Ketika Pesawat Tanpa Awak Sentinel Amerika Dipaksa Landing Oleh Iran


Pesawat pengintai RQ-170, atau Sentinel, atau yang disebut dengan Beast of Kandahar, terperangkap dalam jebakan sistem pertahanan elektronik udara Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran. Kontrol pesawat tersebut berhasil direbut dari tangan militer Amerika Serikat dan sukses didaratkan dengan tingkat kerusakan minimum. Setelah kesuksesan ini, para pejabat Amerika masih kaget dan cemas akan kemampuan hebat militer Iran. Karena pesawat RQ-170 merupakan pesawat tanpa awak Amerika paling canggih yang ada selama ini.

RQ-170 memiliki berat sekitar 3850 kilogram dan daya jelajahnya hingga 1500 kilometer. Satu dari tugas penting pesawat ini adalah mematikan sistem radar dan komunikasi musuh. Badan pesawat ini dibuat dari bahan khusus yang mampu membuatnya tidak dapat dideteksi oleh radar. Mesinnya dibuat dengan teknologi modern dan komplek, sehingga mampu membuatnya terus menerus di udara hingga beberapa hari.

Pesawat RQ-170 dapat terbang dengan pelbagai kecepatan yang telah diatur dan bahkan bisa tetap berada di udara tanpa bergerak. Pesawat mata-mata AS ini memiliki kamera dan antena pengirim canggih. Pesawat ini mampu merekam gambar hingga radius 250 kilometer dan mengirimkannya ke pusat komando. Gambar yang diambil sangat jelas, sekalipun dari jarak yang amat jauh. Saking canggihnya pesawat ini, pemerintah Amerika tidak memberikannya kepada Pentagon dan hanya beberapa unit yang diserahkan kepada Dinas Rahasia Amerika (CIA).

Begitu diumumkan bahwa pesawat ini telah dikontrol dan direbut oleh Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran di kedalaman 250 kilometer teritorial Iran, sebagian media Amerika bahkan memberikan kemungkinan akan ada aksi militer AS untuk mengambilnya kembali atau menghancurkannya. Langkah itu harus dilakukan guna mencegah terungkapnya teknologi canggih yang ada pada pesawat ini. Namun pada akhirnya diberitakan bahwa para pejabat Gedung Putih akhirnya memilih tidak melakukan aksi apapun, mengingat mereka tidak dapat memprediksi reaksi yang akan dilakukan Iran.

Reaksi Barack Obama, Presiden Amerika dan Hillary Clinton, Menteri Luar Negeri Amerika pada akhirnya mereaksi direbutnya kontrol pesawat RQ-170 oleh Iran dan meminta agar Iran sudi menyerahkan pesawat itu. Pernyataan ini membuktikan pekerjaan besar yang telah dilakukan oleh para pakar perang elektronik Angkatan Bersenjata Iran dalam mengontrol dan mengambil pesawat itu. Dengan mengetahui informasi mengenai pesawat canggih ini, dapat diketahui seberapa besar kekuatan satuan perang elektronik Amerika dalam perang cyber.

Para pakar militer Iran di bidang elektronik dan komputer dalam operasi mengambil kontrol pesawat RQ-170 ini pada awalnya memutuskan hubungan pesawat ini dengan pangkalan Amerika. Pesawat mata-mata canggih AS ini punya dua sistem otomatis saat menghadapi masalah; pertama secara otomatis kembali ke pangkalannya dan kedua, menghancurkan dirinya sendiri. Di sini, para pakar perang elektronik Iran pada tahap kedua mematikan sistem penghancur dirinya sendiri. Sementara pada tahap ketiga mengontrol pesawat ini hingga ke darat dengan kerusakan yang sangat minim. Pada tahap akhir, melindungi informasi yang dimiliki pesawat in. Karena seketika hubungan dengan komando terputus, pesawat ini punya sistem otomatis untuk menghapus segala informasi yang ada padanya.

Operasi menguasai pesawat mata-mata RQ-170 menunjukkan kesiapan penuh Iran dalam perang elektronik dengan Amerika. Sementara Gedung Putih dalam beberapa waktu belakangan menebar ancaman perang elektronik untuk mematikan persenjataan militer dan instalasi-instalasi industri Iran. Sebelumnya, Amerika telah memulai perang cyber terhadap Iran dengan menyebarkan virus Stuxnet guna menghentikan aktivitas reaktor nuklir Bushehr. Tapi dalam perang cyber ini para pakar Iran berhasil mengalahkan Amerika dan membuat malu Gedung Putih.

Pemerintah Amerika dan sekutunya hingga saat ini menganggap remeh kemampuan pemerintah Iran di bidang perang elektronik. Namun operasi mengontrol pesawat canggih RQ-170 menjadi bukti bahwa Iran juga sangat maju dalam perang elektronik. Karena operasi pelik semacam ini membutuhkan radar canggih dan super komputer untuk membuka sandi-sandi. Artinya, Iran telah memiliki radar modern dan super komputer yang mampu membuka kode-kode keamanan dan sensitif pesawat RQ-170.

Melacak, mengontrol, mengarahkan dan pada akhirnya menurunkan pesawat canggih Amerika RQ-170 tanpa banyak kerusakan merupakan keberhasilan Iran dan capaian besar. Tentu saja apa didemonstrasikan militer Iran baru sebagian dari kemampuannya. Menurut para pakar masalah strategis, kemajuan di bidang elektronik dan cyber penentu perang militer di masa depan. Kontrol Iran atas pesawat canggih AS, RQ-170 jelas-jelas membuat Amerika dan sekutunya kebingungan.

