Soekarno dan Pancasila di Tanah Persia




Oleh Sabara Nuruddin (Peneliti Bidang Kehidupan Keagamaan  dan Balitbang Agama Makasar)

Dalam Book Art of Humanism Religius Iran, Ali Khamenei yang pernah menjabat presiden Iran dua periode 1981-1989 dan sekarang menjabat sebagai pemimpin tertinggi Republik Islam Iran menggantikan Ayatullah Khomeini sejak tahun 1989, bercerita tentang sebuah pengalaman beliau ketika berada dalam tahanan rezim Syah Pahlevi ketika masa perjuangan revousi Iran.

Ali Khamanei dipenjarakan dalam satu sel bersama seorang komunis dari partai Baats (atau sekarang disebut sosialis loyalis). Ali Khamenei datang  mendekati tahanan tersebut, lalu mengucapkan salam Tapi tahanan tersebut enggan berbicara pada Ali Khamenei dan tidak membalas salamnya.

Tanpa mengacuhkan sikap tak acuh dari lawan bicaranya, Ali Khamenei bertanya; “Apa anda seorang komunis dari partai revolusi Baats?” Orang tersebut tetap diam.

Mengetahui bahwa lawan bicaranya adalah seorang anggota Partai Baats yang berhaluan sosialis-komunis, Ali Khamenei mengungkapkan sebuah pertanyaan lagi, “Apakah anda mengenal Soekarno bapak revolusi kemerdekaan Indonesia, yang memiliki falsafah Pancasila?” Mendengar nama Soekarno yang disebut, orang tersebut akhirnya menjawab, ”Ya saya kenal dengan beliau. Ada beberapa buku beliau yang saya miliki ketika saya di Rusia, dan saya pernah ketemu beliau di Rusia.”

“Siapa Soekarno itu dimata anda?”

Orang tersebut pun menjawab, bahwa Soekarno adalah bapak pertama yang menciptakan negara humanis sosialis, tanpa dasar agama sebagai pilar, tanpa liberalis sebagai acuan kata.

 “Anda salah,” Ujar Ali Khamenei, “Bahwa Soekarno memang betul bapak humanisme sosialis, tapi Soekarno bukanlah seorang komunis dan negara beliau tidak berdasarkan agama, tapi negara beliau berdasarkan ketuhanan dimana semua manusia wajib bertuhan sebagai dasar kebangsaan. Tanpa dasar ketuhanan itu manusia bagaikan robot yang tidak bisa hidup dengan merdeka.”

Ali Khamene’i melanjutkan; “Saya memiliki buku pancasila dari seorang Indonesia yang berziarah ke Iran dan belajar serta berdagang di sana. Walau kami bertahun-tahun menerjemahkannya, tapi kami tetap semangat untuk menjadikan Iran sebagai negara humanisme agama, dimana semua agama saling membangun negara Iran tanpa ada perseteruan di sana.”

Orang tersebut diam sejenak, tanpa ia sadari ia mengeluarkan airmatanya dan berkata kepada Ali Khamenei, “kelak kalau saya keluar dari penjara saya akan datang kerumah anda dan meminjam buku-buku Soekarno itu, karena sangat penting jika Iran dijadikan negara yang berdasarkan humanisme agama di mana semua manusia dari berbagai gooongan Iran saling membangun negaranya.”

Siapakah ia yang diajak bicara oleh Ali Khamanei itu?

Beliau adalah Abolhasan Bani Sadr presiden pertama di Iran pasca revolusi dan beliau adalah salah seorang inisiator yang membentuk negara Iran sebagai negara humanisme agama, dimana Iran paska revolusi semua agama dan tradisi menjadi satu saling bahu-membahu membangun negaranya dibawah naungan sistem politik wilayatul faqih.

Iran setelah 34 tahun pasca revolusi, belum pernah terjadi gesekan antar agama, baik agama Zoroaster, Yahudi, Nasrani, Baha’i maupun Islam Sunni dan Syi’ah. Bahkan dalam konstitusi Iran, agama-agama minoritas tersebut mendapatkan jatah gratis perwakilan di parlemen Iran. Semua agama, semua golongan diberikan kesempatan dan ruang untuksama-sama membangun Negara Iran yang berbasis humanisme agama.

