Injil Barnabas
dianggap sebagai Injil yang ganjil dan mengada-ada oleh sejumlah kalangan,
meski bukan berarti kita tak mungkin memeriksa kembali klaim sejumlah kalangan
tersebut: adakah klaim tersebut benar dan memiliki dasar, ataukah malah justru
sebaliknya?
Dan sebagai
sebuah isu dan wacana yang dianggap kontroversial, pembicaraan tentang Injil Barnabas
memang merupakan masalah yang selalu aktual dan hangat untuk dibicarakan dan
didiskusikan, utamanya oleh para teolog dan intelektual yang memiliki pikiran
terbuka untuk membincang persoalan apa saja yang memungkinkan terbukanya atau
tersingkapnya “kebenaran” yang selama ini tak diketahui atau barangkali sengaja
ditutupi karena sejumlah alasan.
Sebagaimana
kita tahu, di satu sisi, umat Islam pada umumnya menaruh simpati pada Injil
ini, yang salah-satu alasannya adalah karena Injil Barnabas ini banyak
menubuatkan mengenai kedatangan Nabi Muhammad saw, bahkan nama Muhammad berulang kali disebutkan
dalam Injil ini.
Namun di lain pihak atau di lain sisi yang berbeda, sebagian besar kalangan
atau sejumlah ummat Kristiani menolak keabsahan Injil Barnabas ini, dan
menganggapnya sebagai Injil Palsu yang sesat dan menyesatkan. Sejumlah orang
dan kalangan Ummat Kristiani, misalnya, mengklaim bahwa Injil Barnabas tidak
dikenal dalam sejarah Kekristenan mula-mula (Periode Awal Gereja), dan masih
menurut klaim mereka, Injil Barnabas dibuat oleh seorang Muslim yang bernama Fra Marino / Mustafa Arande, dan Injil ini baru mulai muncul (dikenal) pada
sekitar abad ke-16 M. adakah benar demikian?
Terkait keberatan sejumlah kalangan dan beberapa
pihat tersebut, berikut, akan kami sajikan beberapa fakta historis seputar
Injil Barnabas yang sering dilupakan dan diabaikan oleh teman-teman di kalangan
ummat Nasrani.
Injil Barnabas pernah diterima sebagai Injil
Resmi (Kanonik) dalam kalangan Gereja-Gereja di wilayah Iskandariah sampai pada
tahun 325 M. Berdasarkan keterangan Irenaeus
(130-200 M), terbukti bahwa Injil Barnabas beredar luas pada abad pertama dan
kedua Masehi. Dalam sejarah kita mengenal Irenaeus sebagai salah satu tokoh
yang mendukung teori Keesaan Ilahi dan menentang ajaran Paulus serta menuduhnya
bertanggung-jawab dalam melakukan asimilasi Agama Pagan Romawi dan Filsafat
Plato terhadap ajaran Yesus (Isa al Masih putra Maryam) yang asli. Irenaeus
banyak sekali mengutip pernyataan-pernyataan dalam Injil Barnabas untuk
menguatkan argumentasinya.
Namun pada tahun 325 M diselenggarakanlah
Konsili Nicea, dimana Doktrin Trinitas waktu itu disahkan sebagai keyakinan
resmi. Konsekwensi dari keputusan tersebut adalah pemilihan dan penetapan empat
Injil dari sekitar 300 lebih jenis Injil yang beredar saat itu sebagai Injil
Resmi Gereja. Sedang nasib 300 Injil yang lain termasuk Injil Barnabas sangat
memilukan di mata sejarah. Injil-Injil tersebut diperintahkan untuk dimusnahkan
semuanya. Sebuah surat perintah pun diumumkan, yang menyatakan bahwa barang
siapa dijumpai menyimpan / memiliki Injil-Injil yang tidak resmi itu akan
dijatuhi hukuman mati.
Inilah
tindakan pertama yang terorganisir sedemikian rupa untuk memusnahkan seluruh
ajaran Yesus (Isa al Masih putra Maryam) yang asli, baik yang tertulis maupun
yang terekam dalam ingatan orang dilenyapkan, karena dipandang bertentangan
dengan ajaran Trinitas (hasil Konsili Nicea).
Namun lain halnya dengan Injil Barnabas,
perintah pemusnahan Injil ini tidak selamanya berhasil, terbukti berulangkali
nama Injil Barnabas tercantum dalam Daftar Kitab Terlarang untuk dibaca,
diedarkan dan diperjual belikan.
Salah-satunya adalah yang dilakukan oleh PAUS
DAMASUS yang tercatat dalam sejarah pernah menerbitkan sebuah Dekrit yang
menyatakan bahwa Injil Barnabas terlarang untuk dibaca. Dekrit tersebut didukung
penuh oleh Uskup Gelasus (wafat 395 M) yang menjabat uskup di Caesaria. Injil
Barnabas termasuk dalam daftar Kitab Apokripa yang diumumkan Paus Damasus.
Namun masih saja ada pihak-pihak yang memilikinya, karena terbukti Tokoh-Tokoh
Gereja dimasa itu sering mengutip pernyataan-pernyataan dari Injil Barnabas
tersebut, dalam tulisan mereka masing-masing.
Injil Barnabas juga dilarang beredar oleh Dekrit
Gereja-Gereja Barat pada tahun 382 M. Ada juga Dekrit yang diumumkan PAUS
HILARIUS pada tahun 465 M terkait pencekalan Injil Barnabas. Dekrit tersebut
dikuatkan lagi oleh Dekrit PAUS GELASIUS I pada tahun 496 M yang kembali
mencekal Injil Barnabas. Dekrit Paus Gelasius I kembali dikukuhkan oleh Dekrit
PAUS HORMISDAS yang lagi-lagi mencekal Injil Barnabas.
Seluruh
dekrit tersebut tercantum dalam Katalog Manuskrip Grik di dalam Perpustakaan
Chancellor Seguir (1558-1672 M), yang dipersiapkan oleh B. De Montfaucon
(1655-1741). Dan pada abad kelima Masehi, pada masa pemerintahan Kaisar Zeno (479-491 M), telah
ditemukan MAKAM BARNABAS, naskah lengkap Injil Barnabas tulisan tangan beliau
sendiri, ditemukan berada dalam kepitan tangan di dadanya. Hal ini tercatat
dalam ACTA SANCTORUM karya Boland Junii pada Bab II halaman 422-450,
diterbitkan di Antwerpen pada tahun 1698.
Dari uraian di atas dapat kita ambil kesimpulan,
bahwa klaim yang menyebutkan Injil Barnabas adalah Injil Palsu karangan seorang
Muslim ternyata sangat tidak berdasar dan terkesan mengada-ada. Hal ini
terbukti dengan adanya berbagai Dekrit pencekalan Injil Barnabas, yang mana
Injil ini berarti sudah ada jauh sebelum kedatangan Islam, bahkan ratusan tahun
sebelum Nabi Muhammad saw dilahirkan pada tahun 571 M.
Dengan
melihat begitu menggebunya Gereja melarang peredaran Injil Barnabas,
sampai-sampai 5 Dekrit telah diterbitkan untuk itu, maka wajar saja kalau kita
bertanya-tanya: mengapa Injil Barnabas begitu terlarang di mata Gereja?
Mungkinkah ada sesuatu yang hendak disembunyikan oleh Gereja dari umatnya? Atau
mungkin karena nama MUHAMMAD dan nubuat kedatangannya terlalu jelas dan vulgar
dibahas dalam Injil Barnabas sehingga membuat Gereja gerah dan resah?