Republik Islam Iran yang selama ini diembargo sedemikian rupa pada akhirnya mampu mengontrol pesawat mata-mata paling canggih AS. Kenyataan ini membuat mereka terbuka matanya betapa Iran telah mengalami kemajuan luar biasa di bidang ini. Hal ini yang membuat para pejabat politik dan militer Washington dan sekutu Amerika menjadi sangat cemas. Sekaitan dengan hal ini, Brigjend Salami, Wakil Pasdaran Iran menjelaskan bagaimana cara mengontrol pesawat RQ-170 dan hal ini menghilangkan banyak ketidakjelasan selama ini. Penjelasan itu menjadi bukti kuat akan kemampuan Iran dalam perang elektronik.

Mengenai cara mengontrol pesawat mata-mata Amerika ini, Brigjend Salami mengatakan, " Pesawat ini dikontrol oleh sistem sekunder. Ini sebuah teka-teki yang harus dipikirkan oleh Amerika dan yang lain." Urgensi masalah ini dapat dilihat dari penyusupan terpisah Iran terhadap sistem kontrol pesawat ini di pangkalan militer sebagai contoh nyata kemampuan elektronik Iran. Surat kabar The Nation dalam sebuah laporannya di bidang ini menulis, intelijen Iran mengawasi terbangnya pesawat-pesawat Amerika yang terbang di atas Pakistan dan Afghanistan dengan ketelitian luar biasa. Para pemuda Iran berlatih keras tanpa kenal lelah hingga meraih kemampuan melakukan operasi ini.

The Nation menulis, ketika Iran mampu menyusup ke sistem informasi Amerika, dengan mudah mereka menguasainya. Menyusupi sistem software Israel sangat mudah bagi Iran. Terlebih lagi sistem Israel telah berkali-kali disusupi oleh Hizbullah. Ditambahkan lagi, Iran dengan mudah menyusup ke dalam sistem komputer Eropa dan Amerika. Harus dikatakan juga bahwa ketika sistem yang dipakai pada satelit, radar dan rudal lebih mudah ketimbang yang dipakai pesawat RQ-170, maka dengan mudah Iran akan menguasai semua itu. Kepada pemerintah Pakistan, penulis koran The Nation menulis, Pakistan harus belajar dari Iran bagaimana menghadapi musuh dan memperlakukannya. Iran mengontrol pesawat mata-mata Amerika dalam waktu yang tepat.

Fakta-Fakta Pasca Pemecahan Sandi Sentinel oleh Iran

Panglima Angkatan Udara Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran), Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh, Senin (10/12/2012) mengkonfirmasikan pemecahan seluruh sandi pesawat tanpa awak RQ170 "Sentinel". Pesawat tanpa awak siluman itu ditangkap pasukan pasdaran Iran tahun lalu. Anti-radar bukan satu-satunya keunggulan pesawat ini, masih banyak teknologi canggih lain yang terpasang di dalamnya. Hajizadeh mengatakan, motor pesawat ini dan sistem pemanasnya dirancang sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan perbedaan suhu dan oleh karena itu pesawat ini tidak terdeteksi radar.

Seraya menyinggung komunikasi konstan pesawat ini dengan sistem satelit, Hajizadeh menegaskan, pada bagian suara pesawat ini, digunakan sistem yang membuatnya sulit terdeteksi oleh sensor suara, sementara dalam teknologi pewarnaan, ketika pesawat ini terbang dan mencapai ketinggian tertentu, maka pesawat ini sudah tidak dapat dilihat. Sentinel tidak mengeluarkan asap ketika terbang dan seluruh sensor yang terpasang di pesawat ini berkerja secara spektrum yang dapat mendeteksi tipe dan bahkan bentuk fisik benda-benda di darat melalui refleksi gelombang.

Sebagai contoh, RQ170 dapat mendeteksi sebuah tank dalam kamuflase. Pesawat ini bahkan dapat mendeteksi jenis tanah dan kedalaman air. Seraya menekankan bahwa sandi di seluruh sistem dan hardware pada Sentinel telah dipecahkan dan seluruh informasi di dalamnya juga telah terekstraksi, Hajizadeh mengatakan, "Tidak ada satu hal pun yang tidak kami ketahui dalam pesawat ini dan secara bertahap kami juga mengetahui kemana saja pesawat ini pergi. Menurut pejabat Pasdaran ini, sebelum pilpres Amerika Serikat, orang-orang Zionis bertemu dengan Obama dan mereka mengkritik Presiden AS karena pasif terhadap masalah nuklir Iran, akan tetapi Obama mengatakan kepada mereka bahwa misi RQ170 adalah untuk mengawasi instalasi nuklir Iran dan Washington telah mengeluarkan dana besar untuk program ini.

"Sekarang kami telah menguras seluruh informasi darinya dan diketahui bahwa misi pesawat ini tidak ada kaitannya dengan nuklir Iran," katanya. "Ini membuktikan bahwa masalah nuklir Iran hanya dijadikan alasan oleh Barat." Menjawab pertanyaan tentang proses penangkapan RQ170, Hajizadeh mengatakan, "Kami tidak bisa menyebutkan sejumlah masalah dalam hal ini dan Amerika Serikat untuk sementara harus menanti untuk memahami masalah ini." Ditanya tentang bagian bawah RQ170 yang rusak, Hajizadeh mengatakan, "Dari sisi ketebalan pesawat ini sedemikian tipis sehingga jika dilihat secara horizontal tampak seperti garis, dan ini merupakan salah satu kriteria pesawat anti-radar."