Sebagai bangsa Indonesia yang memiliki Soekarno sebagai founding father Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan falsafah Pancasila sebagai dasar negara kita harus berbangga. Ternyata nun di sana di belahan dunia Barat Asia, di tanah Persia. Tokoh-tokoh yang menjadi bagian penting dari revolusi Islam Iran ternyata menjadikan Soekarno dan Pancasila sebagai salah satu inspirasi perjuangan dan konsep negara yang akan mereka bangun nantinya.

Telah 68 tahun Indonesia merdeka, negara yang susah payah dibangun oleh bapak-bapak bangsa. Rumusan pancasila merupakan refleksi jernih pemikiran bapak bangsa yang digali dari fondasi nilai agama tanpa mengabaikan keragaman agama. Pancasila merupakan bentuk kompromi politik sekaligus sintesa nilai dan kebudayaan Islam dan lokalitas. Keberterimaan terhadap pancasila sebagai dasar negara serta menjadi karakteristik khas sistem politik Indonesia, sudah cukup untuk mengakomodir nilai dasar dan universal dari ajaran Islam dengan tidak menegasi kelompok agama minoritas.

Pancasila yang merupakan falsafah negara yang luar biasa telah diakui dan menjadi inspirasi dari tokoh-tokoh Persia (Iran) yang terkenal dengan tradisi filsafatnya. Tentulah kita sebagai bangsa Indonesia yang paling berhak atas pancasila dan paling wajib untuk menjadikan pancasila secara murni dan konsekuen dalam penerapannya sebagai anutan kebangsaan. Pancasila adalah dasar negara Indonesia sebagai negara humanis yang berketuhanan. 

Jaringan Teror dan Kejahatan Israel, Arab Saudi, dan Amerika




Oleh Prof. James Petras (Pengamat Politik Amerika Latin dan Timur Tengah, Kolumnis globalresearch.ca)

Arab Saudi punya segala track record yang buruk, dan sama sekali tidak memiliki sisi baik dari sebuah negara yang kaya minyak seperti Venezuela. Negara ini diatur oleh rezim diktator dari sebuah keluarga, yang tidak mentolerir adanya kelompok oposisi dan menghukum berat pendukung hak asasi manusia, serta para pembangkang politik. Ratusan miliar dari pendapatan minyaknya dikendalikan oleh despotisme kerajaan, dan investasi spekulatif bahan bakar di seluruh dunia.

Para elite yang berkuasa ini bergantung pada pembelian senjata dari Barat dan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) untuk perlindungan keamanan mereka. Kekayaan Negara yang sekiranya produktif, hanya untuk memperkaya kebutuhan yang paling mencolok dari keluarga penguasa Saudi. Elit penguasa negeri petrodollar tersebut membiayai sebuah paham yang paling fanatik,buruk dan misoginis dari Islam. “Wahabi ”

Saat dihadapkan pada perbedaan pendapat internal dari sekelompok orang-orang yang tertindas dan kaum agama minoritas Islam, kediktatoran Arab Saudi merasakan ancaman dan bahaya dari semua sisi, baik itu dari luar negeri, kelompok sekuler, nasionalis dan Syi’ah Islam yang menguasai pemerintahan, secara internal, nasionalis Sunni moderat, demokrat dan feminis, dalam kubu royalis, tradisionalis dan modernis. Menanggapi perubahan yang mengarah kepada pembiayaan, pelatihan dan persenjataan jaringan teroris internasional  Islam, yang diarahkan untuk menyerang, menginvasi dan menghancurkan rezim yang menentang ulama diktator Arab.

Dalang dari jaringan teror Saudi adalah Bandar bin Sultan, yang memiliki hubungan yang sudah lama dan akrab dengan para pejabat tinggi politik, militer dan intelijen AS. Bandar dilatih dan diindoktrinasi di Maxwell Air Force Base dan Johns Hopkins University, ia menjabat sebagai Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat selama lebih dari dua dekade (1983 – 2005). Sekitar tahun 2005 – 2011, ia adalah Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Arab Saudi, dan pada tahun 2012 ia diangkat sebagai Direktur Jenderal Badan Intelijen Arab Saudi. Sampai saat ini, Bandar semakin banyak terlibat dalam proyek operasi teror rahasia.

