Empat Humor Anthony De Mello



Kisah Lima Orang Rahib

Permintaan yang mendesak dari Lama [Bhiksu] di Selatan sampai kepada Lama Agung di Utara. Ia meminta seorang rahib yang bijak dan suci untuk membimbing hidup rohani para calon rahib. Setiap orang heran bahwa Lama Agung mengirimkan sampai lima orang. Orang yang bertanya-tanya dijawabnya demikian: 'Untung jika salah satu dari lima rahib itu akhirnya sampai kepada Lama di Selatan.'

Para rahib itu sudah menempuh perjalanan selama beberapa hari, ketika seorang kurir menghampiri mereka. Katanya: 'Imam di desa kami meninggal. Kami membutuhkankan seorang pengganti.' Desa itu rupanya makmur dan menarik; lagi pula penghidupan Imam amat terjamin. Salah seorang rahib merasa terdorong untuk menggembalakan umat. 'Aku bukan murid Buddha sejati,' katanya, 'kalau aku tidak tinggal di sini untuk melayani mereka.' Maka ia tidak melanjutkan perjalanannya.

Beberapa hari kemudian tibalah mereka di Istana seorang raja yang tertarik kepada salah seorang rahib. Tinggallah di sini,' kata raja, 'dan aku akan memberikan puteriku kepadamu. Jika aku mati, engkaulah yang akan mengganti aku menduduki tahta kerajaan.' Hati rahib tertarik pada sang puteri yang cantik dan pada tahta kerajaan. Ia berkata: 'Apakah ada kesempatan yang lebih baik untuk meningkatkan peri kehidupan rakyat di sini daripada menerima kedudukan raja? Aku bukan murid Buddha sejati kalau aku tidak menerima kesempatan ini untuk mengabdi agama.' Ia tidak berjalan terus.

Tiga orang yang masih sisa meneruskan perjalanan. Pada suatu malam, di sebuah daerah pegunungan, mereka menginap di sebuah gubuk yang hanya didiami oleh seorang gadis manis. Ia menerima mereka dengan ramah. Ia bersyukur kepada Tuhan, karena Ia telah mempertemukannya dengan para rahib ini. Orangtua gadis itu dibunuh perampok dan ia tinggal sendirian penuh ketakutan. Di pagi harinya, pada waktu mereka mau berangkat, seorang rahib berkata: 'Aku akan tinggal bersama gadis ini. Aku bukan murid Buddha sejati, kalau tidak berbelas-kasih pada sesama.' Ia orang ketiga yang berhenti.

Dua orang sisanya akhirnya tiba di sebuah kampung kaum Buddha. Mereka terkejut ketika mengetahui bahwa semua penduduk meninggalkan agamanya dan kini ada di bawah pengaruh seorang guru Hindu. Rahib yang seorang berkata: 'Demi umat yang malang ini dan demi Buddha, aku harus tinggal di sini dan mengembalikan mereka ke jalan yang benar.' Dialah orang terakhir yang berhenti.

Rahib yang kelima akhirnya sampai di biara Lama di Selatan. Nah, bagaimanapun juga, Lama Agung dari Utara memang benar.

Beberapa tahun yang lalu aku bertekad mencari Tuhan. Berkali-kali aku berhenti di jalan. Selalu maksudku sangat mulia: untuk memperbaharui ibadah, untuk merombak susunan Gereja, untuk meningkatkan tafsir Kitab Suci, untuk membuat teologi lebih berarti bagi orang jaman kita.


Jangan Sampai Kudapati Engkau Sedang Berdoa

Gereja atau Sinagoga itu harus mengumpulkan dana untuk bisa berjalan dan beraktivitas. Nah, ada sebuah sinagoga Yahudi di mana orang tidak mengedarkan peti dana seperti di gereja-gereja Kristen. Cara mereka mencari dana dengan menjual karcis tempat pada hari Pesta-pesta besar, sebab di situ jemaat yang datang banyak dan orang bersikap murah hati.

Pada hari seperti itu anak kecil datang ke Sinagoga untuk mencari ayahnya, tetapi petugas tidak mengizinkannya masuk, karena ia tidak punya karcis.

"Tetapi," kata si anak, "ini perkara penting sekali."

"Semua berkata begitu," jawab petugas, tak tergerakkan.

Anak jadi putus-asa dan mulai mendesah: "Maaf tuan, biar aku masuk. Ini soal hidup atau mati. Hanya satu menit saja."

Petugas melunak! "Yah, sudah, kalau penting sekali," katanya. "Tetapi awas, kalau kutemukan engkau berdoa."

Agama teratur tertib, sayangnya punya banyak kelemahan juga.


Perumpamaan Kebahagiaan

Seorang kikir menyembunyikan emas di bawah pohon dalam tamannya. Setiap minggu ia menggalinya dan memandanginya berjam-jam. Pada suatu hari seorang pencuri menggalinya dan membawanya lari. Ketika si kikir itu datang lagi untuk memandangi harta kekayaannya, yang ia temukan hanyalah lubang yang kosong.

Orang itu mulai meraung-raung karena sedih, sehingga tetangga-tetangganya datang berlarian untuk melihat ada apa. Ketika mereka tahu masalahnya, salah seorang dari antara mereka bertanya. "Apakah engkau sudah pernah menggunakan emas itu?"

"Belum," kata si kikir. "Saya hanya memandanginya setiap minggu."

"Baiklah, kalau demikian," kata tetangga itu, "demi kepuasan yang sudah diberikan oleh emas itu, engkau dapat juga dating setiap minggu untuk memandangi lubang itu."


Seorang Filsuf dan Tukang Sepatu

Seorang filsuf yang hanya mempunyai sepasang sepatu minta tolong seorang tukang sepatu untuk memperbaikinya, dan ia akan menunggu.

"Sekarang sudah waktunya tutup." kata tukang sepatu itu.
"Oleh karena itu saya tidak dapat memperbaikinya sekarang. Mengapa engkau tidak datang besok pagi saja?"

"Saya hanya mempunyai sepasang sepatu ini, dan saya tidak dapat berjalan tanpa sepatu."

"Baik, untuk sementara engkau saya pinjami sepatu."

"Apa! Memakai sepatu orang lain? Kauanggap apa saya ini?"

"Mengapa engkau menolak menggunakan sepatu orang lain di kakimu kalau engkau begitu saja membawa pikiran-pikiran orang lain di kepalamu?" (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar