bosan dengan detailnya, tapi ada permintaan yang luar biasa dan makin banyak—refleksi dari kondisi yang telah saya coba gambarkan.


Terjemahan bahasa Indonesia oleh Yab Sarpote dari Red & Black Revolution No. 2 tahun 1996. Naskah daring wawancara ini dapat diakses di alamat berikut: http://www.ditext.com/chomsky/may1995.html

Dari Kolonialisme hingga Neoliberalisme



oleh Sulaiman Djaya, esais dan penyair

Indonesia sebagai sebuah nama bagi geografi yang kemudian dicakup dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tentulah saya ‘kenal’ ketika saya mulai menjalani pendidikan formal di Sekolah Dasar (SD). Salah-satunya melalui materi sejarah, yang ketika itu disampaikan melalui Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Meski kemudian saya tahu, bersamaan dengan pembawaan otodidak saya, untuk membaca buku-buku di luar kebutuhan materi kuliah di sebuah universitas di mana saya ikut duduk di kelas bersama para mahasiswa/i yang lain, saya jadi tahu bahwa Indonesia sebagai sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah buah dari ‘peristiwa’ politik dalam rentang 1945-1950an, karena sebelumnya geografi yang kini tercakup dalam nama Indonesia adalah sebaran sejumlah kerajaan dan kesultanaan, termasuk di era Pemerintah Hindia-Belanda.

Namun demikian, Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang merupakan ‘penyatuan’ sejumlah warisan historis kerajaan dan kesultanan di wilayah-wilayah yang kini tercakup dalam nama Indonesia, merupakan bukti kecerdasan dan kearifan para bapak bangsa kita bahwa sebaran kerajaan dan kesultanan itu pada hakikatnya adalah masih ‘saudara’ setanah-air meski beragam suku, budaya, bahasa, ras, dan agama. Dan inilah keunikan sekaligus keunggulan bangsa kita, yang kemudian ‘dipatenkan’ dalam Dasar Negara (Pancasila) dan UUD 45 dengan ‘motto’ Bhinneka Tunggal Ika. Terbentuk dari rajutan dan sulaman keragaman namun memiliki kesadaran bersama untuk menamakan diri mereka sebagai ‘Bangsa Indonesia’. Sebuah ‘Bangsa’ yang kemudian sejak era orde baru Soeharto, mulai ‘dikendalikan’ oleh kekuatan asing (Amerika) setelah sebelumnya diatur oleh bangsa lain (Belanda).

Saat ini saya tidak mempercayai partai politik, elite elite negeri ini, mulai dari eksekutif, legislatif dan yudikatif. Karena bagi saya, mereka semua sama: tidak menjalankan visi Pancasila dan amanat UUD 45, yang ada malah mereka berusaha mengamandemen UUD 45 yang sejalan dengan kepentingan kebijakan liberal. Sebagai warga Negara saya berhak memiliki persepsi dan pandangan yang seperti itu berdasarkan pembacaan subjektif saya, karena hakikat pendirian Negara bangsa adalah demi cita-cita warga Negara. Namun kenyataannya bangsa dan Negara ini dikangkangi feodalisme baru yang berbaju partai politik dan rutinitas suksesi.

Kebijakan liberal itu, contohnya, tampak tambah menguat di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, karena kebetulan Wakil Presidennnya, yaitu Boediono dan salah-satu menteri di kabinetnya, yaitu Sri Mulyani adalah orang-orang liberal. Yang saya maksud kebijakan liberal adalah kebijakan yang tidak pro rakyat, tetapi lebih pro oligarkhi dan korporasi global (Amerika dkk), seperti kebijakan pencabutan subsidi sosial dan privatisasi aset-aset Negara. Berikut contoh regulasi (Undang-Undang) yang disetir oleh kebijakan liberal (pro oligarkhi dan korporat global): UU Penanaman Modal Asing, UU Migas, UU Sumber Daya Air, dan UU BUMN. Pengesahan UU ini dilakukan dengan intervensi konsultan asing seperti New Democratic Initiatives (NDI) dan United States Agency for International Development (USAID).

Mereka contohnya bermain dengan menggunakan tangan DPR dan para menteri, seperti dengan menggunakan tangannya Laksamana Sukardi, Boediono, Sri Mulyani, Darmin Nasution, dan sejumlah think tanks dan arsitek kebijakan liberal di negeri ini, yang juga masih aktif, seperti di pemerintah Joko Widodo dan Jusuf Kalla saat ini.

