Label

Pandangan Rasulullah SAW Tentang Para Sahabat



Oleh Muhammad Tijani as Samawi

Hadits Al-Haudh

Bersabda Rasulullah SAW: "Ketika aku sedang berdiri tiba-tiba datang sekelompok orang yang kukenal. Lalu keluarlah seorang di antara kami dan berkata, 'Mari (ikut aku).' Kutanya, 'Kemana?' Jawabnya, 'Ke neraka, demi Allah'. 'Apa kesalahan mereka?' Tanyaku. 'Mereka telah murtad setelahmu dan berbalik dari kebenaran, dan kuperhatikan tiada yang tersisa melainkan (sedikit sekali yang) seperti sekelompok unta yang tersisih', jawabnya”. (Shahih Bukhori jil. 4 hal. 94-96,156; jil. 3 hal. 32; Shahih Muslim jil. 7 hal. 66).

Rasulullah SAW bersabda: "Aku akan mendahului kalian di telaga haudh. Siapa yang berlalu dariku dia akan minum dan siapa yang telah minum tidak akan dahaga selamalamanya. Kelak ada sekelompok orang yang kukenal dan mereka juga mengenalku datang kepadaku; kemudian mereka dipisahkan dariku. Aku akan berkata: 'sahabatku, sahabatku.' Lalu dijawab: 'engkau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan setelah ketiadaanmu.' Dan aku pun berkata: 'Enyahlah, enyahlah mereka yang telah berubah setelah ketiadaanku'”.

Orang yang merenungkan makna hadis-hadis seperti ini yang diriwayatkan sendiri oleh ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah dalam berbagai kitab shahih mereka, tidak akan ragu-ragu lagi untuk mengambil kesimpulan bahwa kebanyakan sahabat telah berubah bahkan telah berbalik setelah wafatnya Nabi SAW; melainkan segelintir kecil saja yang diibaratkan oleh Nabi seperti sekelompok unta yang tersisih. Hadis ini tidak dapat ditafsirkan bahwa ia ditujukan untuk golongan orang-orang munafik, mengingat nash yang berkata: sahabatku, sahabatku. Dan ia juga adalah tafsir atau realisasi dari ayat-ayat AlQuran yang menyebutkan tentang sikap mereka yang berbalik sehingga diancam oleh Allah dengan api neraka, seperti yang telah disentuh di atas.

Hadits: Bersaing Untuk Dunia

Bersabda Nabi SAW: "Aku akan mendahului kalian dan akan menjadi saksi kalian. Demi Allah aku kini melihat haudhku (telagaku di syurga) dan aku juga telah diberikan kunci  kekayaan bumi (atau kunci bumi). Demi Allah aku tidak khawatir kalian akan mensyirikkan Allah setelahku, tetapi aku khawatir kalian akan bersaing untuknya (dunia)" (Shahih Bukhori jil. 4 hal. 100-101).

Sungguh benar apa yang disabdakan oleh Rasululah SAW. Mereka telah bersaing dan berlomba-lomba untuk dunia ini sehingga pedang-pedang mereka dihunuskan, berperang dan saling mengkafirkan. Sebagian sahabat yang besar bahkan telah menimbun emas dan perak. Para ahli sejarah seperti al-Masu'di di dalam kitabnya Muruj az-Dzahab, Thabari dan lain sebagainya telah mencantumkan bahwa kekayaan Zubair saja misalnya mencapai lima puluh ribu Dinar, seribu ekor kuda, seribu orang hamba sahaya dan sejumlah tanah di Bashrah, Kufah, Mesir dan lain sebagainya (Muruj az-Zahab oleh al-Masu'di jil. 2 hal. 341).

Thalhah mempunyai kekayaan pertanian di Irak yang setiap harinya menghasilkan seribu Dinar, bahkan konon lebih dari itu. Abdurrahman bin A'uf mempunyai seratus kuda, seribu onta dan sepuluh ribu kambing. Seperempat dari seperdelapan hartanya yang dibagi-bagikan kepada para isterinya setelah wafatnya mencapai delapan puluh empat ribu (Ibid).

