Label

Alam Sebagai Diksi

 


Esai Otobiografis Sulaiman Djaya

 

Tiap orang memiliki ‘pemaknaan’ versi mereka masing-masing tentang kampung halaman atau tanah kelahiran. Dan itu pun berlaku bagi saya yang juga memiliki pemahaman dan pemaknaan tersendiri tentang apa itu ‘dunia tempat saya hidup dengan kenangan dan ingatan saya sebagai seorang lelaki.

Kampung halaman bagi saya tak sekedar ruang meja baca di mana saya menyendiri, menulis, dan membaca, atau sebuah “rumah” tempat saya tidur dan makan. Lebih dari itu, kampung halaman atau tanah kelahiran bagi saya adalah ingatan dan kenangan, yang kemudian mengajari saya bahwa alam adalah juga bahasa.

Kampung halaman atau tanah kelahiran saya menyatu dengan bathin saya, karena saya mengalami “kepedihan” dalam kesahajaan dan keterbatasan kami sebagai orang-orang desa yang sederhana.

Sebagai manusia-manusia yang akrab dengan apa yang hanya diberikan oleh alam yang belum disentuh oleh kecanggihan tekhnologi dan perangkat-perangkat informasi mutakhir ketika itu. Dari alam itulah saya belajar metafora dan keluguan, kesahajaan dan keindahan, yang memberi saya kata dan diksi.

Di belakang rumah, setidak-tidaknya saat saya masih kanak-kanak, dalam jarak beberapa meter melewati pematang-pematang sawah, mengalir sungai Ciujung yang di tepiannya berbaris pepohonan dan tanaman-tanaman lainnya.

Sementara di depan rumah, mengalir sungai irigasi, sungai yang dibuat demi mengalirkan limpahan air sungai Ciujung untuk mengairi sawah-sawah di jaman kolonial Hindia Belanda, dan kemudian diteruskan perawatan dan perbaikannya di jaman Orde Baru hingga saat ini.

Dua sungai tersebut merupakan “kehidupan” kami yang bekerja dan menggantungkan kebutuhan kesehariannya dari bertani.

Dari dua sungai itulah kami mengairi sawah-sawah kami, selain tentu saja dari anugerah hujan di musim hujan. Bersama dua sungai dan sawah-sawah di sekitarnya itulah saya akrab dan hidup bersama mereka. Bersama senja, langit, cakrawala dan makhluk-makhluk bersayap yang beterbangan di keriangan dan kegembiraan udaranya.

Sebelum kehadiran tiang-tiang beton dan baja seperti saat ini untuk menyalurkan kabel-kabel listrik di setiap kampung, jalan di depan rumah begitu sepi bila magrib tiba, lebih mirip terowongan gelap karena barisan pohon-pohon lebat yang tumbuh kokoh dan rimbun di tepi sungai dan sepanjang jalannya.

Kebetulan keluarga saya memiliki tanah yang cukup luas untuk menanam Rosella, atau tanaman apa saja yang dapat dijadikan komoditas untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Bila panen tiba, ibu saya akan menggoreng biji-biji Rosella tersebut dan anak-anaknya (termasuk saya) akan membantu menumbuknya hingga menjadi bubuk kopi yang kami kemas dalam plastik-plastik mungil yang kami beli dari pasar.

Bila kami selesai mengemas bubuk Rosella tersebut, ibu saya lah yang akan menjajakannya alias menjualnya, kadangkala ada saja orang-orang yang datang sendiri ke rumah untuk membelinya.

Seingat saya, selain menanam Rosella, keluarga kami juga menanam kacang panjang. Dari hasil penjualan bubuk kopi Rosella dan kacang panjang itulah keluarga kami memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari kami dan membiayai sekolah kami.

Saya, misalnya, bisa membeli buku tulis atau buku-buku yang diwajibkan di sekolah. Singkatnya, kami hidup dari hasil mengolah tanah dan menjual komoditas yang dihidupkan oleh tanah dan alam, sebab ketika itu belum ada sejumlah pabrik seperti sekarang.

Saya juga masih ingat ketika ibu saya membuat sambal dari kulit buah Rosella yang berwarna merah itu agar sambal yang dibuat ibu cukup untuk semua anggota keluarga, sebab cabe rawit yang kami tanam tidak sebanyak seperti kami menanam singkong, ubi jalar, kacang panjang, dan Rosella.

