Label

Perebutan Kekuasaan Paska Wafatnya Kanjeng Nabi


oleh Sulaiman Djaya, pemerhati budaya

Di perpustakaan Forum Mahasiswa Ciputat (FORMACI), sewaktu saya masih aktif mengikuti darsah dan kajiannya bersama teman-teman mahasiswa yang lain, saya menemukan buku Saqifah yang ditulis oleh O. Hashem. Buku itu mencuri minat dan perhatian saya karena sub-judulnya: Awal Perselisihan Umat. Segera saja buku yang mulai kusam itu saya baca, dan segera saya pun jadi tahu kemelut perebutan kekuasaan di saat Kanjeng Nabi Wafat, meski Kanjeng Nabi telah menetapkan Sayidina Ali sebagai pemimpin penggantinya berdasarkan perintah wahyu ayat 67 Surah Al-Maidah yang turun di Ghadir Khum saat Haji Wada’ yang beliau umumkan di hadapan jamaah haji saat itu.

Peristiwa Saqifah adalah kudeta pertama dalam sejarah Islam, ketika Umar dkk mengkudeta Sayidina Ali di saat Sayidina Ali, Sayidah Fatimah, Imam Hasan, Imam Husain dan lainnya sedang sibuk mengurus jenazah Kanjeng Nabi. Sungguh luar biasa! Di saat Kanjeng Nabi wafat, mereka malah mengadakan konferensi Saqifah untuk mendirikan kekhilafahan bukannya mengurus jenazah Kanjeng Nabi.

Sayidah Fatimah dan sejumlah sahabat yang pro Sayidina Ali tentu saja menolak khalifah hasil Konferensi Saqifah, semisal Salman, Abu Dzar, Malik Asytar, Bilal dan yang lainnya dan mereka mengusulkan untuk memerangi kelompok Saqifah namun dicegah dan dilarang oleh Sayidina Ali karena hanya akan menciptakan perang saudara. Tapi apa lacur. Umar, Khalid bin Walid dkk memaksa ba’iat Sayidah Fatimah sampai-sampai mereka membakar dan mendobrak pintu rumah Sayidah Fatimah hingga menyebabkan luka, yaitu patahnya tulang rusuk Sayidah Fatimah, yang harus ditanggung oleh Sayidah Fatimah dengan rasa sakit selama 75 hari sisa hidupnya sebelum wafat paska wafatnya Kanjeng Nabi.

Buku yang ditulis oleh O. Hashem itu membuat saya ingin melakukan kajian pustaka yang lainnya: apakah peristiwa Saqifah dicatat oleh buku-buku lain. Dan ternyata sejumlah buku Sejarah Islam membenarkan peristiwa Saqifah tersebut. Tradisi Sunni atau Kaum Asy’ariyah-Maturidiyah menutupi sejarah Islam ini. Saya tidak tahu alasannya. Tapi yang pasti, setelah saya tahu dan kemudian melakukan kajian pustaka lanjutan, banyak penulis, perawi dan sejarahwan Sunni sendiri sebenarnya mencatat peristiwa tersebut dalam kitab-kitab mereka, tapi secara tradisi sejarah tersebut tidak diinformasikan di kalangan umat.

Peristiwa tersebut membuat saya kemudian meragukan klaim kaum Asy’ariyah-Maturidiyah (Sunni) bahwa semua sahabat itu ‘adil. Klaim yang tidak logis dan menentang fitrah memang. Karena manusia dari dulu sampai sekarang tak pernah sama maqom dan derajatnya karena ikhtiar dan kapasitasnya pun tidak-lah sama.

Kaum Sunni memiliki suatu pandangan bahwa seluruh sahabat Kanjeng Nabi Muhammad Al-Mustafa (tanpa kecuali) adalah contoh-contoh dan suri teladan yang patut kita teladani dan mereka itu pada masa hidupnya tak tersentuh oleh nafsu duniawi, mereka bersih dari dosa, mereka tidak serakah dan senantiasa berbuat baik. Mereka juga memiliki pandangan bahwa semua sahabat itu saling mencintai satu sama lainnya, mereka bekerja sama untuk menuju cita-cita Islam, mereka jauh dari saling membenci dan saling iri hati satu sama lainnya. Akan tetapi pandangan itu ternyata jauh panggang dari api. Sebuah klaim ahistoris yang tak mendidik.

Pandangan itu tidak sesuai dengan kenyataan sejarah. Memang, kita sebenarnya berharap bahwa hal itu benar, akan tetapi fakta-fakta dan bukti-bukti sejarah malah tidak mendukung sama sekali apa yang sudah diyakini sebagai kebenaran –yang ternyata politis ini. Fakta-fakta sejarah yang kejam merobek-robek pandangan-pandangan itu, sehingga orang-orang yang mengagumi para sahabat akan terhenyak di kursinya apabila kenyataan sejarah yang sebenarnya sampai pada mereka semua.