"Di bagian bawah pesawat ini hanya ada ruang untuk rodanya dan karena mendarat di gurun rodanya rusak, akan tetapi bagian bawahnya tidak rusak dan hal ini juga diketahui oleh orang-orang Amerika." Komponen dan sistem pesawat ini ketika dalam misi muncul seperti teleskop di bagian bawah dan setelah misi, semuanya kembali ke dalam. "Di masa mendatang, jika tidak ada masalah-masalah rahasia, kemungkinan akan kami tunjukkan foto-foto lain dari pesawat ini berikut kompenennya."

Seraya menegaskan bahwa dengan penangkapan pesawat tanpa awak ini maka Iran memiliki teknologi canggih pesawat tanpa awak dan sistem spionase, serta mengatakan, "Bahwa sekarang kami hanya akan melakukan reverse-engineering saja, merupakan sebuah pembahasan mendasar dan kami berusaha untuk menggunakan teknologi dalam pesawat ini secara maksimal, meski demikian indigenisasi sebagian teknologinya dapat menelan waktu tahunan karena sistem ini juga dimiliki banyak negara maju."

Panglima Angkatan Udara Pasdaran ini menepis isu bahwa pesawat tanpa awak Ayub yang dimiliki Hizbullah menggunakan komponen dan teknologi RQ170 dan mengatakan, "Pesawat tanpa Ayub diproduksi 10 tahun lalu di Iran dan membuktikan bahwa kami telah memiliki teknologi ini sejak kala itu." "Radar-radar Israel tidak dapat mendeteksi pesawat tanpa awak Ayub. Melalui pemilihan jalur, target dan waktu pengumumannya, Hizbullah mengacu target lain dan mengetahui bahwa pesawat ini dalam perjalanannya akan terdeteksi, akan tetapi mereka mengacu target lain dan mereka telah mencapainya."

Menyinggung penangkapan pesawat tanpa awak ScanEagle, Hajizadeh menjelaskan, "Kami memiliki pesawat tanpa awak tipe ini atau dari tipe Shadow buatan Amerika yang sebagiannya jatuh karena kerusakan teknis dan sebagian lain terjebak sistem kami termasuk di antaranya Scan Eagle, dan sekarang banyak pesawat tanpa awak seperti ini yang telah diproduksi di dalam negeri, dan penangkapannya bukan hal yang baru bagi kami." "Amerika Serikat mengetahui dengan baik kemampuan kami. Ketika pesawat tanpa awak mereka jadi sasaran serangan jet-jet tempur kami di atas wilayah Teluk Persia, Amerika menunjukkan sikap merendahkan dengan menyatakan bahwa pesawat tersebut tidak dipasang sistem roket.

Media Barat Akhirnya Akui Keberhasilan Iran Pecahkan Sandi RQ170

Sejumlah media Barat akhirnya terpaksa mengakui kemampuan Iran untuk memecah sandi data pada pesawat tanpa awak siluman RQ170 atau Sentinel milik Amerika Serikat yang berhasil diciduk oleh militer Iran. FNA (7/2/2013) melaporkan, muncul berbagai reaksi di media massa Barat pasca perilisan salah satu rekaman video yang berhasil dipecahkan Iran dari memori RQ170. John Reid, penulis ternama di Foreign Policy dalam artikelnya mencatat bahwa pada tahap pertama dirinya menyangsikan rekaman video tersebut, namun semakin lama diperhatikan dengan lebih teliti, video itu mengikis keraguannya. Reid lantas mengemukakan berbagai dalih teknis terkait pernyataannya itu.

Dikatakannya bahwa Iran memang telah berhasil mengorek seluruh informasi dari pesawat tanpa awak mutakhir AS yang konon sandinya sulit dipecahkan. Di lain pihak CNN, mereaksi video tersebut dengan mengemukakan berbagai keraguan dan mengklaim tidak dapat memberikan pendapat dalam hal ini. CNN juga menyatakan tidak berhasil mengorek opini para pakar di Pentagon terkait video tersebut. Russia Today dalam laporannya menyebutkan, Iran telah memberikan bukti-bukti kongkret soal keberhasilannya memecah sandi pada pesawat RQ170. Pengakuan serupa juga dikemukakan oleh Businnes Insider. [Radio Iran-Indonesia/IRIB] 


Andai Terjadi Perang Dunia Ketiga


Oleh Igor Panarin*

Haruslah diakui, pengamatan ini hanya berbasis asumsi –bahwa jika Amerika Serikat (AS) dan para sekutunya memaksakan kehendak menjalankan roadmap (peta jalan) penaklukkan dunia via Jalur Sutra (Timur Tengah dan Afrika Utara) sesuai paparan Wesley Clark (2005) di Pentagon dahulu, maka izinkanlah saya membuat analisa kecil-kecilan dan GARIS BESAR ke depan perihal “peta politik global” dekade 2012 dan tahun berikutnya. Namun bila AS dan sekutu mundur dari Jalur Sutra, maka sudah barang tentu ramalan ini pun gugur dengan sendirinya. Adapun prakiraan tersebut adalah sebagai berikut:

[1] Syria dan sekitarnya bakal menjadi pemicu sekaligus proxy war (lapangan tempur) Perang Dunia (PD) III di Abad 21 antara AS dan sekutu [NATO, ISAF, P-GCC, IDF dan lain-lain] Versus Syria, Iran, Hizbullah –yang dibantu oleh Rusia, Cina, Venezuela, Kuba dan lainnya.

[2] Israel bakal hancur lebur –bahkan mungkin terhapus dari peta dunia, lalu digantikan oleh Hamas-Fatah, atau Pemerintahan Palestina Baru yang lebih kondusif dan konstruktif bagi Dunia Arab dan sekitarnya.