Ketika Usman bin Affan meninggal, beliau telah meninggalkan sejumlah seratus lima puluh ribu Dinar, tidak terhitung binatang ternak dan tanah-tanah subur yang tak terkira. Emas dan perak yang ditinggalkan oleh Zaid bin Tsabit sedemikian banyaknya sehingga harus dipecahkan dengan kapak, selain dari harta dan tanah yang bernilai seratus ribu Dinar. (Ibid).

Demikian sebagian contoh yang dapat kita lihat dalam sejarah. Kita tidak bermaksud membahasnya secara rinci dan cukup sekadar bukti betapa mereka tergoda oleh kemewahan dunia dan kenikmatannya.

Pandangan Sahabat Satu Sama Lain

Kesaksian Mereka Atas Perubahan Sunnah Nabi SAW Abi Sa'id al-Khudri berkata: "Pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, Rasulullah SAW keluar rumah untuk menunaikan shalat Id. Usai shalat beliau berdiri menghadap para hadirin yang masih duduk di shaf, kemudian berkhotbah yang penuh dengan nasihat dan perintah." Abu Sa'id melanjutkan: "Cara seperti ini dilanjutkan oleh para sahabatnya sampailah suatu hari ketika aku keluar untuk shalat Id (Idul Fitri atau Idul Adha) bersama Marwan, gubernur kota Madinah. Sesampainya di sana Marwan langsung naik ke atas mimbar yang dibuat oleh Katsir bin Shalt. Aku tarik bajunya. Tapi dia menolakku. Marwan kemudian memulai khutbah Idnya sebelum shalat. Kukatakan padanya: "Demi Allah kalian telah ubah." "Wahai Aba Sa'id" Tukas Marwan, "Telah sirna apa yang kau ketahui" Kukatakan padanya: "Demi Allah, apa yang kutahu adalah lebih baik dari apa yang tidak kuketahui!" Kemudian Marwan berkata lagi: "Orang-orang ini tidak akan mau duduk mendengar khutbah kami seusai shalat. Karena itu kulakukan khutbah sebelumnya." (Shahih Bukhori jil. 1 hal. 122).

Aku coba teliti gerangan apa yang menyebabkan sahabat seperti ini berani mengubah Sunnah Nabi. Akhirnya kutemukan bahwa Bani Umaiyah --yang mayoritasnya adalah sahabat Nabi terutama Muawiyah bin Abu Sufyan yang konon sebagai penulis wahyu, senantiasa memaksa kaum muslimin untuk mencaci dan melaknat Ali bin Abi Thalib dari atas mimbar-mimbar masjid. Muawiyah memerintahkan orang-orangnya di setiap negeri untuk menjadikan cacian dan laknat pada Ali sebagai suatu tradisi yang mesti dinyatakan oleh para khatib. Ketika sejumlah sahabat protes atas ketetapan ini, Muawiyah tidak segan-segan memerintahkan mereka dibunuh atau dibakar. Muawiyah telah membunuh sejumlah sahabat yang sangat terkenal seperti Hujur bin U'dai beserta para pengikutnya, dan sebagian lain dikuburkan hidup-hidup. "Kesalahan" mereka (dalam persepsi Muawiyah) semata-mata karena enggan mengutuk Ali dan bersikap protes atas dekrit Muawiyah.

Abul A'la al-Maududi dalam kitabnya al-Khilafah Wal Muluk (Khilafah Dan Kerajaan) menukil dari Hasan al-Bashri yang berkata: "Ada empat hal dalam diri Muawiyah, yang apabila satu saja ada pada dirinya, itu sudah cukup sebagai alasan untuk mencelakakannya: Pertama, dia berkuasa tanpa melakukan musyawarah sementara sahabat-sahabat lain yang merupakan cahaya kemuliaan masih hidup.