HARI INI MEMANG PEMAHAMAN TENTANG POLITIK BERSIFAT MACHIAVELIAN, politik yang lebih dimengerti, dan pada kenyataannya memang demikian, sebagai predatorisme oligarkhi dan korporasi global. Politik dalam arti ‘keberpihakan kepada mayoritas warga’, kalau pun ada, lebih merupakan kemasan halus kapitalisme global, di mana warga Negara lebih dipahami sebagai konsumen komoditas mereka, bahkan hingga sumber daya dan fasilitas yang mestinya dikelola Negara sekali pun, dikomoditaskan oleh oligarkhi dan korporasi. Jika kita bertanya: Apakah elite-elite bangsa ini mengamalkan amanat UUD 45 dan isi Pancasila? Maka jawabannya tidak. Dulu, barangkali, pengaruh dan dominasi lembaga-lembaga global (Amerika) dkk itu masih sebatas berada di halaman Negara bangsa kita, tapi saat ini sudah berada di dapur Negara bangsa kita. Mereka bahkan mampu mengarahkan kebijakan apa dan keputusan seperti apa yang akan diambil oleh anggota DPR dan para elite-elite eksekutif negeri ini, dari tingkat presiden hingga menteri.

Sebagai contoh, terkait rezim saat ini, misalnya, warga Negara yang tercerahkan akan mengajukan beberapa pertanyaan:

[1] Bagaimana sesungguhnya proses pengambilan keputusan dan kebijakan para elite itu, mengingat misalnya, terkait kebijakan ekonomi dan politik Darmin Nasution dan Sri Mulyani, yang membuka lebar-lebar modal asing (100%) pada sektor-sektor yang seharusnya dikelola rakyat

[2] Atas dasar apa keputusan tersebut diambil, mengingat banyak sekali kebijakan yang diambil Sri Mulyani, Darmin Nasution, dkk lebih berpihak kepada oligarkhi dan korporasi global ketimbang pada pemberdayaan usaha warga negara bangsa ini.

[3] Apakah, jika dilihat dengan kacamata buruk-sangka, rezim saat ini memang sebuah Negara dengan banyak boss? Yang kebetulan para boss itu tak ubahnya para don dari dunia sana yang seenaknya saja menekan dan mengarahkan kebijakan Negara lain yang akan menguntungkan mereka.

[4] Sebab, di saat ketersediaan komoditas, sebagai contohnya, Negara ini malah mengimpor beras, bawang, gula dan yang lainnya secara gila-gilaan sehingga berimbas pada para petani dan wong cilik

Mungkin proklamasi era millennial ini cocok dengan krisis politik, ideologi dan identitas bangsa kita saat ini: “Proklamasi………Kami elite-elite Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan ini menyatakan siap melaksanakan kebijakan liberal dan melayani keinginan korporasi global Amerika dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.” Tentu kita tidak boleh lupa bahwa tertulis dalam UUD 45: “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”

Namun sekarang Negara beserta para elitnya ngangguk-ngangguk dan manut kepada lembaga-lembaga Amerika seperti World Bank, IMF, NDI dan USAID untuk mengkhianati Pancasila dan UUD 45. Sehingga aset-aset Negara diprivatisasi seperti di era Megawati oleh korporasi global (Amerika dkk), usaha anak-anak bangsa tumbang oleh mafia dan kartel internasional, bahkan ditumbangkan kebijakan politik bangsa sendiri. Sampai bangsa ini tak lagi punya pemimpin, yang ada adalah elite-elite yang menjadi pencuri-pencuri kecil yang melayani pencuri-pencuri besar (korporasi global).

Hal demikian adalah cerminan krisis politik, ideologi dan identitas yang melanda bangsa yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia: kehilangan jatidiri dan martabat. Intelektual-intelektual negeri ini ternyata para kolaborator ideologi liberal Amerika. Mafia Berkeley Jilid II. Juru dakwah-juru dakwah yang menyiapkan jalan bagi kebijakan liberal.

Tak ketinggalan, media atau pers Indonesia pun menjadi kolaborator mereka, dan saat ini sedang berlangsung, bagaimana media dan pers Indonesia bekerja pula untuk mempertahankan status quo yang pro kebijakan liberal. Dalam konteks suksesi dan pemilihan umum tingkat presiden, oligarkhi dan korporasi ini acapkali bermain dua kaki. Masyarakat dan publik dibuat gamang oleh mereka, dihasut setiap waktu dengan propaganda-propaganda partisan yang tidak mendidik dan semakin menambah kebodohan warga Negara, bukannya mencerdaskan. Tentu saja mereka, oligarkhi dan korporsai global ini, seperti telah disebutkan, ‘membeli’ bos-bos media, karena media dapat menjadi instrument komunikasi dan propaganda massif yang cepat dan efektif untuk menyebarkan propaganda-propaganda yang sejalan dengan kepentingan mereka.

Terkait yang demikian, Professor James Petras pernah mengungkapkan pernyataan yang menarik: “Hubungan antara teknologi informasi, khususnya internet dengan politik merupakan isu penting yang menjadi bagian dari gerakan sosial kontemporer. Banyak ilmuwan terdahulu mengembangkan teknologi informasi untuk tujuan ganda, di satu sisi teknologi informasi berhasil mengakselerasi aliran capital secara global khususnya capital financial dan memfasilitasi agenda globalisasi ala imperialis”.