[3] US Dollar tak lagi dipercaya dan tidak digunakan oleh dunia. Uniknya, sikap “menolak dolar” ini justru dipelopori Cina dan bahkan Jepang itu sendiri selaku sekutu dekat AS di Asia (aneh dan fenomenal?). Dollar kembali ke negeri asalnya. Inilah “tsunami dollar” yang diperkirakan menjadi momentum munculnya revolusi sosial di negeri Paman Sam.  Skenario keruntuhan Dinasti Amerika ditandai dengan merebaknya kerusuhan massa dimana-mana, dan niscaya AS terpecah–belah menjadi beberapa negara merdeka sebagaimana yang saya ramalkan dan saya katakan di beberapa media. Sebabnya ada beberapa “kekuatan luar” yang masuk juga berkepentingan dalam revolusi tersebut.

[4] Uni Africa semakin kokoh membentuk kekuatan tersendiri (new emerging force) yang mempunyai bargaining position tinggi di dunia –terutama terhadap Dunia (Uni) Eropa dan sekitarnya dalam koridor lain serta kepentingan selain militer (asimetris).

[5] Keruntuhan AS mengakibatkan hubungan antar negara di Asia khususnya Asia Tenggara lebih mesra dan soft dibanding era sebelum-sebelumnya baik formal maupun forum non formal –terutama pihak-pihak yang sering bertikai seperti Malaysia–Indonesia. Malaysia tak lagi berani menebar “provokasi”-nya di perairan Indonesia dikarenakan pudarnya peran International Security Assistance Force (ISAF), andalannya beberapa dekade lalu.

[6] Sikap Singapura pun berubah “sopan” sebab keangkuhannya selama ini ternyata didukung oleh super power AS dan para adidaya Barat lainnya –serta menganggap seolah-olah dirinya adalah “Israel”-nya Asia.

[7] Bagaimana dengan Indonesia? Diperkirakan Indonesia akan bangkit dari keterpurukannya selama ini. Hal terpuruknya Indonesia disebabkan sikapnya yang selalu tunduk kepada Amerika, padahal jika negara ini tahu sedikit saja akan posisi dan potensinya maka akan menjadi negara yang sangat mandiri dan maju. Tapi bersamaan dengan keruntuhan Amerika dan Eropa negara ini akan menemukan kembali kapabilitasnya. Entah dengan cara apa dan bagaimana. Maka ibarat putri raja bangun dari tidur panjang, melenggang tanpa bersolek pun tetap mempesona dunia.

Di awal kebangkitan, Indonesia mutlak bersikap keras lagi tegas –terutama terhadap organisasi massa (ormas) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang selama ini gencar mempromosikan isu-isu yang pada dasarnya “menginduk” kepada Amerika dan sekutu Baratnya, atau pun terikat dengan kontrak jaringan LSM asing. Diyakini akan ada langkah-langkah audit oleh lembaga negara atas kebijakan pemerintah secara ketat, cermat lagi teliti atas aliran dana yang selama ini dinikmati oleh segelintir oknum individu, ormas dan LSM ‘komprador’ asing tersebut.

Tetapi, ramalan tetaplah ramalan. Hukumnya boleh percaya boleh tidak. Artinya jangan sekali-kali diyakini sepenuh hati.  *Igor Panarin adalah ilmuwan asal Rusia dan pengamat politik dunia. Selama ini banyak di antara hasil pengamatannya yang menjadi kenyataan. 


Khutbah Nabi Saw di Ghadir Khum


Inilah khutbah Nabi Muhammad SAWW di Ghadir Khum pada 18 Dzulhijjah 10 Hijriah atau yang dikenal Khutbah Haji Wada’ (Haji Perpisahan)

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala Puji bagi Allah yang tinggi dalam keesaan-Nya, dekat dalam ketunggalan-Nya, perkasa dalam kekuatan-Nya, agung dalam keberadaan pembantu-pembantu utama-Nya, Maha Tahu akan segala sesuatu, sementara Dia tetap di tempat-Nya; menundukkan seluruh makhluk dengan kekuasaan-Nya dan (kekuatan) bukti-bukti-Nya. Dialah Tuhan yang kesucian-Nya abadi dan pujian bagi-Nya tak pernah terhenti. Pencipta langit-langit yang menjulang dan lapisan bumi yang membentang. Penguasa bumi dan langit, Maha Kudus dan Maha Suci. Tuhan para Malaikat dan al-Ruh yang kepada seluruh ciptaan-Nya bersifat sangat pemurah, dan kepada seluruh makhluk-Nya bersifat Maha Derma. Dia melihat setiap pandangan, tanpa pandangan-pandangan itu melihat-Nya, Dialah Maha Pemurah, Maha Tabah dan Maha Kasih.

(Dialah) Penabur rahmat yang meliputi segala sesuatu, Pelimpah nikmat yang memberkati seluruh rnakhluk, tidak mempercepat siksa-Nya dan tidak segera menimpakan azab kcpada mereka yang berhak rnendapatkannya. Dia tahu setiap rahasia yang tersembunyi dan segala apa yang tersimpan di dalarn hati. Tiada rahasia yang luput dari-Nya, dan tiada misteri yang rnengelirukan-Nya. Dia Maha Tahu akan segala sesuatu, menundukkan segala sesuatu, perkasa atas segala sesuatu, berkuasa atas segala sesuatu, tiada sesuatu yang rnenyerupai-Nya. Dialah yang menciptakan sesuatu ketika belum ada yang disebut sesuatu. Dialah yang Maha Abadi, yang berkuasa atas dasar keadilan. Tiada Tuhan melainkan Dia, yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana, Maha Suci Tuhan dan tidak dilihat oleh pandangan mata, dan Dialah yang meliputi pandangan mata. Dia yang Maha Kasih dan Maha Mengetahui.

