Domba Kecilku



Bagi domba kecilku
yang pendiam dan lembut,
hariku pun gua
berhamparan lumut.

Tubuh putih kecil
luput dari bulan
sungguh aku lupa
jadi buaian.

Aku lupa dunia
sekedar merasa
jantung berdegup
yang memberiku hidup.

Pestamu, anakku,
meredup pesta rayaku.
Kautahu aku bagimu
hanya tempat istirahmu.


Gabriela Mistral

The Diary of Murasaki Shikibu

As the autumn season approaches the Tsuchimikado becomes inexpressibly smile-giving. The tree-tops near the pond, the bushes near the stream, are dyed in varying tints whose colours grow deeper in the mellow light of evening. The murmuring sound of waters mingles all the night through with the never-ceasing recitation of sutras which appeal more to one's heart as the breezes grow cooler. The ladies waiting upon her honoured presence are talking idly. The Queen hears them; she must find them annoying, but she conceals it calmly. Her beauty needs no words of mine to praise it, but I cannot help feeling that to be near so beautiful a queen will be the only relief from my sorrow. So in spite of my better desires [for a religious life] I am here. Nothing else dispels my grief  –it is wonderful!

It is still the dead of night, the moon is dim and darkness lies under the trees. We hear an officer call, "The outer doors of the Queen's apartment must be opened. The maids-of-honour are not yet come–let the Queen's secretaries come forward! " While this order is being given the three-o'clock bell resounds, startling the air. Immediately the prayers at the five altars begin. The voices of the priests in loud recitation, vying with each other far and near, are solemn indeed. The Abbot of the Kanon-in Temple, accompanied by twenty priests, comes from the eastern side building to pray. Even their footsteps along the gallery which sound to'-do-ro to'-do-ro are sacred. The head priest of the Hoju Temple goes to the mansion near the race-track, the prior of the Henji Temple goes to the library. I follow with my eyes when the holy figures in pure white robes cross the stately Chinese bridge and walk along the broad path. Even Azaliah Saisa bends the body in reverence before the deity Daiitoku. The maids-of-honour arrive at dawn.

I can see the garden from my room beside the entrance to the gallery. The air is misty, the dew is still on the leaves. The Lord Prime Minister is walking there; he orders his men to cleanse the brook. He breaks off a stalk of omenaishi [flower maiden] which is in full bloom by the south end of the bridge. He peeps in over my screen! His noble appearance embarrasses us, and I am ashamed of my morning [not yet painted and powdered] face. He says, "Your poem on this! If you delay so much the fun is gone!" [] 


Terangkai Dengan Indah

Peziarah, tubuhmu adalah sajadahku
sebab dapat kulihat di matamu
kau begitu elok terangkai
dengan kain wol dan sutera terindah
dan pola di atas jiwamu
bertorehkan tanda-tangan Tuhan,
dan semua perasaan juga warna cintamu
muncul dari celupan tangan ilahi-Nya.

Peziarah, tubuhmu adalah kuilku
jikasaja kau miliki mata seorang Pir
akan kau lihat Hafiz
bersimpuh di kakimu,
berdendang lagu-lagu merdu
dan bersimbah airmata bahagia
atas mahkota indahmu
yang tersembunyi dan tak kasat mata. 

Hafiz 

Langkah-langkahku


langkahmu, anak-anak sepiku
suci dan pelan diinjakkan
menuju ranjang terjagaku
bisu dan lesu diarahkan,

makhluk murni, bayangan agung
betapa lembut langkahmu teguh!
Tuhan, semua berkah kutaksiri
telanjang kaki datang padaku,  

jika dari bibirmu meluncur
kau siapkan sebagai pengaman
bagi penghuni segala renungku
benih hidup suatu ciuman,

jangan gegaskan tanpa mesra
gairah perjumpaan kugenapi
sebab hidupku hanya menunggumu
dan langkah-Mu adalah hatiku.