JIKA KITA IBARATKAN DUNIA SAAT INI TAK UBAHNYA PAPAN CATUR, maka rajanya adalah oligarkhi dan korporasi global, sedangkan para punggawa dan pasukannya adalah para pemimpin Negara, militer, partai politik, kongres, dan media. Dunia hari ini, jika saya meminjam metaforanya Hannah Arendt dalam bukunya yang berjudul The Human Condition itu, adalah ketika yang private (yang ekonomi) menguasai dan mengatur yang publik dan yang politis, dalam arti para penguasa politik sesungguhnya adalah oligarkhi dan korporasi global

BAGAIMANA REJIM NEOLIBERAL ITU? Watak predatorisme kaum oligarkhi dan para korporat global yang memainkan kebijakan neoliberal, tak segan-segan mengorbankan kepentingan rakyat dan hanya memandang warga Negara sebatas sebagai konsumen. Rasa-rasanya saya perlu mengutip pernyataan Alvaro Garcia Linera, sebelum saya mengajukan sejumlah pertanyaan lainnya, demi sedikit menerangkan apa neoliberalisme itu, yaitu:

“PERTAMA-tama, neo-liberalisme menandakan proses fragmentasi – disintegrasi struktural – terhadap jaringan dukungan, solidaritas, dan mobilisasi kerakyatan. Di penjuru dunia, terutama di Eropa, Amerika Latin, dan Asia neo-liberalisme berkembang dari penghancuran, fragmentasi, dan disintegrasi terhadap gerakan pekerja yang lama, gerakan tani yang lama, dan mobilisasi perkotaan yang berkembang di tahun lima-puluhan dan delapan-puluhan.

Fragmentasi masyarakat dan penghancuran jaringan solidaritas maupun ikatan-ikatan kohesif telah memicu konsolidasi neo-liberalisme.

KEDUA, neo-liberalisme telah terbentuk, termajukan, dan menerapkan dirinya di dunia melalui privatisasi, yakni pengambil-alihan swasta terhadap kekayaan kolektif dan kepemilikan publik, termasuk simpanan publik, tanah, mineral, hutan, dana pensiun. Neo-liberalisme berkembang melalui privatisasi sumber-sumber daya tersebut.

KETIGA, masuknya neo-liberalisme disertai dengan penyusutan dan deformasi negara, terutama aspek negara yang baik-buruknya berhubungan dengan konsep kolektif atau ide-ide kesejahteraan. Neo-liberalisme bertujuan menghancurkan pengertian negara sebagai kolektif atau penjamin kesejahteraan, demi menerapkan tipe ideologi korporat yang menyerukan pengambil-alihan dan penjarahan kekayaan kolektif yang diakumulasikan berkali-kali oleh dua, tiga, empat, atau lima generasi.

KEEMPAT, penerapan neo-liberalisme menyebabkan pembatasan partisipasi politik rakyat; demokrasi diritualkan menjadi pemungutan suara setiap empat tahun. Warga pemilih tidak lagi turut serta dalam penentuan keputusan. Segelintir kecil lingkaran elit politik mengutus dirinya sendiri untuk mewakili rakyat. Inilah empat pilar neoliberalisme – fragmentasi terhadap sektor-sektor pekerja dan organisasi pekerja, privatisasi sumber daya publik, memudarnya peran negara, dan rintangan-rintangan terhadap pengambilan keputusan oleh rakyat”.

Juga pembukaan pidatonya Fidel Castro, yang berbunyi: “Globalisasi adalah realitas obyektif yang menggarisbawahi kenyataan bahwa kita semua adalah penumpang dalam kapal yang sama – planet ini di mana kita semua bertempat tinggal. Tapi penumpang kapal ini melakukan perjalanan dalam kondisi yang sangat berbeda.

Sejumlah kecil minoritas melakukan perjalanan dalam kabin mewah yang dilengkapi dengan internet, telepon seluler dan akses terhadap jaringan komunikasi global. Mereka menikmati makanan yang bergizi, berlimpah dan seimbang berikut persediaan air bersih. Mereka memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan yang canggih dan seni budaya.

Sejumlah besar mayoritas yang menderita melakukan perjalanan dalam keadaan yang menyerupai perdagangan budak yang menakutkan dari Afrika ke Amerika dalam masa kolonial kami yang lalu. Jadi, 85 persen penumpang kapal ini disesakkan ke dalam lambung kapal yang kotor, menderita kelaparan, penyakit, dan tak mendapat pertolongan.

Tentunya, kapal ini mengangkut terlalu banyak ketidak-adilan sehingga tidak akan terus mengapung, mengejar rute yang begitu tak rasional dan tak masuk akal sehingga tidak akan selamat sampai di pelabuhan. Kapal ini tampak ditakdirkan untuk karam menabrak bongkah es”.