Berkaitan dengan CIA, di antara berbagai operasi kotornya dengan CIA selama tahun 1980, Bandar menyalurkan US$ 32.000.000 ke Nikaragua Contra, yang terlibat dalam kampanye teror untuk menggulingkan pemerintahan revolusioner Sandinista di Nikaragua. Selama masa jabatannya sebagai duta besar, ia aktif terlibat dalam upaya perlindungan terhadap Kerajaan Arab Saudi yang diklaim terlibat dengan pemboman Triple Towers dan Pentagon pada 11 September 2001.

Kecurigaan bahwa Bandar dan sekutu-sekutunya di keluarga kerajaan memiliki pengetahuan sebelumnya tentang pemboman oleh teroris Saudi ( 11 dari 19 ), dikuatkan dengan adanya catatan penerbangan mendadak Kerajaan Arab Saudi menyusul aksi teroris pada 11/9. Dokumen intelijen AS mengenai hubungan Saudi – Bandar berada di bawah tinjauan Kongres.

Dengan banyaknya pengalaman dan pelatihan dalam menjalankan operasi teroris klandestin, berangkat dari dua dekade tugasnya untuk bekerjasama dengan badan-badan intelijen AS, Bandar berada dalam posisi yang pas untuk mengatur jaringan teror global tersendiri dalam upayanya menyembunyikan keburukan dan kelemahan monarki despotik Arab Saudi.

Jaringan Teror Bandar

Bandar bin Sultan telah mengubah Arab Saudi dari apa yang dahulu mereka sebut rezim mandiri yang berbasis kesukuan, menjadi benar-benar tergantung pada kekuatan militer AS untuk kelangsungan hidupnya, menjadi pusat regional utama dari jaringan teror yang luas, seorang penyandang dana aktif diktator militer sayap kanan (Mesir) dan klien rezim (Yaman) serta interventor militer di kawasan Teluk (Bahrain).

Bandar telah membiayai dan mempersenjatai banyak kelompok teroris dengan operasi rahasianya, ia memanfaatkan afiliasi Al Qaeda , sekte Wahabi Saudi yang dikendalikan berbagai kelompok bersenjata ekstrim lainnya. Bandar adalah promotor teroris yang pragmatis: Menindas lawan Al Qaeda di Arab Saudi dan membiayai teroris Al Qaeda di Irak, Suriah, Afghanistan dan di tempat lain, Sementara Bandar adalah aset masa depan badan intelijen AS, baru-baru ini ia mengambil ‘kursus independen’ di mana kepentingan daerah dari wilayah despotik, berbeda dari orang-orang Amerika Serikat.

Dengan maksud yang sama, sementara Arab Saudi memiliki permusuhan lama terhadap Israel, Bandar telah mengembangkan ”pemahaman rahasia” dan hubungan kerjasama dengan rezim Netanyahu terkait permusuhan bersama mereka atas Iran dan lebih khusus lagi bertentangan dengan perjanjian interim antara rezim Obama – Rouhani.

Bandar telah melakukan intervensi secara langsung atau melalui beberapa perwakilannya dalam membentuk kembali keberpihakan politik, menggoyahkan lawan dan memperkuat serta memperluas jangkauan politik kediktatoran Arab Saudi dari Afrika Utara ke Asia Selatan, dari kaukus Rusia ke Ujung Afrika, kadang-kadang dalam keberpihakannya dengan imperialisme Barat, beberapa kali ia menyuarakan aspirasi hegemonik Arab Saudi.

Bandar telah menggelontorkan miliaran dolar untuk memperkuat rezim pro-Islam sayap kanan di Tunisia dan Maroko, memastikan bahwa gerakan pro – demokrasi massa akan ditekan, terpinggirkan dan dihancurkan. Ekstremis Islam menerima bantuan keuangan dari Arab Saudi untuk mendukung kembalinya Muslim “moderat” di pemerintahan, dengan membunuh pemimpin demokrasi sekuler dan pemimpin serikat buruh sosialis dari kelompok oposisi. Kebijakan Bandar sebagian besar bertepatan dengan orang-orang dari Amerika Serikat dan Perancis di Tunisia dan Maroko, tetapi tidak di Libya dan Mesir.

Dukungan finansial Saudi untuk para teroris dan afiliasi Al Qaeda melawan Presiden Libya, Gadhafi, sejalan dengan perang udara NATO. Namun banyak penyimpangan muncul setelahnya: rezim yang didukung NATO yang terdiri dari eks- neo liberal yang berhadapan melawan Saudi, dan didukung Al Qaeda juga kelompok-kelompok teroris Islam, mereka juga datang dari berbagai macam kelompok bersenjata dan perampok .