Di saat saya sudah kuat memegang cangkul, kalau tak salah ketika saya telah duduk di sekolah menengah pertama, sesekali saya lah yang mengolah tanah dan membuat gundukan batang-batang pematang di mana kami menanam kacang dan Rosella.

Tak jarang saya juga yang menyiraminya di waktu sorehari.

Itu adalah masa-masa di tahun 1980-an ketika kami menggunakan batang-batang kayu kering untuk menyalakan dapur dan memasak. Sebab kami hanya mampu membeli minyak tanah cuma untuk bahan bakar lampu-lampu damar kami.

Selepas magrib, saya akan membawa salah-satu damar (lampu minyak) tersebut ke langgar atau ke rumah seorang ustadz kami untuk belajar membaca dan mengeja Al-Qur’an. Itu saya lakukan setelah ibu saya sendiri yang mengajari saya tentang beberapa doa penting dan mengenalkan huruf-huruf hijaiyyah dan mengajarkan saya membaca dan mengeja Al-Qur’an sebelum saya duduk di sekolah dasar yang kebetulan ada di depan rumah.

Selain itu, ibu saya juga mengajarkan saya beberapa sholawat-sholawat pendek.

Aktivitas lain yang saya lakukan adalah menunggui padi-padi dari serbuan para burung di sorehari selepas sekolah, di saat biji-biji padi itu mulai menguning. Seingat saya, saya suka sekali duduk (mungkin dari situlah saya terbiasa merenung dalam kesendirian) di dekat serimbun pohon bambu yang tumbuh rindang dan asri di dekat sawah. Saya juga menarik ujung tali yang saya pegang, beberapa meter tali yang ujung lainnya yang terikat ke orang-orangan sawah yang dibuat oleh ibu saya. Kami menyebut orang-orangan sawah dari jerami, bilahan-bilahan bambu, dan kain-kain bekas itu, dengan nama jejodog.

Demikian, dalam rekonstruksi saya saat ini, ingatan dan kenangan saya tentang kampung halaman atau tanah kelahiran saya, membathin dan menyatu dengan saya di saat-saat saya merenung dalam kesendirian di saat saya duduk di serimbun bambu tersebut.

Dalam kesendirian itulah, sesekali saya suka sekali mengarahkan pandangan mata saya ke arah langit senja. Ke arah burung-burung yang beterbangan bersama hembus udara sore hari, udara yang juga mengerakkan pepohonan bambu di mana saya berada demi menjalankan perintah ibu saya sebagai seorang anak.

Dan bila masa panen tiba, saya pun akan membantu ibu saya memotong batang-batang padi dengan alat pemotong yang mirip celurit kecil yang kami sebut arit. Dengan demikian, kehidupan masa kanak dan masa remaja saya telah sedemikian akrab dengan langit dan sawah-sawah.

Tak hanya itu saja yang membuat saya tanpa sengaja begitu terikat dengan kampung halaman dan tanah kelahiran saya. Barangkali yang dapat dikatakan sebagai “kepedihan” pertama saya adalah ketika adik perempuan yang bermata indah dan berwajah cantik meninggal karena demam.

Seingat saya, saya menangis di belakang rumah karena peristiwa tersebut. Mungkin kesedihan saya adalah karena ia adalah orang yang pertama yang begitu dekat dan akrab dengan saya, yang senantiasa bersama saya dan senantiasa menangis bila saya tinggalkan.

Dengan sedikit paparan itu, kampung halaman dan tanah kelahiran bagi saya adalah tempat di mana saya menyimpan sebuah cerita dan pengalaman “kepedihan” saya bersamanya. Ia adalah sebuah konteks dan tempat di mana ingatan dan kenangan saya berada dalam ketakhadirannya di waktu sekarang.

Ia adalah sebuah bingkai dan kanvas yang belum digambar, yang hanya bisa saya rekonstruksi saat ini ketika saya mulai belajar untuk menarasikannya dalam sekian fiksi, dalam sejumlah puisi-puisi yang saya tulis.

Ingatan dan kenangan itu memang tak ubahnya hanya upaya untuk “merekonstruksi” sebuah peristiwa dan konteks yang sebenarnya sudah tidak ada, namun jejak bathinnya masih senantiasa ada ketika saya berusaha merekonstruksinya demi sebuah fiksi –demi sejumlah puisi yang saya tulis.

Singkat kata, kampung halaman atau tanah kelahiran adalah sebuah “historiografi personal” sekaligus sebuah fiksi yang membuat saya begitu terikat dengannya. Ia adalah latar dominan yang membentuk relung bathin saya karena di sanalah saya pernah mengalami “kepedihan” saya.

Puisi-puisi Nizar Qabbani*



Hendak Kukatakan Padamu

 

Hendak kukatakan kepadamu: aku mencintaimu

kala seluruh bahasa asmara yang purba kini tiada

hingga tak ada sedikit pun yang tersisa dari ungkapan atau tindakan para pencinta

kala itu pula kewajibanku akan bermula

untuk mengubah bebatuan alam semesta

untuk mengubah arsitektur-arsitektur bangunannya

pohon demi pohon

bintang-gemintang

dan puisi demi puisi

 

Hendak kukatakan kepadamu: aku mencintaimu

kala kurasa sajak-sajakku telah berhak atasmu

kala jarak melipat dirinya antara kedua matamu dan buku-bukuku

kala udara yang kau embuskan menerobos paru-paruku

dan tangan yang kau letakkan di atas sofa mobil itu

adalah tanganku

akan kukatakan semua itu saat aku mampu

menghadirkan kembali masa kanak-kanakku, kawanan kuda, para prajurit

dan perahu-perahu kertasku

menghadirkan kembali zaman biru denganmu di tepi pantai Beirut

ketika kau mengigil bagaikan ikan di antara jari-jemariku

akan kuselimuti kau, saat kau mengantuk

dengan seprai yang terbuat dari bintang-bintang musim panas

 

Hendak kukatakan kepadamu: aku mencintaimu

kala kurasa bumi berotasi hanya untukmu

bulir-bulir gandum matang, hanya untukmu

musim-musim bergantian, hanya untukmu

sumber-sumber mata air memancar

peradaban-peradaban kian maju

burung-burung pipit bisa terbang

kupu-kupu bisa melukis

dan aku mencapai nubuwah

hanya untukmu

 

Hendak kukatakan kepadamu: aku mencintaimu

kala batas-batas akhir antara kau dan puisi telah berakhir

hingga tidur di atas kertas-kertas oretanku menjelma

hasrat sekaligus kebingungan seperti tengah tidur bersamamu

hal itu tak semudah yang kau bayangkan

sebab aku tak bisa mencintai perempuan

di luar ketukan ritme syair-syair

sebab aku tak bisa memulai percakapan dengan tubuh yang tidak bisa kueja

kata demi katanya

sepenggal demi sepenggal kalimatnya

sesungguhnya aku terbebas dari belenggu para intelektual

akan tetapi jiwaku menolak orang-orang yang tidak bisa bicara dengan cerdas

dan mata yang tidak melemparkan pertanyaan

sebab syarat hasrat yang kumiliki, terikat dengan syarat-syarat puisi

maka perempuan adalah puisi, di mana aku mati saat menuliskannya

di mana aku mati saat melupakannya

 

(Diterjemahan oleh Moh. Husain)

 

 

Ketika Aku Mencintaimu

 

Ketika aku mencintaimu

Bahasa baru rekah

Kota-kota baru, negeri-negeri baru terjelajahi.

Waktu bernafas bagai anak anjing,

Biji gandum tumbuh antara halaman buku,

Burung-burung terbang dengan sepasang lebah madu dari kerling matamu

Rombongan kafilah membawa ramuan India, datang dari sepasang payudaramu

Buah mangga berjatuhan, hutan-hutan menyimpan unggunan api

Dan berbunyilah drum orang-orang Nubi.

 

Ketika aku mencintaimu, payudaramu berguncang menahan malu,

Berubah jadi halilintar dan petir, jadi pedang, jadi badai pasir

Ketika aku mencintaimu, kota-kota Arab melonjak-lonjak dan berdemonstrasi

Melawan zaman represi

Dan zaman-zaman pembalasan melawan hukum adat.

