Antara Birahi dan Teodisi (Puisi dan Sketsa karya Sulaiman Djaya)



Pernah di suatu ketika 
Sebuah puisi adalah raung sunyi 
Dan sebentuk wajah 
Juga selembar kertas 
Yang tak sempat kautulisi kata.

Aku kehilangan bahasaku 
Ketika televisi dan iklan 
Begitu riuh jadi dogma baru. 
Agama berubah kepalsuan 
Dan mimbar-mimbar pertukaran.

Di mana harus kutemukan 
Lembar-lembar firman yang kudus 
Dan suci? Ketika mesjid-mesjid 
Telah diganti pusat-pusat transaksi 
Yang dikhutbahkan para selebriti.

Para pendakwah bicara surga 
Seakan komoditas milik mereka 
Yang selalu siap diperjual-belikan 
Di ajang-ajang penjagalan 
Dan sirkulasi bursa-bursa saham.

Tafakur Subuh

Biarkan dua matamu dibasuh subuh 
Dengan air wudhu di telapak tanganmu. 
Semalam embun tak ada 
Sebab deras hujan 
Telah menggantikan langkah-langkah 
Jarum jam.

Biarkan air wudhu menyentuh wajahmu 
Setelah semalaman kau lelap tertidur
Dan fajar akan menghitung 
Adakah rakaat sembahyangmu 
Seikhlas kau jatuh cinta 

Pada kata yang jadi umpama.
Oh jangan dengarkan, duh Adik tercinta, 
Mereka yang bicara agama 
Layaknya para penjaja harta benda. 
Mari aku bisikkan kepadamu 

Kenapa kita tak pernah bosan
Untuk bertanya. 
Jangan, duh Adik, jangan dengarkan 
Para pengkhotbah dan kaum berjubah 
Yang menganggap iman 
Seakan hanya miliknya.


Mereka tak mengerti kenapa kita 
Menulis puisi dan bergembira 
Dengan segala yang menyimpan 
Tanda tanya. Dengan segala 
Yang membuat kita heran dan tertawa. 


Diceritakan Senja


 Puisi-puisi Siti Nuraisyah*


DIK

Dik, ia datang lagi
Kali ini dengan semangkuk bubur putih tanpa kau
Kucari pada tatap matanya tentangmu
tetapi kosong, tak ada kabarmu di sana
Kusuruh ia berbalik lalu menutup pintu
tetapi ia malah menangis
Diceritakannya tentang pemakaman, bunga-bunga, dan air mata
Haruskah aku membencimu, Dik?

Dik, ia datang lagi
Memintaku menjahit luka pada dadanya yang menganga
Ia berjanji akan melakukan hal yang sama
Kami berdua dalam pekat malam
menyusuri kota dan meniduri bangku-bangku taman
Menghabiskan segelas kopi
pada sebuah kedai murahan

Pandeglang, Desember 2015


BUMI DAN SUNGAI BERAIR LAUT

Telah kutemukan bumi yang baru
dalam bola matamu.
Daratan  yang tak akan selesai untuk kujelajahi
dan samudra tanpa dasar
yang selalu menarikku
untuk semakin dalam tenggelam.

Kembali kulihat dua bumiku menangis
melahirkan anak sungai berair laut yang baru lagi
Memaksaku ikut larut; hanyut semakin jauh
dalam alirannya yang deras.
Hanyutku tak berarti
diammu masih saja tak kumengerti.

Serang, Juni 2015


DICERITAKAN SENJA

Ada yang selalu diceritakan senja
Tentang kesabaran menghadapi pertemuan dan perpisahan
Tentang siang yang terus menanti malam
Tentang malam yang harus rela ditinggalkan siang
Tentang perjanjian di hari esok, untuk kembali bertemu lebih lama

Sesaat, kita dipertemukan di persimpangan
Tak ada yang dapat menghentikan waktu
Begitupun dengan pertemuan yang harus berlalu
Hingga akhirnya, aku hanya bisa terdiam ditemani sendu

Dan sedikit demi sedikit merangkai kata tentang rindu.

2014

*Lahir di Pandeglang, Banten 1 April 1997. Saat ini aktif di Kubah Budaya.