Ibn Fadhlan dan Bangsa Viking


Tahun 921 M, Ibnu Fadlan diutus oleh Khalifah al-Muqtadir, penguasa Dinasti Abbasiyah di Baghdad, untuk pergi ke kerajaan Bulghar (cikal bakal dari Bulgaria) di hulu sungai Volga di Kazan, wilayah Tatarstan saat ini. Kita semua tahu bahwa di atas sungai ini berdiri sebuah kota yang dinamai Volgograd, atau kota Volga. Sungai ini sangat bersejarah karena menjadi bukti bisu pertempuran brutal dan vital dalam perang dunia 2. Ya, kota di sungai ini dahulu disebut Stalingrad, atau kota Stalin yang sangat dipertahankan mati-matian oleh tentara merah atas instruksi Presiden Rusia saat itu, Joseph Stalin yang bernama asli Iosef Vissarionovich Jugashvili.

Kembali ke petualangan Ibnu Fadlan, di padang rumput antara Laut Aral dan Laut Kaspia atau wilayah Inner Asia, Ibnu Fadlan berjumpa dengan peradaban kulit putih pra-Kristen yang diantaranya diyakini sebagai orang-orang Viking dari Skandinavia yang mengembara jauh ke timur. Orang Arab ketika itu menyebut bangsa kulit putih berambut pirang ras Jermania dari wilayah utara sebagai orang-orang Russiyah atau Rus. Fakta ini menimbulkan kontroversi mengenai keterlibatan orang-orang Viking dalam pembentukan Rusia.

Kitab yang berisi catatan perjalanannya sekaligus laporan untuk Khalifah al-Muqtadir telah membantu para ahli sejarah memahami kondisi masyarakat proto-Rusia saat itu. Ahli sejarah Rusia dari Universitas Minessota, Thomas S Noonan, mengakui bahwa Ibnu Fadlan adalah sumber sejarah unik karena dia menyaksikan sendiri adat istiadat bangsa Rus dan menceritakan segalanya secara detail.

“Dia menceritakan bagaimana Karavan bepergian. Dia juga menulis flora dan fauna sepanjang perjalanan. Dia menunjukkan pada kita bagaimana perdagangan berlangsung. Tidak ada sumber seperti itu,” tulis Noonan.

Mata uang dirham (perak) dicari oleh orang-orang Viking sampai perlu mengembara jauh ke timur untuk berdagang dengan bangsa Arab. Bangsa Rus biasanya menjual berbagai macam kulit binatang, ternak, kulit pohon birch, biji pohon ek, lilin, baju besi, dan pedang. Di banyak situs-situs peninggalan Viking di Skandinavia, terutama Swedia, ditemukan ribuah koin dirham dinasti Abbsiyah yang dicetak di Baghdad, Kairo, Damaskus, Isfahan, dan Tashkent. Menurut Noonan koin dirham itulah yang telah menyokong era Viking, masa keemasan mereka dalam menguasai pantai-pantai Eropa Utara selama abad ke-8 sampai abad 11 M. Beberapa bahasa Arab juga diserap ke dalam bahasa Skandinavia seperti kaffearsenalkattunalkovesofa, dan kalvatre(aspal pelapis kapal).

Ibnu Fadlan mencatat bahwa perempuan Rus memakai cakram dari emas atau perak di dadanya yang dikalungkan dengan tali di leher sebagai penanda kekayaan. Bila suaminya punya 10 ribu dirham, sang istri akan memakai satu cakram. Jika kekayaan suaminya mencapai 20 ribu dirham, istri memakai 2 cakram, dan seterusnya berlaku kelipatan.

Laki-laki Rus biasanya memiliki budak perempuan yang selalu menemani dan melayani ke mana pun dia pergi. Ia mendeskripsikan Rus sebagai bangsa yang memiliki fisik paling sempurna. Ibnu Fadlan menulis, “Saya tidak pernah melihat fisik yang lebih sempurna daripada mereka, mereka tinggi seperti pohon palm, warna kulit cerah dan kemerahan. Mereka memakai jubah yang menutupi separuh badan dan satu tangan tidak tertutupi kain. Setiap laki-laki membawa kapak, pedang dan belati. Pedang mereka bergaya Franka yang bilahnya besar dan bergerigi.”

