Label

Eksistensialisme Mulla Sadra


Kesempurnaan manusia adalah karena ketidaksempurnaanya, sehingga ia selalu bertanya,dan gelisah akan hal- hal yang melingkupi kehidupanya, realitas kosmologi dan sebagainya. Pertanyaan yang paling dasar adalah ketika manusia gusar tentang eksistensi alam, siapakah kits? Yang melahirkan tentang filsafat manusia,s iapa encipta kita? Yang melahirkan berbagai pandangan tentang konsep ketuhanan, asal usul alam semesta, ia real atau tidak dan lain sebagainya. Yang muaranya adalah berbicara tentang eksistensi, wujud (being).  Dikatakan bahwa persoalan wujud adalah persoalan yang sangat penting dan fundamental dalam filsafat islam. Perdebatan antara kaum peripateik, iluminisme, dan transendentalisme mengenai topik ini merupakan perjalanan panjang yang terus-menerus mewarnai ranah pemikiran filsafat Islam yang teramat luas dan dalam.

Dalam tradisi Filsafat Islam, wujud mempunyaipengertian yang sangat beragam, hal ini tentu di ilhami oleh latar belakang dan model pemikiran yang di miliki oleh para filusuf Islam. Selain wujud menjadi pembahasan utama dari segala sesuatu, wujud juga menjelaskan berbagai realitas. Wujud merupakan salah satu tema metafisika yang banyak melahirkan kontroversi filosofis. karena hakikatnya sangat sulit untuk bisa dipahami.

Orang seagama filafatnya bisa saja berbeda, begitu sebaliknya, orang yang berbed agama, bias saja filsafatnya sama. Namun kesamaan filosofis biasanya, hanyalah pada gari besar saja, Pada uraian rinci boleh jadi terdapat perbedaan yang mencolok. Perbedaan itu terjadi pada tambahan pada pandangan pokok yang berbeda. Itulah yang bias kita lihat pada eksistensialisme Islam pada pertengahan abad-20.Kedua bentuk eksistensialisme itu sama-samamengatakan bahwa eksistensi mendahului esensi.Atau dengan perkataan lain,wujud lebih pokok daripada hakikat. Walaupu begitu yang dipersoalakan berbeda. Eksistensialisme prancis abad 20 mempersoalkan eksistensi dan esensi manusia, sedangkan eksistensialisme iran abad pertengahan mempersoalkan eksistensi dan eseni realitas secara umum, tertama tuhan[1]

Sekilas Biografi Mulla Sadra

Mulla Shadra dilahirkan di Syiraz pada tahun 1572 M. Ia berguru kepada Mir Damad dan Mir Abu Al-Qasim Findereski (w. 1640) di Isfahan. Nama lengkapnya Muhammad ibn Ibrahim Yahya Qawani Syirazi, atau sering disebut Shadr al-Din al-Syirazi atau Akhun Mulla Shadra. Diakalangan murid-muridnya dikenal dengan Shadr al-Mtuiallihin. Ayahnya pernah menjadi gubernur wilayah Fars. Status sosialnya tersebut dan sebagai anak tunggal, ia berkesempatan memperoleh pendidikan yang baik dan penjagaan yang sempurna di kota kelahiranya.

Sebagai anak yang cerdas, ia mampu dengan cepat menguasai berbagai ilmu pelajaran yang diajarkan kepadanya. Dalam usia muda, Mulla Shadra melanjutkan studi ke Isfahan, sebuah pusat budaya yang penting untuk dunia Timur Islam pada saat itu, ia berguru kepada teolog Baha al-Din al-„Amili (w. 1031 H/1622 M), kemudian kepada filsuf Peripatetik Mir Abu al-Qasm Fendereski (w. 1050 H/1641). Tetapi gurunya yang paling utama adalah seorang filsuf-teolog bernama Muhammad atau lebih dikenal dengan nama Mir Damad (w. 1041 h/1631 M), yang merupakan seorang penggagas berdirinya pusat kajian filsafat dan teolog yang kini dikenal dengan “aliran Isfahan”. Guru inilah yang gembira dan berduka mempunyai murid seperti Mulla Shadra, gembira karena mempunyai murid yang cerdas, berduka karena beliau menyadari tulisan-tulisan Mulla Shadra mudah dipahami daripada tulisan Mir Damad.