Bandar mendanai Ekstremis Islam Libya yang menjadi bankir untuk memperluas operasi militer mereka ke Suriah, di mana rezim Saudi sedang mengadakan operasi militer besar-besaran untuk menggulingkan rezim Assad. Konflik internal yang terjadi antara NATO dan kelompok-kelompok bersenjata Saudi di Libya pecah, dan menyebabkan pembunuhan umat Muslim dari Duta Besar AS, dan perwakilan CIA di Benghazi.

Setelah Gadhafi dilengserkan, Bandar hampir meninggalkan minatnya dalam pekerjaan bermandikan darah berikutnya, dan kekacauan yang diprovokasi oleh aset bersenjata. Mereka pada akhirnya mencari dana sendiri dengan merampok bank, melakukan pencurian minyak dan mengosongkan kas lokal ”independen” yang secara relatif ada di bawah  kontrol Bandar.

Di Mesir, Bandar berkembang, berkoordinasi dengan Israel (tapi untuk alasan yang berbeda), strategi perusakan independen secara relative lewat sebuah rezim yang terpilih secara demokratis. Ikhwanul Muslimin dengan Mohammad Morsinya. Bandar dan rezim diktator Arab Saudi secara finansial mendukung kudeta militer dan kediktatoran Jenderal Sisi.

Strategi AS berupa perjanjian akan adanya pembagian kekuasaan antara IM dan rezim militer, menggabungkan legitimasi pemilu populer dan militer pro – Israel – pro NATO yang disabotase. Dengan paket bantuan US$ 15 miliar dan janji-janji yang akan datang, Bandar menyediakan kebutuhan militer Mesir, yaitu sebuah jaminan finansial dan kekebalan ekonomi dari setiap transaksi keuangan internasional.

Tidak ada konsekuensi apapun yang diambil. Pihak militer menghancurkan IM dengan cara dipenjara dan militer juga mengancam untuk mengeksekusi para pemimpin yang terpilih. Ini dilarang oleh sayap oposisi liberal – kiri yang telah digunakan sebagai umpan meriam untuk membenarkan kudeta kekuasaannya. Dalam mendukung kudeta militer, Bandar menghilangkan saingan, rezim Islam yang terpilih secara demokratis berdiri kontras dengan despotisme Saudi.

Dia mengamankan rezim diktator yang berpikiran selayaknya pemimpin di banyak negara Arab, meskipun penguasa militer saat itu lebih sekuler, pro-Barat, pro – Israel dan anti – Assad dibandingkan rezim IM. Bandar berhasil menjalankan kudeta Mesir dengan mengamankan sekutu politik tetapi menghadapi masa depan yang tidak pasti.

Kebangkitan gerakan massa anti – diktator baru-baru ini juga akan menargetkan hubungan dengan Arab Saudi. Apalagi Bandar bersikap acuh dan melemahkan kesatuan Negara Teluk seperti Qatar yang telah membiayai rezim Morsi dan mengeluarkan dana sebesar $ 5 miliar dollar, hal ini juga telah diperluas ke rezim sebelumnya.

Jaringan teror Bandar paling jelas terbukti pada pembiayaan, persenjataan, pelatihan dan pengalokasian besar-besaran jangka panjang puluhan ribu “relawan teroris” dari Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, kaukus, Afrika Utara dan di tempat lain di beberapa Negara. Teroris Al Qaeda di Arab Saudi menjadi “pejuang jihad” di Suriah. Puluhan kelompok bersenjata Islam di Suriah bersaing untuk mendapatkan suplai senjata dan pendaan dari Arab Saudi.  Basis pelatihan dengan instruktur  dari AS dan Eropa dan dibiayai oleh Saudi, didirikan di Yordania, Pakistan dan Turki. Bandar membiayai kelompok utama pemberontak teroris bersenjata, Negara Islam Irak dan Levant (ISIL), untuk operasi lintas batas Negara.

Dengan adanya Hizbullah yang mendukung Assad, Bandar mengalirkan dana dan senjata kepada Brigade Abdullah Azzam di Lebanon Selatan untuk mengebom Beirut, kedutaan Iran dan Tripoli. Bandar mengucurkan US$ 3 milyar kepada militer Lebanon untuk ide mengobarkan perang saudara baru antara mereka dan Hizbullah.