Namun dibalik itu Ibnu Fadlan juga menyebut bangsa Rus sebagai bangsa yang jorok. “Mereka adalah yang terjorok di antara semua makhluk. Mereka tidak bersuci setelah buang air kecil dan tidak cuci tangan setelah makan.” Ibnu Fadlan juga menulis “Mereka sangat vulgar dan terbelakang (untuk urusan kebersihan).” Ia mencontohkan, mereka menggunakan baskom untuk mencuci tangan, padahal mereka juga memakai baskom tersebut untuk berkumur, meludah, membersihkan hidung bahkan membuang ingus. Kemudian mereka bergantian dengan teman mereka untuk memakai baskom tanpa mengganti airnya dan menambah kotor baskom tersebut.

Ibnu Fadlan juga menceritakan mengenai budak perempuan dan keterikatannya dengan tuannya. Ia menjelaskan secara rinci bagaimana pemakaman salah satu kepala suku mereka yang melibatkan pengorbanan manusia dan kremasi. Budak perempuannya akan mengajukan diri untuk menemani tuannya ke Valhalla (Surga). Ibnu Fadlan mengakhiri percakapannya dengan pria Rus setelah mereka mengejek, “Orang Arab benar-benar bodoh. Kalian mengubur orang yang kalian cintai dan hormati agar dimakan rayap dan cacing di dalam tanah. Sedangkan kami membakar mereka yang mati dengan api sehingga bisa cepat masuk ke Surga.”

Keakuratan catatan Ibnu Fadlan dimanfaatkan oleh Michael Crichton untuk menyusun novelEaters of the Dead tahun 1976. Novel ini kemudian dijadikan film oleh Hollywood dengan judul“13th Warrior” yang menceritakan kisah Ibnu Fadlan bepergian ke wilayah Nordik bersama 12 pendekar Viking untuk menumpas kaum kanibal. Tentu saja novel tersebut fiksi belaka karenaIbnu Fadlan tidak pernah pergi ke Skandinavia.

Hak Cipta @ Republika, 18 Januari 2012 


Ahlul Bait Menurut Hadits


Oleh Ustadz Muhibbul Aman

“Perumpamaan ahli bait-ku, seperti perahu Nabi Nuh. Barang siapa yang berada di atasnya ia akan selamat, dan yang meninggalkannya akan tenggelam.” (H.R. Thabrani).

“Aku meninggalkan kalian yang apabila kalian pegang teguh tidak akan tersesat. Kitab Allah, dan keturunanku.” (H.R. Turmudzi).

“Umatku yang pertama kali aku beri pertolongan (Syafa’at) kelak di hari Kiamat, adalah yang mencintai Ahli bait-ku.” (H.R. al-Dailami).

“Didiklah anak-anak kalian atas tiga hal. Mencintai Nabi kalian. Mencintai Ahli bait-ku. Membaca al-Qur’an. (Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardaweih, dan at-Thabrani dalam kitab tafsir-nya).

Ketika turun ayat: “Katakanlah wahai Muhammad, Aku tidak meminta balasan apapun dari kalian kecuali mencintai kerabat.” Kemudian Ibnu Abbas ra bertanya pada Rasulullah: Wahai Rasulullah, siapakah yang dimaksud dengan kerabat yang wajib kami cintai? Rasulullah SAW menjawab: Ali, Fatimah, dan anak keturunannya.

Demikian sebagian dalil-dalil dari Hadits Rasulullah SAW yang secara jelas menyatakan keutamaan Ahlu Bait. Bagaimana tidak, di dalam jasad mereka mengalir darah yang bersambung kepada makhluk yang paling utama, kekasih Allah, Rasulullah SAW.

Untuk lebih jelasnya lagi, saya persilahkan anda untuk membaca sendiri kitabnya al-Imam as-Suyuthi yang berjudul Ihya’ al-Mayt fi Fadlo’il Ahli al-Bait, yang memuat 60 Hadits tentang keutamaan Ahlu Bait.