Mereka hampir-hampir semuanya tidak sanggup menerima kenyataan bahwa keutamaan-keutamaan para sahabat yang mereka kagumi hanyalah mitos belaka. Seorang pengagum yang paling fanatik pun tidak bisa menyangkal bahwa ada pergulatan kekuasaan diantara para sahabat yang memuncak bahkan sebelum Rasulullah dikebumikan sekalipun. Dan hal ini dicatat oleh banyak kitab-kitab yang ditulis oleh para perawi dan sejarahwan Sunni sendiri dan para sejarahwan dari mazhab lainnya. Mereka tidak bisa menyangkal sedikitpun bahwa pergulatan politik seperti itu memang ada dan pernah terjadi.

Oleh karena itu, bukti-bukti sejarah yang melimpah yang tertulis dalam berbagai buku sejarah Islam yang standar itu bisa kita pakai untuk merekonstruksi sejarah, merekonstruksi pandangan kita terhadap para sahabat, merekonstruksi keyakinan kita akan Islam karena dari para sahabatlah kita mendapatkan Islam. Sedangkan para sahabat itu tidak semua bisa kita percayai sesuai dengan apa yang kita lihat dalam sejarah. 

Tidak masuk akal sehat kita apabila para sahabat itu sama semua dari segala aspeknya termasuk aspek keimanan dan ketakwaan. Bahkan para Nabi pun memiliki berbagai tingkatan ruhaniah, apalagi para sahabat yang hanya manusia biasa. Tidak ada dua orang yang memiliki semua tingkat keimanan dan ketakwaan yang serupa. Dan hal itu sudah fitrah manusia yang tak pernah sama, sebab ikhtiar dan kapasitas manusia pun tidak sama.

Ketika mereka menerima Islam sebagai agama mereka, para sahabat Nabi itu adalah manusia biasa dan mereka memiliki preferensi yang berbeda-beda terhadap Islam. Masyarakat Islam yang ada pada waktu itu sama saja dengan yang ada pada hari ini. Masyarakat Islam pada waktu itu terdiri dari berbagai umat manusia dengan setiap karakter yang berbeda-beda.

Setelah memeluk Islam, beberapa dari mereka sanggup mencapai derajat keIslaman yang tinggi bahkan mencapai ke-ma’shuman seperti contohnya Sayidina Ali, sedangkan yang lainnya tetap sama—keadaan sebelum dan sesudah masuk Islam sama saja. Adapun penolakan (keengganan) Kaum Sunni terhadap Ghadir Khum dan pengangkatan Sayyidina Ali oleh Kanjeng Nabi sebagai pemimpin pengganti Kanjeng Nabi, contohnya disindir oleh Ayatullah Montazeri:

Ada seorang alim Syiah melewati kelompok Sunni. Mereka meminta agar alim Syiah itu bermalam di rumah mereka. Ia menyatakan kesediaannya dengan syarat tidak terjadi diskusi mazhab. Usai makan malam, berkatalah salah seorang ulama Sunni, “Bagaimana pendapatmu tentang Abu Bakar?” Ia menjawab, “Abu Bakar adalah muslim yang utama, salat, saum, haji, bersedekah, dan menyertai Nabi saw.” Kata alim Sunni, “Bagus, teruskan.” Alim Syiah itu berkata, “Secara singkat, Abu Bakar itu lebih utama dan lebih cerdas dari Rasulullah saw.” Orang yang hadir takjub mendengar itu dan berkata, “Mengapa engkau berkata seperti ini?” Orang Syiah itu berkata, “Rasulullah saw memerintah kaum muslimin selama 23 tahun tetapi ia tidak pernah memikirkan wajibnya dan pentingnya mengangkat khalifah. Abu Bakar hanya memerintah kurang dari tiga tahun tetapi ia mengerti dan memahami pentingnya seorang khalifah. Dengan begitu, niscaya Abu Bakar lebih cerdas dari Nabi saw.”

Sindiran itu hanya ingin mengatakan betapa mustahil dan tidak mungkinnya bila Kanjeng Nabi tak memikirkan masa depan ummatnya sehingga ia tidak menyiapkan pemimpin penggantinya yang sangat layak dan utama. Orang yang memang dalam kenyataan sejarah lebih utama daripada para sahabat lainnya.

