Pandangan Rasulullah SAW Tentang Para Sahabat



Oleh Muhammad Tijani as Samawi

Hadits Al-Haudh

Bersabda Rasulullah SAW: "Ketika aku sedang berdiri tiba-tiba datang sekelompok orang yang kukenal. Lalu keluarlah seorang di antara kami dan berkata, 'Mari (ikut aku).' Kutanya, 'Kemana?' Jawabnya, 'Ke neraka, demi Allah'. 'Apa kesalahan mereka?' Tanyaku. 'Mereka telah murtad setelahmu dan berbalik dari kebenaran, dan kuperhatikan tiada yang tersisa melainkan (sedikit sekali yang) seperti sekelompok unta yang tersisih', jawabnya”. (Shahih Bukhori jil. 4 hal. 94-96,156; jil. 3 hal. 32; Shahih Muslim jil. 7 hal. 66).

Rasulullah SAW bersabda: "Aku akan mendahului kalian di telaga haudh. Siapa yang berlalu dariku dia akan minum dan siapa yang telah minum tidak akan dahaga selamalamanya. Kelak ada sekelompok orang yang kukenal dan mereka juga mengenalku datang kepadaku; kemudian mereka dipisahkan dariku. Aku akan berkata: 'sahabatku, sahabatku.' Lalu dijawab: 'engkau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan setelah ketiadaanmu.' Dan aku pun berkata: 'Enyahlah, enyahlah mereka yang telah berubah setelah ketiadaanku'”.

Orang yang merenungkan makna hadis-hadis seperti ini yang diriwayatkan sendiri oleh ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah dalam berbagai kitab shahih mereka, tidak akan ragu-ragu lagi untuk mengambil kesimpulan bahwa kebanyakan sahabat telah berubah bahkan telah berbalik setelah wafatnya Nabi SAW; melainkan segelintir kecil saja yang diibaratkan oleh Nabi seperti sekelompok unta yang tersisih. Hadis ini tidak dapat ditafsirkan bahwa ia ditujukan untuk golongan orang-orang munafik, mengingat nash yang berkata: sahabatku, sahabatku. Dan ia juga adalah tafsir atau realisasi dari ayat-ayat AlQuran yang menyebutkan tentang sikap mereka yang berbalik sehingga diancam oleh Allah dengan api neraka, seperti yang telah disentuh di atas.

Hadits: Bersaing Untuk Dunia

Bersabda Nabi SAW: "Aku akan mendahului kalian dan akan menjadi saksi kalian. Demi Allah aku kini melihat haudhku (telagaku di syurga) dan aku juga telah diberikan kunci  kekayaan bumi (atau kunci bumi). Demi Allah aku tidak khawatir kalian akan mensyirikkan Allah setelahku, tetapi aku khawatir kalian akan bersaing untuknya (dunia)" (Shahih Bukhori jil. 4 hal. 100-101).

Sungguh benar apa yang disabdakan oleh Rasululah SAW. Mereka telah bersaing dan berlomba-lomba untuk dunia ini sehingga pedang-pedang mereka dihunuskan, berperang dan saling mengkafirkan. Sebagian sahabat yang besar bahkan telah menimbun emas dan perak. Para ahli sejarah seperti al-Masu'di di dalam kitabnya Muruj az-Dzahab, Thabari dan lain sebagainya telah mencantumkan bahwa kekayaan Zubair saja misalnya mencapai lima puluh ribu Dinar, seribu ekor kuda, seribu orang hamba sahaya dan sejumlah tanah di Bashrah, Kufah, Mesir dan lain sebagainya (Muruj az-Zahab oleh al-Masu'di jil. 2 hal. 341).

Thalhah mempunyai kekayaan pertanian di Irak yang setiap harinya menghasilkan seribu Dinar, bahkan konon lebih dari itu. Abdurrahman bin A'uf mempunyai seratus kuda, seribu onta dan sepuluh ribu kambing. Seperempat dari seperdelapan hartanya yang dibagi-bagikan kepada para isterinya setelah wafatnya mencapai delapan puluh empat ribu (Ibid).

Ketika Usman bin Affan meninggal, beliau telah meninggalkan sejumlah seratus lima puluh ribu Dinar, tidak terhitung binatang ternak dan tanah-tanah subur yang tak terkira. Emas dan perak yang ditinggalkan oleh Zaid bin Tsabit sedemikian banyaknya sehingga harus dipecahkan dengan kapak, selain dari harta dan tanah yang bernilai seratus ribu Dinar. (Ibid).

Demikian sebagian contoh yang dapat kita lihat dalam sejarah. Kita tidak bermaksud membahasnya secara rinci dan cukup sekadar bukti betapa mereka tergoda oleh kemewahan dunia dan kenikmatannya.

Pandangan Sahabat Satu Sama Lain

Kesaksian Mereka Atas Perubahan Sunnah Nabi SAW Abi Sa'id al-Khudri berkata: "Pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, Rasulullah SAW keluar rumah untuk menunaikan shalat Id. Usai shalat beliau berdiri menghadap para hadirin yang masih duduk di shaf, kemudian berkhotbah yang penuh dengan nasihat dan perintah." Abu Sa'id melanjutkan: "Cara seperti ini dilanjutkan oleh para sahabatnya sampailah suatu hari ketika aku keluar untuk shalat Id (Idul Fitri atau Idul Adha) bersama Marwan, gubernur kota Madinah. Sesampainya di sana Marwan langsung naik ke atas mimbar yang dibuat oleh Katsir bin Shalt. Aku tarik bajunya. Tapi dia menolakku. Marwan kemudian memulai khutbah Idnya sebelum shalat. Kukatakan padanya: "Demi Allah kalian telah ubah." "Wahai Aba Sa'id" Tukas Marwan, "Telah sirna apa yang kau ketahui" Kukatakan padanya: "Demi Allah, apa yang kutahu adalah lebih baik dari apa yang tidak kuketahui!" Kemudian Marwan berkata lagi: "Orang-orang ini tidak akan mau duduk mendengar khutbah kami seusai shalat. Karena itu kulakukan khutbah sebelumnya." (Shahih Bukhori jil. 1 hal. 122).

Aku coba teliti gerangan apa yang menyebabkan sahabat seperti ini berani mengubah Sunnah Nabi. Akhirnya kutemukan bahwa Bani Umaiyah --yang mayoritasnya adalah sahabat Nabi terutama Muawiyah bin Abu Sufyan yang konon sebagai penulis wahyu, senantiasa memaksa kaum muslimin untuk mencaci dan melaknat Ali bin Abi Thalib dari atas mimbar-mimbar masjid. Muawiyah memerintahkan orang-orangnya di setiap negeri untuk menjadikan cacian dan laknat pada Ali sebagai suatu tradisi yang mesti dinyatakan oleh para khatib. Ketika sejumlah sahabat protes atas ketetapan ini, Muawiyah tidak segan-segan memerintahkan mereka dibunuh atau dibakar. Muawiyah telah membunuh sejumlah sahabat yang sangat terkenal seperti Hujur bin U'dai beserta para pengikutnya, dan sebagian lain dikuburkan hidup-hidup. "Kesalahan" mereka (dalam persepsi Muawiyah) semata-mata karena enggan mengutuk Ali dan bersikap protes atas dekrit Muawiyah.

Abul A'la al-Maududi dalam kitabnya al-Khilafah Wal Muluk (Khilafah Dan Kerajaan) menukil dari Hasan al-Bashri yang berkata: "Ada empat hal dalam diri Muawiyah, yang apabila satu saja ada pada dirinya, itu sudah cukup sebagai alasan untuk mencelakakannya: Pertama, dia berkuasa tanpa melakukan musyawarah sementara sahabat-sahabat lain yang merupakan cahaya kemuliaan masih hidup.