Kedua, dia melantik puteranya (Yazid) sebagai pemimpin setelahnya, padahal sang putera adalah seorang pemabuk dan pecandu minuman keras dan musikus. Ketiga, dia menyatakan Ziyad (seorang anak zina) sebagai puteranya, padahal Nabi SAW bersabda: "Anak adalah milik sang ayah, sementara yang melacur dikenakan sanksi rajam." Keempat, dia telah membunuh Hujur dan para pengikutnya. Karena itu maka celakalah dia lantaran (membunuh) Hujur; dan celakalah dia karena Hujur dan para pengikutnya (Al-Khilafah Wal Muluk Oleh al-Maududi hal. 106).

Sebagian sahabat yang mukmin lari dari masjid seusai shalat karena tidak mau mendengar khotbah yang berakhir pada kutukan terhadap Ali dan keluarganya. Itulah kenapa Bani Umaiyah mengubah Sunnah Nabi ini dengan mendahulukan khutbah sebelum shalat agar yang hadir terpaksa mendengarnya. Nah, sahabat jenis apa yang berani mengubah Sunnah Nabinya, bahkan hukum-hukum Allah sekalipun semata-mata demi meraih cita-citanya yang rendah dan ekspresi dari rasa dengki yang sudah terukir. Bagaimana mereka bisa melaknat seseorang yang telah Allah sucikan dari segala dosa dan nista dan diwajibkan oleh Allah untuk bershalawat kepadanya sebagaimana kepada Rasul-Nya. Allah juga telah mewajibkan kepada semua manusia untuk mencintainya hingga Nabi SAW bersabda: "Mencintai Ali adalah iman dan membencinya adalah nifak." (Shahih Muslim jil. 1 hal. 61; Sunan an-Nasai jil. 6 hal. 177; Shahih Turmudzi jil. 8 hal. 306).

Namun sahabat-sahabat seperti ini telah mengubahnya. Mereka berkata, kami telah dengar sabda-sabda Nabi tentang Ali, tetapi kami tidak mematuhinya. Seharusnya mereka bershalawat kepadanya, mencintainya dan taat patuh kepadanya; namun sebaliknya mereka telah mencaci dan melaknatnya sepanjang enam puluh tahun, seperti yang dicatat oleh sejarah. Apabila sahabat-sahabat Musa pernah sepakat mengancam nyawa Harun dan hampir-hampir membunuhnya, maka sebagian sahabat Muhammad SAW telah membunuh Harun-nya" (yakni Ali) dan mengejar-ngejar anak keturunannya serta para Syi'ahnya di setiap tempat dan ruang. Mereka telah hapuskan nama-nama dan bahkan melarang kaum muslimin menggunakan nama mereka. Tidak sekadar itu, hatta para sahabat besar dan agung pun mereka paksa untuk melakukan hal yang serupa.

Demi Allah, aku berdiri heran dan terpaku ketika membaca buku-buku referensi kita yang memuat berbagai hadis yang mewajibkan cinta pada Nabi dan saudaranya serta anak pamannya, yakni Ali bin Abi Thalib, dan sejumlah hadis-hadis lain yang mengutamakan Ali atas para sahabat yang lain. Sehingga Nabi SAWW bersabda: "Engkau (hai Ali) di sisiku bagaikan kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tiada Nabi setelahku."

Atau sabdanya: "Engkau dariku dan aku darimu".

Sabdanya: "Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya".

Dan sabdanya: "Ali adalah wali (pemimpin) setiap mukmin setelahku."

Dan sabdanya: "Siapa yang menjadikan aku sebagai maulanya (pemimpinnya) maka Ali adalah maulanya. Ya Allah, bantulah mereka yang mewila'nya dan musuhilah mereka yang memusuhinya."  

Apabila kita ingin mencatat semua keutamaan Ali yang disabdakan oleh Nabi SAW dan yang diriwayatkan oleh para ulama kita dengan sanadnya yang shahih, maka ia pasti akan memerlukan suatu buku tersendiri. Bagaimana mungkin sejumlah sahabat seperti itu pura-pura tidak tahu akan hadis ini, lalu mencacinya, memusuhinya, melaknatnya dari atas mimbar dan membunuh atau memerangi mereka?