Sementara itu, dalam sejarah Islam awal, Umar bin Khattab dkk dikenal sebagai kaum dan kelompok yang menciptakan permusuhan dan perpecahan di kalangan ummat Islam. Bahkan ada yang menyebut mereka sebagai kaum penyerobot. Sebenarnya pembangkangan Umar bin Khattab, sebagaimana dicatat Ibn Abbas dan para sahabat lainnya, sudah ia demonstrasikan saat menentang permintaan Kanjeng Nabi kala sakitnya di pembaringan untuk didatangkan kertas dan pena di mana Kanjeng Nabi akan menulis wasiat dengan kertas dan pena itu. Saat itu Umar bin Khattab berkata, “Orang ini meracau….Kitab Allah adalah cukup bagi kita…” Perkataan Umar bin Khattab itu pun menimbulkan kegaduhan dan perpecahan di kalangan para sahabat yang ada kala itu dan contoh sikap kurang ajar sehingga Kanjeng Nabi mengusir Umar dan kelompoknya dari rumah Kanjeng Nabi.

Selain itu, perkataan Umar bin Khattab itu dengan jelas telah memisahkan Kitab Allah dengan Nabi SAW ketika dia berkata di hadapan Kanjeng Nabi Saw:  “Kitab Allah adalah cukup bagi kita”. Kata-kata Umar itu secara langsung merendahkan martabat Kanjeng Nabi Saw.

ISIS: Siapa dan Apa?



EDWARD SNOWDEN, mantan kontraktor teknik Amerika Serikat dan karyawan Central Intelligence Agency (CIA) mengungkapkan bahwa lembaga pelayanan intelejen dari tiga negara yaitu Amereka Serikat, Inggris dan Zionis Israel bekerjasama membentuk organisasi teroris. Dari tangan-tangan MOSSAD, teroris Daulah Islam Irak dan Suriah (ISIS) diciptakan. Kelompok teroris ini menampung dan menarik segala bentuk ekstremisme dari seluruh dunia dalam satu wadah, dengan menggunakan strategi yang disebut “the hornet’s nest” atau sarang lebah. Sesuai dengan dokumen Snowden, disebutkan bahwa satu-satunya cara untuk melindungi entitas Zionis atau “Negara Yahudi” adalah dengan menciptakan musuh-musuh baru di tempat (Negara) yang berbatasan dengan Israel. Musuh ini (yaitu teroris) yang akan dimanfaatkan untuk melawan plot anti-Zionis yang sejak awal menolak keberadaan Israel. Seperti yang diketahui, negara Arab yang konsisten menolak keberadaan Israel adalah Suriah. Sedangkan di Lebanon, terdapat front perlawanan Hizbullah yang juga sangat aktif melawan Israel. Dengan menciptakan ISIS, mau tak mau Suriah dan Hizbullah akan disibukkan untuk melawan kelompok teroris. 

PERLU DIPAHAMI bahwa sejak ditemukan moda transportasi BBM, Minyak menjadi KOMODITAS NO.1 dunia sejak abad ke-20, dan Timur Tengah adalah wilayah kandungan minyak terbesar dunia dengan akses termudah, yang membuatnya vital dan strategis. PERLU DIKETAHUI bahwa baik yang menemukan moda transportasi BBM, maupun yang menemukan ladang minyak di Timur Tengah adalah Peradaban Barat (Eropa). Semua berawal ketika Tim Eskplorasi yang dikirim William Knox D'Arcy (Pengusaha Irlandia) menemukan ladang minyak luas di Persia (sekarang Iran), kemudian bersama Burmah Oil Co (BUMN Inggris) mendirikan APOC (Anglo Persian Oil Company), korporasi minyak milik Barat pertama di Timur Tengah, nantinya menjadi British Petroleum (BP Plc). Lalu Barat mengirim “sepasukan” Peneliti Minyak ke Timur Tengah, dan ladang-ladang minyak besar lainnya pun ditemukan, dari Semenanjung Arab sampai Laut Kaspia, sampai pantai utara Afrika, di daerah-daerah yang kita kenal sekarang dengan nama Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, Suriah, sampai Libya dan Aljazair.

Penemuan ini adalah GAME CHANGER yang merombak total Geopolitik Internasional dan meredefinisi kebijakan luar negeri Barat dalam sekejap mata. Timur Tengah menjadi pertaruhan besar bagi konstelasi politik yang akan menentukan peta kekuatan dunia di masa mendatang (setidaknya menurut Barat). Satu-satunya penghalang adalah Kekaisaran Ottoman yang saat itu menguasai hampir seluruh Semenanjung Arab. Ottoman harus pergi. SUMBER: (1)

Perang Intelijen Bermotif Minyak
PERLU DIKETAHUI, setelah sadar perang terbuka head to head tidak akan mempercepat proses "pendongkelan" Ottoman dari Timur Tengah, Peradaban Barat menemukan metoda perang yang lebih efektif dan mematikan untuk digunakan kepada suku primitif penunggang unta di padang pasir ini, yakni: PERANG INTELIJEN. Militer Inggris lalu mengirim perwira-perwira jenius, diantaranya sang Legenda T. E. Lawrence, yang membaur dan berhasil memprovokasi “Revolusi Arab” tahun 1916. Kekaisaran Ottoman sukses "didongkel" dari Timur Tengah hanya dalam waktu setahun! *For more reading, alias untuk bacaan lanjut silahkan tanya Google: Lawrence of Arabia , Arab Revolt.

