Label

Tampilkan postingan dengan label Ukhuwwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ukhuwwah. Tampilkan semua postingan

Perebutan Kekuasaan Paska Wafatnya Kanjeng Nabi


oleh Sulaiman Djaya, pemerhati budaya

Di perpustakaan Forum Mahasiswa Ciputat (FORMACI), sewaktu saya masih aktif mengikuti darsah dan kajiannya bersama teman-teman mahasiswa yang lain, saya menemukan buku Saqifah yang ditulis oleh O. Hashem. Buku itu mencuri minat dan perhatian saya karena sub-judulnya: Awal Perselisihan Umat. Segera saja buku yang mulai kusam itu saya baca, dan segera saya pun jadi tahu kemelut perebutan kekuasaan di saat Kanjeng Nabi Wafat, meski Kanjeng Nabi telah menetapkan Sayidina Ali sebagai pemimpin penggantinya berdasarkan perintah wahyu ayat 67 Surah Al-Maidah yang turun di Ghadir Khum saat Haji Wada’ yang beliau umumkan di hadapan jamaah haji saat itu.

Peristiwa Saqifah adalah kudeta pertama dalam sejarah Islam, ketika Umar dkk mengkudeta Sayidina Ali di saat Sayidina Ali, Sayidah Fatimah, Imam Hasan, Imam Husain dan lainnya sedang sibuk mengurus jenazah Kanjeng Nabi. Sungguh luar biasa! Di saat Kanjeng Nabi wafat, mereka malah mengadakan konferensi Saqifah untuk mendirikan kekhilafahan bukannya mengurus jenazah Kanjeng Nabi.

Sayidah Fatimah dan sejumlah sahabat yang pro Sayidina Ali tentu saja menolak khalifah hasil Konferensi Saqifah, semisal Salman, Abu Dzar, Malik Asytar, Bilal dan yang lainnya dan mereka mengusulkan untuk memerangi kelompok Saqifah namun dicegah dan dilarang oleh Sayidina Ali karena hanya akan menciptakan perang saudara. Tapi apa lacur. Umar, Khalid bin Walid dkk memaksa ba’iat Sayidah Fatimah sampai-sampai mereka membakar dan mendobrak pintu rumah Sayidah Fatimah hingga menyebabkan luka, yaitu patahnya tulang rusuk Sayidah Fatimah, yang harus ditanggung oleh Sayidah Fatimah dengan rasa sakit selama 75 hari sisa hidupnya sebelum wafat paska wafatnya Kanjeng Nabi.

Buku yang ditulis oleh O. Hashem itu membuat saya ingin melakukan kajian pustaka yang lainnya: apakah peristiwa Saqifah dicatat oleh buku-buku lain. Dan ternyata sejumlah buku Sejarah Islam membenarkan peristiwa Saqifah tersebut. Tradisi Sunni atau Kaum Asy’ariyah-Maturidiyah menutupi sejarah Islam ini. Saya tidak tahu alasannya. Tapi yang pasti, setelah saya tahu dan kemudian melakukan kajian pustaka lanjutan, banyak penulis, perawi dan sejarahwan Sunni sendiri sebenarnya mencatat peristiwa tersebut dalam kitab-kitab mereka, tapi secara tradisi sejarah tersebut tidak diinformasikan di kalangan umat.

Peristiwa tersebut membuat saya kemudian meragukan klaim kaum Asy’ariyah-Maturidiyah (Sunni) bahwa semua sahabat itu ‘adil. Klaim yang tidak logis dan menentang fitrah memang. Karena manusia dari dulu sampai sekarang tak pernah sama maqom dan derajatnya karena ikhtiar dan kapasitasnya pun tidak-lah sama.

Kaum Sunni memiliki suatu pandangan bahwa seluruh sahabat Kanjeng Nabi Muhammad Al-Mustafa (tanpa kecuali) adalah contoh-contoh dan suri teladan yang patut kita teladani dan mereka itu pada masa hidupnya tak tersentuh oleh nafsu duniawi, mereka bersih dari dosa, mereka tidak serakah dan senantiasa berbuat baik. Mereka juga memiliki pandangan bahwa semua sahabat itu saling mencintai satu sama lainnya, mereka bekerja sama untuk menuju cita-cita Islam, mereka jauh dari saling membenci dan saling iri hati satu sama lainnya. Akan tetapi pandangan itu ternyata jauh panggang dari api. Sebuah klaim ahistoris yang tak mendidik.

Pandangan itu tidak sesuai dengan kenyataan sejarah. Memang, kita sebenarnya berharap bahwa hal itu benar, akan tetapi fakta-fakta dan bukti-bukti sejarah malah tidak mendukung sama sekali apa yang sudah diyakini sebagai kebenaran –yang ternyata politis ini. Fakta-fakta sejarah yang kejam merobek-robek pandangan-pandangan itu, sehingga orang-orang yang mengagumi para sahabat akan terhenyak di kursinya apabila kenyataan sejarah yang sebenarnya sampai pada mereka semua.

Mereka hampir-hampir semuanya tidak sanggup menerima kenyataan bahwa keutamaan-keutamaan para sahabat yang mereka kagumi hanyalah mitos belaka. Seorang pengagum yang paling fanatik pun tidak bisa menyangkal bahwa ada pergulatan kekuasaan diantara para sahabat yang memuncak bahkan sebelum Rasulullah dikebumikan sekalipun. Dan hal ini dicatat oleh banyak kitab-kitab yang ditulis oleh para perawi dan sejarahwan Sunni sendiri dan para sejarahwan dari mazhab lainnya. Mereka tidak bisa menyangkal sedikitpun bahwa pergulatan politik seperti itu memang ada dan pernah terjadi.

Oleh karena itu, bukti-bukti sejarah yang melimpah yang tertulis dalam berbagai buku sejarah Islam yang standar itu bisa kita pakai untuk merekonstruksi sejarah, merekonstruksi pandangan kita terhadap para sahabat, merekonstruksi keyakinan kita akan Islam karena dari para sahabatlah kita mendapatkan Islam. Sedangkan para sahabat itu tidak semua bisa kita percayai sesuai dengan apa yang kita lihat dalam sejarah. 

Tidak masuk akal sehat kita apabila para sahabat itu sama semua dari segala aspeknya termasuk aspek keimanan dan ketakwaan. Bahkan para Nabi pun memiliki berbagai tingkatan ruhaniah, apalagi para sahabat yang hanya manusia biasa. Tidak ada dua orang yang memiliki semua tingkat keimanan dan ketakwaan yang serupa. Dan hal itu sudah fitrah manusia yang tak pernah sama, sebab ikhtiar dan kapasitas manusia pun tidak sama.

Ketika mereka menerima Islam sebagai agama mereka, para sahabat Nabi itu adalah manusia biasa dan mereka memiliki preferensi yang berbeda-beda terhadap Islam. Masyarakat Islam yang ada pada waktu itu sama saja dengan yang ada pada hari ini. Masyarakat Islam pada waktu itu terdiri dari berbagai umat manusia dengan setiap karakter yang berbeda-beda.

Setelah memeluk Islam, beberapa dari mereka sanggup mencapai derajat keIslaman yang tinggi bahkan mencapai ke-ma’shuman seperti contohnya Sayidina Ali, sedangkan yang lainnya tetap sama—keadaan sebelum dan sesudah masuk Islam sama saja. Adapun penolakan (keengganan) Kaum Sunni terhadap Ghadir Khum dan pengangkatan Sayyidina Ali oleh Kanjeng Nabi sebagai pemimpin pengganti Kanjeng Nabi, contohnya disindir oleh Ayatullah Montazeri:

Ada seorang alim Syiah melewati kelompok Sunni. Mereka meminta agar alim Syiah itu bermalam di rumah mereka. Ia menyatakan kesediaannya dengan syarat tidak terjadi diskusi mazhab. Usai makan malam, berkatalah salah seorang ulama Sunni, “Bagaimana pendapatmu tentang Abu Bakar?” Ia menjawab, “Abu Bakar adalah muslim yang utama, salat, saum, haji, bersedekah, dan menyertai Nabi saw.” Kata alim Sunni, “Bagus, teruskan.” Alim Syiah itu berkata, “Secara singkat, Abu Bakar itu lebih utama dan lebih cerdas dari Rasulullah saw.” Orang yang hadir takjub mendengar itu dan berkata, “Mengapa engkau berkata seperti ini?” Orang Syiah itu berkata, “Rasulullah saw memerintah kaum muslimin selama 23 tahun tetapi ia tidak pernah memikirkan wajibnya dan pentingnya mengangkat khalifah. Abu Bakar hanya memerintah kurang dari tiga tahun tetapi ia mengerti dan memahami pentingnya seorang khalifah. Dengan begitu, niscaya Abu Bakar lebih cerdas dari Nabi saw.”

Sindiran itu hanya ingin mengatakan betapa mustahil dan tidak mungkinnya bila Kanjeng Nabi tak memikirkan masa depan ummatnya sehingga ia tidak menyiapkan pemimpin penggantinya yang sangat layak dan utama. Orang yang memang dalam kenyataan sejarah lebih utama daripada para sahabat lainnya.

Sementara itu, dalam sejarah Islam awal, Umar bin Khattab dkk dikenal sebagai kaum dan kelompok yang menciptakan permusuhan dan perpecahan di kalangan ummat Islam. Bahkan ada yang menyebut mereka sebagai kaum penyerobot. Sebenarnya pembangkangan Umar bin Khattab, sebagaimana dicatat Ibn Abbas dan para sahabat lainnya, sudah ia demonstrasikan saat menentang permintaan Kanjeng Nabi kala sakitnya di pembaringan untuk didatangkan kertas dan pena di mana Kanjeng Nabi akan menulis wasiat dengan kertas dan pena itu. Saat itu Umar bin Khattab berkata, “Orang ini meracau….Kitab Allah adalah cukup bagi kita…” Perkataan Umar bin Khattab itu pun menimbulkan kegaduhan dan perpecahan di kalangan para sahabat yang ada kala itu dan contoh sikap kurang ajar sehingga Kanjeng Nabi mengusir Umar dan kelompoknya dari rumah Kanjeng Nabi.

Selain itu, perkataan Umar bin Khattab itu dengan jelas telah memisahkan Kitab Allah dengan Nabi SAW ketika dia berkata di hadapan Kanjeng Nabi Saw:  “Kitab Allah adalah cukup bagi kita”. Kata-kata Umar itu secara langsung merendahkan martabat Kanjeng Nabi Saw.

Kenapa Makam Fatimah Azzahra Dirahasiakan?



Tarikh ini dicatat dalam catatan-catatan lintas mazhab, utamanya dalam Syi’ah dan Sunni, baik dari kalangan muhaddits hingga para sejarawan yang semasa atau yang hidup di jaman berikutnya. Memang, ada satu kejanggalan, ketika mayoritas ummat Islam barangkali tidak pernah bertanya ‘di mana gerangan makam Fatimah Azzahra as?’ Tetapi, marilah kita mulai saja bahasan ini.

Sebuah rombongan (kafilah) kecil yang terdiri dari orang-orang yang setia dan patuh pada Rasulullah tampak berjalan gontai. Segukan tangis lirih yang terasa mengiris-iris hati yang pilu terdengar dari mereka. Wajah-wajah mereka lusuh tertunduk tersembunyi dalam tutup-tutup kepala yang jatuh menaungi kepala-kepala mereka.  

Rombongan (kafilah takziah) itu berjalan tanpa mengeluarkan bunyi berarti ke sebuah tempat sunyi yang khusus untuk menguburkan salah seorang manusia suci yang mereka cintai. Mereka berjalan dalam kegelapan malam pada bulan Jumadil Tsani, hari ketiga di tahun 11 Hijriah. Rombongan itu menyusuri jalan-jalan kota Madinah. Terasa segar dalam ingatan, baru beberapa lama lewat mereka melakukan hal yang sama untuk manusia suci lainnya, Muhammad Al-Mustafa. Sekarang giliran puterinya yang tercinta, Fatimah Az-Zahra (as).