Dan aku, ketika aku mencintaimu

Berlari melawan kebobrokan

Melawan raja lautan,

Melawan institusi-institusi gurun pasir.

Dan aku akan terus mencintaimu sampai tiba banjir dunia

Aku akan terus mencintaimu sampai tiba banjir dunia.

 

Pelajaran Menggambar

 

Anakku meletakkan buku gambarnya di depanku

dan memintaku menggambar tangkai gandum

Aku meraih pensil

dan menggambar sepucuk senapan

 

Anakku mencelaku,

ia berseru dengan gaya seorang ahli:

“Tidakkah kau tahu, Ayah, beda antara

tangkai gandum dan senapan?”

 

Kukatakan kepadanya,

“Anakku, kita pernah tahu

bentuk tangkai gandum

bentuk sekerat roti

dan mawar-mawar.

Tapi pada masa segenting ini

pohon-pohon hutan telah bergabung

dengan para tentara

sedangkan mawar-mawar

mengenakan seragam yang kusam.

 

Ketika tangkai gandum telah jadi senjata

ketika burung-burung bersenjata

budaya bersenjata

dan agama bersenjata

kau tak bisa membeli roti

tanpa menemukan peluru di dalamnya

kau tak bisa memetik mawar

tanpa durinya melukai wajahmu

kau tak bisa membeli sebuah buku

yang tak akan meledak di antara jari-jarimu.

 

Bahasa

 

Bila seorang lelaki jatuh hati

Mungkinkah terucap kata-kata purba?

Mestikah seorang perempuan

Hendaki kekasihnya

Terbaring

Antara tata bahasa dan ahli bahasa?

 

Tak ada yang kuucap

Pada perempuan tercinta

Kecuali pertemuan

Cinta adalah kata sifat yang menyelinap ke dalam koper

yang melarikan diri dari semua bahasa.

 

Cahaya Lebih Penting Dari Lentera

 

Cahaya lebih penting dari lentera

Puisi lebih penting dari buku catatan

Dan ciuman lebih penting dari bibir.

Suratku padamu

Lebih agung dan lebih bermakna dari kita berdua.

Tak lebih dari surat-surat perjalanan

Tempat orang-orang akan jelajahi

Kecantikanmu

dan juga kegilaanku.

 

Aku Taklukan Dunia Dengan Kata-Kata

 

Kutaklukan dunia dengan kata-kata,

Kutaklukan bahasa ibu,

verba, kata sifat, kalimat.

Kuhapus permulaan segala ihwal

Dan dengan bahasa baru

Yang penuh alunan irama air, pesan dari api

Kuterangi abad yang akan tiba

Dan kuhentikan waktu di sepasang matamu

Dan kuseka baris

Yang memisah

Waktu dari masa kini

 

Peramal

 

Dengan mata yang cemas

dia duduk

merenungi gelas yang terbuka

kemudian berkata,

“tak usah bersedih, anakku

kau telah ditakdirkan untuk jatuh cinta.”

anakku, siapa pun yang mengorbankan dirinya

untuk kekasihnya

adalah seorang martir.

 

telah lama kupelajari ramalan

namun tak pernah kubaca gelas seperti milikmu

telah lama aku belajar ramalan

dan tak pernah kulihat penderitaan

seperti penderitaanmu

kau telah ditakdirkan

terus berlayar dalam lautan cinta

kehidupanmu telah ditakdirkan

menjadi buku air mata

dan terus terpenjara

di antara api dan air

 

namun di balik seluruh kepedihan

di balik kesedihan yang mengurung kita

siang dan malam

di balik angin

udara yang basah

dan hembusan siklon

ada cinta, anakku

yang akan tetap

menjadi hal terbaik

dari sebuah takdir

 

akan ada seorang perempuan

dalam hidupmu, anakku

maha besar tuhan!