Kedua, dia melantik puteranya (Yazid) sebagai pemimpin setelahnya, padahal sang putera adalah seorang pemabuk dan pecandu minuman keras dan musikus. Ketiga, dia menyatakan Ziyad (seorang anak zina) sebagai puteranya, padahal Nabi SAW bersabda: "Anak adalah milik sang ayah, sementara yang melacur dikenakan sanksi rajam." Keempat, dia telah membunuh Hujur dan para pengikutnya. Karena itu maka celakalah dia lantaran (membunuh) Hujur; dan celakalah dia karena Hujur dan para pengikutnya (Al-Khilafah Wal Muluk Oleh al-Maududi hal. 106).

Sebagian sahabat yang mukmin lari dari masjid seusai shalat karena tidak mau mendengar khotbah yang berakhir pada kutukan terhadap Ali dan keluarganya. Itulah kenapa Bani Umaiyah mengubah Sunnah Nabi ini dengan mendahulukan khutbah sebelum shalat agar yang hadir terpaksa mendengarnya. Nah, sahabat jenis apa yang berani mengubah Sunnah Nabinya, bahkan hukum-hukum Allah sekalipun semata-mata demi meraih cita-citanya yang rendah dan ekspresi dari rasa dengki yang sudah terukir. Bagaimana mereka bisa melaknat seseorang yang telah Allah sucikan dari segala dosa dan nista dan diwajibkan oleh Allah untuk bershalawat kepadanya sebagaimana kepada Rasul-Nya. Allah juga telah mewajibkan kepada semua manusia untuk mencintainya hingga Nabi SAW bersabda: "Mencintai Ali adalah iman dan membencinya adalah nifak." (Shahih Muslim jil. 1 hal. 61; Sunan an-Nasai jil. 6 hal. 177; Shahih Turmudzi jil. 8 hal. 306).

Namun sahabat-sahabat seperti ini telah mengubahnya. Mereka berkata, kami telah dengar sabda-sabda Nabi tentang Ali, tetapi kami tidak mematuhinya. Seharusnya mereka bershalawat kepadanya, mencintainya dan taat patuh kepadanya; namun sebaliknya mereka telah mencaci dan melaknatnya sepanjang enam puluh tahun, seperti yang dicatat oleh sejarah. Apabila sahabat-sahabat Musa pernah sepakat mengancam nyawa Harun dan hampir-hampir membunuhnya, maka sebagian sahabat Muhammad SAW telah membunuh Harun-nya" (yakni Ali) dan mengejar-ngejar anak keturunannya serta para Syi'ahnya di setiap tempat dan ruang. Mereka telah hapuskan nama-nama dan bahkan melarang kaum muslimin menggunakan nama mereka. Tidak sekadar itu, hatta para sahabat besar dan agung pun mereka paksa untuk melakukan hal yang serupa.

Demi Allah, aku berdiri heran dan terpaku ketika membaca buku-buku referensi kita yang memuat berbagai hadis yang mewajibkan cinta pada Nabi dan saudaranya serta anak pamannya, yakni Ali bin Abi Thalib, dan sejumlah hadis-hadis lain yang mengutamakan Ali atas para sahabat yang lain. Sehingga Nabi SAWW bersabda: "Engkau (hai Ali) di sisiku bagaikan kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tiada Nabi setelahku."

Atau sabdanya: "Engkau dariku dan aku darimu".

Sabdanya: "Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya".

Dan sabdanya: "Ali adalah wali (pemimpin) setiap mukmin setelahku."

Dan sabdanya: "Siapa yang menjadikan aku sebagai maulanya (pemimpinnya) maka Ali adalah maulanya. Ya Allah, bantulah mereka yang mewila'nya dan musuhilah mereka yang memusuhinya."  

Apabila kita ingin mencatat semua keutamaan Ali yang disabdakan oleh Nabi SAW dan yang diriwayatkan oleh para ulama kita dengan sanadnya yang shahih, maka ia pasti akan memerlukan suatu buku tersendiri. Bagaimana mungkin sejumlah sahabat seperti itu pura-pura tidak tahu akan hadis ini, lalu mencacinya, memusuhinya, melaknatnya dari atas mimbar dan membunuh atau memerangi mereka?

Aku tidak temukan sebarang alasan dari sikap dan perlakuan seperti ini melainkan sematamata karena cinta pada dunia dan berlomba-lomba mengejarnya; atau karena sifat nifak dan berpaling dari kebenaran. Aku juga coba melemparkan tanggung jawab ini kepada sebagian sahabat yang terkenal buruk, atau sebagian dari orang-orang munafik. Namun sayang sekali, yang kutemukan dari penelitianku itu adalah sejumlah sahabat yang agung dan masyhur. Orang pertama yang pernah mengancam akan membakar rumahnya (Ali) beserta para penghuni yang ada di dalamnya adalah Umar bin Khattab; orang pertama yang memeranginya adalah Thalhah, Zubair, Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar, Muawiyah bin Abu Sufyan dan A'mr bin A'sh dan sebagainya.

Rasa terkejut dan kagetku bertambah dalam dan seakan tidak akan berakhir. Setiap orang yang berpikir rasional akan segera mendukung pendapatku ini. Bagaimana ulama-ulama Ahlu Sunnah sepakat mengatakan bahwa semua sahabat adalah adil sambil mengucapkan "Radhiallahu Anhum", bahkan mengucapkan shalawat untuk mereka tanpa kecuali. Sehingga ada yang berkata, "Laknatlah Yazid tapi jangan berlebihan". Apa yang dapat kita bayangkan tentang Yazid yang telah melakukan tragedi yang sangat tragis ini, yang tidak dapat diterima bahkan oleh akal dan agama. Aku nyatakan kepada Ahlu Sunnah Wal Jamaah, jika mereka benar-benar mengikut Sunnah Nabi, agar meninjau hukum AlQuran dan Sunnah Nabi secara cermat dan seadil-adilnya tentang kefasikan Yazid dan kekufurannya. Rasululah SAW telah bersabda: "Siapa yang mencaci Ali maka dia telah mencaciku; dan siapa yang mencaciku maka dia telah mencaci Allah; dan siapa yang mencaci Allah maka Aku akan menjatuhkannya ke dalam api neraka."

Demikian itu adalah sanksi bagi orang yang mencaci Ali. Maka bagaimana pula apabila ada orang yang melaknatnya dan memeranginya. Mana alim-ulama kita dari hakikat kebenaran ini? Apakah hati mereka telah tertutup rapat? Katakanlah, ya Allah, aku mohon lindunganMu dari bisikan syaitan dan dari kehadirannya.


(Lihat Shahih Bukhori jil. 2 hal. 305; Shahih Muslim jil. 2 hal. 366 Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 109. Shahih Bukhori jil. 1 hal. 76; Shahih Turmidzi jil. 5 hal. 300; Shahih Ibnu Majah jil. 1 hal. 44. Shahih Thurmudzi jil. 5 hal. 201; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 126. Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 5 hal. ; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 134. Shahih Muslim jil.2 hal.362; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 109; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 4 hal, 281).

Al Quran Tentang Para Sahabat



Oleh Muhammad Tijani as Samawi

Pertama-tama harus kuingatkan bahwa Allah SWT telah memuji di dalam berbagai ayat Al Quran sahabat-sahabat Rasul yang memang benar-benar mencintainya dan mematuhinya tanpa pamrih atau tantangan atau keangkuhan. Mereka hanya menginginkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya semata-mata; dan Allah juga ridha kepada mereka lantaran takwa mereka kepada-Nya. Ini adalah golongan sahabat yang dinilai tinggi oleh segenap kaum muslimin lantaran sikap dan perilaku mereka yang luhur terhadap Nabi SAW. Setiap kali mereka disebut, maka kaum muslimin akan mencintai mereka, mengagungkan kedudukan mereka dan mengucapkan kalimat Radhiallahu A'nhum kepada mereka.