Semoga penjelasan ini, menjadikan anda dan kita semua ditakdirkan sebagai pecinta Rasulullah SAW dan para keturunannya, sehingga kelak akan mendapat Syafa’at dari Rasulullah SAW, sebagaimana yang Beliau SAW janjikan. 



Bangsa Khazar


Bangsa Khazar (bahasa Ibrani tunggal "Kuzari" כוזרי jamak "Kuzarim" כוזרים; bahasa Arab خزر; bahasa Turki tung. "Hazar" jam. Hazarlar; bahasa Yunani Χαζαροι; bahasa Rusia Хазары; bahasa Tatar tung. Xäzär jam. Xäzärlär; bahasa Persia خزر; bahasa Latin "Gazari" atau "Cosri") adalah orang-orang Turkik setengah nomaden dari Asia Tengah. Banyak di antara mereka telah memeluk Yudaisme. Nama 'Khazar' tampaknya berkaitan dengan kata kerja bahasa Turkik yang berarti "mengembara" (gezer dalam bahasa Turki) modern. Pada abad ke-7 M mereka mendirikan sebuah Khaganat yang mandiri di Kaukasus Utara di sepanjang Laut Kaspia, dan di sana lambat laun Yudaisme menjadi agama negara. Pada puncak kejayaannya, mereka dan cabang-cabang mereka menguasai sebagian besar dari wilayah Rusia selatan sekarang, Kazakhstan barat, Ukraina timur, dan sebagian besar Kaukasus (termasuk Dagestan, Azerbaijan, Georgia, dll.), dan daerah Krim.

Bangsa Khazar adalah sekutu penting Kekaisaran Bizantium dalam menghadapi Kekaisaran Sassania [1], dan merupakan kekuatan utama di wilayah itu pada puncak kejayaannya. Mereka terlibat dalam serangkaian peperangan yang mereka menangi dengan Kekhalifahan Arab, kemungkinan menghalangi invasi Arab ke Eropa Timur. Pada akhir abad ke-10, kekuasaan mereka dipatahkan oleh Rus Kiev [2], dan bangsa Khazar boleh dikatakan lenyap dari sejarah.

Setelah memeluk Yudaisme, bangsa Khazar sendiri menelusuri asal usul mereka kepada Kozar, anak dari Togarma. Togarma disebutkan dalam Kitab Suci Ibrani sebagai cucu Yafet. Namun demikian tidak mungkin ia dianggap sebagai leluhur sebelum tradisi Alkitab diperkenalkan kepada bangsa Khazar.

Sejumlah sejarahwan telah mencari kemungkinan hubungan antara bangsa Khazar dengan suku-suku Israel yang hilang, namun para sarjana modern umumnya menganggap mereka sebagai bangsa Turki yang bermigrasi dari Timur. Para sarajana di bekas Uni Soviet menganggap bangsa Khazar sebagai penduduk pribumi dari Kaukasus Utara. Sebagian sarjana, seperti D.M. Dunlop, menganggap bangsa Khazar terkait dengan sebuah konfederasi suku Tiele yang disebut He'san dalam sumber-sumber Tiongkok dari abad ke-7 (Suishu, 84). Namun demikian, bahasa Khazar tampaknya merupakan bahasa Oghurik, yang serupa dengan bahasa yang digunakan oleh bangsa Bulgar kuno. Karena itu, muncul dugaan pula bahwa mereka berasal dari bangsa Hun. Karena bangsa-bangsa Turkik secara etnis tidak pernah homogen, gagasannya tidak dianggap saling eksklusif. Ada kemungkinan bahwa bangsa Khazar terdiri dari suku-suku yang berasal dari berbagai latar belakang etnis, karena bangsa-bangsa steppa biasanya menyerap bangsa-bangsa yang mereka taklukkan.

Catatan sejarah Armenia mengandung rujukan-rujukan kepada bangsa Khazar sejak akhir abad kedua. Catatan-catatan ini biasanya dianggap sebagai anakronisme, dan kebanyakan sarjana percaya bahwa mereka sesungguhnya merujuk kepada bangsa-bangsa Sarmatian atau Skitia. Priscus mengisahkan bahwa salah satu bangsa-bangsa dalam konfederasi Hun disebut Akatziroi. Raja mereka bernama Karadach atau Karidachus. Sebagian orang melihat adanya persamaan antara kata Akatziroi dan "Ak-Khazar" (lih. bawah), mengajukan spekulasi bahwa bangsa Akatziroi adalah proto-bangsa Khazar yang awal.

Dmitri Vasil'ev dari Universitas Negeri Astrakhan baru-baru ini mengajukan hipotesis bahwa bangsa Khazar pindah ke wilayah steppa Pontik baru pada akhir tahun 500-an, dan mula-mula hidup di Transoxiana. Menurut Vasil'ev, populasi Khazar tetap tinggal di Transoxiana di bawah Pecheneg dan pertuanan Oghuz, kemungkinan tetap berhubungan dengan kumpulan utama bangsa mereka.

Seorang penulis Yahudi, Arts Kistler, seorang sarjana yang jarang ada tandingannya di kalangan Yahudi, memandang bahwa Yahudi Khazar inilah kabilah ketiga belas. Dan Kistler secara praktis berkesimpulan dalam bukunya The Thirteenth Tribe, bahwa mayoritas kaum Yahudi sekarang ini bukan berasal dari dua belas kabilah keturunan Nabi Ya'qub sebagaimana kisah tentang mereka disebutkan dalam Alquran dan Taurat. Bahkan, mereka telah menyimpang dari kabilah Khazar, kabilah ketiga belas. Keturunan mereka ini menyebar di berbagai negara Eropa Timur, khususnya Polandia, Hongaria dan Rusia. Artinya, mereka tidak berasal dari Palestina, tetapi dari Kaukasia dan Asia Tengah. Ini bisa menolak dan membatalkan istilah lahirnya permusuhan di kalangan orang-orang Semit dari benih-benih orang Palestina.

Demikian pula menurut pengakuan Profesor Abraham Bolyake, seorang Yahudi keturunan Rusia, yang kemudian berhijrah ke Palestina dengan ayahnya pada tahun 1923. Pada masa selanjutnya , ia menjadi guru besar sejarah Yahudi di Universitas Tel Aviv. Dalam berbagai kajian dan tulisannya, ia menyatakan bahwa Yahudi yang sekarang itu menyempal dari Khazar, suku ketiga belas. Bahkan, beliau dengan terang-terangan menyerang pendapat yang mengatakan bahwa orang-orang Yahudi sekarang adalah pelarian dari kabilah yang konsisten pada Taurat. Tentu saja pendapatnya tersebut sekaligus membantah cerita atau dongeng tentang kaum Yahudi sebagai bangsa pilihan.

William G. Car, dalam bukunya Bebatuan di Papan Catur, mengatakan, "Mulailah etnis selain Semit, Turki dan Finlandia, mengirimkan utusannya ke Eropa; (mereka) datang dari Asia sejak abad ke-1 M di sepanjang perjalanan bumi yang terjadi di sebelah utara laut Caspienne (Qiswin/Khazar). Sejarah mencatat bangsa-bangsa penyembah berhala itu bernama Khazar. Mereka pernah tinggal di wilayah timur jauh Eropa. Disitu mereka membentuk kerajaan Khazar yang kuat. Lalu mereka membentangkan kekuasaannya sedikit demi sedikit melalui peperangan berkali-kali sehingga, pada akhir abad ke-2 M, mereka mampu menguasai sejumlah besar wilayah di Eropa Timur atau sebelah barat gunung Qural dan sebelah utara Laut Hitam. Ketika itu, orang-orang Khazar lebih suka memilih agama Yahudi ketimbang agama Kristen atau Islam. Mereka dirikan gereja dan sekolah-sekolah untuk mengajarkan dan mengembangkan ajaran Yahudi di seluruh pelosok wilayah kerajaan atau kekuasaannya. Di puncak kekuasaan dan kekuatannya, pemerintah Yahudi Khazar menarik upeti secara paksa dari dua puluh lima bangsa. Saking kuatnya, pemerintah Khazar mampu bertahan dalam kekuasaannya selama hampir lima ratus tahun. Akhirnya, pemerintahan yang kuat itu jatuh di akhir abad ke-13 M di tangan pemerintahan Rusia yang menyerang mereka dari sebelah utara. Praktis jiwa pemberontakan berpindah dari pemerintahan Khazar Yahudi ke tangan pemerintahan Rusia. Pemberontakan mereka berlanjut sampai terjadi Pemberontakan Merah pada tahun 1917. Serangan prajurit Khazar Yahudi pada awal abad ke-13 M menjelaskan kepada kita bahwa orang-orang yang kita sebut sebagai orang-orang Yahudi itu telah menetap secara praktis dalam pemerintahan Komunis Rusia." (Demikian William G. Car).