Dalam rombongan itu ada anak-anak dengan ayah mereka beserta teman-teman dekat dari sang ayah. Mereka semua berjalan dalam kebisuan dan kesabaran. Pada wajah-wajah mereka tampak kepasrahan dan keridhoan akan apa yang telah menimpa mereka selama beberapa hari ini. Akan tetapi meskipun begitu, sesekali masih terdengar tangis yang tertahan di tenggorokan, meski air mata yang mengucur deras dengan tangisan yang lirih sekali hampir tak terdengar, seakan ingin menyembunyikan kepedihan yang telah menimpa mereka agar tidak ada orang yang mendengar mereka di kegelapan malam, karena memang mereka tidak ingin seorangpun tahu di kota Madinah itu bahwa mereka sedang melakukan sebuah perbuatan yang akan direkam baik oleh sejarah.

Seorang ayah yang tadi disebutkan di atas ialah Imam Ali (as), sementara anak-anak yang turut bersamanya ialah putera-puterinya. Ada Imam Hasan (as) di sana, ada Imam Husain (as), ada Zainab, dan ada Umm Kultsum yang berjalan gontai dalam kebisuan di belakang ayahnya. Bersama mereka ada para sahabat pilihan yang sangat setia kepada Nabi saw, baik ketika Nabi masih hidup atau ketika sudah wafat. Mereka adalah Abu Dzar Al-Ghifari, Ammar bin Yasir, Miqdad al-Aswad, dan Salman Al-Farisi.

Ketika setiap mata dari penduduk Madinah tertutup, ketika tak ada suara sedikitpun dari mereka, rombongan surga itu meninggalkan rumah Imam Ali (as) membawa usungan tandu berisi jenazah suci dari puteri sang Nabi, Fatimah Az-Zahra (sa). Anak-anaknya sekarang mengantar jenazah ibunya itu ke sebuah pemakaman yang sunyi yang sudah ditentukan. Akan tetapi di manakah ribuan penduduk kota Madinah yang seharusnya ada di tempat?

Ketika iringan pengantar jenazah puteri Nabi itu lewat, mengapa tak seorangpun dari mereka datang melawat? Mengapa pemakamannya dilangsungkan pada saat dianggap sangat tidak tepat? Mengapa pemakaman itu harus dilangsungkan di kegelapan malam yang pekat?

Sayyidah Fatimah Az-Zahra (sa) memang merencanakan itu semua sebelum wafatnya, dan telah memberi wasiat kepada Imam Ali bin Abi Thalib as agar para penduduk kota Madinah itu tidak datang ke pemakamannya. Ia ingin dikuburkan pada malam hari dan ingin agar kuburannya disembunyikan dari pengetahuan penduduk kota Madinah.

Ada kesunyian dan keheningan yang mencekam di sana, namun tiba-tiba terdengar tangisan agak keras dan parau memecah kesunyian tersebut. Tangisan itu datang dari pahlawan padang pasir yang musuh manapun pasti akan ngeri dan menyingkir saat berhadapan dengannya. Tapi tangisan itu tiba-tiba terdengar lebih keras seakan ingin menuntaskan rasa penasaran, setelah sebelumnya berusaha ditahan sekuat tenaga dan perasaan.

Sang pahlawan itu berkata dalam tangisannya:  “Ya, Rasulullah! Salam bagimu, wahai kekasihku. Salam dariku dan dari puterimu yang sekarang ini akan datang kepadamu dan ia sangat bergegas meninggalkanku untuk sampai kepadamu. Ya, Rasulullah, rasa luluh lantak terasa pada diriku dan rasa lemah tak berdaya telah menggerogoti diriku. Itu tak lain karena engkau dan puterimu telah meninggalkanku. Tapi aku sadar semua ini milik Allah dan kepadaNyalah segala sesuatu itu kembali (Al-Qur’an Surah Albaqarah [2] Ayat 156).

Semua yang telah dititipkan itu akan diambil kembali. Semua yang pernah kita miliki itu akan diambil lagi oleh pemiliknya yang sejati. Sementara itu, kepedihan dan kesedihan Imam Ali sang washinya Muhammad saw itu, tetap bersemayam dalam dirinya, baik siang maupun malam.

Tak ada batasan yang jelas bagi Imam Ali kapan ia bersedih dan kapan ia terbebas dari kesedihannya itu. Kepergian dua orang yang dicintainya sangat mengguncang dirinya. Perasaan itu akan tetap pada dirinya hingga dirinya nanti bertemu lagi dengan yang dicintainya, yaitu pada hari dimana ia dipanggil oleh Allah untuk menghadapNya.

Imam Ali kembali mengadu kepada Rasulullah dalam rintihan yang lirih: ”Ya, Rasulullah, puterimu pastilah akan mengadukan kejadian yang sedang menimpa umat ini. Puterimu ingin umat ini bersatu kembali. Puterimu ingin agar engkau datang kembali agar bisa mempersatukan umat yang sudah bercerai berai ini. Dan engkau nanti akan bertanya padanya secara rinci. Engkau akan bertanya mengapa umat ini menentang keluarga Nabi. Mengapa mereka mengkhianati apa-apa yang telah ditentukan oleh Nabi. Dan mengapa mereka melakukan hal ini, padahal kematianmu itu baru saja terjadi dan umat masih merasakan kejadian ini! Salam untuk kalian berdua! Salam perpisahan dariku yang sedang berduka bukan dariku yang telah tak suka kepada kalian berdua. Kalau aku pergi dari pusara kalian, itu bukan karena aku merasa bosan kepada kalian. Dan kalau aku berlama-lama di pusara kalian, itu bukan karena aku tak lagi percaya dengan kuasa Tuhan dan apa yang telah Tuhan janjikan kepada orang-orang yang tengah ditimpa kepedihan.”