Paul Valery 

Kematian Holderlin

empat puluh tahun kau bergumul
dengan bayang di kakimu. sebelum kau rela berdamai
dengan bumi; akhirnya bebas dari bayang.
padamu, dahi malam! dapat dibaca kedalaman bintang-bintang
tanganmu berjabatan. bagai sepasang burung mati terluka berpelukan
dan tertuju ke laut. kakimu agung
istirah dari kembara yang jauh.
jasadmu meluncur pergi; dan burung memburu
terengah terbang ke pantai;
wajah biru tanpa cacat tinggal sendiri,
gelap tak berujung, di mana Tuhan terlena
di bawah pelupuknya
(betapa tersingkap dunia dalam mata tertutup ini!)
di atas, awan bagai menumpuk; udara riuh
bunyi lonceng, malaikat gemerlapan
bergerak ke angkasa neraka, aroma jerami bangkit
dari padang terancam, di mana tukang pungut terakhir
tengah bergegas.
di jalan, kereta mati si miskin berguncang antara padang-padang
sebuah kuburan bermandikan desir uir-uir,
dipecut oleh angin. beberapa salib ditelan semak-belukar.
kau yang hina di antara yang dhaif
hanya beberapa hati suci melingkungimu
dengan senyap. penunjuk angin di menara lonceng tiga kali berkisar
membawa pesan dari awan: tapi baru saja wajahmu
kau singkap dalam kuburan, maka cahaya yang menakjubkan
menyentuh pelupukmu, membangunkan matahari
yang tertutup di seberang kubur. [] 

Pierre Emmanuel 

Malam Akasia: Vitezlav Nezval


hidup cuma punya dua tiga hari ciuman: lalu pohon gigih ini
digelantungi beratus lebah dan bunga waktu malam bulan juni:
jika akasia merekah dan lagu sungai berlecut tasbih
lampu-lampu dan mewangi karena perempuan-perempaun mandi.

jalan-jalan raya tiba-tiba melebar dan berkilau bagai salon-salon kecantikan.

titian bergantungan dan manik-manik cahaya melingkup air
di mana aku melangkah: taman gaib berantuk dengan peziarah

orang-orang pergi ke tempat memadu hati dengan kebun-kebun
dan jalan-jalan, lapangan-lapangan luas dan bulevard,

karena mabuk aku lupa pada lorong-lorong tua Nove Mesto
yang dinding-dindingnya kelabu dan kini perkasa
memiliki kedaulatan sebuah mahligai,

duhai malam akasia, malam agung dan kelembutan yang menggoda,
jangan pergi! biarkan aku selamanya dahaga cinta dan kota Praha;
jika berakhir bulan juni, singkat seperti cinta dan ranum tubuh,

duhai malam akasia, jangan berlalu, sebelum kutiti
seluruh jembatan Praha; bukan mencari siapa-siapa, bukan juga kawan, bukan perempuan, bukan diriku sendiri.

duhai malam pemilik jejak peziarahan musim panas
tak juga kunjung pada kerinduanku bernafas dalam rambutmu;
kilau permatamu telah merasuki-ku, kuselami air bagai si pemukat terkutuk:

mampukah kukatakan: sampai lain kali duhai malam bulan juni
jika tak sempat lagi kita berjumpa, hiruplah aku dalam pelukanmu,
kekasihku yang malang. [] 


Nyanyi Dendam: Karel Hlavacek



hari baru saja senja, telah merisik jari-jari berambut pada tangan hitam dan dibawah bulan-kuda merah-pucat terdengar keluhan,

karena segala di sini dusta –juga lilin-lilin kelap-kelip makin lama makin suram, dan patung-patung suci yang pucat, kering termangu tanpa nafsu

juga dusta di sini setangkai kembang cantik, yang mengejang segala dengan kewangian, bulan yang lesu mengira menyalakan mimpi

jari-jari berambut karena lenyap digerak-gerakkan pada tangan hitam dan diatas segalanya berdusta di sini bulan yang mengeluh dan menangis

maka matilah karena lesu bulan yang begitu lama dan iseng mengintip dan meratap beragam ngeri: maka menyala api dalam tangan

dan jari-jari kurus berambut –yang lebih dusta dari yang lain- sekarang menjangkau lembut sepanjang dinding kelam makin tinggi

menjangkau dan merayap pita-pita dari regin dan meraba-raba dan mencari sampai ke tekanan-tekanan lalu memainkan lagu mual

sebuah senandung yang akhirnya karam dalam sedih-sendu. 


Karel Hlavacek