Aku tidak temukan sebarang alasan dari sikap dan perlakuan seperti ini melainkan sematamata karena cinta pada dunia dan berlomba-lomba mengejarnya; atau karena sifat nifak dan berpaling dari kebenaran. Aku juga coba melemparkan tanggung jawab ini kepada sebagian sahabat yang terkenal buruk, atau sebagian dari orang-orang munafik. Namun sayang sekali, yang kutemukan dari penelitianku itu adalah sejumlah sahabat yang agung dan masyhur. Orang pertama yang pernah mengancam akan membakar rumahnya (Ali) beserta para penghuni yang ada di dalamnya adalah Umar bin Khattab; orang pertama yang memeranginya adalah Thalhah, Zubair, Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar, Muawiyah bin Abu Sufyan dan A'mr bin A'sh dan sebagainya.

Rasa terkejut dan kagetku bertambah dalam dan seakan tidak akan berakhir. Setiap orang yang berpikir rasional akan segera mendukung pendapatku ini. Bagaimana ulama-ulama Ahlu Sunnah sepakat mengatakan bahwa semua sahabat adalah adil sambil mengucapkan "Radhiallahu Anhum", bahkan mengucapkan shalawat untuk mereka tanpa kecuali. Sehingga ada yang berkata, "Laknatlah Yazid tapi jangan berlebihan". Apa yang dapat kita bayangkan tentang Yazid yang telah melakukan tragedi yang sangat tragis ini, yang tidak dapat diterima bahkan oleh akal dan agama. Aku nyatakan kepada Ahlu Sunnah Wal Jamaah, jika mereka benar-benar mengikut Sunnah Nabi, agar meninjau hukum AlQuran dan Sunnah Nabi secara cermat dan seadil-adilnya tentang kefasikan Yazid dan kekufurannya. Rasululah SAW telah bersabda: "Siapa yang mencaci Ali maka dia telah mencaciku; dan siapa yang mencaciku maka dia telah mencaci Allah; dan siapa yang mencaci Allah maka Aku akan menjatuhkannya ke dalam api neraka."

Demikian itu adalah sanksi bagi orang yang mencaci Ali. Maka bagaimana pula apabila ada orang yang melaknatnya dan memeranginya. Mana alim-ulama kita dari hakikat kebenaran ini? Apakah hati mereka telah tertutup rapat? Katakanlah, ya Allah, aku mohon lindunganMu dari bisikan syaitan dan dari kehadirannya.


(Lihat Shahih Bukhori jil. 2 hal. 305; Shahih Muslim jil. 2 hal. 366 Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 109. Shahih Bukhori jil. 1 hal. 76; Shahih Turmidzi jil. 5 hal. 300; Shahih Ibnu Majah jil. 1 hal. 44. Shahih Thurmudzi jil. 5 hal. 201; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 126. Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 5 hal. ; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 134. Shahih Muslim jil.2 hal.362; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 109; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 4 hal, 281).

Al Quran Tentang Para Sahabat



Oleh Muhammad Tijani as Samawi

Pertama-tama harus kuingatkan bahwa Allah SWT telah memuji di dalam berbagai ayat Al Quran sahabat-sahabat Rasul yang memang benar-benar mencintainya dan mematuhinya tanpa pamrih atau tantangan atau keangkuhan. Mereka hanya menginginkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya semata-mata; dan Allah juga ridha kepada mereka lantaran takwa mereka kepada-Nya. Ini adalah golongan sahabat yang dinilai tinggi oleh segenap kaum muslimin lantaran sikap dan perilaku mereka yang luhur terhadap Nabi SAW. Setiap kali mereka disebut, maka kaum muslimin akan mencintai mereka, mengagungkan kedudukan mereka dan mengucapkan kalimat Radhiallahu A'nhum kepada mereka.