Ia berkoordinasi dengan Perancis dan Amerika Serikat, namun dengan dana yang jauh lebih besar dan ruang gerak yang lebih besar untuk merekrut para teroris, Bandar diasumsikan sebagai peran utama dan menjadi direktur utama tiga front militer dan  serangan diplomatik terhadap Suriah, Hizbullah dan Iran. Bagi Bandar, pengambilalihan kekuasan atas muslim Suriah akan mengarah pada invasi terhadap mereka dalam mendukung Al Qaeda di Lebanon, untuk mengalahkan Hizbullah dengan harapan mengisolasi Iran. Teheran kemudian akan menjadi target dari serangan Arab -Israel - AS. Strategi Bandar tak kurang hanya sekedar fantasi yang tak akan terwujud menjadi realita.

Bandar Menyimpang dari Washington: Serangan terhadap Irak dan Iran

Arab Saudi adalah partner yang menguntungkan bagi Washington, tetapi kadang-kadang mereka menjadi tidak terkontrol. Hal ini terjadi karena Bandar telah diangkat sebagai kepala Intelijen: aset lama CIA, dia juga beberapa kali mengambil keuntungan berupa kebebasannya untuk menikmati hasil kerja kerasnya selama ini, terutama ketika keuntungan itu berupa kenaikan jabatan dalam struktur kekuasan monarki Arab Saudi.

Oleh karena itu, misalnya, kemampuan Bandar untuk mengamankan AWACs meskipun pihak oposisi AIPAC ini membuatnya mendapatkan bintang jasa. Seperti kelebihannya dalam mengamankan keberangkatan beberapa ratus anggota kerajaan Saudi yang terlibat dalam pemboman 11/9, meskipun tingkat pengamanan nasional setelah pengeboman itu dinilai sangat tinggi.

Ketika ada beberapa kesalahan masa lalu, Gerakan Bandar menjadi lebih menyimpang dari kebijakan US. Dia menjalankan operasi terror dengan cara  membangun jaringan teror tersendiri yang diarahkan untuk memaksimalkan hegemoni Arab Saudi – meskipun kebijakan itu bertentangan dengan perwakilan-perwakilan US, para kolega mereka dan operasi-operasi rahasia.

Teroris “Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS)”

Ketika AS bernegosiasi mengenai “perjanjian interim” dengan Iran, Bandar menyuarakan ketidaksetujuan dan “membeli” dukungan Saudi dengan menandatangani traktat pembelian senjata bernilai miyaran dollar selama kunjungan Presiden Perancis, Francois Hollande di sana, hal ini terjadi dalam rangka pertukaran sanksi yang lebih besar terhadap Iran. Bandar juga menyatakan dukungannya terhadap keterlibatan Israel untuk pengaturan kekuatan Zionis agar mempengaruhi Kongres, tujuannya adalah sabotase perundingan AS dengan Iran.

Bandar telah bergerak di luar protokol aslinya sebagai pemegang kendali intelijen AS. Hubungan dekatnya dengan AS dan presiden Uni Eropa di masa lalu dan sekarang serta tokoh masyarakat politik telah mendorong dia untuk terlibat dalam “Petualangan Kekuatan Besar”. Dia bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin untuk meyakinkan Putin agar memberikan dukungannya terhadap Suriah, menawarkan wortel atau tongkat: penjualan senjata multi-miliar dolar secara sukarela atau ancaman untuk melepaskan teroris Chechnya agar mengacaukan Olimpiade Sochi.

Dia telah merubah Erdogan yang semula adalah sekutu NATO, menjadi pendukung lawan bersenjata ‘moderat’ Bashar Assad, dalam merangkul Saudi yang didukung oleh ISIS ‘Negara Islam Irak dan Suriah’, afiliasi Al Qaeda. Bandar telah “mengabaikan” upaya cari untung Erdogan untuk menandatangani kesepakatan minyak dengan Iran dan Irak, pengaturan militernya dilanjutkan dengan NATO dan dukungan masa lalunya dari rezim tidak aktif Morsi di Mesir, dalam rangka mengamankan dukungan Erdogan untuk mendukung kemudahan transit besar-besaran teroris binaan Saudi ke Suriah dan kemungkinan juga ke Lebanon.

Bandar telah memperkuat hubungan dengan kelompok bersenjata Taliban di Afghanistan dan Pakistan, dia mempersenjatai dan membiayai perlawanan bersenjata mereka terhadap AS, serta menawarkan sebuah lokasi untuk proses awal negosisasi kepada AS.