FAKTA SEJARAH => "Revolusi Arab" adalah PERANG INTELIJEN BERORIENTASI MINYAK pertama yang dilancarkan Barat kepada Rezim penguasa Timur Tengah. Kesuksesan Lawrence of Arabia mengusir Ottoman kelak akan menjadi BLUE PRINT untuk PERANG INTELIJEN BERORIENTASI MINYAK di masa mendatang. SUMBER: (2)

Potongan Kue Untuk "Sang Adik"
Militer Inggris kemudian membuat perjanjian Darin dengan Ibnu Saud, yang menetapkan wilayah Arab Saudi di bawah proteksi Inggris. Kerajaan Inggris tidak hanya memberikan suplai persenjataan dan bantuan 5000 pound per-bulan, tapi juga menganugerahkan gelar SIR (ksatria) Order of Bath kepada Ibnu Saud. Memuluskan jalan untuk Rockefellerowner konglomerasi minyak terbesar dunia Standard Oil untuk mendapatkan Konsesi Minyak Arab Saudi. Standard Oil Company of California (SOCAL), nantinya berubah nama menjadi Chevron, mendirikan Arabian American Oil Company (ARAMCO)Standard Oil of New Jersey, nantinya menjadi ExxonStandard Oil of New York, nantinya Mobil Oil, menguasai ladang-ladang minyak Saudi Arabia. Pada tahun 1949, BP dan Shell telah menguasai 52% dari seluruh ladang minyak di Timur Tengah, dan Chevron, Exxon, Mobil, Texaco menguasai 42%. SUMBER: (3)

Arab Saudi menasionalisasi ARAMCO dengan membeli 25% saham pada tahun 1973, lalu membeli 60% saham pada 1974, dan 100% pada tahun 1980. Namun pada prakteknya, 4 raksasa minyak Amerika: Chevron, Exxon, Mobil & Texaco masih mengoperasikan ARAMCO. Pada tahun 1990, Exxon melaporkan saham kepemilikan sebesar 28,33% di ARAMCO kepada SEC (Bapepam untuk Wall Street), 10 tahun setelah nasionalisasi Exxon masih memiliki 28,33% saham ARAMCO. Seluruh kilang minyak pun masih dikelola oleh Mobil Oil & Shell. SUMBER: (4)

Metoda "Perang Kotor"
Untuk mengamankan British Petroleum (BP), militer Inggris menduduki Iran dan menginstalasi Rezim "ramah kepada Barat" Mohammad Reza Pahlavi sebagai SHAH (Dinasti Pahlevi), meresmikan Iran sebagai suplier minyak Barat terbesar setelah Arab Saudi. Namun pada 1951, gerakan Nasionalis dipimpin PM Iran Mohammad Mosaddegh mencoba membatasi kekuasaan monarki Shah Pahlavi, dan menasionalisasi Anglo-Iranian Oil Company (BP).

Inggris dibantu C.I.A. (dinas intelijen Amerika) melancarkan Perang Intelijen menggulingkan PM Mossadegh melalui provokasi KUDETA yang dikenal dengan 28 Mordad Coup. Pada Agustus 2013, C.I.A. secara resmi mengakui operasi intelijen "pelengseran" PM Iran Mossadegh melalui penggerakan massa dengan cara memberikan sogokan kepada politisi dan petinggi militer Iran. British Petroleum (BP) menyumbang uang sebesar $25.000 untuk operasi tersebut. Berita ini dilansir CNN, BBC, dan berbagai media internasional pada 19-20 Agustus 2013 dengan headline “CIA admits role in 1953 Iranian Coup”.

Namun situasi kondusif tak bertahan lama, karena Dinasti Pahlevi kembali digulingkan kali ini oleh gerakan Islam Syi’ah Ayatullah Khomeini, mendirikan Republik Islam yang dikenal dengan Iranian Revolution 1979. C.I.A. kembali beraksi membiayai General Oveisi, petinggi militer loyalis Shah Pahlevi. Kapal perang USS Constellation berangkat dari Subic Bay Filipina menuju laut Arab untuk mendukung penghasutan "perang saudara" antara Loyalis Pahlevi V.S. Rezim Islam. Namun kali ini, operasi yang dibiayai oleh Rockefeller (Chevron) menemui kegagalan. SUMBER: (6)

Pembiayaan Perang Irak-Iran
Berdasarkan rekomendasi Zbigniew BrzezinskiNational Security Advisor Gedung Putih kepada Presiden Carter: Saddam Hussein bisa dimanfaatkan untuk menumbangkan rezim Anti-Barat Ayatullah Khomeini, Presiden Jimmy Carter langsung instruksi C.I.A. membuka kantor di Baghdad yang disambut baik oleh Saddam Hussein. SUMBER: (7). Tak menunggu lama, A.S. langsung menerbitkan peringatan ke negara-negara sekitar akan eskalasi yang akan datang. Washington juga memberikan ultimatum kepada Soviet agar tidak turut campur. Saddam Hussein melihat ini sebagai "lampu hijau", dan agresi militer Irak ke Iran pun dimulai pada 22 September 1980. SUMBER: (8)

A.S. langsung mengeluarkan Irak dari Daftar Hitam “Negara sponsor Terorisme” untuk legitimasi pemberian bantuan. “Bantuan Ekonomi” milyaran Dollar langsung dicairkan, termasuk suplai senjata, suplai amunisi, sampai transfer teknologi militer. C.I.A. memberikan arahan TACTICAL untuk setiap operasi militer Irak, memberikan bocoran intel, bahkan pelatihan SPECIAL OPSDepartemen Defense Intelligence Agency Pentagon ikut buka kantor di Baghdad memberikan arahan langsung kepada A.U. Irak. Personel militer Irak menerima pelatihan dari Satuan Khusus Green Berets di Fort Bragg, North Carolina, juga pelatihan untuk Pilot Helikopter. SUMBER: (9)

Tak hanya itu, militer A.S. juga terlibat langsung melakukan serangan terhadap target-target militer Iran. C.I.A. melancarkan Operasi EAGER GLACIER sabotase target-target strategis di Iran menggunakan Agen Lapangan. Kapal perang USS Stark menyerang kapal-kapal Minyak Iran. Perang baru berakhir 8 tahun kemudian melalui intervensi PBB pada 20 Agustus 1988 Resolution 59, setelah menewaskan lebih dari 1.000.000 personel militer dan sipil. Namun upaya penggulingan rezim Islam Iran kembali gagal.

Penyebaran Sistematis Paham Radikalisme
Berdasarkan keterangan mantan Direktur C.I.A. James Woolsey, sejak akhir 1970-an dan awal 1980-an, Arab Saudi menghabiskan 87 milyar Dollar untuk sumbangan ke negara-negara berkembang (seperti Indonesia) untuk dana pembangunan / operasional Mesjid, Madrasah, Pesantren, dan Islamic Center, disertai dengan distribusi buku-buku agama, materi akademis, juga pembiayaan pendidikan calon Ustaz. Materi edukasi Islam tersebut yang DISISIPKAN materi BRAIN WASH (cuci otak) penghasutan kebencian, fanatisme, radikalisme, dan terorisme. Termasuk penghasutan kebencian terhadap Islam Syi’ah Iran. SUMBER: (10)

Berdasarkan Laporan Jean-Charles Brisard untuk U.N. Security Council (DK PBB), ia memiliki bukti terjadinya aliran dana $500 juta ke organisasi Al-Qaeda dari lingkar keluarga kerajaan Arab Saudi hanya pada tahun 2002 saja. Lalu pada Desember 2004, U.S. Senate Finance Committee (Komite keuangan Daerah A.S.) mendapat laporan dari IRS (kantor pajak A.S.) perihal terjadinya alokasi "Zakat" untuk Terorisme oleh yayasan-yayasan Arab Saudi di Amerikaal Haramain dan Islamic Relief.

Pada Juli 2005, Stuart LeveyU.S. Treasury Undersecretary (Sekretaris Bendahara Negara) membuat laporan kepada Senate Committee Hearing (Komite Dengar Pendapat Senat) mengenai dukungan finansial dan pembiayaan Terorisme yang dilakukan yayasan Arab Saudi di A.S. Muslim World League (WML)Perbankan Arab Saudi diketahui terang-terangan memberikan dukungan finansial kepada TerorismeIslamic Development Bank (IDB) diketahui mengalirkan dana ke yayasan Arab Saudi di Amerika Council on American-Islamic Relations (CAIR) yang menyalurkan-nya lagi ke organisasi-organisasi teroris global yang berafiliasi ke Al-Qaeda, seperti: Al Quds, Lashkar-e-Taiba, Holy Land Foundation (HLF), World Assembly of Muslim Youth (WAMY), International Islamic Relief Organization (IIRO), dan Muslim Brotherhood (Ikhwanul Muslimin). SUMBER: (11)