Penelitianku bukan di sekitar golongan sahabat jenis ini yang sangat dihormati dan disanjung tinggi oleh Sunni dan Syi'ah. Sebagaimana aku juga tidak akan sentuh kelompok sahabat yang dikenal sebagai munafiqin yang telah dilaknat oleh segenap kaum muslimin, Sunni dan Syi'ah. Aku hanya akan meneliti kelompok sahabat yang dipertikaikan oleh kaum muslimin, dan yang kadang-kadang dicela dan diancam oleh Al Quran. Sahabat jenis ini seringkali diperingatkan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai kesempatan, atau Nabi memperingatkan kaum muslimin dari mereka. Di sinilah letak perbedaan antara Sunni dan Syi'ah dalam menilai sahabat. Syi'ah meragukan keadilan mereka dan mengkritik ucapan dan tindak tanduk mereka sementara Ahlu Sunnah Wal Jama'ah menghormati mereka walau terbukti telah melakukan berbagai pelanggaran.

Penelitianku hanya pada golongan sahabat jenis ini agar aku dapat sampai pada suatu kebenaran, atau sebagian kebenaran sekalipun. Kunyatakan ini agar jangan sampai ada orang berkata bahwa aku telah melupakan sejumlah ayat yang memuji para sahabat Rasulullah SAW, dan hanya mengungkapkan ayat-ayat yang bernada celaan saja. Namun dalam penelitianku, aku menjumpai berbagai ayat yang bernada memuji, tetapi pada masa yang sama ia juga menyirat suatu celaan dan sebaliknya.

Aku tidak akan memuatkan di sini semua hasil penelitianku selama tiga tahun itu. Aku hanya akan sebutkan sebagian ayat sebagai contoh agar tulisan ini menjadi ringkas. Namun bagi mereka yang menginginkan kerincian dan pendalaman, hendaknya dia menyempatkan waktu untuk meneliti, membuat perbandingan dan menelaah seperti yang kulakukan, agar kebenaran yang didapati adalah benar-benar hasil dari titik peluh sendiri seperti yang dituntut oleh Allah dan juga oleh hati nurani masing-masing. Dengan cara itu ia akan memperoleh keyakinan yang sangat dalam yang tidak akan dapat digoyahkan oleh sebarang angin yang bertiup. Sudah pasti bahwa kebenaran yang didapati lantaran kepuasan diri adalah lebih baik dari sekadar pengaruh unsur luar yang diterima.

Allah SWT berfirman ketika memuji NabiNya: "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." (QS. Adh-Dhuha: 7). Yakni, Dia menunjukkanmu kepada kebenaran ketika kau mencarinya. Allah juga berfirman: "Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) di dalam (mencari) jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami". (QS. Al 'Ankabuut: 69).

Ayat Inqilab

Allah berfirman: "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur" (QS. Ali Imran: 144).

Ayat ini dengan amat jelas menunjukkan bahwa sahabat akan berbalik ke belakang segera setelah wafatnya sang Nabi; dan hanya sedikit dari mereka yang masih tetap konsisten seperti yang tersirat di dalam kandungan ayat tersebut. Hal ini dapat kita pahami dari ungkapan kalimat "as-Syakirin" (orang-orang bersyukur) yang menunjukkan masih adanya orang-orang yang tetap dan tidak balik ke belakang. Kelompok as-Syakirin ini tidak berjumlahbanyak. Allah berfirman dalam ayat lain: "Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima-kasih" (QS. Saba': 13).

Sejumlah hadis Nabi juga mendukung penafsiran di atas seperti yang akan kita sebutkan sebagian. Walaupun dalam ayat ini Allah tidak menyebut balasan apa yang akan ditimpakan kepada orang-orang yang berbalik dan hanya memuji serta akan memberi ganjaran pada orang-orang yang bersyukur, namun sudah sangat jelas bahwa mereka yang berbalik sudah pasti tidak akan memperoleh sembarang ganjaran. Hal ini akan kita bincangkan Insya Allah ketika menelaah hadis-hadis Nabi yang berkenaan dengannya.