matanya sungguh indah

mulut dan desah tawanya

dipenuhi bebungaan dan melodi

kecintaan dan kegilaannya pada kehidupan

melingkupi dunia

 

seorang perempuan yang kau cintai

adalah seluruh duniamu

namun langitmu akan tetap mendung

jalanmu tertutup,

tertutup, anakku

 

kekasihmu, anakku

tertidur dalam istana

yang dijaga ketat

siapa pun yang mencoba

mendekati dinding-dinding tamannya

atau memasuki ruangannya

dan menawarkan diri padanya

atau mengurai sanggulnya

hanya akan membuatnya musnah

hilang, anakku

 

kau akan mencarinya ke manapun, anakku

kau akan bertanya pada gelombang laut

kau akan bertanya pada pantai

kau akan mengarungi samudra

dan air matamu mengalir seperti sungai

dan di akhir kehidupanmu

kau akan mengetahui bahwa

kekasihmu tak memiliki tanah,

tempat tinggal, ataupun alamat

 

saat itu kau tersadar

kau telah mengejar

jejak-jejak kabut

 

akan sulit, anakku

mencintai perempuan

yang tak memiliki tanah

ataupun tempat tinggal

 

Kita Akan Dianggap Teroris

 

kita akan dianggap teroris

jika kita berani menuliskan

puing-puing tanah air

yang berhamburan dan membusuk

dalam kemunduran dan kekacauan

 

tentang sebuah tanah air

yang tengah mencari tempat

dan tentang sebuah bangsa

yang tak lagi memiliki wajah

 

tentang tanah air

yang tak mewarisi apapun

dari puisi-puisi masa lalunya

yang luar biasa

selain ratapan dan elegi

 

tentang tanah air

yang tak memiliki apapun

dalam horizonnya

 

tentang kebebasan

beragam kelompok dan ideologi

 

tentang sebuah tanah air

yang melarang kita

membeli surat kabar

atau mendengarkan segala sesuatu

 

tentang sebuah tanah air

yang melarang burung-burung bernyanyi

 

tentang sebuah tanah air

yang para penulisnya

terpaksa menulis

dengan tinta transparan

agar terhindar dari kekejaman

 

tentang tanah air

yang menyerupai puisi di negeri kita

disusun, diedarkan, hilang,

dan tak memiliki batasan

dengan lidah dan jiwa orang asing

memisahkan lelaki dan tanahnya

menghapus seluruh keadaan mereka

 

tentang sebuah tanah air

yang dinegosiasikan di sebuah meja

tanpa harga diri

atau pun sepatu

 

tentang sebuah tanah air

yang tak lagi memiliki lelaki-lelaki tabah

dan hanya berisi para wanita

 

kegetiran di mulut kita

dalam kata-kata kita

dalam mata kita

akankah kekeringan juga menjangkiti jiwa kita

sebagai sebuah warisan

dari masa lalu?

 

tak seorang pun tersisa di negeri kita

bahkan sedikit kemenangan

tak seorang pun berkata ‘tidak’

di hadapan mereka

yang menyerahkan tempat tinggal,

makanan, dan mentega kita

mengubah sejarah kita yang berwarna

menjadi sebuah sirkus

 

kita tak memiliki satu pun

puisi yang jujur

puisi yang tak kehilangan kemurniannya

di tangan para penguasa harem

 

kita telah terbiasa terhina

kita tumbuh dengan penuh kehinaan

apakah arti seorang lelaki

jika ia merasa nyaman

dalam keadaan seperti itu?

 

aku cari-cari buku sejarah

aku cari-cari orang-orang luar biasa

yang akan mengeluarkan kita

dari kegelapan

dan menjaga perempuan-perempuan kita

dari kekejian dan kekejaman

 

aku mencari lelaki masa lalu

namun yang kutemukan

hanyalah kucing pengecut

yang takut pada jiwa mereka sendiri

dan kekuasaan para tikus

 

apakah kita dipukul

oleh nasionalisme buta

atau kita menderita

buta warna

 

kita akan dianggap teroris

jika kita menolak mati

di bawah kekuasaan tirani israel

yang merintangi persatuan kita

sejarah kita

injil dan quran kita

tanah para nabi kita

jika semua itu adalah dosa

dan kejahatan kita

maka terorisme

bukan sesuatu yang buruk

 

kita dianggap teroris

jika kita menolak

disingkirkan oleh orang-orang biadab,

mongol maupun yahudi

 

jika kita memilih menghancurkan

kaca-kaca dewan keamanan

yang dihuni oleh raja caesura

 

kita akan dianggap teroris

jika kita menolak berunding

dengan serigala

dan berbicara pada pelacur

 

amerika menentang budaya manusia

karena tak memiliki sesuatu

dan melawan peradaban

karena membutuhkan sesuatu

amerika adalah bangunan raksasa

namun tak memiliki dinding

 

kita akan dianggap teroris

jika kita menolak arus zaman

ketika amerika yang arogan, kaya, dan kuat

menjadi penerjemah orang-orang yahudi

 