Penelitianku bukan di sekitar golongan sahabat jenis ini yang sangat dihormati dan disanjung tinggi oleh Sunni dan Syi'ah. Sebagaimana aku juga tidak akan sentuh kelompok sahabat yang dikenal sebagai munafiqin yang telah dilaknat oleh segenap kaum muslimin, Sunni dan Syi'ah. Aku hanya akan meneliti kelompok sahabat yang dipertikaikan oleh kaum muslimin, dan yang kadang-kadang dicela dan diancam oleh Al Quran. Sahabat jenis ini seringkali diperingatkan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai kesempatan, atau Nabi memperingatkan kaum muslimin dari mereka. Di sinilah letak perbedaan antara Sunni dan Syi'ah dalam menilai sahabat. Syi'ah meragukan keadilan mereka dan mengkritik ucapan dan tindak tanduk mereka sementara Ahlu Sunnah Wal Jama'ah menghormati mereka walau terbukti telah melakukan berbagai pelanggaran.

Penelitianku hanya pada golongan sahabat jenis ini agar aku dapat sampai pada suatu kebenaran, atau sebagian kebenaran sekalipun. Kunyatakan ini agar jangan sampai ada orang berkata bahwa aku telah melupakan sejumlah ayat yang memuji para sahabat Rasulullah SAW, dan hanya mengungkapkan ayat-ayat yang bernada celaan saja. Namun dalam penelitianku, aku menjumpai berbagai ayat yang bernada memuji, tetapi pada masa yang sama ia juga menyirat suatu celaan dan sebaliknya.

Aku tidak akan memuatkan di sini semua hasil penelitianku selama tiga tahun itu. Aku hanya akan sebutkan sebagian ayat sebagai contoh agar tulisan ini menjadi ringkas. Namun bagi mereka yang menginginkan kerincian dan pendalaman, hendaknya dia menyempatkan waktu untuk meneliti, membuat perbandingan dan menelaah seperti yang kulakukan, agar kebenaran yang didapati adalah benar-benar hasil dari titik peluh sendiri seperti yang dituntut oleh Allah dan juga oleh hati nurani masing-masing. Dengan cara itu ia akan memperoleh keyakinan yang sangat dalam yang tidak akan dapat digoyahkan oleh sebarang angin yang bertiup. Sudah pasti bahwa kebenaran yang didapati lantaran kepuasan diri adalah lebih baik dari sekadar pengaruh unsur luar yang diterima.

Allah SWT berfirman ketika memuji NabiNya: "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." (QS. Adh-Dhuha: 7). Yakni, Dia menunjukkanmu kepada kebenaran ketika kau mencarinya. Allah juga berfirman: "Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) di dalam (mencari) jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami". (QS. Al 'Ankabuut: 69).

Ayat Inqilab

Allah berfirman: "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur" (QS. Ali Imran: 144).

Ayat ini dengan amat jelas menunjukkan bahwa sahabat akan berbalik ke belakang segera setelah wafatnya sang Nabi; dan hanya sedikit dari mereka yang masih tetap konsisten seperti yang tersirat di dalam kandungan ayat tersebut. Hal ini dapat kita pahami dari ungkapan kalimat "as-Syakirin" (orang-orang bersyukur) yang menunjukkan masih adanya orang-orang yang tetap dan tidak balik ke belakang. Kelompok as-Syakirin ini tidak berjumlahbanyak. Allah berfirman dalam ayat lain: "Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima-kasih" (QS. Saba': 13).

Sejumlah hadis Nabi juga mendukung penafsiran di atas seperti yang akan kita sebutkan sebagian. Walaupun dalam ayat ini Allah tidak menyebut balasan apa yang akan ditimpakan kepada orang-orang yang berbalik dan hanya memuji serta akan memberi ganjaran pada orang-orang yang bersyukur, namun sudah sangat jelas bahwa mereka yang berbalik sudah pasti tidak akan memperoleh sembarang ganjaran. Hal ini akan kita bincangkan Insya Allah ketika menelaah hadis-hadis Nabi yang berkenaan dengannya.

Ayat ini juga tidak dapat ditafsirkan untuk orang-orang seperti Thulaihah, Sujah dan al-Aswad al-A'nsi, dengan alasan ingin memelihara kemuliaan sahabat. Sebab tiga orang di atas telah murtad dari Islam dan mengaku sebagai nabi di zaman risalah. Nabi telah perangi mereka dan mengalahkan mereka. Ayat ini juga tidak dapat ditafsirkan untuk Malik bin Nuwairah dan para pengikutnya yang enggan memberikan zakat pada periode Abu Bakar lantaran berbagai alasan, yang antara lain, karena mereka berhati-hati dan ingin tahu perkara yang sebenarnya. Mengingat ketika mereka pergi haji bersama Rasulullah di Hujjah al-Wada' (Haji Terakhir) mereka telah berikan bai'at pada Ali di Ghadir Khum usai dilantik oleh Nabi sendiri sebagai khalifahnya. Abu Bakar juga termasuk dalam daftar orang-orang yang pernah memberinya bai'at.

Tiba-tiba mereka terkejut dengan kedatangan seorang utusan sang khalifah yang memberitahu bahwa Nabi telah meninggal, dan atas nama khalifah baru, yakni Abu Bakar mereka meminta harta zakat. Peristiwa ini juga hampir diabaikan oleh sejarah dengan alasan ingin menjaga kemuliaan sahabat. Padahal Malik dan para pengikutnya juga adalah orang-orang muslim. Keislaman mereka disaksikan sendiri oleh Umar dan Abu Bakar serta beberapa sahabat yang lain. Ketika Khalid bin Walid membunuh Malik bin Nuwairah, Umar memprotesnya. Dan sejarah sendiri membuktikan bahwa Abu Bakar membayar diyah (ganti rugi) Malik kepada saudaranya Mutammim dari harta Baitul Mal dan meminta maaf atas tragedi pembunuhan ini. Padahal dalam Islam sangat jelas bahwa mereka yang murtad wajib dibunuh, diyahnya tidak boleh diberikan dari Baitul Mal dan tidak perlu minta maaf.

Maksud ayat inqilab ini adalah para sahabat yang hidup di zaman nabi dan yang berada di kota Madinah itu sendiri. Ayat ini menunjukkan akan adanya sejumlah sahabat yang akan berbalik segera setelah wafatnya Nabi SAWW. Hadis-hadis nabi yang lain juga menerangkan sejelas-jelasnya tentang hal ini tanpa keraguan sedikitpun. Kita akan membicarakan hal ini dalam babnya tersendiri, Insya Allah. Sejarah juga sebaik-baik bukti atas inqilab mereka setelah wafatnya nabi ini. Dan kita akan lihat betapa sedikitnya yang selamat ketika kita teliti peristiwa-peristiwa yang terjadi di antara kalangan para sahabat itu sendiri.

Ayat Jihad

Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: 'Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah' kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan kehidupan di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. At Taubah: 38, 39) Maha Benar Allah Yang Maha Agung.