Tiada siapa yang menceritakan Sifat-Nya lantaran (pernah) melihat-Nya, tiada siapa yang mengetahui bagaimana Dia secara lahir dan batin, melainkan apa yang dikatakan oleh Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung itu sendiri. Aku bersaksi bahwa Dia Allah yang kudus-Nya memenuhi masa, cahaya-Nya meliputi alpha dan omega, perintah-Nya terlaksana tanpa musyawarah, takdir-Nya ditentukan tanpa bersama-Nya mitra. Tiada cela dalam pengaturan-Nya, tiada contoh dan ciptaan yang dibentuk-Nya, tiada bantuan dari setiap apapun, tiada kerja keras dan tiada tipuan atas apa yang diciptakan-Nya, Dia ciptakan makhluk-Nya dan jadilah ia, dan karena cahaya wujud-Nya maka tampaklah semua. Dialah Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia, Maha Rapih dan Maha indah dalam mencipta, maha Adil yang tidak menganiaya, dan Maha Pemurah yang kepada-Nya kembali seluruh hajat dan perkara.

Aku bersaksi bahwa Dialah Tuhan yang kepada kekuasaan-Nya segala sesuatu tunduk, dan kepada keagungan-Nya segala sesuatu membungkuk. Dialah Empunya seluruh kekayaan, Raja dari seluruh kerajaan, Pencipta planet-planet serta bintang gemintang di langit, pengendali matahari dan bulan, di mana kesemuanya mengorbit untuk batas waktu yang telah ditentukan. Dialah yang menggilirkan malam setelah siang, dan siang setelah malam saling berganti. Dialah penghancur para tiran yang membangkang dan pemusnah setan-setan yang terkutuk yang menentang. Tiada bersama-Nya lawan dan kawan, Dia Maha Esa, Tunggal. Satu dan tempat bertumpu segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tiada sesuatupun yang setara dengan-Nya. Dialah Tuhan yang Satu, Pemelihara yang Agung dan Pemurah. (Bila) berkehendak ia akan terlaksana, (bila) berkeinginan ia akan terwujud. Dia mengetahui segala sesuatu dengan rinci. Dia yang mematikan dan menghidupkan, membuat orang menjadi fakir dan kaya, tertawa dan menangis, menyimpan dan memberi.

Di tangan-Nyalah kerajaan; bagi-Nya segala pujian, di tangan-Nya semua kebaikan dan Dia-lah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Malam dimasukkan-Nya ke dalarn siang, dan siang ke malam. Tiada Tuhan melainkan Dia. Maha Perkasa dan Maha Pengampun, Pengijabah do’a, Pemberi yang tulus, Maha Tahu secara rinci segala hembusan nafas, Tuhan seluruh makhluk, baik dari golongan jin maupun golongan nas (manusia). Tiada perkara sulit di hadapan-Nya; tiada gemuruh suara orang-orang yang berteriak mengganggu-Nya atau desakan orang-orang yang mendesak rnencemaskan-Nya. Dialah Pemelihara orang-orang yang saleh, Penyebab berjayanya orang-orang yang sukses, Pelindung penghuni alam semesta, dan Yang paling berhak untuk disyukuri dan dipuji oleh setiap makhluk ciptaan-Nya. Aku memuji-Nya pada saat suka dan duka, juga pada saat sempit dan lapang. Aku beriman kepada-Nya, kepada para malaikat-Nya, Kitab-kitab¬Nya dan Rasul-rasul-Nya. Aku mendengar perintah-Nya, patuh dan segera bangkit melaksanakan segala yang diridhai-Nya, menerima total ketentuan-Nya, semangat dalam mematuhi-Nya dan takut akan siksa-Nya. Sebab Dialah Tuhan yang tiada seorangpun akan merasa aman dari makar-Nya atau khawatir dari kezaliman-Nya. Aku ikrarkan pada diriku akan kehambaanku di hadapan-Nya, dan juga bersaksi akan ketuhanan-Nya (untuk diriku). Kini akan aku sampaikan (kepada kalian) apa yang Tuhan wahyukan kepadaku, sebab bila tidak kulakukan itu, niscaya azab-Nya akan mengenaiku, sedemikian sehingga tiada siapapun yang akan dapat menolak-Nya dariku, (sebesar apapun kekuatannya). Tiada Tuhan melainkan Dia. Dia telah memberitahuku, apabila tidak kusampaikan apa yang diturunkan-Nya kepadaku, itu berarti sama dengan aku tidak menyarnpaikan seluruh risalah (pesan)-Nya; dan Dia juga telah menjamin untuk memeliharaku (dan upaya orang-orang yang menentang). Bagiku cukuplah Allah Yang Maha Pemurah sebagal penjamin.

Firman-Nya untukku: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. “Wahai Rasul (Muhammad), sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dan Tuhanmu. Apabila tidak kau lakukan, itu berarti sama dengan engkau tidak menyampaikan seluruh risalah (pesan)-Nya, dan Allah (akan) memeliharamu dari (gangguan) manusia-manusia lain.” (al Qur’an surah al Maidah ayat 67). Wahai umat manusia! aku tidak pernah salah, alpa atau lalai dalam menyampaikan segala sesuatu yang diturunkan Allah kepadaku. Kini aku jelaskan kepada kalian semua sebab turunnya ayat ini: Malaikat Jibril (as) turun menjumpaiku sebanyak tiga kali, memerintah aku–berdasarkan perintah Tuhanku— untuk berdiri di tempat keramaian ini dan menyatakan kepada (bangsa) putih dan hitam bahwa Ali bin Abi Thalib (as) adalah saudaraku, Washi-ku (penerima wasiatku) penggantiku dan imam setelahku, yang kedudukannya di sisiku sama dengan kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tiada nabi selepasku. Dia adalah wali (pemimpin) kamu setelah Allah dan Rasul-Nya. Allah (SWT) juga telah menurunkan kepadaku sebuah ayat dalam kitab-Nya berkenaan dengan itu: “Sungguh wali (pemimpin) kamu adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat, dan menunaikan zakat sementara mereka dalam keadaan ruku” (al Qur’an surah al Maidah ayat 55).