Yerusalem (Al-Quds)

 

Aku menangis

hingga air mataku mengering

aku berdoa

hingga lilin-lilin padam

aku bersujud

hingga lantai retak

aku bertanya

tentang Muhammad dan Yesus

 

Yerusalem,

O kota nabi-nabi yang bercahaya

jalan pintas

antara surga dan bumi!

Yerusalem, kota seribu menara

seorang gadis cilik yang cantik

dengan jari-jari terbakar

 

Kota sang perawan,

matamu terlihat murung.

Oasis teduh yang dilewati sang Nabi,

bebatuan jalananmu bersedih

menara-menara masjid pun murung.

 

Kota yang dilaburi warna hitam,

siapa yang akan membunyikan

lonceng-lonceng makam suci

pada hari Minggu pagi?

siapa yang akan memberi mainan

bagi anak-anak

pada perayaan natal ?

 

Kota penuh duka,

O, air mata yang sangat besar

bergetar di kelopak matamu,

siapa yang akan menyelamatkan Injil?

siapa yang akan menyelamatkan Quran?

 

siapa yang akan menyelamatkan Kristus,

siapa yang akan menyelamatkan manusia?

Yerusalem, kotaku tercinta

 

esok pepohonan lemonmu akan berbunga

batang dan cabangmu yang hijau

tumbuh dengan gembira

dan matamu berseri-seri.

merpati-merpati yang bermigrasi

akan kembali ke atap-atapmu yang suci

dan anak-anak akan kembali bermain

 

orang tua dan anak-anak akan bertemu

di jalananmu yang berkilauan

kotaku, kota zaitun dan kedamaian.

 

*Nizar Qabbani lahir 21 Maret 1923 di Damaskus, Suriah. Sastrawan Arab modern terbesar yang telah banyak melahirkan berbagai karya sastra dan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia. Ia pernah bekerja sebagai diplomat. Perjalanan hidupnya banyak mengalami ketertekanan dan penderitaan, berawal dari kematian saudara perempuannya karena bunuh diri akibat menolak perjodohan dengan lelaki yang tidak dia cintai, kematian anak lelakinya saat sedang kuliah kedokteran di Mesir, dan kematian istrinya, Bilqis, wanita asal Irak yang terbunuh ketika perang sipil meletus pada tahun 1981 di Lebanon. Nizar Qabbani meninggal pada 1 Mei 1998. Ia dijuluki ‘Raja Penyair Arab’.

Sulaiman Djaya | Calendar | Nikmah Sarjono & Rosario Alamo

 

Sulaiman Djaya

Calendar

Once again, layers of years are spread
upon faded and washed out ancient colors.
January comes to you, leaving behind many days
of embroidering silent, before whispers of vagueness turn into boredom.

But I only wish to stop by for a while
on fate that waves its hand.
Like the first night train that comes,
approaching your house.

I only wish to stop by for a moment
at a line of rain, writing poems for you to sing,
contemplating on the dimness of a street lamp, where the dates fell off
and you start to miss your no-longer-desolate moments.

Translating from Indonesian into English by Nikmah Sarjono 

 




Jiwa Anak Desa


Esai Sulaiman Djaya

Seseorang dibentuk oleh lingkungannya. Oleh masyarakat dan kemajuan peradaban serta ilmu pengetahuan di mana ia tinggal. Demikian penyederhanaan yang saya lakukan ketika membaca filsafat sejarahnya Friedrich Hegel dan filsafat manusia-nya Martin Heidegger ketika aktif di lembaga kajian mahasiswa saat masih numpang duduk di sebuah kelas di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Demikian pula, pikiran dan kecerdasan seseorang dibentuk oleh resource atau modal dan ketersediaan sosial-kulturalnya. Sebagai contoh, seseorang yang hidup di lingkungan yang lembaga riset, laboratorium, dan universitas-universitasnya lebih canggih dan maju akan lebih memiliki peluang besar untuk mengembangkan kecerdasan saintifiknya karena keterwadahan bakatnya oleh lembaga sosial dan institusi budaya dii tempatnya hidup dan berada.