Ayat ini juga amat jelas mengatakan bahwa sahabat merasa berat untuk pergi berjihad di jalan-Nya. Mereka lebih memilih untuk hidup di dunia walau mereka tahu nikmatnya hanya sedikit sekali. Sikap mereka seperti ini dicela oleh Allah dan diancam dengan azab yang pedih. Dan Allah akan mengganti mereka dengan orang-orang mukmin lain yang jujur. Ancaman penggantian ini tersurat dalam berbagai ayat AlQuran. Hal ini menunjukkan bahwa mereka seringkali merasa berat hati ketika diseru pada jihad di jalan Allah SWT. Di dalam ayat lain Allah berfirman: "... Dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan seperti kamu (ini)" (QS. Muhammad: 38). Atau firman Allah yang lain: "Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al Maidah: 54).

Kalau kita ingin rincikan ayat-ayat yang menyirat makna seperti ini dan mengungkapkan kebenaran adanya pembagian kelas sahabat seperti yang dikatakan oleh Syi'ah, khususnya mereka seperti yang kita bincangkan ini, maka tak syak lagi ia akan memerlukan buku tersendiri. Al Quran telah mengungkapkannya dengan nada yang ringkas dan sangat fasih. Firman Allah: "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyerukepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. Pada hari yang di waktu itu ada muka yang menjadi putih berseri, dan ada pula yang menjadi hitam muram. Adapun orang-orang yang menjadi hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): 'Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmuitu'. Adapun orang-orang yang menjadi putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (syurga); mereka kekal di dalamnya" (QS. Ali Imran: 104,105,106,107). Maha Benar Allah Yang Maha Tinggi Dan Maha Agung.

Bagi para penelaah dan peneliti, mereka tahu bahwa ayat ini berbicara dengan para sahabat dan mengingatkan mereka akan perselisihan dan perpecahan setelah datangnya hujah-hujah yang jelas. Ia mengancam mereka dengan azab yang pedih, sekaligus membagi mereka pada dua golongan. Yang satu akan dibangkitkan kelak dengan muka yang putih berseri-seri; mereka adalah orang-orang yang bersyukur dan berhak menerima rahmat Allah SWT. Yang lain akan dibangkitkan kelak dengan muka yang hitam dan muram. Mereka adalah orang-orang yang telah murtad setelah mereka beriman. Dan Allah telah mengancam mereka dengan azab yang pedih.

Jadi jelas bahwa para sahabat telah berpecah dan berselisih setelah wafatnya Nabi SAW. Mereka telah nyalakan api fitnah sehingga mereka saling berperang dan menumpahkan darah yang mengakibatkan kemunduran kaum muslimin dan menjadi sasaran musuh-musuhnya. Ayat di atas tidak dapat ditakwilkan atau dirobah pengertiannya lain dari apa yang bias dipahami oleh akal.

Ayat Khusyu'

Firman Allah: "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk menundukkan hati mereka ingat pada Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Dan janganlah mereka menjadi seperti orang-orang yang sebelumnya yang telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS. Al Hadiid: 16). Maha Benar Allah Yang Maha Tinggi Dan Maha Agung.

Di dalam kitab al-Dur al-Mantsur, karya Jalaluddin as-Suyuthi, tertulis berikut: "Ketika sahabat-sahabat Nabi datang ke Madinah, mereka merasakan kenyamanan hidup dibandingkan dengan penderitaan yang mereka alami sebelumnya (di Mekkah). Karenanya seakan mereka menjadi lemah dan malas dibandingkan waktu-waktu yang lalu. Kemudian mereka dihukum lantaran "perubahan" seumpama itu. Dalam riwayat lain, Nabi SAW pernah bersabda bahwa Allah SWT melihat keengganan hati para muhajirin meskipun telah tujuh belas tahun mereka saksikan turunnya Al Quran. Kemudian Allah berfirman berikut, "Bukankah telah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman..." Nah, jika para sahabat --manusia yang paling baik dalam pandangan Ahlu Sunnah Wal Jama'ah-- masih belum mempunyai hati yang khusyu' dan tunduk ketika mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah diturunkan sepanjang tujuh belas tahun, sehingga Allah melihat keengganan mereka dan menegur mereka, serta mengingatkan mereka dari memiliki hati yang keras yang mungkin bisa membawa kepada kefasikan, maka kita tidak dapat menyalahkan orang-orang Quraisy yang baru menerima Islam pada tahun ketujuh Hijriah, usai Fathu Makkah.


Demikianlah sebagian contoh yang dapat kusimpulkan dari Kitab Allah. Buktinya sangat kuat. Dan ia menunjukkan bahwa tidak semua sahabat adalah adil seperti yang dikatakan oleh Ahlu Sunnah Wal Jama'ah. Apabila kita teliti hadis-hadis Nabi, segera kita akan dapati contohcontoh lain yang berlipat ganda. Karena aku telah berjanji untuk membuatnya secara ringkas, maka aku tuliskan sebagian contoh saja; dan biarlah penelaah-penelaah kritis lain yang meneliti permasalahan ini dengan lebih dalam. (*)

Ekspedisi Usamah dan Studi Kritis Tentang Umar bin Khattab



Oleh Muhammad Tijani as Samawi

Berikut ceritanya secara ringkas:

Dua hari menjelang wafatnya Rasulullah, beliau telah siapkan sebuah pasukan untuk memerangi Roma. Usamah bin Zaid yang saat itu berusia delapan belas tahun diangkat sebagai komandan pasukan perang. Tokoh-tokoh Muhajirin dan Anshar seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Abu Ubaidah dan sahabat-sahabat besar lainnya diperintahkan untuk berada di bawah pasukan Usamah ini. Sebagian mereka mencela pengangkatan Usamah. Mereka berkata, "Bagaimana Nabi bisa menunjuk seorang anak muda yang belum tumbuh janggut sebagai komandan pasukan kami?"

Sebelum itu mereka juga pernah mencela pengangkatan ayahnya oleh Nabi. Sedemikian rupa mereka memprotes Nabi SAW sampai beliau SAW marah sekali. Dengan kepalanya yang terikat karena deman panas yang dideritanya, Nabi keluar dipapah oleh dua orang dalam keadaan dua kakinya yang terseret-seret menyentuh bumi. Nabi naik ke atas mimbar, memuji Allah dan bertahmid padaNya. Sabdanya: "Wahai muslimin, apa gerangan kata-kata sebagian di antara kalian yang telah sampai ke telingaku berkenaan dengan pengangkatanku Usamah sebagai pemimpin. Demi Allah, jika kamu kini mengecam pengangkatannya; sungguh hal itu sama seperti dahulu kamu telah mengecam pengangkatanku terhadap ayahnya sebagai pemimpin. Demi Allah, sesungguhnya ia amat layak memegang jabatan kepemimpinan itu. Begitu juga puteranya -setelah ia- sungguh amat layak untuk itu.” (Thabaqat Ibnu Sa'ad jil.2 hal.l90; Tarikh Ibnu Atsir Jil. 2 hal. 317; Sirah al-Halabiyah jil. 3 hal. 207;Tarikh Thabari jil. 3 hal 226).

Kemudian beliau mendesak mereka untuk segera berangkat. Katanya: "Siapkan pasukan Usamah. Lepaskan pasukan Usamah. Berangkatlah Sariyyah (Ekspedisi) Usamah." Beliau mengulang-ulang ucapannya seperti itu, tapi mereka tetap enggan dan bermalas-malasan di Jurf. Sikap seperti ini mendorongku untuk bertanya, alangkah beraninya mereka terhadap Allah dan RasulNya? Kenapa harus durhaka terhadap Nabi SAW yang begitu kasih dan sayang pada kaum mukminin? Aku tidak dapat membayangkan, begitu juga orang lain, tafsiran apa yang bisa membenarkan pelanggaran dan pengabaian seperti ini?