Teman-teman seperguruan Mulla Shadra kalah bersaing sehingga kurang dikenal, akan tetapi setelah Mulla Shadra meninggalkan Isfahan menuju Kahak. Mereka mulai dikenal. Kahak adalah sebuah desa dipedalaman dekat Qum. Di Kahak ia menjalani hidup zuhud dan pembersihan hati dengan melakukan latihan-latihan rohani untuk mencapai hikmat-I illahi (Rahasia Ilahi) atau teosofi (theo = Tuhan, Sophia = cinta). Dia menjalani hidup zuzhud selama 7 tahun, tapi ada riwayat yang menyebutnya selama 11 tahun. Jalan ini dikritik oleh ulama zahir dan bahkan ada yang menuduhnya kafir. Padahal, ia orang shalih yang tidak mengabaikan kewajibannya terhadap agamanya. Hal diutarakan dalam kata pengantar kitabnya, Asfar dan Sih Ashl (semacam authobiografi).

Sumbangan filsafat Mulla Shadra sangatlah banyak, diantaranya karya filsafat yang paling berpengaruh adalah Al-Masyair (Keprihatinan), Kasr Asnam Al-Jahiliyah (Menghancurkan Arca-arca Paganisme), dan “Empat Pengembaraan” (Al-Asfar Al-Arbaah). Lebih jauh ia berkata: “cahaya dunia Ilahi berkilat diatasku. . . dan dapat menyingkap segala rahasia yang tak pernah kuduga sebelumnya”. Lambat laun, ia mulai sadar terikat kewajiban untuk memberikan kepada orang lain apa yang telah ia terima sebagai hadiah dari Tuhan. Hasil karya itu adalah hasil karya yang tadi. Jiwa dari penciptaan (al-khalq) menuju realitas tertinggi (al-haqq), kemudian realitas melalui realitas, dan dari realitas kembali ke penciptaan, dan akhirnya ke realitas sebagaimana yang mengejawantah dalam penciptaan.

Atas desakan masyarakat dan permintaan Syah Abbas II (1588-1629), dari dinasti Safawi. Mulla Shadra diminta menjadi guru di madrasah Allah Wirdi Khan yang didirikan oleh gubernur provinsi Fars di Syiraz. Di sini pulalah ia banyak mengahsilkan karya. Hal ini di akui oleh Thomas Herbert, pengembara abad 11 H/17 M yang pernah melawat ke Syiraz selama masa hidup Shadra. Herbert menulis bahwa di Syiraz terdapat perguruan yang mengajarkan filsafat, astrologi, fisika, kimia, dan matematika yang menyebabkannya termasyhur di seluruh Persia. Kesibukan dalam mengajar dan menulis tidak menghalanginya untuk menunaikan ibadah haji. Bahkan tujuh di antaranya, dilakukan dengan berjalan kaki. Namun dalam perjalanan pulang hajinya yang ke-7 ia jatuh sakit dan meninggal dunia di Basrah pada tahun 1050 H/1641 M. Makamnya sangat termasyhur di kota itu.

Tampkanya,  ketika  filosof  yang  bernama Muhammad  dan  bergelar  Sharuddin  dan  lebih  dikenal  dengan  nama Mulla  Shadra atau  hanya  Shadra  ini  muncul,  filsafat  yang  ada,  dan  yang  umumnya diajarkan, adalah  tradisi  neoplatonik-peripatetik  Ibn  Sina  dan  para  pengikutnya. Pada  abad ke  6 H/ke  12  M,  Suhrawardi  telah  melakukan  kritik  terhadap  beberapa  ajaran  dasar parepatetisme. Dialah  yang meletakkan  dasar-dasar  bagi  filsafat Illuminasionis yang bersifat mistis (Hikmat al-Isyraq) yang kemudian memperoleh sejumlah pengikut. Dalam  latar  belakang  yang  demikian  itulah  sistem  pemikiran  Mulla Shadra  yang  khas  tumbuh,  yang  kelihatannya  benar-benar  berbeda  dari  situasi intelektual  dan  spiritual  pada  masanya. 

Dalam mazhab Isfahan, Mulla Sadra tercatat sebagai tokoh, filosof yang sangat  tersohor,  kepopulerannya  ditandai  oleh  kepiawaiannya  dalam  menguasai ringkasan pemikiran filsafat Islam yang berkembang dalam rentang waktu 900 tahun  dengan pendekatan sintesis akhir berbagai mazhab filsafat dan  teologi  Islam  (alam). Bertumpu  pada  ajaran  al-Qur’an  dan  al-Sunnah,  ucapaan-ucapan  para  penguasa  sebelumnya,  termasuk  filsafat  peripatetik,  iluminatif,  kalam  sunni  dan  syi’i  serta mazhab  gnosis, Mulla  Sadra membuat  sistesis  secara menyeluruh  yang  selanjutnay dikenal dengna  teosofi  transedenden  (al-hikmah al-muta’aliyah). Mulla Sadra merasa yakin bahwa ada tiga  jalan terbuka bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan; wahyu, akal  dan  intelektual  (‘Aql)  dan  visi  batin  atau  pencerahan  (kasyf).  Dia  berusaha merumuskan  sebuah  ‘kebijaksanaan’  sehingga manusia mampu mengambil manfaat dari ketiga sumber tersebut.[2]

Eksistensialisme Dalam Persfektif Beberapa Filsuf

Dalam analisa  terminologi dapat diketemukan bahwa Wujud berarti keberadaan yang mempunyai tingkat abstraksi yang tinggi. Dengan demikian dapat  dibedakan  menurut  dimensi  masing-masing, bahwa  wajd  sarat  dengaan pergumulan tasawuf, sementara wujud merupakan titik tolak dari filsafat yang sering dibahas  dalam  diskursus  kalam  dan  filsafat  Islam  sebagai  mazhab  wujudiyah (existensialism).[3] Dalam pergumulan filsafat Barat, filsafat muncul karena suatu krisis, dan krisis  berarti  penentuan.  Atau  dengan  bahasa  lain,  kehadiran  filsafat  merupakan bentuk  krisis  ke  krisis  yang  lain.  Perkembangan  selanjutnya,  kehadiran eksistensialisme  sebagai  alternatif  dalam  mengatasi  krisis  yang  dikapling  oleh materialisme  dan  idealiseme, maka  eksistensialisme  adalah  cara  orang  ‘berada’  di dunia. Kata berada pada manusia tidak sama dengan beradanya pohon atau batu, dan yang dapat  menjelaskan  secara  filosofis  adalah  aliran  eksistensialisme.[4]  

  Bentuk  reaksi  ini dicetuskan  oleh  tokoh  dari  Denmark  Soren  Kierkegaaard,  menurutnya.  “Filsafat tidak  merupakan  suatu  sistem,  tetapi  suatu  pengekspresian  eksistensi  individual”. Karena  manusia  merupakan  pengambil  keputusan  dalam  eksistensinya.  Apapun keputusan yang diambil tak pernah mantap dan sempurna, dan ingin selalu eksis. Yes, I Percieve perfecly that there are two possibilities, one can do either this  or  that  (Ya,  sejak  semula  saya menyaksikan  bahwa  ada  dua  kemungkinan, seorang hanya bisa melakuan apakah ini ataukah itu).[5]

Tokoh  lain,  Jean Paul Sartre  (1905-1980) mengatakan; bahwa eksistensi manusia mendahuli esensinya. Pandangan ini amat janggal, sebab biasanya sesuatu itu harus ada esensinya terlebih dahulu sebelum keberadaannya. Filsafat eksistensialisme membicarakan cara berada di dunia  ini, terutama cara berada manusia. Dengan kata lain,  filsafat  menempatkan  cara  wujud-wujud  manusia  sebagai  tema  sentral pembahasannya.  Cara  ini  hanya  inheren  dengan manusia  karena manusialah  yang bereksitensi.  Binatang,  tetumbuhan,  bebatuan  dan  lain-lain  memang  ada,  tetapi keberadaan mereka tidak dapat disebut bereksistensi.[6]

Menurut Armahedi Mahzar. Eksistensialisme telah digantikan secara berturut turut oleh strukturalisme dan pasca-strukturalisme.Pasca- strukturalisme sebagai varian dari filsafat postmodern yang pliralistik,relativistic dsn snsrkiditu telah membuang semua bentuk eksitensialisme modern. Post-modernisme telah membuang semua esensi sehingga yang  tinggal adalah eksistensi- eksistensi yang banyak yang tak lain dari benda- benda matrial di luar dan di dalam tubuh kita. Tentu pandangan ini sangat controversial,karena benda- benda itu tanpa esensinya, yaitu gerak dan interaksi antar sesamanya sepertiyang difahamioleh sains, tak mungkin melahirkan kehidupan, manusia dan bahkan pemikir- pemikir post modernis itu sendiri.[7]