Sementara itu, Profesor Abraham dalam bukunya yang sangat bagus tentang Khazariya, yang diterbitkan dan disebarluaskan dalam bahasa Ibrani untuk pertama kali pada tahun 1944 di Tel Aviv, mengatakan, "Bangsa Yahudi (Khazari) itu dapat kita anggap sebagai inti (cikal bakal) bagi pendudukan Yahudi terbesar di wilayah timur Eropa. Sesunguhnya silsilah keturunan penduduk ini- yakni, mereka yang menetap di tempat asalnya dan mereka yang hijrah ke amerika Serikat, serta yang berpindah ke negara-negara lainnya, ditambah lagi dengan mereka yang pergi ke Israil-semuanya, pada saat sekarang, telah membentuk mayoritas kaum Yahudi di dunia. Realitas menyatakan bahwa mayoritas terbesar orang-orang Yahudi di seluruh dunia, pada saat sekarang ini, berasal dari sebelah timur Eropa, oleh karena itu, sangat boleh jadi bahwa kebanyakan mereka atau bahkan semuanya berasal dari Yahudi Khazar (Caspienne). Ini berarti bahwa nenek moyang mereka bukan dari Urdun (Ardan), melainkan dari Sungai Volga (Al-Fulja). Mereka juga bukan berasal dari tanah Kan'an (Mesir). Mereka berasal dari Kaukasia yang sejak dulu diyakini sebagai tempat kelahiran ras Aria. Dari segi struktur keturunan, mereka lebih dekat ke kabilah Hon, Uigur dan Magyar, ketimbang kabilah keurunan Nabi Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub."

Tetapi masih ada lagi misteri besar dan unik yang belum terjawab oleh para peneliti dan sarjana. Bahkan misteri ini juga belum terjawab oleh Profesor Abraham, Paulyax, Kistler, Profesor An-Namsawy (Hogo F.K.), yang dianggap sebagai nara sumber handal dan pakar dalam sejarah Khazar (Yahudi) sendiri. Misteri itu berupa pertanyaan yang menggeliat dan membangkitkan rasa ingin tahu, yaitu, "Mengapakah orang-orang Mesir yang kuat-kuat berubah menjadi pemeluk agama orang-orang yang terusir-Yahudi-yakni mengikuti ajaran Yahudi?"

Sejarah Khazar awal erat terkait dengan sejarah imperium Gokturk, yang didirikan ketika klan Ashina menggulingkan kaum Juan Juan pada 552 M. Dengan runtuhnya imperium Gokturk / konfederasi kesukuan yang disebabkan oleh konflik internal pada abad ke-7, bagian barat dari imperium Turkik terpecah menjadi dua konfederasi, yaitu bangsa Bulgar, yang dipimpin oleh klan Dulo, dan bangsa Khazar, yang dipimpin oleh klan Ashina, para penguasa tradisional dari imperium Gokturk. Pada 670, bangsa Khazar telah menghancurkan konfederasi Bulgar, dan menyisakan tiga kelompok Bulgar di Volga, Laut Hitam dan di daerah Donau.

Penampilan signifikan pertama bangsa Khazar dalam sejarah adalah ketika mereka membantu peperangan Kaisar Heraclius dari Bizantium dalam melawan dinasti Sassania dari Persia. Pemerintah Khazar, Ziebel (kadang-kadang diidentifikasikan sebagai Khagan Tong Yabghu dari bangsa Turk Barat) membantu bangsa Bizantium dalam mengalahkan Georgia. Bahkan direncanakan perkawinan antara anak laki-laki Ziebel dengan anak perempuan Heraclius, tetapi tidak pernah terjadi.