Setelah menguburkan Fatimah Az-Zahra (as), rombongan berisi keluaga dekat Nabi dan para sahabat pilihannya itu pun segera bergegas kembali ke rumahnya masing- masing, sehingga tidak ada satu orangpun di kota Madinah yang tahu di mana Fatimah Azzahra as dikuburkan (dimakamkan).

Sesampainya mereka di rumah, anak-anak dengan segera sadar bahwa mereka telah ditinggalkan oleh ibunya. Mereka merasakan kesepian yang mencekik. Imam Ali segera menghibur mereka supaya kesedihan tak terlalu larut membawa pikiran mereka. Akan tetapi memang pada kenyataannya hal itu tidak mudah dilakukan. Imam Ali mencoba menenangkan diri mereka dan kemudian ia sendiri masuk ke dalam kamar dan kemudian larut dalam tangisan yang sendu. Sang pahlawan Badar, Uhud, Khaybar, Khandaq dan beberapa perang lainnya itu merasakan kelelahan yang luar biasa dalam menahan kepedihan dan akhirnya ia lampiaskan dalam tangisan. Tangisan karena rasa cinta dan kehilangan, bukan tangisan manja dan penuh keputus-asaan.

Mereka semua telah melalui serangkaian kejadian yang menyesakkan sepeninggal Rasulullah. Pengangkatan Imam Ali sebagai khalifah yang hak dan yang sesungguhnya, pemimpin dalam agama dan masyarakat atau pemimpin ummat sebagai Imam sekaligus pemegang hak kekhalifahan yang dicuri saat beliau dan keluarganya sedang memakamkan Rasulullah, dan washi (sebagai pengemban wasiatnya) Muhammad saw di Ghadir Khum telah dilupakan secara sengaja oleh banyak orang, ketika sebagian sahabat tergiur kekuasaan untuk menjadi khalifah.

Tanah Fadak warisan Rasulullah pun sudah dirampas semasa Abu Bakar berkuasa. Rumah mereka telah diserang oleh para utusan khalifah pertama demi memaksakan bai’at bagi ke-Khalifahan Abu Bakar. Pintu rumah keluarga Nabi yang dibakar itu pun menimpa Fatimah Az-Zahra as —pintu itu mematahkan beberapa tulang iganya dan menggugurkan kandungannya. Isteri sang Imam harus terbaring sakit di ranjangnya selama beberapa hari setelah itu, terbaring sendirian dan terisolasi dari dunia luar dan kemudian meninggal dalam kepedihan yang menyesakkan!

Malam hari itu, setiap anak terpaksa saling menghibur untuk meredakan kesedihan mereka. Mereka berkumpul dalam satu kamar dan tidur kelelahan, sungguh memang hari-hari yang berat akan masih menyambangi mereka satu demi satu. Sementara itu Bunda Fatimah Az-Zahra as menyaksikan mereka dengan wajah sendu.

MENGAPA MAKAM FATIMAH AZZAHRA DIRAHASIAKAN?
Hingga detik ini, tidak ada seorang pun yang tahu persis di manakah makam (kuburan) Sayyidah Fatimah Azzahra (as), yang kepadanya Rasulullah selalu memberikan pernghormatan yang penuh takzim. Rasulullah selalu senantiasa berdiri menyambut apabila Fatimah Az-Zahra as datang menjenguk. Rasulullah seringkali berkata (yang acapkali didengar langsung oleh sejumlah para sahabat dan kaum muslim): “Fatimah itu adalah bagian dari diriku. Siapapun yang menyakiti diri Fatimah akan berarti menyakiti diriku.”

Sejarah telah mencatat bahwa Fatimah dikuburkan di sekitar Jannat al-Baqi di Madinah, akan tetapi tidak ada seorangpun yang tahu tempat persisnya. Tak ada seorangpun yang bisa menunjukkan dengan pasti di mana makam dari puteri Nabi yang suci itu.

SEJARAH PERSELISIHAN ANTARA FATIMAH AZ ZAHRA DAN ABU BAKAR
Masalah ini juga telah disepakati kebenarannya oleh dua mazhab, Sunni dan Syi'ah. Orang yang insaf dan berakal tidak akan dapat lari kecuali harus mengatakan bahwa Abu Bakar berada pada posisi yang keliru dalam perselisihannya dengan Fatimah Az-Zahra as, dan ia tidak bisa menolak fakta bahwa Abu Bakar pernah menzalimi Penghulu Wanita Alam semesta ini.

Mereka yang menelaah sejarah ini dan mengetahui seluk-beluknya secara rinci akan tahu pasti bahwa Abu Bakar pernah mengganggu Fatimah Az-Zahra as dan mendustakannya secara sengaja, agar Fatimah Az-Zahra as tidak mempunyai alasan untuk berhujjah dengan nash-nash Al-Ghadir dan nash-nash lainnya akan keabsahan hak khilafah suaminya dan putra-pamannya, yakni Imam Ali bin Abi Thalib as.

Diantaranya adalah, seperti dikatakan oleh ahli sejarah bahwa Fatimah Az-Zahra (semoga Allah melimpahkan padanya kesejahteraan) pernah keluar mendatangi tempat-tempat pertemuan kaum Anshar dan minta mereka membantu dan membai'at Imam Ali. Mereka menjawab: "Wahai putri Rasulullah, kami telah berikan bai'at kami pada orang ini (Abu Bakar). Seandainya suamimu dan putra pamanmu mendahului Abu Bakar, niscaya kami tidak akan berpaling darinya."

Kala itu Imam Ali berkata: "Apakah aku harus tinggalkan Nabi di rumahnya dan tidak kuurus jenazahnya, lalu keluar berdebat tentang kepemimpinan ini?" Fatimah Az-Zahra as pun menyahut, "Abul Hasan telah melakukan apa yang sepatutnya beliau lakukan, sementara mereka telah melakukan sesuatu yang hanya Allah sajalah akan menjadi Penghisab dan Penuntutnya."[1]
  
Seandainya Abu Bakar memang berniat baik dan keliru, maka kata-kata Fatimah Az-Zahra as telah cukup untuk menyadarkannya. Tetapi Fatimah az-Zahra as masih tetap marah padanya dan tidak berbicara dengannya sampai beliau wafat.