Saya sendiri hidup di sebuah dunia dengan kondisi sosial dan kultural masyarakat dan alam pedesaan saya, karena saya dilahirkan di keluarga petani di sebuah jaman ketika listrik dan internet belum menjadi bagian dalam kehidupan kami sebagai orang-orang desa. Tapi berkat kehidupan di pedesaan itulah, saya atau katakanlah jiwa saya, intim dengan alam.

Bersama teman-teman saya, saya berburu belalang di saat hujan mengguyur sawah-sawah dan pematang. Kami serahkan belalang hasil buruan kami itu kepada ibu-ibu kami untuk digoreng sebagai lauk menu makan kami. Rasanya enak dan gurih. Itulah salah-satu kegembiraan saya di masa kanak-kanak.

Dunia bermain kami itu bertambah leluasa dan bebas ketika libur panjang, ketika kami tak perlu berangkat ke sekolah untuk waktu yang cukup lama, sehingga kami bisa melakukan apa saja yang ingin kami lakukan, seperti bermain sepakbola di sawah atau di lapangan upacara di sekolah kami. Di waktu yang lainnya kami akan menerbangkan layang-layang kami, juga di hamparan sawah-sawah dan pematang, yang kami kendalikan dengan seutas benang yang cukup panjang hingga layang-layang kami itu dapat terbang tinggi seperti pesawat terbang atau seumpama para burung yang seringkali beterbangan secara berkelompok di atas hamparan sawah dan pematang. .

Kami punya banyak waktu bermain, meski kadangkala saya harus juga menyempatkan mematuhi ibu saya untuk membantunya bekerja di sawah. Sekedar mengerjakan apa saja yang sesuai dengan kemampuan saya tentu saja, seperti mengangkut batang-batang padi yang telah dipotong dengan arit oleh ibu saya untuk ditumpuk menjadi satu gundukan sehingga akan memudahkan ibu saya mengurai biji-biji padinya dengan cara memukul-mukulkannya ke sebuah alat yang disebut gelebotan.

Sebagai kanak-kanak, kami juga bisa kecewa jika permintaan dan keinginan kami tidak dapat dipenuhi oleh orang tua-orang tua kami. Terlebih lagi orang tua-orang tua kami hanya bekerja sebagai petani yang memiliki pendapatan tak tetap, berbeda dengan mereka yang bekerja di pemerintahan dan pabrik-pabrik atau mereka yang mendapat gaji dengan pekerjaan mereka, semisal para guru Sekolah Dasar kami. Ibu saya sendiri bahkan acapkali harus menunda bayaran iuran (SPP) sekolah karena harus memprioritaskan untuk makan kami sehari-hari.

Keakraban saya dengan lumpur, padi-padi, rumput, sawah, pematang, para burung, air, dan yang lainnya, telah sedemikian membatin dan menjadi bagian dari perenungan-perenungan saya ketika saya tidak lagi seorang bocah. Tapi, sekali lagi, penting untuk dipahami bahwa keintiman pada masa kanak-kanak itulah yang telah menjadikan saya sebagai seorang yang memandang alam bukan sebagai objek yang harus dikuasai, tapi dijaga dengan rasa cinta, sebab derita dan kerusakannya adalah derita dan kerusakan kehidupan manusia.

Alam dan pedesaan-lah yang telah memberi saya bahasa dan metafora. Kejujuran, kecerdasan, dan kepekaan. Mengajarkan saya bagaimana ketulusan dan kejujuran diwujudkan, sebagaimana kejujuran dan ketulusan orang-orang bersahaja yang tak mengurusi dana anggaran yang mereka curi, di saat mereka adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi. Rasionalitas instrumental mereka ternyata telah membunuh kecerdasan dan kejujuran mereka. Sejumlah anomali karakterteristik dari apa yang disebut modernitas.