U.S. Senate Committee on Governmental Affairs pada Juli 2003 memberikan pernyataan: banyak tokoh berpengaruh Arab Saudi menjabat posisi penting di organisasi pendukung teroris global seperti Grand Mufti Arab Saudi yang memegang jabatan di WML, juga Saudi Minister of Islamic Affairs yang menjabat posisi sekretaris di WAMY dan al Haramain. SUMBER: (12). Pada Maret 2002, Senator Bob Graham, ketua Senate Intelligence Committee (Komite Intelijen Senat AS), memberikan pernyataan bahwa jaringan teroris WTC 9/11 mendapat dukungan finansial dari lingkar keluarga kerajaan Arab Saudi, dituangkan dalam Laporan 27 halaman Congressional Inquiry's Final Report. Namun apa yang terjadi kemudian? “The Bush administration and FBI blocked a congressional investigation into that relationship” (Senator Bob Graham). Terjemahan: pemerintahan Bush dan FBI menghalang-halangi penyelidikan terhadap hubungan (Saudi dan Teroris) tersebut. SUMBER: (13)

Michael Scheuer, mantan kepala CIA Counter Terrorism Center (Unit Anti Teroris CIA), memberikan pernyataan kepada Wahington Post tahun 2005, “Bin Laden family in the US are nearly completely off limits to US law enforcement.”Terjemahan: keluarga Bin Laden di Amerika hampir tidak bisa disentuh oleh penegakan Hukum. Bahkan setelah mengetahui Osama Bin Laden dibalik serangan WTC 9/11, keluarga Bin Laden (sanak saudara Osama) yang tinggal di Amerika diberikan izin untuk terbang pulang ke Arab Saudi tanpa satu pun melewati proses interogasi meskipun FBI telah menemukan dugaan koneksi mereka dengan para pembajak WTC 9/11. Setelah begitu banyak Fakta menunjuk hidung Arab Saudi sebagai MASTERMIND Terorisme global, daripada membom Arab Saudi, Amerika malah membom Irak.

Pembiayaan Mujahidin (Taliban) Usir Soviet
Berawal dari ekspansi Soviet menginvasi Afghanistan pada tahun 1979, memberikan ancaman langsung terhadap kepentingan Barat terhadap Minyak Timur Tengah. Presiden Jimmy Carter memberikan respon dengan menerbitkan kebijakan yang dikenal dengan Carter Doctrine pada Januari 1980 yang berbunyi: "Amerika Serikat akan menggunakan kekuatan Militer bila diperlukan untuk mempertahankan kepentingan di Teluk Persia". Namun pilihan lagi-lagi jatuh kepada Perang Intelijen daripada head to head. Pada 3 Juli 1979, Presiden Carter menandatangani direktif Operation Cyclone yang memerintahkan C.I.A untuk melakukan COVERT OP (Operasi Intelijen) membiayai Mujahidin (Taliban) Afghanistan. SUMBER: (2)

Pembiayan Etape Pertama dimulai $20-$30 juta per-Tahun pada 1980, diujung tombaki oleh National Security Adviser, Zbigniew Brzezinski, diteruskan kabinet Ronald Reagan menjadi $630 juta per-Tahun pada 1987, oleh Senator Charlie Wilson sampai Soviet sukses diusir dari Afghanistan pada tahun 1989. Operasi pembiayaan C.I.A kepada Mujahidin (Taliban) Afghanistan ini melibatkan sukarelawan Arab yang dikomandani oleh Osama Bin Laden, yang menjadi cikal bakal pembentukan Al-Qaeda, seperti Mujahidin yang menjadi cikal bakal pembentukan Taliban, yang mana keduanya akan balik menggigit sang majikan bertahun-tahun kemudian. SUMBER: (15)

C.I.A dan berbagai elemen pemerintah A.S. tentunya menyangkal memberikan pendanaan kepada Osama dan Al-Qaeda yang waktu itu memang ikut membantu Mujahidin (Taliban). Karena itu sama saja mengakui ikut bertanggung jawab atas serangan WTC 9/11. For more reading Google: Carter Doctrine , Operation Cyclone atau Tanya Google untuk info selanjutnya.