Seperti biasa, ketika membaca peristiwa-peristiwa yang menyentuh tentang kemuliaan para sahabat, maka aku berusaha untuk tidak mempercayainya terlebih dahulu. Namun bagaimana mungkin aku dapat mendustakannya sementara ahli sejarah dan ahli hadis, Sunni dan Syi'ah, telah meriwayatkannya secara ijma'. Aku telah berjanji pada Tuhanku untuk bersikap adil dan jujur. Aku tidak boleh bersikap fanatisme pada mazhabku. Aku harus meletakkan kebenaran semata-mata sebagai ukuran. Dan memang kebenaran adalah pahit seperti yang dikatakan. Nabi bersabda, "Katakanlah kebenaran walau untuk dirimu sekali pun; katakanlah kebenaran walau pahit sekalipun." Dalam hal ini adalah sikap sejumlah sahabat yang telah mengecam Nabi dalam pengangkatan Usamah sebagai pemimpin mereka, sebenarnya telah menunjukkan sikap ketidakpatuhan mereka pada perintah Allah. Mereka telah mengabaikan nas-nas yang sangat jelas yang tidak dapat diragukan lagi atau ditakwilkan. Mereka tidak mempunyai alasan dalam hal ini. Usaha sebagian orang untuk menjaga kemuliaan sahabat atau salaf as-sholeh dengan mengajukan berbagai alasan apologis sangatlah rapuh. Seorang yang rasional tidak dapat menerimanya, melainkan mereka yang tidak memahami makna hadis tersebut, atau yang tidak berpikir, atau mereka yang fanatisme buta yang tidak dapat membedakan antara yang wajib dipatuhi dengan yang wajib dihindari.

Aku juga sering merenung kalau-kalau bisa mendapatkan suatu jawaban yang memuaskan. Tapi sayang semua itu gagal meyakinkanku. Aku baca alasan-alasan kelompok Sunni yang mengatakan bahwa mereka yang menolak kepemimpinan Usamah sebenarnya adalah karena mereka tokoh-tokoh dan pemuka-pemuka Qurasiy. Mereka adalah orang yang pertama memeluk Islam sementara Usamah masih baru dan tidak pernah ikut serta dalam berbagai peperangan yang menentukan seperti Perang Badar, Perang Hunain dan Perang Uhud. Usamah juga waktu itu masih terlalu muda. Dan kebiasaannya jiwa orang-orang tua tidak akan rela berada di bawah perintah anak muda. Itulah kenapa mereka mengecam Nabi dalam pengangkatannya ini dengan maksud agar menggantikannya dengan salah seorang tokoh sahabat lain. Alasan seumpama ini sama sekali tidak bersandar pada dalil akal atau naql (syariat). Seorang muslim yang membaca Al Quran dan mengetahui hukum-hukumnya akan menolak alasan ini. Karena Allah berfirman: "... Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (QS. Al Hasyr: 7). Juga firmannya: "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata." (QS. Al Ahzab: 36). Setelah adanya nash-nash yang jelas ini alasan apa yang kiranya dapat diterima oleh orang-orang yang berakal. Apa yang harus kukatakan kepada kaum yang telah menyebabkan Rasulullah marah sementara mereka tahu bahwa Allah akan murka lantaran murkanya RasulNya. Mereka telah menuduhnya "meracau" dan bertengkar di hadapannya, padahal "demi ayah dan ibuku" baginda tengah sakit sampai mereka diusir dari kamarnya. Tidak hanya sampai di situ. Yang sepatutnya mereka kembali ke jalan yang benar dan memohon ampun kepada Allah atas apa yang telah mereka lakukan dan memohon kepada Rasul agar memintakan ampunan bagi mereka seperti yang diajarkan oleh AlQuran, namun mereka tetap melakukan protes terhadapnya tanpa mempedulikan kasih sayang yang diberikannya pada mereka. Mereka tidak memberikan penghormatan yang sewajarnya kepada baginda Nabi. Dua hari setelah tuduhan yang mereka lontarkan, mereka kemudian mengecam pengangkatan Usamah sebagai pemimpin pasukannya sehingga beliau terpaksa mendesak mereka keluar dengan keadaan yang menyedihkan seperti yang dikatakan oleh para ahli sejarah.

Lantaran terlalu sakit, baginda tidak dapat berjalan dan terpaksa diapit oleh dua orang. Kemudian beliau bersumpah kepada Allah bahwa Usamah sebenarnya sangat layak dalam memimpin. Rasul juga mengatakan bahwa sebelum ini mereka juga pernah mengecamnya karena mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai pemimpin pasukan, agar kita tahu betapa sikap seperti ini telah mereka lakukan jauh hari sebelum itu. Bukti-bukti ini menunjukkan bahwa mereka sebenarnya bukan di antara orang-orang yang mudah bisa menerima ketentuan Nabi dan berserah sepenuhnya kepadanya. Tetapi mereka tergolong di antara orang-orang yang rela memprotes dan mengkritik walaupun ia bertentangan dengan hukum-hukum Allah dan RasulNya. Bukti atas sikap protes mereka ini adalah sikap mereka yang enggan pergi walaupun Nabi sendiri telah memberikan bendera kepemimpinan kepada Usamah dan dengan nada marah menyuruh mereka segera pergi berangkat. Demi ayah dan ibuku, mereka tidak juga pergi sampailah beliau wafat dengan hati yang kesal atas sikap ummatnya yang dikhawatirkan kelak akan berbalik ke belakang dan terjerumus ke neraka. Tiada yang akan selamat kecuali sedikit sekali, bagaikan segelintir binatang ternak seperti yang diumpamakan oleh Nabi.

Jika kita ingin jujur dalam melihat peristiwa ini maka kita akan dapati bahwa Khalifah Kedua adalah tokoh yang paling berperan di sini. Beliau datang menghadap Khalifah Abu Bakar setelah wafatnya Rasulullah dan memintanya agar menyingkirkan Usamah serta menggantinya dengan orang lain. Abu Bakar menjawab: "Wahai Ibnu Khattab, apakah kau suruh aku menyingkirkannya sementara Rasulullah telah mengangkatnya?" Di mana Umar dibandingkan dengan Abu Bakar yang mengetahui kebenaran ini? Ataukah di sana ada rahasia tersendiri yang tidak diketahui oleh ahli-ahli sejarah. Atau mungkin juga ada pihak lain yang menyembunyikannya lantaran ingin menjaga "kemuliaan" sahabat, seperti yang mereka lakukan dalam mengganti kalimat "yahjur" dengan kalimat "ghalabahul waja'”? Aku juga heran dengan sikap para sahabat yang membangkitkan amarah Nabi pada hari Kamis itu dan menuduhnya telah meracau serta berkata, "cukup bagi kita Kitab Allah." Sementara Kitab Allah sendiri berfirman: "Katakanlah jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku (Muhammad) kelak Allah akan mencintai kalian" (Ali Imran: 31). Seakan-akan mereka lebih tahu akan Kitab Allah daripada orang yang menerimanya sendiri. Lihatlah hanya setelah dua hari dari tragedi yang menyayat hati itu dan dua hari sebelum hari pertemuannya dengan Allah SWT mereka telah membangkitkan amarahnya lebih banyak dengan mengecam pengangkatan Usamah dan tidak mematuhi perintahnya.