Ayat ini juga tidak dapat ditafsirkan untuk orang-orang seperti Thulaihah, Sujah dan al-Aswad al-A'nsi, dengan alasan ingin memelihara kemuliaan sahabat. Sebab tiga orang di atas telah murtad dari Islam dan mengaku sebagai nabi di zaman risalah. Nabi telah perangi mereka dan mengalahkan mereka. Ayat ini juga tidak dapat ditafsirkan untuk Malik bin Nuwairah dan para pengikutnya yang enggan memberikan zakat pada periode Abu Bakar lantaran berbagai alasan, yang antara lain, karena mereka berhati-hati dan ingin tahu perkara yang sebenarnya. Mengingat ketika mereka pergi haji bersama Rasulullah di Hujjah al-Wada' (Haji Terakhir) mereka telah berikan bai'at pada Ali di Ghadir Khum usai dilantik oleh Nabi sendiri sebagai khalifahnya. Abu Bakar juga termasuk dalam daftar orang-orang yang pernah memberinya bai'at.

Tiba-tiba mereka terkejut dengan kedatangan seorang utusan sang khalifah yang memberitahu bahwa Nabi telah meninggal, dan atas nama khalifah baru, yakni Abu Bakar mereka meminta harta zakat. Peristiwa ini juga hampir diabaikan oleh sejarah dengan alasan ingin menjaga kemuliaan sahabat. Padahal Malik dan para pengikutnya juga adalah orang-orang muslim. Keislaman mereka disaksikan sendiri oleh Umar dan Abu Bakar serta beberapa sahabat yang lain. Ketika Khalid bin Walid membunuh Malik bin Nuwairah, Umar memprotesnya. Dan sejarah sendiri membuktikan bahwa Abu Bakar membayar diyah (ganti rugi) Malik kepada saudaranya Mutammim dari harta Baitul Mal dan meminta maaf atas tragedi pembunuhan ini. Padahal dalam Islam sangat jelas bahwa mereka yang murtad wajib dibunuh, diyahnya tidak boleh diberikan dari Baitul Mal dan tidak perlu minta maaf.

Maksud ayat inqilab ini adalah para sahabat yang hidup di zaman nabi dan yang berada di kota Madinah itu sendiri. Ayat ini menunjukkan akan adanya sejumlah sahabat yang akan berbalik segera setelah wafatnya Nabi SAWW. Hadis-hadis nabi yang lain juga menerangkan sejelas-jelasnya tentang hal ini tanpa keraguan sedikitpun. Kita akan membicarakan hal ini dalam babnya tersendiri, Insya Allah. Sejarah juga sebaik-baik bukti atas inqilab mereka setelah wafatnya nabi ini. Dan kita akan lihat betapa sedikitnya yang selamat ketika kita teliti peristiwa-peristiwa yang terjadi di antara kalangan para sahabat itu sendiri.

Ayat Jihad

Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: 'Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah' kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan kehidupan di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. At Taubah: 38, 39) Maha Benar Allah Yang Maha Agung.

Ayat ini juga amat jelas mengatakan bahwa sahabat merasa berat untuk pergi berjihad di jalan-Nya. Mereka lebih memilih untuk hidup di dunia walau mereka tahu nikmatnya hanya sedikit sekali. Sikap mereka seperti ini dicela oleh Allah dan diancam dengan azab yang pedih. Dan Allah akan mengganti mereka dengan orang-orang mukmin lain yang jujur. Ancaman penggantian ini tersurat dalam berbagai ayat AlQuran. Hal ini menunjukkan bahwa mereka seringkali merasa berat hati ketika diseru pada jihad di jalan Allah SWT. Di dalam ayat lain Allah berfirman: "... Dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan seperti kamu (ini)" (QS. Muhammad: 38). Atau firman Allah yang lain: "Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al Maidah: 54).

Kalau kita ingin rincikan ayat-ayat yang menyirat makna seperti ini dan mengungkapkan kebenaran adanya pembagian kelas sahabat seperti yang dikatakan oleh Syi'ah, khususnya mereka seperti yang kita bincangkan ini, maka tak syak lagi ia akan memerlukan buku tersendiri. Al Quran telah mengungkapkannya dengan nada yang ringkas dan sangat fasih. Firman Allah: "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyerukepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. Pada hari yang di waktu itu ada muka yang menjadi putih berseri, dan ada pula yang menjadi hitam muram. Adapun orang-orang yang menjadi hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): 'Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmuitu'. Adapun orang-orang yang menjadi putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (syurga); mereka kekal di dalamnya" (QS. Ali Imran: 104,105,106,107). Maha Benar Allah Yang Maha Tinggi Dan Maha Agung.

Bagi para penelaah dan peneliti, mereka tahu bahwa ayat ini berbicara dengan para sahabat dan mengingatkan mereka akan perselisihan dan perpecahan setelah datangnya hujah-hujah yang jelas. Ia mengancam mereka dengan azab yang pedih, sekaligus membagi mereka pada dua golongan. Yang satu akan dibangkitkan kelak dengan muka yang putih berseri-seri; mereka adalah orang-orang yang bersyukur dan berhak menerima rahmat Allah SWT. Yang lain akan dibangkitkan kelak dengan muka yang hitam dan muram. Mereka adalah orang-orang yang telah murtad setelah mereka beriman. Dan Allah telah mengancam mereka dengan azab yang pedih.

Jadi jelas bahwa para sahabat telah berpecah dan berselisih setelah wafatnya Nabi SAW. Mereka telah nyalakan api fitnah sehingga mereka saling berperang dan menumpahkan darah yang mengakibatkan kemunduran kaum muslimin dan menjadi sasaran musuh-musuhnya. Ayat di atas tidak dapat ditakwilkan atau dirobah pengertiannya lain dari apa yang bias dipahami oleh akal.

Ayat Khusyu'

Firman Allah: "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk menundukkan hati mereka ingat pada Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Dan janganlah mereka menjadi seperti orang-orang yang sebelumnya yang telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS. Al Hadiid: 16). Maha Benar Allah Yang Maha Tinggi Dan Maha Agung.

Di dalam kitab al-Dur al-Mantsur, karya Jalaluddin as-Suyuthi, tertulis berikut: "Ketika sahabat-sahabat Nabi datang ke Madinah, mereka merasakan kenyamanan hidup dibandingkan dengan penderitaan yang mereka alami sebelumnya (di Mekkah). Karenanya seakan mereka menjadi lemah dan malas dibandingkan waktu-waktu yang lalu. Kemudian mereka dihukum lantaran "perubahan" seumpama itu. Dalam riwayat lain, Nabi SAW pernah bersabda bahwa Allah SWT melihat keengganan hati para muhajirin meskipun telah tujuh belas tahun mereka saksikan turunnya Al Quran. Kemudian Allah berfirman berikut, "Bukankah telah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman..." Nah, jika para sahabat --manusia yang paling baik dalam pandangan Ahlu Sunnah Wal Jama'ah-- masih belum mempunyai hati yang khusyu' dan tunduk ketika mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah diturunkan sepanjang tujuh belas tahun, sehingga Allah melihat keengganan mereka dan menegur mereka, serta mengingatkan mereka dari memiliki hati yang keras yang mungkin bisa membawa kepada kefasikan, maka kita tidak dapat menyalahkan orang-orang Quraisy yang baru menerima Islam pada tahun ketujuh Hijriah, usai Fathu Makkah.


Demikianlah sebagian contoh yang dapat kusimpulkan dari Kitab Allah. Buktinya sangat kuat. Dan ia menunjukkan bahwa tidak semua sahabat adalah adil seperti yang dikatakan oleh Ahlu Sunnah Wal Jama'ah. Apabila kita teliti hadis-hadis Nabi, segera kita akan dapati contohcontoh lain yang berlipat ganda. Karena aku telah berjanji untuk membuatnya secara ringkas, maka aku tuliskan sebagian contoh saja; dan biarlah penelaah-penelaah kritis lain yang meneliti permasalahan ini dengan lebih dalam. (*)