Dalam filsafat Islam, filusup pertama yang mendudukan persoalan eksistensi- esensi secra berbeda- dalmarti bahwa salah satu dari keda modus wujud serbamungkin(contingent) itu ada yang realitas mendasar dan ada yang sekedar penempakan adalah Mir.Damad yang pada ahirnya ia lebih meyakini bahwa kuiditas sebagai realitasmendasar(ashlah al-mahiyah), sedangkan sadhr Al- Muta’allihin memilih ashlahul-wujud atau prinsip kemendasaran eksistensi. Al Muta’allinadalah filusuf pertama yang mengukuhkan hakikat eksistensi berdasarkan pijakan diskursif dalam Filsafat.[8] Bangunan  teori  wujud  dan  teori  kemungkinan  esensial  serta kemungkinan  eksistensial  telah  banyak  disinggung  oleh Muhammad Baqir  al-Shadr (salah seorang murid Mulla Sadra).[9]Seluruh bangunan pemikiran filsafat  ini muncul dari refleksi dan renungan Shadr al-Dien Muhammad al-Syirazy yang populer disebut Mulla Sadra, dan dalam beberapa manuskrip Persia, tulisannya diketemukan sebagai basis-basis shadariyah. Mulla Sadra membahasnya secara tuntas dalam magnum opus-nya al-Hikmah al-Muta’aliyah Fi’al-Asfar al-Aqliyah al-Arba’ah.

Bila  ditelusuri  bangunan  pemikiran  filsafat  wujudiyah  di  atas,  ternyata memiliki mata rantai dengan arus isyraqiyah yang dilepas oleh al-Suhrawardi al-Maqtul secara tipikal sarat dengan pergumulan pemikiran Syi’ah. Diantara para filososf yang merespon dan melanjutkan perspektif Isyraq diatas antara lain ; Mir Damad (w. 1631), baha’ al-Dien ‘Amili (w. 1621), keduanya merupakan tokoh yang amat terkenal dalam periode  safawi,  Shadr  al-Dien  al-Syirazy  (w.  1641)  yang  populer  disebut  dengan Mulla Sadra, dan diproklamirkan sebagai  seorang  filosof  terbesar di zaman modern Persia.[10] Mulla  Sadra  secara  meyakinkan  membangun  pemikirannya  melalui pendekatan sintesis; antara al-isyraq  (illuminatif), massya’i  (peripatetik),  ‘irfan  (gnosis), dan kalam  (teologi).  Semua  bangunan  pemikiran  di  atas  menjadi  karakteristik  setting pemikiran Isfahan pada zaman Safawi. Titik puncak pemikirannya terletak di tangan Muhammad Sadaruddin  al-Syirazi,  atau Sadr  al-Muta’allihin,  yang  sangat populer di kalangan  filosofis[11]

Eksistensialisme Mulla Sadra

Dalam perkembnagan filsafat di wilayah Islam timur setelah pembedaan ibnu Sina mengemukamengenai esensii dan wujud, persoalan mengenai yang mana dari keduanya yang merupakan relaitas uatama memainkan peranpenting.Kebanyakan Filosuf atas nama “esensialisme” berarguen bahwa wujud, karena kedudukanya sebagai sifat yang umum dari segala yang ada,yaitu dri konsep yang paing umum hanyalah memiliki realitas sebagai konsep skunder (ma’qul tsani) yang tidak mempunyai hubungan sesuatu yang nyata.

Filusuf “Illuminasionis”, al- Suhrawardi khususnya, menentang keras faham realitas wujud. Alasanya jika kita menganggap wujud sebgai sifat esensi yang sesungguhnya, sesuai dengan pendapat ibnu sina, maka esensi, agar memiliki sifat ini, harus ada sebelum wujud.[12]Dalam hal ini terdapat kesalahan dalam memahami Ibnu Sina. Ia justru menegaskan bahwa wujud tidak hanya sekedar sifat, melainkan wujudlah satu- satunya hakikat atau realitas yang di miliki Tuhan, sedangkan segala sesuatu bagi yang mungkin,wujud itu diturunkan dari atau” dipinjamkan”oleh Tuhan dan, dengan demikian, sebagai “ tambahan”bagi esensi mereka, tapi buan sebaga ambahan dari hal- hal particular yang ada.