Jika dalam tragedi pertama baginda terbaring sakit di atas tikarnya, tetapi di kali kedua ini Baginda terpaksa keluar dengan kepala yang terikat dan badan yang berbalut selimut sambil berjalan tertatih-tatih diapit oleh dua orang. Baginda naik ke atas mimbar dan berkhutbah lengkap. Mula-mula memuji Allah dan mengucapkan Tahmid atas-Nya agar menunjukkan kepada mereka bahwa dirinya tidaklah meracau. Kemudian diberitahunya bahwa beliau sadar akan protes dan kecaman mereka. Diingatkannya mereka dengan suatu peristiwa di mana mereka telah memprotesnya juga empat tahun yang lalu. Apakah setelah itu mereka masih menganggap bahwa baginda meracau dan tidak sadar apa yang diucapkannya? Maha Suci Engkau ya Allah dan segala puji bagi-Mu. Bagaimana mereka begitu berani terhadap RasulMu, tidak setuju dan menentang keras dengan perjanjian damai yang dilakukannya sehingga beliau sebanyak tiga kali menyuruh mereka berkorban dan mencukur rambut masing-masing tetapi tiada siapa pun yang mematuhinya. Di waktu lain mereka tarik bajunya dan melarangnya menshalatkan jenazah Abdullah bin Ubay. Mereka berkata kepada beliau: "Sesungguhnya Allah telah melarangmu menshalati jenazah orang-orang munafik." Seakan-akan mereka mengajarkan apa yang diturunkan Allah kepadanya. Padahal Allah berfirman dalam kitab-Nya: "... Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) Al Quran agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka" (QS. An Nahl: 44) Dan firman-Nya: "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu." (QS. An Nisa: 105). Dan firman-Nya lagi: "Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni'mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayatayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui." (QS. Al Baqarah: 151) Aneh memang terhadap mereka yang meletakkan diri mereka lebih tinggi dari diri Rasulullah SAW. Kadang-kadang mereka tidak patuh pada perintahnya, atau menuduhnya telah meracau, atau bertengkar di hadapannya tanpa adab, dan pada tempat yang lain mengecam pemilihan Usamah sebagai pimpinan pasukan mereka sebagaimana yang mereka lakukan terhadap ayahnya Zaid bin Haritsah sebelum itu. Apa yang harus diragukan lagi oleh orang yang meneliti secara kritis bahwa Syi'ah sebenarnya mempunyai alasan yang sangat kuat ketika mempertanyakan sikap sebagian sahabat seumpama itu. Mereka memang lebih menghormati dan mencintai Nabi SAW dan kerabat keluarganya.

Empat atau lima contoh yang kusebutkan di atas hanya sebagian kecil dari fakta-fakta yang ada. Ulama-ulama Syi'ah telah merincinya hingga ratusan di mana para sahabat telah mengabaikan nash-nash yang nyata dan jelas. Mereka tidak berhujjah melainkan dengan riwayat ulama-ulama Sunni sendiri dalam berbagai kitab shahih yang muktabar. Ketika kuketahui sikap sebagian sahabat terhadap Rasulullah SAW adalah seperti itu, aku kemudian merasa bingung dan heran. Sebagaimana aku juga heran melihat sikap ulama-ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah yang menggambarkan kepada kita bahwa para sahabat senantiasa dalam keadaan benar dan tidak boleh dikritik. Ini berarti mereka tidak mengizinkan seorang peneliti untuk sampai kepada suatu kebenaran, dan membiarkan mereka terus tenggelam dalam suasana pemikiran yang kontradiktif. Aku ingin membawa beberapa contoh sebagai tambahan, yang kiranya akan dapat memberikan gambaran yang sebenarnya tentang sahabat. Dan dari sini kita akan memahami sikap Syi'ah terhadap mereka.

Bukhari telah meriwayatkan dalam kitabnya Jil. 4 hal. 47 dalam Bab as-Sabru a'lal adza (Sabar Dari Gangguan) tentang maksud firman Allah, "Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberikan ganjaran." Katanya: "Al-A'masy meriwayatkan kepada kami bahwa beliau pernah mendengar Syaqiq bercerita tentang Abdullah yang berkata: "Suatu hari Nabi membagikan sesuatu kepada sahabat-sahabatnya sebagaimana yang biasa beliau lakukan. Seorang dari Anshar memprotes dan berkata: pembagian ini bukan karena Allah SWT. Kukatakan padanya bahwa aku akan lapor kepada Nabi (apa yang dikatakannya). Aku menghampiri Nabi yang ketika itu berada di antara para sahabatnya. Kuceritakan kepadanya apa yang terjadi. Tiba-tiba mukanya berubah dan marah sekali sampai aku rasa menyesal karena memberitahunya. Nabi kemudian berkata: 'Nabi Musa as telah diganggu lebih dari itu, tetapi beliau bersabar.'" Bukhari juga meriwayatkan dari Bab yang sama pada pasal at-Tabassum wa ad-Dhahk (Bab Tersenyum dan Tertawa). Katanya, Anas bin Malik meriwayatkan: "Suatu hari aku berjalan bersama Rasulullah yang waktu itu memakai syal Najrani yang berpinggiran tebal. Datang seorang Badwi yang tiba-tiba saja menarik dengan kuat syalnya. Anas berkata, 'aku lihat kulit leher Nabi lebam akibat tarikan keras yang dilakukan oleh si Badwi ini.' Kemudian dia berkata: 'Hai Muhammad, berikan padaku sebagian dari harta Allah yang ada padamu.' Lalu Nabi melihatnya sambil tertawa dan menyuruh sahabatnya untuk memberinya. Dalam Bab yang sama, pasal Man Lam Yuwajih an-Nas Bil Atab, Bukhari meriwayatkan bahwa Aisyah pernah berkata bahwa Nabi pernah melakukan sesuatu dan mengizinkan para sahabatnya untuk melakukan yang serupa. Tiba-tiba sebagian sahabat menolak melakukannya. Berita ini sampai ke telinga Nabi lalu baginda berkhutbah dan memuji-muji Allah. Kemudian baginda berkata: "Kenapa orang-orang ini menghindari dari melakukan sesuatu yang kulakukan. Demi Allah aku lebih tahu dari mereka tentang Allah dan lebih takut kepadaNya di banding mereka."

Orang yang merenungkan contoh riwayat serupa ini akan merasakan bahwa para sahabat telah meletakkan diri mereka lebih tinggi dari kedudukan Nabi sendiri; mereka percaya bahwa Nabi bisa berbuat salah dan merekalah yang benar. Sebagian ahli sejarah ikut-ikutan dalam membenarkan tindakan sahabat walaupun ia bertentangan dengan perbuatan Nabi; atau kadang-kadang menunjukkan bahwa kedudukan ilmu dan ketakwaan para sahabat lebih tinggi dibandingkan dengan Nabi, seperti yang dikatakan konon Nabi keliru dalam menyelesaikan masalah tawanan perang Badar dan Umar bin Khattablah yang benar. Mereka telah meriwayatkan berbagai hadis palsu yang konon Nabi SAW bersabda: "Seandainya Allah turunkan suatu bencana maka tiada yang akan selamat melainkan Umar bin Khattab." Seakan-akan mereka ingin berkata "Kalau Umar tiada maka celakalah Nabi". Semoga Allah melindungi kita dari kepercayaan yang salah seperti ini.