Sejumlah sumber Rusia memberikan nama seorang khagan Khazar, Irbis, dari masa ini dan menggambarkannya sebagai seorang cangkokan dari keluarga kerajaan Gokturk, Ashina. Apakah Irbis pernah ada atau tidak, masih diperdebatkan, demikian pula masalah apakah ia dapat diidentifikasikan sebagai salah satu dari banyak penguasa Gokturk yang memiliki nama yang sama. Beberapa konflik lebih lanjut meletus dalam dekade-dekade yang berikutnya, dengan serangan-serangan Arab dan Khazar ke Kurdistan dan Iran. Ada bukti dari laporan al-Tabari bahwa bangsa Khazar membentuk sebuah front bersama dengan sisa-sisa bangsa Gokturk di Transoxiana.

Bangsa Khazar dan Bizantium

Kekuasaan bangsa Khazar terhadap sebagian besar wilayah Krim bermula pada akhir tahun 600-an. Pada pertengahan 700-an bangsa Goth Krim yang pemberontak ditaklukkan dan kota mereka, Doros ( Mangup-Kale modern) diduduki. Seorang tudun Khazar merupakan penduduk di Cherson pada tahun 690-an, meskipun kenyataannya kota ini secara nominal takluk kepada Kekaisaran Bizantium. Mereka juga diketahui bersekutu dengan Kekaisaran Bizantium selama sekurang-kurangnya bagian dari tahun 700-an. Pada 704/705 Yustinianus II, yang hidup di pembuangan di Cherson, melarikan diri ke wilayah Khazar dan menikahi saudara perempuan Khagan waktu itu, Busir. Dengan pertolongan istrinya, ia melarikand iri dari Busir, yang sedang menyusun intrik dengan Tiberius III yang merebut kekuasaan, membunuh dua pejabat Khazar dalam prosesnya. Ia melarikand iri ke Bulgaria, yang pemimpinnya, Khan Tervel menolongnya merebut kembali takhtanya. Bangsa Khazar belakangan memberikan bantuan kepada jenderal pemberontak Bardanes, yang merebut takhta pada 711 sebagai Kaisar Filipikus.

Kaisar Bizantium Leo III menikahkan anaknya, Konstantin (belakangan Konstantin V Kopronimus) dengan putrid Khazar Tzitzak (anak Khagan Bihar) sebagai bagian dari persekutuan antara kedua imperium. Tzitzak, yang dibaptiskan dengan nama Irene, belakangan terkenal karena pakaian pernikahannya, yang merupakan awal dari keranjingan fesyen di Konstantinopel untuk jenis jubah (untuk laki-laki) yang disebut tzitzakion. Anak mereka Leo (Leo IV) belakangan lebih dikenal sebagai "Leo si orang Khazar"


[1] Kekaisaran Persia Sassania (bahasa Persia: دودمان ساساني) (diucapkan [sæsənɪd]; disebut juga Kekaisaran Sassania, Kekaisaran Sasania, atau Kekaisaran Sassaniyah) adalah kekaisaran bangsa Iran yang ketiga dan kekaisaran Persia yang kedua. Kekaisaran Sassania merupakan Kekaisaran Persia pra-Islam terakhir dan dipimpin oleh Dinasti Sassania pada tahun 224 hingga 651 M. Kekaisaran Sassania, yang menggantikan Kekaisaran Parthia atau Kekaisaran Arkasid, diakui sebagai salah satu kekuatan utama di Asia Barat, Selatan, dan Tengah, bersama dengan Kekaisaran Romawi dan Kekaisaran Bizantium, dalam periode selama lebih dari 400 tahun.