Dimungkinkan juga, Bandar mendukung dan mempersenjatai teroris Uighur Muslim di Cina barat, dan Chechnya, juga teroris Islam Kaukasia di Rusia, bahkan saat Saudi melakukan ekspansi perjanjian minyak dengan China dan bekerjasama dengan Gazprom, Rusia.

Satu-satunya wilayah di mana Saudi gagal melakukan intervensi militer langsung adalah Negara teluk kecil, Bahrain. Pasukan Saudi hancur oleh gerakan pro-demokrasi menantang rezim despotik lokal.

Bandar: Teror Global pada Yayasan Domestik yang Mencurigakan

Bandar telah memulai transformasi yang luar biasa dari kebijakan luar negeri Saudi dan meningkatkan pengaruh global. Semua untuk yang terburuk. Seperti Israel, ketika penguasa reaksioner sampai pada keinginan untuk menguasai dan menjungkirbalikkan tatanan demokrasi, Saudi datang dengan kantong dollarnya untuk menopang rezim despotic tersebut.

Setiap kali jaringan teroris muncul untuk menumbangkan rezim nasionalis, sekuler atau Syi’ah Islam, mereka dapat mengandalkan dana dan dukungan Saudi. Persis seperti yang digambarkan oleh para ahli Taurat sebagai “upaya lemah dalam liberalisasi dan modernisasi” rezim Saudi yang memburuk, mereka benar-benar meningkatkan kemampuan militer para teroris di luar negeri. Bandar menggunakan teknik-teknik teror modern untuk memaksakan model pemerintahan reaksioner Saudi pada negara tetangga dan rezim-rezim di Negara yang memiliki populasi mayoritas umat Muslim.

Masalahnya adalah bahwa, petualangan operasi konflik luar negeri skala besar Bandar, bertentangan dengan beberapa gaya kepemimpinan keluarga kerajaan Arab Saudi yang cenderung berhati-hati. Mereka ingin dibiarkan sendiri dalam menimbun kumpulan uang sewa minyak bumi yang bernilai ratusan miliar itu, hal ini sengaja dilakukan agar mereka dapat berinvestasi pada bisnis properti mewah di seluruh dunia,  dan diam-diam menyewa gadis-gadis panggilan di Washington, London, dan Beirut, di saat yang sama mereka bertindak sebagai wali saleh dari Madinah, Mekkah dan berbagai macam situs suci Islam.

Sejauh ini Bandar belum merasa tertantang, karena ia masih berhati-hati dengan cara memberikan penghormatan kepada raja yang berkuasa dan lingkaran dalamnya. Dia telah membeli dan membawa seluruh perdana menteri, para presiden dan pejabat penting lain dari negara-negara Barat dan Timur, Bandar membawa mereka ke Riyadh untuk menandatangani kesepakatan dan pembayaran upeti dalam usahanya untuk menyenangkan rezim despotik  Al Saud. Namun sikap khawatirnya terhadap operasi Al Qaeda di luar negeri, mendorong ekstrimis Saudi untuk pergi ke luar negeri dan terlibat dalam perang antar teroris, hal ini jelas menimbulkan keresahan di kalangan monarki.

Mereka khawatir  teroris yang mereka latih dan bina ini  kembali dari Suriah, Rusia dan Irak kemudian meledakkan istana kerajaan. Selain itu, rezim luar negeri yang ditargetkan oleh jaringan teror Bandar kemungkinan bisa membalas: Rusia atau Iran, Suriah, Mesir, Pakistan, Irak yang mungkin hanya menyediakan instrumen “balas dendam” mereka sendiri. Meskipun ratusan miliar dihabiskan untuk pembelian senjata, rezim Arab Saudi sangat rentan di semua tingkatan.

Terlepas dari paham kesukuan, elit miliarder hanya didukung oleh segelintir rakyat dan bahkan legitimasi mereka kurang. Hal ini tergantung pada buruh migran luar negeri, pakar asing dan pasukan militer AS. Para elit Saudi juga dibenci oleh Ulama Wahabi yang paling relijius karena mengizinkan “takfiri” berjihad di medan suci. Sementara Bandar memperluas kekuasaan Saudi di luar negeri, fondasi aturan domestik jadi menyempit. Ia menentang kebijakan AS di Suriah, Iran dan Afghanistan, rezim Al Saud tergantung pada Angkatan Udara AS dan Armada Ketujuh untuk melindungi mereka dari berkembangnya kelompok-kelompok yang memusuhi pemerintah.