Al-  Suhrawardi lebih jauh menegaskan bahwa jika wujud merupakan bagian pokok dari realitas eksternel, maka wujud harus mengada dan wujud ke dua ini,pada giliranya, juga harus m engadadan seterusnya ad infinitum. Ia kemudian mengungkapkan prinsip umum bahwa setiap konsep yang sangat umum ( seperti eksistensi, kesatuan, kepastian, kemungkinan dan sebagainya), yang hakikatnya sedemikian sehingga jika suatu factor atau bentuk yang bersesuaian denganya diasumsikan ada dalam relitas eksternal, maka ini akan mengantarkanya pada penurunan yang takterbatas.Dengan demikian hanya ada dalam pikiranlah aanya.Tidak dalam realitas eksternal. Maka apa yang dibuktikan dalam argument ini adalah bahwa wujud buaknlah factor atau sifat ekstra dalam realitas eksternal.[13]

Sadra dengan keras menolak pandangan bahwa wujud tidak bersesuaian dengan apapun yang terdapat dalam realitas. Sebaliknya dia mengatakan bahwa tidak ada yang nyata yang sebenarnya kecuali wujud. Tetapi wujud srbagai satu- satunya realitas tidak pernah ditangkap oleh pikiran. Krenapikiran hanya dapat menengkap eensi dan gagasan umum wujud, atau eksistensi dan esensi. Karena esensi tidak mengada per se,  tetapi hanya timbul dalam pikiran dari bentuk- bentuk atau mode- mode wujud partikulersehingga, dengan demikian hanyalah merupakan fenomena mental yang padaprinsipnya dapat diketahui sepenuhnya oleh pikiran, Sebaliknya,gagasan umum tentang eksistensi, yang timbul dalam pikiran tidak dapat mencerminkan atau mengangkap hakikat wujud, karena wujud merupakan realitas obyektif dan transformasinya ke dalam konsep mental yang abstrak pasti mengandung kesalahan. Dengan kata lain,apa yang ada bersifat unik dan particular, karena itu wujud tidak dapat ditangkap oleh pikiran konseptual, sementara eensi yang ada pada dirinya sendiri adalah gagasan umum, tidak per se. karena itu esensi dapat di diketahui oleh pikiran.

Pandangan bahwa wujud sendiri yang emnciptakan esensi menempatkan shadra terpisah dari aliran peripatitik muslim yang yakin bahwabenda- benda konkrit tersusun dari esensi dan eksistensi. Maing- masing mempunyai realitas yang terpisah. Pandangan ini juga memisahkan dirinya dari pemikiran al- Syuhrawardi dan para pengikutnya, yang meyakini esensi sebagai realitas,sedangkan wujud hayalah abstraksi.Pandangan Shadra lebih jauh menjelaskan dan membenarkan ajaran yang juga dibenarkan oleh Aristoteles dan para Filusuf peripatitik, bahwa wujud bukanlah genus. Aristoteles telah menegaskan bahw wujud tidak dapat menjsdi genus, karena genus dan deferiensia masing- masing dapat digambarkan sebagai sesuatu yang “ada” dank e-ada-an” ini meliputi segala sesuatu,bqaik yang konseptal maupun yang real.

Bagi Shadra wujud tidak basa menjadi genus atai defrensia, karena wujudlah yang menciptakan semua esensi.apapun ke”ada”an abstrak yang dimiliki oleh esensi ,tidak dimilioki oleh mereka per se- karena esensi dalam diri mereka bukan “ada” juga bukan “tidak ada, etapi karena wujud mereka maupun turunan dari wujud yang sebenarnya. Dengan kata lain, mereka bernilai dengan ke-ada-n ini ketika menjadi obyek pikiran [14]