Penggulingan Muammar Gaddafi
Berdasarkan Laporan yang diterbitkan oleh The Jamestown FoundationWashington D.C. Institute for Research and AnalysisKhalifa Haftar yang merupakan Panglima Pasukan Pemberontak Libya adalah kolaborator C.I.A. sejak tahun 1969. The Jamestown Study bahkan memiliki pernyataan dari Khalifa Haftar dari wawancara pada tahun 1991 mengakui bahwa C.I.A. telah menjadi sponsor dan sumber pendanaan bagi paramiliter Anti-Gaddafi di Libya sejak 1988, juga memberikan Pelatihan di Training Camp. Satu lagi bukti kuat keterlibatan C.I.A di Libya adalah terdapatnya 3 orang anggota Al-Qaeda dalam pasukan pemberontak: Abdel Hakim al Hasady, Salah al Barrani, Sufyan Ben Qumuyang mana ketiganya adalah tahanan teroris C.I.A. di Guantanamo Bay sebelum tiba-tiba muncul di Libya. SUMBER: (16)

Operasi C.I.A di Libya saat penggulingan Gaddafi juga diberitakan oleh NEW YORK TIMES, bersama MI6 membantu mengumpulkan intel. Presiden Obama juga diberitakan memberikan instruksi kepada C.I.A untuk mempersenjatai pemberontak Anti-Gaddafi. Dan yang mutlak memperjelas, tentunya bantuan pemboman oleh NATO yang melemahkan kekuatan militer Gaddafi secara signifikan, memberikan kemenangan bagi pasukan pemberontak. SUMBER: (17)

Pembiayaan Perang Saudara Suriah
Pembiayaan upaya penggulingan Rezim Assad sudah menjadi informasi publik, karena dari operasi rahasia, Amerika akhirnya tidak malu-malu mengakui dukungannya terhadap pemberontak Suriah. Bantuan terang-terangan Obama bervariasi dari meminta Kongres A.S. untuk menyetujui "intervensi militer" ke Suriah sekitar Medio Agustus/September 2013, sampai meminta Kongres untuk menyetujui permintaan dana bantuan $500 juta untuk pemberontak Suriah. Berita dukungan A.S. atas pemberontak Suriah ini sudah dilansir oleh media-media internasional BBC, CNN, RT (Russia Today), Washington Post, Telegraph UK, dan lain-lain. Namun sebenarnya keterlibatan Amerika sudah lebih jauh daripada yang diakui Obama.

The New York Times telah melansir elemen Al-Qaeda dalam pasukan pemberontak Suriah sejak tahun 2012 dalam artikel "Syrian Rebels Tied to Al Qaeda Play Key Role in War". Mengusung nama "Nusra Front" di Suriah, adalah cell teroris Al-Qaeda yang berbasis di Irak. Reporter Prancis Georges Malbrunot kepada harian Le Figaro, melaporkan peran vital C.I.A. sebagai supplier utama persenjataan untuk pemberontak Suriah. "C.I.A. lead convoys of arms deliveries. The Saudis in charge of financing. C.I.A and Saudi Arabia have supplied the militants in Syria 600 tons of weapons in 2013 alone". Terjemahan: C.I.A memimpin konvoi pengiriman senjata, sementara Saudi membiayai. Mereka telah mensuplai pemberontak Suriah 600 ton senjata selama tahun 2013 saja.

CNN dalam artikel "CIA-funded weapons have begun to reach Syrian rebels" Sept 2013, melaporkan dari Pentagon perihal pengiriman senjata oleh C.I.A. kepada pemberontak Suriah. RUSSIA TODAY dalam artikel "CIA trains and spies for Syrian rebels" Maret 2013, melaporkan peran C.I.A. dalam memberikan pelatihan dan bocoran intel kepada pemberontak Suriah. U.S.A TODAY dalam artikel "Syrian rebels pledge loyalty to al Qaeda" Juni 2013, menjelaskan peran elemen Al Qaeda dalam pemberontak Suriah. RUSSIA TODAY (RT) dalam artikel "Rebel leader supported by the West admits he fights alongside Al-Qaeda" melaporkan joint op pemberontak Suriah bentukan Amerika dengan Al-Qaeda. Pemberontak Suriah Free Syrian Army pun mulai mengadaptasi metoda Al-Qaeda dan melakukan pembersihan etnis, pembunuhan sistematis dan genosida terhadap warga sipil, menjadikan "Perang Saudara Suriah" menjadi tragedi kemanusiaan yang mengerikan. For more info, Google: Free Syrian Army beheading. WARNING! Graphic images!

Islamic State Ultra Radikal ISIS
"Kami tidak membiayai grup ekstrimis yang suatu saat bisa menggunakan senjata dari kami untuk menyerang kepentingan Barat." FORMAT BAKU jawaban Washington untuk menepis kritik/tuduhan pembiayaan Radikalisme di Timur Tengah. Amerika boleh-boleh saja menyangkal membiayai ISIS, seperti menyangkal membiayai Al-Qaeda saat Osama Bin Laden membantu Mujahidin (Taliban) mengusir Soviet dari Afghanistan. "America has been funding people who are allies with ISIS... ISIS is stronger because we've been funding Islamic rebels in Syria." Terjemahan: America membiayai sekutu ISIS. ISIS menjadi kuat karena kita membiayai pemberontak Suriah. Pernyataan Senator Rand Paul (R-Ky) dari negara bagian Kentucky, menggugah pemikiran KRITIS: "Apakah dengan tidak mempersenjatai langsung teroris A, tapi mempersenjatai teroris B yang bekerjasama dengan teroris A, membebaskan Amerika dari tanggungjawab?"