Demi jiwaku! Mereka yang mempunyai kepercayaan seperti ini akan jauh dari Islam sejauh dua kutub barat dan timur. Dia wajib merujuk kembali akalnya atau mengusir setan dari hatinya. Allah berfirman: "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya; dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" (QS. Al Jaatsiyah: 23). Demi jiwaku! Mereka yang percaya bahwa Rasulullah SAW bisa diombang-ambingkan oleh nafsunya dan lari dari jalan yang benar sehingga pernah membagi sesuatu bukan semata-mata karena Allah, tetapi karena nafsu dan kepentingannya; dan mereka yang menghindar dari berbuat sesuatu yang Rasulullah lakukan lantaran menduga bahwa mereka lebih bertakwa dan lebih arif pada Allah dibandingkan RasulNya? Orang-orang seperti ini memang sangat tidak layak untuk dihormati oleh kaum muslimin apalagi menempatkan mereka seperti para malaikat, lalu menghukumkan mereka sebagai makhluk terbaik setelah Rasulullah, dan kaum muslimin harus ikut mereka dan berjalan di bawah naungan sunnah mereka hanya semata-mata karena mereka adalah sahabat Nabi. Hal ini bertentangan dengan sikap Ahlu Sunnah Wal Jamaah yang menyertakan semua sahabat dalam shalawat mereka kepada Nabi dan keluarganya. Allah Mahatahu akan kedudukan mereka. Karena itu mereka ditempatkan pada posisi yang layak bagi mereka. Mereka diperintahkan untuk bershalawat kepada Nabi dan keluarganya yang suci agar mereka tunduk dan tahu kedudukan Ahlul Bait yang sebenarnya di sisi-Nya. Lalu bagaimana tiba-tiba kita menempatkan mereka lebih tinggi dari kedudukan keluarga Nabi atau menyamakan mereka dengan orang-orang yang telah diutamakan oleh Allah atas alam semesta ini?

Aku berkesimpulan bahwa Bani Umaiyah dan Bani Abbasiah yang telah memusuhi Ahlul Bait Nabi, mengejar-ngejar dan membunuh mereka beserta para Syi'ahnya, mengetahui keutamaan keluarga Nabi dan kedudukan mereka yang tinggi. Apabila Allah tidak terima shalat seseorang melainkan di dalamnya ada shalawat pada Nabi dan keluarganya, maka apa alasan permusuhan dan bersikap lari dari garis Ahlul Bait? Itulah kenapa kita lihat mereka telah mengiringkan kalimat sahabat dengan Ahlul Bait semata-mata agar dapat memberikan gambaran kepada orang banyak bahwa antara sahabat dan Ahlul Bait sebenarnya adalah sama. Terutama apabila kita ketahui bahwa mastermind mereka yang sebenarnya adalah sebagian sahabat itu sendiri. Mereka telah upah sebagian sahabat lain yang lemah akal dan karakter atau golongan tabi'in agar meriwayatkan berbagai hadis palsu tentang keutamaan sahabat, khususnya mereka yang pernah menjabat kedudukan khalifah, yang merupakan sebagai sebab utama naiknya mereka (Bani Umaiyah dan Abbasiah) ke puncak kekuasaan. Sejarah adalah sebaik-baik bukti atas apa yang kukatakan ini.

Lihatlah Umar bin Khattab yang sangat terkenal dengan pengontrolannya pada semua gubernurnya, dan akan memecat mereka serta-merta lantaran suatu keraguan yang dilihatnya. Lihatlah betapa beliau sangat berlemah lembut terhadap Mu'awiyah bin Abi Sufyan dan tidak pernah mengontrolnya sama sekali. Dahulunya Abu Bakarlah yang mengangkat Mu'awiyah sebagai gubernur kota Syam, lalu kemudian dilanjutkan oleh Umar sepanjang hayatnya. Beliau juga tidak pernah memprotesnya bahkan menegur atau mengecamnya sekalipun; walau banyak keluhan yang mengatakan bahwa Mu'awiyah memakai emas dan sutera yang telah diharamkan oleh Rasulullah SAW kepada kaum lelaki. Umar menjawab mereka dengan kata-kata: "Biarkan dia. Dia adalah Kisra (Raja) Arab". Dan Mu'awiyah terus berkuasa selama dua puluh tahun tanpa ada yang menegur dan memecatnya.

Ketika Utsman berkuasa diberinya lagi wilayah-wilayah lain untuk diurusnya, sehingga dia dapat menguasai tidak sedikit dari kekayaan negara Islam dan dapat memobilisasi kekuatan militer menentang kepemimpinan Imam Ali. Kemudian secara kekerasan dan dengan tangan besi, dia dapat kuasai semua kaum muslimin, lalu kemudian memaksa mereka memberikan bai'at kepada Yazid, puteranya yang fasik dan pemabuk. Kisah Yazid ini adalah cerita panjang yang tak dapat kita muatkan dalam buku yang ringkas seperti ini. Apa yang penting adalah pengetahuan kita akan mentalitas para sahabat yang duduk di jabatan khilafah dan yang telah menyiapkan secara langsung berdirinya suatu kerajaan Bani Umaiyah berdasarkan keputusan Quraisy yang enggan menerima Nubuwah dan Khilafah berada di tangan Bani Hasyim. (Lihat al-khilafah Wal Muluk oleh al-Maududi Dan Yaum al-Islam oleh Ahmad Amin).

Dinasti Bani Umaiyah mempunyai hak, bahkan kewajiban untuk berterima kasih pada mereka yang telah menyiapkan berdirinya kerajaannya itu. Paling tidak sebagai ungkapan rasa terima kasih adalah dengan mengupah sejumlah perawi yang mau meriwayatkan berbagai "hadits" tentang keutamaan para leluhur mereka dengan mengangkatnya lebih tinggi dari kedudukan Ahlul Bait, musuh utama mereka. Jika hadis-hadis keutamaan ini dikaji berdasarkan hujjah-hujjah syariah dan akliah, maka keabsahannya akan cepat diragukan. Melainkan jika ada kelainan dalam mentalitas kita dan tidak mampu membedakan antara perkara-perkara yang kontradiktif. Sebagai contoh, kita banyak mendengar tentang keadilan Umar yang diceritakan oleh berbagai perawi, sehingga dikatakan: "Wahai Umar, kau telah bersikap sangat adil; karena itu kau dapat tidur". Atau konon kabarnya Umar dikebumikan dalam keadaan berdiri agar keadilan tidak mati bersamanya. Dan berbagai cerita lain yang menarik tentang keadilannya. Namun sejarah yang benar mengatakan kepada kita bahwa Umar ketika membagi-bagikan harta baitul mal pada tahun 20 hijriah, beliau tidak mengikuti sunnah Nabi. Nabi SAW telah membagi sama rata antara segenap kaum muslimin dan tidak mengutamakan satu dari yang lainnya. Begitu juga Abu Bakar di dalam masa khilafahnya. Tetapi kemudian Umar menciptakan suatu cara baru, mengutamakan golongan yang sabiqin (muslimin senior) atas yang lainnya, dan golongan muhajirin Quraisy atas muhajirin selain Quraisy, golongan muhajirin atas golongan anshar, golongan Arab atas non-Arab, golongan orang merdeka atas hamba-hamba sahaya; mengutamakan suku Mudhir atas suku Rabi'ah dengan memberikan suku yang pertama tiga ratus dan suku kedua dua ratus; serta mengutamakan suku Aus atas suku Khazraj (Sharh Nahjul Balaghah Oleh ibnu Abil Hadid jil. 8 hal. 111. Tarikh Ya'qubi jil. 2 hal. 106. Futuh al-Buldan hal. 437).

Di mana letaknya keadilan dalam sistem kelas seperti ini wahai orang-orang yang berpikir? Kita telah banyak mendengar tentang cerita-cerita Umar. Bahkan dikatakan bahwa beliau adalah sahabat yang paling alim. Konon Allah banyak membenarkan pendapat Umar ketika terjadi perselisihan antara Nabi dan Umar, dengan menurunkan ayat-ayat yang mendukung pendapatnya. Namun sejarah yang benar membuktikan kepada kita bahwa Umar banyak menyalahi ayat-ayat Al Quran hatta setelah turunnya sekalipun. Ketika seorang sahabat bertanya kepadanya di zaman khilafahnya: "Ya Amir al-Mukminin, aku kini berjunub tetapi tidak kujumpai air, bagaimana hukumnya?" Umar menjawab: "Tidak perlu shalat!" Ammar bin Yasir mengingatkan sang khalifah bahwa kewajibannya adalah tayammum. Tetapi Umar tidak peduli. Katanya: "Ya Ammar, engkau hanya bertanggung jawab atas tugas-tugasmu saja!" (Shahih Bukhori jil. 1 hal. 52).