Mulla Sadara membagi wujud dalam beberapa kateogi wujud dan terutama dalam karyanya al-Ashfar al-Arba’ah yaitu wujud yang berkaitan  (al-wujud al-irtibati), al-wujud al-nafsi (self subsistent being), yang selanjutnya dikaitkan dengan statemen  yang mengemukakan  bahwa  “man  is  a  rational  animal”. Kategori  ini  lalu dibagi  menjadi  tiga:  substansi  (jauhar0,  aksiden  (‘ard),  dan  semua  wujud  yang berskala wujud al-rabit (connectibe being) bagi semua wujud selain Tuhan. Dalam menangkap persoalan wujud, Mulla Sadra menekankan persoalan mendasar  dan  penting menjadi  tiga  yaitu;  wajib  (necessary), mungkin  (possible),  dan mumtani’ (impossibel). Dengna demikian pada gilirannya menurut Mulla Sadra wujud memiliki  pembagian-pembagian  yang  dipertautkan  dengan  spesis-spesis  (al-nau‘ wa al-rutbah).  Dengan  bahasa  lain,  maujud  dapat  dibagi  menjadi  beberap  kelompok (Sebagai  contoh,  dibagi menjadi  obyektif  dan  subyektif, wajib  dan mungkin,  abadi dan diciptakan pada waktu  tertentu,  tetap dan berubah,  tunggal dan  jamak, potensi dan  aksi,  serta  substansi  atas  aksiden). Tentu  saja  ini merupakan  pengelompokkan secara  primer,  yaiut  pengelompokkan  atas  maujud  menurut  kenyataan kemaujudannya.[15]

Filosof  yang  mengkaji  tentang  wujud  secara  kosmologik,  mengatakan bahwa gagasan atau konsep yang kita nilai dianggap sebagai subyek, dan predikatnya akan berada dalam salah satu dari tiga kategori di atas. Relasi wujud dengan gagasan atau  konsep  bisa  bersifat  wajib;  yaitu  sesuatu  itu  wajib  ada.  Kita  kemudian menyebutnya dengan wujud yang  niscaya (wajib al-wujud). Filsafat  ini membicarakan  tentang Tuhan melalui pendekatan burhanu31dari  wajib  al-wujud.  Bukti-bukti  filosofis memperlihatkan  bahwa  ada  suatu  wujud yang baginya, ketiadaan adalah absurd dan keberadaan adalah wajib. Jika relasi wujud dengan gagasan bersifat mustahil, dan kehadirannya bersifat absurd dan keberadaan adalah wajib.  Jika  relasi wujud dengan gagasan bersifat mustahil, dan  kehadirannya bersifat  absurd,  jika  menyebutnya  wujud  mustahil,  misalnya  bangun  kubus    yang  sekaligus berbentuk bola.

Kesimpulan

Bagi Shadra wujud tidak basa menjadi genus atai diferensia, karena wujudlah yang menciptakan semua esensi.apapun ke”ada”an abstrak yang dimiliki oleh esensi ,tidak dimilioki oleh mereka per se- karena esensi dalam diri mereka bukan “ada” juga bukan “tidak ada, etapi karena wujud mereka maupun turunan dari wujud yang sebenarnya. Dengan kata lain, mereka bernilai dengan ke-ada-n ini ketika menjadi obyek pikiran.[16]

[1] Armahedi Mahzar (Pengantar), Fajlurrahman, Filsafat Sadra (Terj), Bandung, Penerbit Pustaka, 1975, hlm. v
[2] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum. Akal & hati Sejak Thales Dan James, Bandung : Remaja Rosdakarya cet. Iii1993.hlm.192
[3] The  Liang Gie,  Pengantar  Filsasat  Ilmu , Yogyakarta  :  Liberty,  1991, hlm.3
[4] Seyyed Hossein nasr, Menjeleajah Dunia Modern Bimbingan  untuk Kaum Muda Muslim Bandung: Mizan, 1994. hlm.90
[5] Fuad hasa, Berkenalan Dengna Eksistensialisme, cet. V. jakarta : Dunia Pustaka Jaya, 1992, hlm.25
[6] Driyarkaya, Percikan Filsafat .Jakarta : Pembangunan, 1996, hlm..57
[7] Armehedi Mahzar,Op. Cit, hlm. v
[8] Murthada Mutahhari, Pengantarpemikiran Shadra Filsafat Hikmah, terj, Bandung: Mizan,2002, hlm. 81
[9] Muhammad baqir al Shadr, Falsafatuna, (terj.) Nur Mufid. Bandung: Mizan, 1991. Hlm. 216-221
[10] Majid Fakhry, Sejarah Filasafat Islam, terj. Mulyadi Kartanegara, Jakarta : Dunia Pustaka Jaya. 1987).hlm.419
[11] Ibid
[12] Fajlurrahman, Filsafat Sadra (Terj), Bandung, Penerbit Pustaka, 1975, hlm. 35
[13] Ibid
[14] Ibid
[15] Murtadha Muthahari, Tema-tema Penting Filsafat  Islam  ,  terj. Rifa’i hasan & Yuliani,  Bandung: Mizan , 1993.hlm. 55

Tidak ada komentar:

Posting Komentar