Kekaisaran Sassania didirikan oleh Ardashir I, setelah keruntuhan Kekaisaran Parthia dan kekalahan raja Parthia terakhir, Artabanos IV (bahasa Persia: اردوان, Ardavan); dan kekaisaran ini berakhir ketika Syahansyah (Raja Segala Raja) Sasania terakhir, Yazdegerd III (632–651), kalah dalam perjuangan selama 14 tahun untuk menyingkirkan kekhalifahan Islam yang pertama, yaitu pendahulu dari kekaisaran-kekaisaran Islam lainnya. Wilayah kekaisaran ini meliputi wilayah yang kini menjadi Iran, Irak, Armenia, Afganistan, bagian timur Turki, dan sebagian India, Suriah, Pakistan, Kaukasia, Asia Tengah dan Arabia. Selama pemerintahan Khosrau II (590–628), Mesir, Yordania, Palestina, Israel, dan Libanon juga sementara waktu merupakan wilayah kekaisaran ini.

Bangsa Sassania menamakan kerajaan mereka Eranshahr Eranshahr.svg(Wilayah kekuasaan bangsa Iran (Arya)) atau Ērān dalam bahasa Persia Pertengahan, yang menghasilkan istilah Iranshahr and Iran dalam bahasa Persia Baru. Masa kekuasaan Sassania terbentang sepanjang periode Abad Kuno Akhir (bahasa Inggris: Late Antiquity), dan dianggap sebagai salah satu periode yang paling penting dan berpengaruh dalam sejarah Iran. Dalam banyak hal periode Sassania menyaksikan pencapaian tertinggi kebudayaan Persia, dan melambangkan kemegahan Kekaisaran Iran terakhir sebelum penaklukan muslim dan berkembangnya agama Islam.

Menurut legenda, veksiloid Kekaisaran Sassania adalah Derafsh Kaviani. Diduga juga bahwa peralihan menuju Kekaisaran Sassania melambangkan akhir perjuangan etnis proto-Persia melawan kerabat etnis migran dekat mereka, yakni bangsa Parthia, yang tempat asalnya adalah di Asia Tengah.

Persia memiliki pengaruh yang cukup besar pada kebudayaan Romawi selama masa Sassania, dan bangsa Romawi menganggap bangsa Persia Sassania sebagai satu-satunya bangsa yang berstatus sama dengan mereka. Hal ini diperlihatkan misalnya dalam surat-surat yang ditulis oleh Kaisar Romawi kepada Syahansyah Persia, yang pada alamatnya bertuliskan kata "kepada saudaraku". Pengaruh kebudayaan Sassania terbentang jauh melebihi batas-batas wilayah kekaisaran mereka, dan bahkan menjangkau sampai Europa Barat, Afrika, Cina, dan India, serta berperan penting dalam pembentukan seni-seni Abad Pertengahan di Eropa dan Asia.

Pengaruh tersebut terus terbawa ke masa awal perkembangan dunia Islam. Kebudayaan yang unik dan aristokratik dari dinasti ini telah mengubah penaklukan Islam atas Iran menjadi sebuah Renaisans Persia. Banyak hal yang kemudian dikenal sebagai kebudayaan, arsitektur, dan penulisan Islam serta berbagai keahlian lainnya, diperoleh dari Sassania Persia dan kemudian disebarkan pada dunia Islam yang lebih luas. Sebagai contohnya ialah bahasa resmi Afghanistan, yaitu Bahasa Dari yang merupakan dialek dari Bahasa Persia, merupakan perkembangan dari bahasa kerajaan bangsa Sassania.

[2] Rus Kiev (bahasa Rusia: Kievskaya Rus) adalah sebuah negara yang ada dari sekitar tahun 880 hingga pertengahan abad ke-12. Pusat kekuatan negeri ini ada di lembah sungai Dnieper yang sekarang ada di Ukraina, dan negeri ini juga mencakup daerah Belarus dan bagian tengah Rusia sekarang. Kekaisaran ini dianggap sebagai pendahulu 3 negara Slavia modern. Kekaisaran ini didirikan oleh Oleg dari Novgorod, seorang pangeran bangsa Varangia. Pada abad ke-13 negara ini menderita kekalahan atas bangsa Mongol dalam sebuah pertempuran di Sungai Kalka. Rus Kiev kemudian digantikan oleh sejumlah negara kecil, seperti Vladimir-Suzdal dan Republik Novgorod.