Karena Abu Bakar telah menolak setiap tuntutan Fatimah Az-Zahra as dan tidak menerima kesaksiannya, bahkan kesaksian suaminya sekalipun, akhirnya Fatimah Az-Zahra as pun murka pada Abu Bakar, sampai beliau tidak mengizinkannya hadir dalam pemakaman jenazahnya, seperti yang beliau wasiatkan pada suaminya, Imam Ali. Fatimah Az-Zahra as juga berwasiat agar jasadnya dikuburkan secara rahasia di malam hari tanpa boleh diketahui oleh mereka yang menentangnya.[2

Alhasil, Fatimah Az-Zahra as sebenarnya ingin melaporkan kepada generasi muslimin berikutnya tentang tragedi yang disaksikannya pada zamannya, agar mereka bertanya-tanya kenapa Fatimah Az-Zahra as sampai memohon pada suaminya agar dikebumikan di malam hari secara sembunyi dan tidak dihadiri oleh siapa pun. Hal ini juga memungkinkan seorang muslim untuk sampai pada sebuah kebenaran lewat telaah-telaahnya yang intensif dalam bidang sejarah .

Dalam konteks ini Ibnu Abbas mendendangkan syairnya kepada Aisyah: Kau tunggangi onta[3] Kau tunggangi baghal[4] Kalau kau terus hidup, kau akan tunggangi gajah. Sahammu kesembilan dari seperdelapan, tapi telah kau ambil semuanya. Ini adalah contoh dari rangkaian fakta yang sungguh mengherankan. Bagaimana Aisyah mewarisi semua rumah Nabi saw sementara istri-istri beliau berjumlah sembilan, seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Abbas di atas?

Apabila Nabi tidak meninggalkan harta waris seperti yang disaksikan oleh Abu Bakar (yang memang keliru) dan karenanya dia melarangnya dari Fatimah Az-Zahra as, lalu bagaimana Aisyah dapat mewarisi pusaka Nabi? Apakah ada dalam Al-Quran suatu ayat yang memberikan hak waris pada isteri tapi melarangnya dari anak perempuan? Ataukah politik yang telah merubah segala sesuatu sehingga anak perempuan diharamkan dari menerima segala sesuatu dan si isteri diberi segala sesuatu?

Catatan: 
[1] Tarikh al-Khulafa jil. 1 hal.19; Syarh Nahjul Balaghah oleh Ibnu Abil Hadid al Mu’tazili.
[2] Shahih Bukhori jil.3 hal. 36; Shahih Muslim jil. 2 hal. 72.
[3] Mengimbas peperangan Jamal ketika beliau menunggangi onta.

[4] Mengimbas ketika beliau menunggangi baghal dalam usaha menghalangi Imam Hasan as dari dikuburkan dekat pusara datuknya. 


Kesultanan Pertama di Asia Tenggara Adalah Syi’ah



[1] Jika Anda perhatikan dengan seksama, terlihat jelas gambar kaligrafi yang membentuk gambar singa, yang terletak di tengah bagian bawah. Gambar singa sering diidentikkan atau menjadi simbol seorang sahabat, sepupu, sekaligus menantu Nabi SAW yaitu Imam Ali bin Abi Thalib. Imam Ali bin Abi Thalib bernama asli Haydar bin Abu Thalib, Haydar yang berarti Singa adalah harapan keluarga Abu Thalib untuk mempunyai penerus yang dapat menjadi tokoh pemberani dan disegani di antara kalangan Quraisy Mekkah.

Namun, setelah mengetahui sepupu yang baru lahir diberi nama Haydar, Nabi SAW memanggilnya dengan Ali yang berarti Tinggi (derajat di sisi Allah). Imam Ali bin Abi Thalib juga mendapatkan gelar Asadullah (Singa Allah), sebagai catatan bahwa kakek Imam Ali bin Abi Thalib bernama Asad yang berarti singa. Pemberian gelar Assadullah bukan sesuatu yang berlebihan karena keberanian dan ketangguhan Imam Ali bin Abi Thalib dalam setiap peperangan membela Islam dan Rasulullah.

Imam Ali bin Abi Thalib seringkali diberikan wewenang oleh Nabi SAW untuk membawa bendera dan memimpin perang, Imam Ali bin Abi Thalib juga terkenal dengan banyaknya riwayat yang menyebutkan kehebatannya dalam berperang. Bahkan saat tidak ada satu pun yang bisa menaklukkan Benteng Khaibar, beliau-lah yang berhasil menaklukkannya.

[2] Dalam panji ini juga tampak tiga pedang dengan bentuk yang sama, yang berposisi di bawah kaligrafi singa satu pedang, dan dua pedang berposisi di pinggir bagian atas. Pedang dengan bentuk yang khas yaitu melengkung dengan ujung bercabang dan tulisan kaligrafi di bilahnya tersebut adalah pedang Zulfikar, pedang milik Imam Ali bin Abi Thalib yang diberikan oleh Nabi SAW saat perang Uhud.

[3] Tulisan "Man Kuntu Maulahu Fahadza Aliyyun Maula" pada bilah pedang bagian atas kanan merupakan kalimat yang sangat terkenal bagi orang-orang Syi’ah, diriwayatkan bahwa kalimat tersebut diucapkan oleh Nabi SAW di depan ratusan ribu (ada yang mengatakan 90.000 dan ada yang mengatakan 120.000) orang selepas melaksanakan ibadah haji terakhir dan dilakukan saat dalam perjalanan pulang tepatnya di wilayah Ghadir Khum sebuah wilayah antara Mekkah dan Madinah.

Kalimat tersebut adalah potongan pidato Nabi SAW yang berarti "Siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka inilah Ali sebagai pemimpinnya." Bagi Syi'ah, kalimat tersebut adalah sebagai legtimasi bahwa sepeninggal Nabi SAW yang berhak menjadi pemimpin umat Islam adalah Imam Ali bin Abi Thalib. Sementara dalam persepsi Sunni, kata "Maula" diartikan sebagai "kekasih", sehingga arti lengkap dari kalimat tersebut adalah "Siapa yang menjadikan aku sebagai kekasihnya, maka inilah Ali sebagai kekasihnya".

Dalam pemahaman Sunni, memang tidak berkeyakinan bahwa Khalifah pengganti Nabi SAW adalah Imam Ali bin Abi Thalib, tetapi pandangan Sunni adalah sesuai dengan dinamika yang benar-benar terjadi yaitu bahwa khalifah pengganti Nabi SAW secara berturut-turut adalah sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan kemudian baru Imam Ali bin Abi Thalib.

[4] Lebih lanjut yang terdapat dalam panji ini adalah tulisan "La Fatta ila 'Ali wa la Saifa illa Zulfikar" pada bilah pedang bagian atas kanan setelah kalimat "Man Kuntu Maulahu Fahadza Aliyyun Maula". Diriwayatkan bahwa pada saat Perang Uhud Nabi SAW mendengar seruan malaikat jibril yang berbunyi "La Fatta illa 'Ali wa la Saifa illa Zulfikar", yang berarti tiada pemuda kecuali Ali dan tiada pedang kecuali Zulfikar.

Diriwayatkan barisan pasukan Islam pada Perang Uhud terdapat nama-nama seperti Imam Ali bin Abi Thalib as, Hamzah, Abu Dujanah dan beberapa prajurit lain yang berhasil melemahkan barisan musuh. Nabi Muhammad Saw menjadi target serangan pasukan Quraisy dari berbagai penjuru. Setiap pasukan melancarkan serangan kepada Nabi Muhammad Saw. Dari mana saja Rasul diserang, beliau memerintahkan Imam Ali bin Abi Thalib as untuk menyerang mereka. Atas pengabdian yang luar biasa ini, Malaikat Jibril turun kepada Nabi Muhammad Saw dan berkata, pengabdian ini adalah hal luar biasa yang telah ditunjukkan olehnya. Rasulullah Saw pun membenarkan perkataan Malaikat Jibril dan berkata: Aku berasal dari Ali dan Ali berasal dariku. Kemudian terdengar suara dari langit, “Tidak ada pedang selain Dzulfiqar dan tidak ada pemuda selain Ali".

[5] Selanjutnya adalah gambar telapak tangan sempurna dengan kelima jarinya yang di dalamnya bertuliskan lafadz Allah dan di bawahnya tertulis lima nama yaitu Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain. Kelima nama tersebut juga ditulis dengan jelas di bawah pertemuan dua pucuk pedang Zulfikar.

Muhammad SAW merupakan Nabi terakhir bagi umat manusia, Ali adalah sahabat, sepupu, sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW, Fathimah adalah putri Nabi SAW yang juga merupakan istri Ali bin Abi Thalib, sedangkan Hasan dan Husain adalah putra Imam Ali bin Abi Thalib. Dalam beberapa riwayat, kelima orang tersebut disebut sebagai Ahlul Kisa' dan juga Ahlul Bait Nabi SAW.

Diriwayatkan dalam Shahīh Muslim, vol. 7, hal. 130 Aisyah berkata, "Pada suatu pagi, Rasulullah saw keluar rumah menggunakan jubah (kisa) yang terbuat dari bulu domba. Hasan datang dan kemudian Rasulullah menempatkannya di bawah kisa tersebut. Kemudian Husain datang dan masuk ke dalamnya. Kemudian Fatimah ditempatkan oleh Rasulullah di sana. Kemudian Ali datang dan Rasulullah mengajaknya di bawah kisa dan berkata, "Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan mensucikan kamu sesuci-sucinya" (QS. Al-Ahzab [33]:33).

Syi’ah memang sangat memuliakan lima orang yang disebut Ahlul Kisa ini, sekaligus mereka beranggapan bahwa Ahlul Bait itu terjaga dari melakukan dosa seperti yang disebutkan dalam surat Al Ahzab ayat 33 di atas.

[6] Kalimat shalawat "Allahummah shalli 'ala Muhammad wa ali Muhammad" yang posisinya tertulis di bawah lima nama yang dimuliakan ummat Islam, yaitu Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain. Tidak ada suatu mazhab yang lebih mengutamakan shalawat kepada Nabi dan keluarganya daripada Syi’ah, bahkan setiap hari dalam kehidupan mereka selalu diliputi dengan ucapan-ucapan shalawat kepada Nabi dan keluarganya. Shalawat kepada Nabi dan keluarganya memang suatu amalan yang agung, bahkan tidak akan sah sholat seseorang tanpa bershalawat kepada Nabi dan keluarganya.

Berkaitan dengan shalawat ini, Allah menyampaikan dalam surah Al Ahzab ayat 56, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” Begitulah, Allah SWT memerintahkan kita sholat, zakat, puasa, dan haji sementara Allah SWT sendiri tidak melaksanakan sholat, zakat, puasa, dan haji. Tapi saat Allah SWT memerintahkan manusia untuk bershalawat kepada Nabi dan keluarganya, Ia telah lebih dahulu menyatakan bahwa diri-Nya bersama malaikat juga bershalawat untuk Nabi dan keluarganya.


[7] Dalam panji ini juga terdapat 12 nama Imam Ahlulbait yang memang diakui Syi’ah sebagai Imam dan Khalifah mereka, yang dimulai dari Imam Ali, Imam Hasan, Imam Husain, Imam Zainal Abidin, Imam Muhammad al Baqir, Imam Ja’far as Shadiq, Imam Musa al Kadzim, Imam Ali al Ridho, Imam Muhammad al Jawad, Imam Ali al Naqi, Imam Hasan al Askari, dan Imam Muhammad al Mahdi bin Imam Hasan al Askari. Kesemuanya adalah keturunan Rasul SAW, dan dalam logo bendera tersebut nama-nama para imam tersebut tertulis di atas kaligrafi singa.