Ali bin Abi Thalib (as) adalah orang yang mendirikan shalat dan mengeluarkan zakatnya dalam keadaan ruku’ seperti yang dirnaksud oleh Allah (SWT) itu. (Pada mulanya) Aku memohon kepada Malaikat Jibril agar dia memintakan kepada Allah untuk membebaskan aku dari menyampaikan perintah ini kepada kamu, kanena aku tahu betapa sedikitnya orang-orang yang bertakwa, dan betapa banyaknya orang yang munafik, penebar fitnah dan mengolok-olok agama Islam sebagaimana yang disifatkan oleh Allah karakter-kanakter mereka dalarn Al-Qur’an, “… Kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun juga. Dan kamu menganggapnya sesuatu yang ringan, padahal di sisi Allah ia adalah besar. “ (24:15). Masih segar dalam ingatanku bagaimana mereka menyebutku sebagal udzun (orang yang tidak teliti dan cepat percaya pada setiap berita yang didengarnya). Mereka mendugaku demikian lantaran seringnya mereka mendapati dia (Ali) duduk bersamaku dan besarnya penghormatanku kepadanya sehingga untuk itu Allah ‘Azza wa jalla menurunkan firman-Nya: Di antara mereka (orang-orang munaf├Čk) ada yang menyakiti nabi dan mengatakan: “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.” Katakanlah: “Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah dan mempercayai orang-orang mukmin.” (Q.S. 9:61). Seandainya aku mau sebutkan nama-nama mereka niscaya akan kusebutkan, atau seandainya aku mau tunjuk wajah-wajah mereka niscaya akan kutunjukkan. Namun —demi Allah— aku telah dan terus akan bersikap sangat bersahabat dan dewasa terhadap mereka. Bagaimanapun, Allah tetap mendesakkan dan tidak akan rela padaku melainkan aku sampaikan apa yang diturunkan-Nya padaku tentang maksud ayat: “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, apabila kamu tidak mengerjakan apa yang diperintahkan itu, berarti kamu tidak menyampaikan seluruh risalahmu. Allah akan memelihara kamu dan gangguan manusia” (Q.S. 5:67).

Ketahuilah —wahai umat manusia— sesungguhnya Allah telah menetapkannya (Ali) sebagai wali, pemimpin dan imam bagi kalian. Mematuhinya adalah wajib, baik bagi kalangan Muhajirin, Anshar, generasi-generasi yang baik yang datang setelahnya, orang-orang desa, kota, Ajam (Non-Arab), Arab, orang yang merdeka, hamba sahaya, kecil, besar, putih, hitam, dan bagi setiap orang yang menyatakan tauhid kepada Allah (SWT). Keputusan hukum yang diambilnya adalalah sah. Kata-katanya wajib didengar dan perintahnya wajib dipatuhi. Orang yang menentangnya akan terkutuk, yang rnengikutinya akan mernperoleh rahmat, dan yang mempercayainya adalah orang beriman. Allah telah mengampuni orang yang mendengarnya dan yang mematuhinya. Wahai umat manusia ini adalah kali terakhir aku berdiri di tempat keramaian ini. Dengarlah, patuhilah dan ikutilah perintah Tuhan kamu, karena Allah ‘Azza wa Jalla adalah Tuan, Pelindung, dan Tuhan kamu. Berikutnya adalah Muhammad (saw), yang sekarang tengah berdiri dan berbicara di hadapan kamu sebagai wali dan pemimpin kamu. Setelah aku, Ali adalah Wali dan imam kamu berdasarkan perintah Tuhanmu. Kemudian imamah dan kepemimpinan (berikutnya) ada pada zuriat keturunanku dari putra-putranya sehinggalah tiba suatu hari di mana kamu akan berjumpa dengan Allah dan Rasul-Nya. Sungguh tiada suatu yang halal melainkan apa yang dihalalkan oleh Allah, dan tiada yang haram melainkan apa yang diharamkan oleh-Nya. Dialah yang telah mengajariku mana yang halal dan mana yang haram. Kemudian aku mengajarkannya kepada Ali apa yang diajarkan oleh Tuhanku padaku dari kitab-Nya dan hukum halal dan haram-Nya.

Wahai umat manusia! seluruh ilmu yang diajarkan-Nya kepadaku adalah ilmu-ilmu yang rinci. Dan dari setiap ilmu yang kuketahui itu, telah kuajarkan pula secara rinci pada imam orang-orang yang bertakwa ini. Sungguh tiada ilmu melainkan telah aku sampaikan kepada Ali, sang Imam yang agung. Wahai umat manusia! Jangan kalian tersesat karena meninggalkannya; jangan kalian berpaling darinya; dan jangan kalian takabur dan enggan untuk menerima kepemimpinannya. Karena dia akan membawa kepada kebenaran dan mengamalkannya, serta menghancurkan kebatilan dan mencegahnya, tanpa dia peduli pada celaan para pencela dalam menjalankan perintah Tuhannya. Dialah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya; dialah orang yang mengorbankan jiwanya demi Rasul-Nya; dialah satu-satunya dari kaum lelaki yang pertama kali menyembah Allah bersama Rasul utusan-Nya. Wahai umat manusia! Utamakanlah dia. Karena Allah telah mengutamakannya. Terimalah dia, karena Allah yang telah mengangkatnya. Wahai umat manusia! Dialah Imam yang ditunjuk oleh Allah. Allah tidak akan mengampuni orang-orang yang ingkar terhadap wilayah dan kepemimpinannya dan tidak akan pernah memaafkannya sekali-kali. Sungguh, Allah telah memastikan diri-Nya untuk melakukan itu bagi mereka yang menentang perintah-Nya dalam perkara ini, dan akan menimpakan kepadanya azab yang pedih, maha dahsyat dan selama-lamanya. Awas! jangan kalian mengingkarinya karena itu akan menghantar kalian ke dalam api neraka, yang bara apinya terdiri dan manusia dan batu-batuan yang telah disiapkan bagi orang-orang kafir.  

Mengenang Horor Deir Yassin


Oleh Edward W. Said*

Saya dan saudara perempuan saya meninggalkan Palestina untuk terakhir kali pada pertengahan Desember 1947. Selain mengembangkan usaha keluarga di Palestina di mana ayah saya menjadi mitra, ia memang bertanggungjawab untuk menjalankan kantor usaha itu di Mesir. Jadi, ketika kami meninggalkan Yerussalem dan pergi ke Kairo, kami sebenarnya kembali ke tempat yang sudah kami akrabi: rumah, sekolah, teman, dan lainnya. Tapi keluarga besar kami yang lain tidak seberuntung itu. Pada pertengahan musim semi 1948, semua mereka, dari pihak ayah atau ibu, menjadi pengungsi yang kemudian bertebaran di Dunia Arab. Sebagian besarnya pergi ke Yordania, beberapa ke Lebanon, dan bibi saya dari pihak ayah, juga anak-anaknya yang sudah dewasa, pindah ke Mesir, menjalankan usaha keluarga.

Saya cukup jelas mengingatnya: sekalipun sudah berusia 12 tahun kala itu, saya tidak diberitahu atau bisa sepenuhnya mengerti bencana yang menimpa kami sebagai bangsa. Saya bahkan tidak terlalu yakin apakah saat itu saya sudah punya pandangan tentang kami sebagai sebuah bangsa yang khusus. Rumah kami sepenuhnya bebas dari percakapan politik, sekalipun kami makin merasakan berbagai kesulitan yang menimpa kami sebagai pengungsi Palestina di Mesir – karena, bagaimana pun, kami terlibat di dalamnya. Ini lumrah saja mengingat, saya ingat betul, makin biasa saja kami menemukan kondisi keluarga besar kami merosot: khawatir bagai­mana mereka akan membayar uang sewa rumah, memperoleh pekerjaan, dan lainnya. Tapi, sepanjang 1948, nestapa yang sesungguhnya menimpa bangsa Palestina hanya masuk ke otak saya secara tidak lengkap.

Saya mulai mendengar laporan-lapor­an tidak lengkap mengenai pembunuhan besar-besaran di Deir Yassin, yang berlangsung pada 9 April 1948, di meja makan keluarga pada musim semi dan panas 1948 – dan pengaruhnya tidak kecil terhadap meningkatnya kesadaran saya mengenai masalah Palestina. Bibi saya dan anak perempuannya tinggal di Yerussalem (sekitar empat kilometer dari Deir Yassin) waktu itu, tapi mereka hanya mendengar kisah memilukan dan menge­rikan tentang nasib 250 orang tidak bersalah – laki-laki, perempuan, dan anak-anak – yang dengan kejam dan dingin­ dibunuh oleh, kata tiap orang saat itu, “Orang-orang Yahudi.” Dibanding peristiwa apapun yang saya ingat kala itu, horor Deir Yassin tak tertandingi dalam hal kengerian yang hendak diakibatkannya – kisah-kisah tentang perkosaan, anak-anak yang tenggorokannya digorok, ibu-ibu yang isi perutnya “dibersihkan”, dan yang seperti itu. Kisah-kisah itu mengguncang imajinasi, dan memang dimaksudkan demikian, dan hal itu meninggalkan kesan di benak seorang anak laki-laki kecil, yang tinggal jauh darinya, dengan misteri mengenai kekeras­an yang begitu mengerikan terhadap bangsa Palestina, yang satu-satu­nya­ kesalahan mereka tampaknya adalah bahwa mereka ada di situ. Dan toh baru sekitar satu dekade kemudian saya bisa memahami konteks dan arti sesungguhnya dari apa yang terjadi di Deir Yassin.

Seringkali dikesankan bahwa pembunuhan besar-besaran itu adalah sebuah kejadian teroris yang sekalipun disengaja toh bersifat random, seram­pang­an, yang direncanakan dan dijalan­kan oleh Irgun (kelompok militan Zionis yang beroperasi di Palestina antara 1931 dan 1948 – Red.) di bawah pimpinan Menachem Begin. Yang kita ketahui sekarang adalah, menurut sejarawan Israel Benny Morris, “operasi” Deir Yassin tidak saja disetujui dan didukung oleh Haganah (organisasi paramiliter Yahudi kala itu, belakangan menjadi inti Angkatan Bersenjata Israel – Red.), tapi hal itu juga bagian dari rencana menyeluruh kelompok Zionis untuk mengosong­kan Palestina secara sistematis dari penduduk Arabnya. Karena horor mengeri­kan akibat berbagai pembunuhan yang berlangsung di dalamnya, kata Morris dalam bukunya The Birth of the Palestinian Refugee Problem, 1947-1949, Deir Yassin menjadi peristiwa “palin­g penting dibanding peristiwa-peris­tiwa perang lainnya yang meng­akibat­kan hengkangnya orang-orang Arab pedesaan dari Palestina” (hal. 113).