Di mana ilmu Umar tentang ayat tayammum yang diturunkan di dalam AlQuran? Mana ilmu Umar tentang sunnah Nabi yang mengajarkan kepada mereka bagaimana bertayammum sebagaimana Baginda ajarkan wudhu? Di dalam berbagai peristiwa, Umar banyak mengakui dirinya tidak alim. Bahkan -menurutnya- semua orang lebih alim darinya hatta para wanita sekalipun! Beliau juga berulang kali mengatakan demikian, "Kalaulah tiada Ali maka Umar telah celaka". Dan sampai akhir hayatnya beliau tidak tahu hukum Kalalah, yang sering dihukumkannya di zaman pemerintahannya seperti yang dicatat dalam sejarah. Mana ilmunya wahai orang-orang yang berakal? Kita juga sering mendengar akan kepahlawanan, keperkasaan dan keberaniannya sehingga dikatakan bahwa kaum Qurasiy merasa gentar setelah Islamnya Umar, dan agama Islam sendiri menjadi kuat. Konon Allah telah muliakan Islam karena Umar bin Khattab, dan Nabi tidak menyatakan dakwahnya secara terang-terangan melainkan setelah Islamnya Umar. Namun sejarah yang benar tidak menunjukkan kepada kita keperkasaan dan kepahlawanan itu. Bahkan sejarah juga tidak pernah menunjukkan kepada kita ada seorang yang dikenal atau orang biasa sekalipun yang dibunuh oleh Umar dalam peperangan seperti Badar, Uhud, Khandak dan lain sebagainya. Bahkan sejarah membuktikan sebaliknya, Umar pernah lari bersama sahabat-sahabat lain dalam peperangan Uhud dan Hunain. Ketika Rasulullah mengutusnya untuk membebaskan kota Khaibar, beliau kembali dalam keadaan kalah. Bahkan di dalam berbagai peperangan sariyyah (peperangan yang tidak diikut-sertai oleh Nabi) sekalipun, Umar tidak pernah menjadi komandan pasukannya. Dalam sariyyah Usamah sariyyah terakhir juga beliau hanya ditunjuk sebagai anggota pasukan Usamah bin Zaid, seorang anak muda berusia belasan tahun. Mana klaim keperkasaan tersebut wahai orang-orang yang berakal? Kita juga sering mendengar tentang ketakwaan Umar bin Khattab serta rasa takutnya yang amat sangat sehingga menangis karena takut kepada Allah SWT. Konon dikatakan bahwa beliau takut dihisab oleh Allah jika seekor keledai di Irak sekalipun tersesat lantaran tidak disediakan jalan untuknya. Tetapi sejarah yang benar mengatakan kepada kita bahwa beliau sesungguhnya seorang yang keras dan kasar. Beliau tidak berhati-hati dan tidak segan memukul orang yang bertanya kepadanya tentang suatu ayat Kitab Allah sehingga melukainya tanpa suatu dosa yang dilakukannya. Bahkan seorang wanita pernah jatuh dan tergugur kandungannya lantaran melihatnya dengan penuh ketakutan. Kenapa beliau tidak takut kepada Allah ketika menghunuskan pedangnya dan mengancam setiap orang yang mengatakan bahwa Muhammad telah mati? Beliau bersumpah bahwa Muhammad sebenarnya tidak mati, dia hanya pergi bermunajat kepada Tuhannya seperti yang dilakukan oleh Musa bin Imran. Umar mengancam akan memukul leher setiap orang yang mengatakan bahwa Nabi telah mati. Kenapa beliau tidak takut kepada Allah ketika mengancam akan membakar rumah Fatimah jika orang-orang yang berada di dalamnya tidak mau keluar untuk membai'at Abu Bakar? Ketika dikatakan padanya bahwa Fatimah ada di dalamnya, dia menjawab, "Sekalipun dia ada!" Beliau juga "berani" terhadap Kitab Allah dan Sunnah Rasulnya dengan melakukan berbagai hukum di masa pemerintahannya yang bertentangan dengan nas-nas Al Quran dan Sunnah Nabi SAW (Lihat Tarikh Thabari dan Tarikh Ibnu Atsir, Al-Imamah Wa Siyasah Oleh Ibnu Qutaibah, An-Nash Wal Ijtihad oleh Syarafuddin al-Musawi).

Nah, di mana letaknya wara' dan ketakwaan setelah menyaksikan serangkaian fakta yang menyedihkan ini wahai hamba-hamba Allah yang shaleh? Aku hanya ingin menjadikan sahabat yang agung dan terkenal ini sebagai contoh semata-mata. Itupun telah kuringkaskan sedemikian rupa agar tidak panjang dan sederhana. Jika aku ingin tuliskan secara terperinci maka ia akan memuatkan berjilid-jilid buku. Seperti yang  kukatakan di atas, aku hanya mengetengahkannya sebagai contoh semata-mata tidak lebih. Apa yang kusebutkan di atas, hanya segelintir kecil dari peristiwa yang terjadi. Tetapi ia telah memberikan kepada kita suatu pengetahuan yang jelas tentang mentalitas para sahabat dan sikap para ulama Ahlu Sunnah yang kontradiktif. Mereka melarang setiap orang untuk mengkritik dan meragukan sahabat, tetapi dalam masa yang sama mereka riwayatkan dalam berbagai buku mereka fakta-fakta yang bisa menimbulkan keragu-raguan dan kecaman. Kalaulah para ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah tidak menyebutkan fakta-fakta yang jelas yang menyentuh tantang sahabat dan melukai keadilan mereka, maka mereka akan berjasa dalam menghilangkan segala jenis keraguan dari benak kita.

Aku teringat akan perjumpaanku dengan salah seorang ulama dari Najaf al-Asyraf, Asad Haidar, penulis buku Al-Imam as-Shadiq Wa al-Mazahib al-Arba'ah (Imam Shadiq Dan Empat Mazhab). Waktu itu kami berbicara tentang Sunnah Syi'ah. Diceritakannya kepadaku tentang ayahnya yang berjumpa dengan seorang alim dari Tunisia pada waktu musim haji lima puluh tahun yang lalu. Mereka berdua berdiskusi panjang tentang keimamahan Amir al Mukminin Ali bin Abi Thalib. Orang alim Tunisia ini mendengar ayahku menghitung hadis-hadis yang membuktikan tentang kepemimpinan Imam Ali as. dan haknya dalam masalah khilafah. Dihitungnya sehingga empat atau lima dalil. Ketika selesai, ditanyanya apakah ada dalil selain ini. "Tidak" jawabnya. Kemudian dia berkata: "Keluarkan tasbihmu dan mulai hitung." Orang alim Tunisia ini menyebutkan dalil-dalil berkenaan sehingga seratus, yang hatta ayahku sendiri tidak mengetahuinya." Syaikh Asad meneruskan: "Jika Ahlu Sunnah membaca kitab-kitab mereka, maka mereka akan berpendapat seperti kami; dan perselisihan ini telah selesai sejak lama." Demi jiwaku! Sesungguhnya ini adalah kebenaran yang tidak dapat dihindari bagi mereka yang telah membebaskan dirinya dari fanatisme buta dan bagi mereka yang setia pada dalil yang shahih. (*)