Amerika membantah membiayai langsung Al-Qaeda, NAMUN tutup mata dengan persenjataan yang disuplai ke Mujahidin (Taliban) yang bekerjasama dengan Osama Bin Laden. Amerika membantah membiayai langsung ISIS, NAMUN tutup mata dengan persenjataan yang disuplai ke Pemberontak Suriah yang sempat bekerjasama dengan ISIS. Dan tentunya Amerika tutup mata atas dukungan finansial dan pembiayaan sistematis yang diberikan sekutu-sekutunya Arab Saudi, Kuwait dan Qatar kepada ISIS, yang mana sumbangan tersebut telah menjadi komponen kunci kekuatan ISIS.

TELEGRAPH UK dalam artikel "How the West bankrolls ISIS" 5 Agustus 2014, melaporkan sumbangan $100 juta dari ketiga donor tersebut kepada ISIS pada tahun 2013 saja. Kuwait juga mengadakan penggalangan dana dan mendapatkan $30 juta untuk jihad ISIS di Suriah. RUSSIA TODAY (RT) dalam artikel "ISIS in Iraq stinks of CIA/NATO ‘dirty war’ op", melaporkan beberapa anggota ISIS mendapat pelatihan dari C.I.A di Yordania pada tahun 2012, termasuk pembiayaan yang diberikan Arab Saudi dan Qatar kepada ISIS. Andrew Doran mantan pejabat US State Department memberikan kesaksian kepada Conservative National Review akan adanya beberapa begundal ISIS memiliki Paspor Amerika.

Penutup
Pada tahun 2012, orang mencibir dan mengolok-olok opini "Pemberontak Suriah dibeking C.I.A.", dua tahun kemudian opini tersebut menjadi Fakta. Para skeptis mungkin akan menolak ide "Amerika berperan dalam pembentukan ISIS" hanya karena BBC dan CNN belum memberitakan demikian. Di sinilah benang merah Sejarah menjadi kunci penting untuk memahami "Radikalisme Islam alias Wahabisme". Karena Faktanya: Barat punya rekam jejak menjadi MASTERMIND Radikalisme, Wahabisme, dan Terorisme di Timur TengahSemoga pemaparan FAKTA SEJARAH ini dapat memberikan PERSPEKTIF yang lebih obyektif dan sehat, dengan harapan tiada lain kecuali semoga kita bisa menularkan energi positif dalam kondisi tingginya tensi horisontal saat ini. Amin!

Sumber:
(1) “THE PRIZE: The Epic Quest for Oil, Money, and Power” (Simon & Schuster) by Daniel Yergin
(2) “A Prince of Our Disorder: The Life of T. E. Lawrence” (Harvard University Press) by John E. Mack
(3) “A Brief History Of Major Oil Companies In The Gulf Region” (University of Virginia) by Eric V. Thompson
(4) “Big Oil & Their Bankers In The Persian Gulf: Four Horsemen, Eight Families & Their Global Intelligence, Narcotics & Terror Network” (Bridger House Publishing) by Dean Henderson
(5) “The Scramble for Empire, Suez, and Decolonization” (I.B.Tauris) by Wm. Roger Louis
(6) “Big Oil & Their Bankers In The Persian Gulf: Four Horsemen, Eight Families & Their Global Intelligence, Narcotics & Terror Network” (Bridger House Publishing) by Dean Henderson
(7) “Web of Deceit: The History of Western Complicity in Iraq, from Churchill to Kennedy to George W. Bush” (Other Press) by Barry Lando
(8) “The Death Lobby: How the West Armed Iraq” (Houghton Mifflin Company) by Kenneth Timmerman
(9) “Spider's Web: The Secret History of How the White House Illegally Armed Iraq” (Bantam Books) Alan Friedman
(10,11) “Saudi Arabia's Export of Radical Islam” by Adrian Morgan
(12) “Zarqawi: The New Face of Al-Qaeda” (Polity Press) by Jean-Charles Brisard & Damien Martinez
(13) “Intelligence Matters: The CIA, the FBI, Saudi Arabia, and the Failure of America's War on Terror” (Random House Inc) by Senator Bob Graham
(14) "War in Afghanistan" (Macmillan) by Mark Urban
(15) "Holy War Inc." *(Free Press) by Peter Bergen
(16) "Ex-Mujahedeen Help Lead Libyan Rebels" (The Wall Street Journal) by Charles Levinson
(17) "C.I.A. Agents in Libya Aid Airstrikes and Meet Rebels" (NY TIMES) by Mark Mazzetti