Sejarah mencatat bahwa Kesultanan Perlak yang berada di wilayah Aceh adalah kesultanan pertama di Asia Tenggara. Sejarah juga mencatat bahwa sultan pertama kesultanan Perlak adalah Syi’ah, yaitu Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Azis Shah. Hal tersebut telah menjadi rangkaian bukti bahwa Syi’ah adalah yang pertama datang di Indonesia.

Bukti-bukti lain adalah Tari Saman yang menjadi tarian tradisional Rakyat Aceh, di mana sebenarnya Tarian Saman mengekspresikan kesedihan terhadap tragedi Karbala yaitu tragedi pembantaian keluarga Nabi SAW oleh penguasa zalim saat itu, juga ada peringatan Tabuik di Bengkulu yang dilakukan setiap tahun sekali pada bulan Muharam –tepatnya pada Hari Asyura, yaitu hari saat dibantainya cucu Nabi SAW di padang Karbala. 



Dari Idul Ghadir 2013



Inilah pidato Rais Syuriah PBNU (saat itu), yaitu KH. Saifudin Amsir, di Acara Idul Ghadir di Aula Gedung Smesco Jakarta 26 Oktober 2013

Saya sudah cukup lama membuat suatu kesimpulan yang saya belum pernah menemukan bagaimana rasanya membuat kesimpulan itu menjadi berubah. Yaitu sejak tahun ’81, waktu datang delegasi yang diutus oleh pemerintah Iran, yang saya masih ingat namanya, Syekh Abdul Qadir Al Katiri Asy Syafi’i.

Beliau datang mengawal salah satu orang alim besar dari Iran sana yang begitu mengesankan saya pada saat memaparkan apa yang ia rasakan tentang Indonesia dengan pernik-pernik pandangannya yang berupa-rupa, yang bermacam-macam terhadap Iran itu. Saat itu Abdul Qadir Al Katiri Asy Syafii, yang mungkin ia dari Kurdistan, memeluk saya saat saya menerjemahkan kalimat-kalimatnya buat para mahasiswa, buat anak-anak SMA, anak-anak sekolah madrasah yang datang ingin tahu rupa dari revolusi dan dari kembalinya al Imam Ayatullah Ruhullah al Khameini itu berikut pengantarnya-pengantarnya.

Ooo begini rupanya, revolusi Iran ditulis secara lengkap oleh Prof. Dr. Nasir Tamara yang belum jadi profesor saat itu sekitar tahun ’81. Dan saya menjadi terkejut juga ketika berkomentar, sampai saya tidak tahu lagi namanya,  Ayatullah dari Iran itu yang berkata,

“Kalian itu masih banyak yang terkungkung dengan kejahatan pers internasional. Sebab kalian hanya mendengar info yang dilansir dari koran-koran di Indonesia bahwa kami orang Iran memenjarakan ilmuwan-ilmuwan dari kalangan Sunni. Bila Anda datang ke sana Anda akan melihat sesuatu yang sama sekali berbeda bahwa kamilah yang menghormati ilmu dan menghormati para ilmuwan Sunni yang kami posisikan pada tempatnya yang benar. Para ilmuwan kami beri jatah mereka sebagai ilmuwan.”

Pada jumpa pertama di tahun ’81 di Jakarta di Kedutaan Iran itu saya mendengar info seperti ini. Dan betapa hebatnya, menurut perasaan saya, ketika dalam pemaparan yang menggebu-gebu itu beliau hanya membagikan-bagikan kepingan-kepingan seperti uang dari logam, kepingan logam itu yang bersimbolkan Masjidil Haram..ee Masjidil Aqsha. Bagaimana dengan Masjidil Aqsha? Itulah tawaran mereka. Siapa yang berkuasa di sana sekarang ini? Orang tahu Masjid Haram di Mekkah, Masjid Nabawi di Madinah yang kedua-duanya masih dalam kekuasaan kaum muslimin, tapi bagaimana dengan Al Aqsha?

Eee saya kira suatu pertanyaan yang dirasakan siapa saja, “man lam yahtamma bi amril muslimina falaysa minhum.” Itulah yang tersemat dalam ingatan saya.

Hadirin hadirot yang saya cintai dan saya mulyakan!

Kesimpulan yang saya maksud saat itu, bila tujuan sama, bila jalannya sama, bila yang disembah sama, bila kitab sucinya sama, tetapi dalam kesamaan-kesamaan yang begitu mendominasi seluruh daerah pemikiran di dunia Islam, lalu dari sesuatu yang serba sama muncul tuduhan-tuduhan saling salah dan saling berbeda maka semua orang akan berkesimpulan tidak ada yang benar di dalam dunia Islam. Tidak ada lagi yang patut diikuti di dalam dunia Islam.

Kata Syi’i, antum mukhtiin, ya Sunniyin kamu ini orang salah semua hai ahli sunnah. Kata Sunni kamu juga orang serba salah semua hai orang-orang Syiah. Lalu datang pertanyaan bila kedua pihak cuma bisa menyalahkan lantas siapa yang benar?

Untuk Indonesia, saya kan masih ikut mengalami meskipun serba sedikit ya zaman pemberontakan PKI di tahun ’65 itu. Sebelumnya kan muncul ke atas, yang mereka eluk-elukkan dengan sebutan Nasakom. Maafkan saya menyebut ini, dulu simbol mereka boleh didendangkan sedikit ya sesuai dengan lagu yang ada:

Nasakom bersatu, singkirkan kepala batu

Nasakom satu cita sosialisme pasti jaya.

saya anak SD waktu itu
Iki piye iki piye iki piye

sandang pangan larange koyo ngene
akibate salah urus ranok kabeh
mulo  ayo diganyang wae
yo saiki yo saiki yo saiki
wes ono deklarasi ekonomi
senjata ampuh mitayani
kanggo mbasmi kaum korupsi.