Faktanya, tentu saja, adalah: yang pergi karena alasan itu atau alasan-alasan sejenis lainnya bukanlah hanya “orang-orang Arab pedesaan”, tapi 2/3 dari semua penduduk Palestina, yang jumlahnya sekitar 800 ribu orang. Karya sangat penting sarjana Israel-Palestina Nur Masalha, mengenai konsep “pindah” dalam pemikiran Zionis, menunjukkan bagaimana persistennya kalangan Zionis membayangkan, merencanakan, dan menerapkan berbagai program untuk membersihkan “tanah yang dijanjikan” mereka dari penduduk asli. Bukunya yang pertama, yang mendiskusikan ideologi Zionis dari 1882 hingga 1948, ber­judul Expulsion of the Palestinians. Se­dang yang kedua, dan baru saja diterbitkan, adalah paparan grafis yang me­nge­­ri­kan tentang periode 1949 dan 1996: A Land Without a People: Israel, Transfer and the Palestinians, 1949-96.

Paparan yang disajikan dalam buku kedua bahkan lebih meyakinkan. Ini bukan saja karena sumber-sumber­nya adalah sumber-sumber Zionis, tapi juga karena paparan itu menunjukkan betapa mendalam, menyeluruh, dan sungguh-sungguhnya para politisi, militer dan intelektual Israel untuk terus-menerus, sejak 1948, menempuh kebijakan yang sama dalam mencoba mengu­sir bangsa Palestina – entah denga­n pemindahan mereka secara paksa, pembunuhan besar-besaran (seperti di Kafr Qassim), atau memaksakan ketundukan mereka secara menyeluruh. Karenanya, selalu, gagasan pokoknya adalah: mengikis habis kebe­radaan bangsa Palestina ke titik nol, mengenyahkan Palestina sebagai sebuah bangsa dengan hak-hak yang sah, menjadikan mereka orang-orang asing di tanah air mereka sendiri. Dan memang, sedikitnya dalam benak mereka, Israel sejauh ini sudah sangat berhasil.

Proses perdamaian Oslo, penduduk­an, penolakan arogan Netanyahu: semua­nya langkah lanjut belaka dari ber­bagai peris­tiwa seperti yang terjadi di Deir Yassin dan dari gagasan yang membuat horor Deir Yassin begitu mengeri­kan.

Tapi pertanyaannya tetap: mengapa Deir Yassin hampir sepenuhnya dilupa­kan, dan mengapa 1948 dicabut dari agenda perdamaian para pemimpin dan intelektual Palestina? Padahal, kita sedang berhadapan dengan Yahudi Israel yang terus-menerus, dan memang pada tempatnya, mengingatkan dunia akan kejahatan anti-Semitisme, peristiwa Holocaust, dan ganti rugi yang memang harus dilakukan karenanya. Dalam buku­nya, Silencing the Past: Power and the Production of History, sejarawan Haiti Michel-Rolph Trouillot membahas bagaimana dalam banyak paparan Barat mengenai revolusi Haiti tahun 1798, Barat selalu ditakdirkan untuk akhirnya menang dan orang-orang Haiti kalah – jika tidak bahwa revolusi itu sama sekali tidak di­kisahkan. Ia mengacu kepada “pembung­kaman revolusi Haiti,” yang menurutnya terjadi karena naratif dominasi global Barat menjadikan kalahnya penduduk asli sesuatu yang tampak tak terhindarkan, kecuali ada upaya dari penduduk asli untuk menyatakan-kembali sejarah dominasi Barat dan karena­nya menuntut “sebuah penulisan-kembali secara mendasar sejarah dunia.”

Sebagai bangsa Arab dan Palestina, kita masih jauh dari tahap itu. Sejarah kita ditulis oleh orang-orang luas, dan sebelum apa-apa kita sudah mundur dari pertempuran. Para pemimpin kita bernegosiasi seakan-akan semuanya bermula dari tabula rasa. Agenda ditentukan oleh Amerika dan Israel. Dan kita terus mundur, mundur lebih banyak dan mundur lagi, tidak saja sekarang, tapi juga di masa lalu dan masa depan. Ingatan kolektif bukan saja warisan sebuah bangsa, tapi juga energinya: ia tidak bisa duduk, diam belaka di tempatnya; ia harus diaktifkan sebagai bagian dari identitas sebuah bangsa dan rasa memiliki mereka akan hak. Mengenang Deir Yassin tidaklah hanya untuk membuka derita lama, tapi juga untuk memahami siapa kita dan akan bergerak ke mana kita. Tanpanya kita hanya akan kehilang­an arah – dan tampaknya kita memang dalam situasi seperti itu.

*Edward W. Said adalah salah se­orang pembela hak-hak bangsa Palestina paling lantang dan meyakinkan di dunia hingga ia wafat pada 25 September 2003 lalu di AS. Lahir pada 1 November 1935 sebagai Kristen Arab di Palestina, Said termasuk generasi terdidik Palestina yang terusir dari tanahair­nya. Dikenal luas khususnya berkat Orientalism (1979), Said menulis beberapa buku tentang Palestina, seperti The Question of Palestine (1979) dan After The Last Sky: Palestinian Lives (1986). Sampai wafat, ia gurubesar pada Universitas Columbia, AS. Di bawah ini refleksinya tentang peristiwa Deir Yassin, yang terjadi ketika ia berusia sekitar 12 tahun. Tulisan ini pertamakali terbit di Al-Ahram Weekly, edisi 17-23 April 1997. Sumber edisi Bahasa Indonesia:  Majalah Madina No. 4, Tahun 1, April 2008.