Alam dan pedesaan pula yang telah mengajarkan saya untuk merenung dan berpikir. Di sore hari, misalnya, ketika saya menjalankan tugas dari ibu saya untuk menunggui padi-padi yang telah menua dan menguning dari serbuan para burung, ada capung-capung selepas hujan, juga riap sejumlah kupu-kupu yang adakalanya terbang dan adakalanya singgah di kelopak bunga. Getaran-getaran sayap mereka yang hampir tak terlihat seakan-akan mengajarkan saya tentang kegembiraan. Mereka membentuk gerakan-gerakan yang mirip gelombang-gelombang kecil, gelombang-gelombang yang meliuk di atas semak belukar, rumput-rumput, dan ilalang, di saat buih-buih masih berjatuhan dan beterbangan. Seakan-akan mereka asik bercanda dengan hembus angin dan lembab cuaca.

Sementara itu, di barisan pohon-pohon, masih terdengar kicau burung-burung yang merasa kedinginan, dingin yang meresap pada bulu-bulu mereka. Tentulah di saat-saat seperti itu matahari sudah enggan menampakkan diri. Di saat-saat seperti itu, sudut-sudut langit dan pematang-pematang sawah lebih mirip figur-figur bisu. Dalam cuaca seperti itu sebenarnya saya tak hanya dapat memandangi capung-capung yang dapatlah kita umpamakan sebagai para peri mungil, sesekali juga kupu-kupu atau belalang-belalang yang meloncat-loncat dan yang terbang.

Saya tergoda untuk membayangkan getaran-getaran sayap-sayap mereka yang tipis itu adalah kiasan dari kematian yang menyamar sebagai keindahan dan kelembutan. Saya tergoda untuk mengandaikan mereka adalah maut yang bermain-main itu sendiri. Saya akan menyebut capung-capung itu sebagai peri-peri kecil yang tengah mencandai kematian, sosok kematian yang memang tidak terlihat oleh mata telanjang dan hanya bisa dipahami oleh keintiman bathin kita.

Sedemikian membatin-nya impressi alam kepada jiwa saya, saya di kemudian hari disadarkan tentang kontradiksi masyarakat modern yang memperkosanya. Korporasi dan kapitalisme, demikian para pelakunya, yang lahir dari hasrat dan cara berpikir antroposentris dan paradigma rasionalitas instrumental masyarakat modern yang justru mendaku sebagai masyarakat yang tercerahkan, tapi malah melahirkan karakteristik dan sifat rakus dan korup.

Seperti itu pula, masyarakat-masyarakat adat dan tradisional yang dulu patuh dengan kearifan lokal ekologis mereka, kini ikut juga terbawa arus anomali karakter masyarakat dan dunia modern. Baduy Banten, sebagai contohnya, pelan-pelan mulai tergerus keyakinan dan kepercayaan local wisdom mereka ketika mereka menjalani rutinitas seba ke Kota Serang, Banten tiap tahunnya, yang karena seba itu generasi muda mereka berjumpa dengan konsumerisme dan materialisme masyarakat kota Serang yang menjadikan mall-mall dan pusat-pusat perbelanjaan sebagai tempat-tempat ritual baru. Terlebih lagi, ritual tahunan Seba Baduy itu sarat dengan motif dan kepentingan ekonomis atau paradigma rasionalitas instrumental pemerintah provinsi Banten melalui dinas terkait sebagai ‘komoditas’ pariwisata. Belum lama ini, sebagai contoh, kejahatan (pembunuhan) juga telah hadir di lingkungan masyarakat Baduy Banten, sesuatu yang sebelumnya tak ada.

Modernitas yang mereka banggakan lahir dari pencerahan Eropa itu ternyata melahirkan anomali karakteristik dalam diri manusia, seperti watak eksploitatif di kalangan para borjuis dan korporat serta budaya konsumtif di kalangan masyarakat kebanyakan. Bersama dengan itu semua adalah produksi sampah (residu) yang mengancam dan merusak lingkungan dalam skala dan ukuran yang juga sangat mengkhawatirkan.

Kritik filosofis terhadap paradigma antroposentrisme modernitas dan rasionalitas instrumental, serta perspektif ekologis dalam memandang dunia dan semesta, justru telah disiapkan oleh filsafat realitas dan metafisika-nya Mulla Sadra, yang kelak disuarakan pula oleh Fritjof Capra yang menimba kearifan Timur itu, bahwa adanya semesta merupakan seumpama satu tubuh dan manusia hanyalah salah-satu dari ‘ekosistem akbar’ dunia dan semesta.