Lagu itu menyembul dari ranahnya orang-orang Komunis di Indoneisa. Tapi dengan begitu gesitnya, cerdiknya, dia menggabung ini NASAKOM dia bilang. Di sini nasionalis, di sini agama, di sini komunis. Tapi ujung cerita kata Pak Jurmawel Ahmad sang auditur saat itu, “Anda berdua-dua menggencet agama, nasionalis hurufnya tiga, komunis hurufnya tiga, orang beragama hanya satu huruf, NASAKOM”. 

Itu yang masih saya ingat di zaman itu. Kalau ini bolehlah dikritisi sebagai sesuatu yang saling bertabrakan untuk menjepit yang dibuat malang, nasionalisme agama komunis. Tapi kalo Syi’i-Sunni yang ini kiblatnya ya ada di kiblat di Mekkah yang ini Qur’annya Qur’anuna wahid, kalau main salah-salahan habislah semuanya. Itulah yang saya simpulkan saat itu. 

Makanya dalam pertemuan terakhir yang saya pikirkan saya sangat terpesona dengan apa yang saya bawa pulang ke Indonesia saat saya diundang ke Iran sana. Saya ketemu banyaknya ulama ahlussunah wal jamaah dan banyaknya ulama-ulama dari kalangan Syi’ah yang semuanya sepakat untuk berkata “falaysa ma’na taqrib bi an yanqariba an sunni syiiyan wa an yanqariba syi’i sunniyan”, arti taqrib itu bukan berarti secara total membuat suatu perubahan secara total sampai orang Syi’i berubah menjadi Sunni, atau Sunni berubah menjadi Syi’i, kata mereka. 

Saya terangkan, itu diungkapkan oleh puluhan ulama baik dari kalangan Sunni maupun dari kalangan Syi’i. Bahkan yang benar adalah dari perbedaaan-perbedaan bisa dicari persamaan-persamaan, dari persamaan-persamaan bisa dicari alat-alat persatuan.


Sambutan saya cuma sampai di sini mudah-mudahan ada manfaatnya. Maafkan bila terkhilaf. 

Film Termahal dalam Sejarah Film Iran



[Shabestan/ABNS] Sebagaimana yang diutarakan oleh Majid Majidi, sutradara film Muhammad Rasulullah, sebuah film Iran dengan budget terbesar sepanjang sejarah Iran, tujuan digarapnya film tersebut adalah untuk menunjukkan citra Islam sebenarnya, yang bertentangan dengan kekerasan yang sering ditampilkan media-media Barat.

Film Iran dengan budget terbesar karya Majid Majidi ini sedang diputar untuk pertama kalinya di bioskop-bioskop Iran.

Majid Majidi saat diwawancarai mengatakan, “Film ini adalah peredam pencitraan media-media Barat yang sering menggambarkan Islam sebagai agama kekerasan dan kejahatan.”

Menurut pernyataannya, ramainya isu terorisme di Timur Tengah yang diatas-namakan sebagai Islam telah mencoreng nama baik Islam yang sebenarnya. Oleh karena itu diperlukan pencitraan Islam yang sesungguhnya.

Majid Majidi yang adalah sutradara film berdurasi 171 menit tersebut mengatakan, “Teroris-teroris seperti ISIS menyalah-gunakan Islam untuk kepentingan mereka dan mencoreng nama baik Islam dengan cara melakukan segala tindak kekerasan sesuka mereka.”

Ia menambahkan, “Menurut saya penting sekali film-film sejenis ini yang dapat mengembalikan citra baik Islam ke muka dunia digarap dan disebarkan ke seluruh dunia.”

Namun meski demikian, ada saja ulah-ulah yang ingin memecah belah umat (Islam) ini. Baru saja CNN Arabia menerbitkan berita yang menimbulkan konflik Syi’ah-Sunni terkait masalah penayangan film ini, dengan mengatakan Iran membuat Film dengan menampilkan sosok Rasulullah saw.

Sebagian dari media-media lain juga berusaha menyulut permusuhan dengan menerbitkan berita bertajuk, “Iran menantang Al-Azhar berperang dengan menayangkan sebuah film yang menampilkan sosok Rasulullah saw.” Karena kejahilan mereka, kelompok-kelompok ekstrimis menyebut film ini menghinakan Nabi Muhammad saw. 


Seandainya Saya Pemimpin Negara Muslim




Oleh Ismail Amin

14 Juli 2015 menjadi hari bersejarah bagi Republik Islam Iran. Dengan disepakatinya perundingan nuklir, Iran secara resmi masuk dalam deretan negara-negara elit dunia, yang disejajarkan dengan Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Rusia, Cina, dan Jerman.

Ada beberapa hal yang bisa dipelajari:

Iran memperjuangkan haknya atas penggunaan dan pemanfataan tekhnologi nuklir-“Jika negara-negara lain bisa, mengapa Iran tidak?”- dengan cara diplomasi meskipun memakan waktu 10 tahun lebih. Iran tidak menggunakan perang dan kekerasan untuk mempertahankan keinginannya. Ini menunjukkan kemampuan diplomasi para diplomat Iran, hingga mendapat pengakuan dan disegani.

Iran memiliki kemampuan tehnologi yang bisa bersaing dengan negara-negara maju, yang dasyhatnya pengembangan tersebut dilakukan di tengah-tengah embargo dan pengucilan. Iran melakukannya secara mandiri dan tidak bergantung pada negara lain. Itulah sebabnya, Iran tidak bisa didikte..

Bahwa Iran mempertontonkan kepada dunia, Islam adalah agama yang tidak ketinggalan zaman, juga menuntut keras penganutnya untuk menjadi terdepan dalam sains dan tekhnologi.

Sekiranya saya pemimpin negara muslim, saya akan berkata kepada Iran:

“BAHWA KALAU MEMANG NEGARA ANDA REPUBLIK ISLAM WAHAI BANGSA IRAN, AJARI KAMI TEKHNOLOGI NUKLIR DAN BAGAIMANA MEMBUAT ROKET... AGAR NEGARA-NEGARA ISLAM TIDAK LAGI DILECEHKAN DAN DIREMEHKAN...”