Bandar, dengan ego-nya, mungkin percaya bahwa ia adalah seorang  “Saladin” yang membangun kerajaan Islam baru, tetapi dalam kenyataannya, dengan hanya menjentikkan jari, raja pelindungnya dapat menyebabkan pemecatannya dipercepat. Terlalu banyak pemboman sipil provokatif oleh teroris yang dia manfaaatkan dapat menyebabkan krisis internasional, yang mengarah ke Arab Saudi dan hal ini menjadikan mereka sasaran penghinaan secara global. Pada kenyataannya, Bandar bin Sultan adalah anak didik dan penerus Bin Laden, ia telah memperdalam dan menstrukturisasi terorisme global. Jaringan teror Bandar telah membunuh banyak korban tak berdosa dibandingkan Bin Laden. Hal itu tentu saja yang paling diharapkan, setelah semua kepemilikannya atas miliaran dolar kas Saudi, pelatihan dari CIA dan jabat tangan Netanyahu!

Kisah Nadia di Abu Ghraib


Fakta dan peristiwa ini tak ragu lagi merupakan potret nyata jiwa pornografis yang telah merasuk begitu dalam kedalam pikiran dan mental banyak manusia-manusia Zionist dan Amerika. Sebuah potret yang dibuka lewat kekejian penjara Abu Ghraib.

Nadia adalah salah satu korban dari ratusan korban para tentara Amerika di penjara Abu Ghraib. Dia ditangkap tanpa alasan. Ketika dia dibebaskan dari penjara, ia tidak langsung kembali ke pangkuan keluarganya sebagaimana kebanyakan tahanan lainnya yang telah mengalami hal buruk, meski dia telah terbakar oleh api penindasan dan merasakan kerinduan pada keluarganya. Nadia kabur dengan segera setelah dia dibebaskan dari penjara terkutuk buatan Amerika, Negara pencipta para teroris dan penebar kejahatan kemanusiaan. Satu hal yang membuatnya merasa malu adalah pemerkosaan dan penyiksaan yang dilakukan oleh tentara Amerika. Dan apa yang dilami Nadia ini hanya secuil peristiwa tragis. Inilah secuil peristiwa yang ia paparkan:

Aku sedang mengunjungi salah seorang kerabatku, kemudian tiba-tiba tentara Amerika memasuki rumahnya dan mulai menggeledah rumah itu. Mereka menemukan beberapa senjata ringan. Maka merekapun menangkap semua orang yang berada di rumah itu termasuk aku. Aku mencoba menjelaskan pada penerjemah yang menyertai patroli Amerika bahwa aku hanyalah seorang pengunjung. Akan tetapi pembelaanku gagal. Aku kemudian menangis, memohon pada mereka, sampai hilang kesadaran karena takut ketika mereka membawaku ke penjara Abu Ghraib. Mereka menempatkanku sendirian di sebuah sel penjara yang gelap dan kotor. Aku berharap aku akan segera dibebaskan, utamanya setelah penyelidikan terbukti aku tidak melakukan kejahatan.

 Hari pertama sangat menyusahkan. Selnya berbau tidak sedap, lembab dan gelap. Kondisi ini membuatku semakin lama semakin takut. Suara tertawa prajurit di luar sel semakin membuatku ketakutan. Aku khawatir akan apa yang menimpaku nanti. Untuk pertama kalinya aku merasa berada dalam cengkraman situasi yang sulit dan aku telah memasuki sebuah dunia yang tidak dikenal yang aku tidak akan pernah keluar darinya.

Di tengah beraneka ragamnya perasaanku saat itu, aku mendengar suara seorang tentara wanita Amerika berbicara dalam bahasa Arab. Dia berkata kepadaku: “Aku tidak mengira penjual senjata di Iraq adalah wanita.” Ketika aku mulai mencoba menjelaskan kepadanya kondisi yang sebenarnya, dia memukulku dengan kejam dan bengis. Tak hanya itu saja, tentara wanita itu menghujaniku dengan cacian dengan cara yang belum pernah aku bayangkan bisa terjadi atau aku akan diperlakukan seperti itu dalam keadaan apapun selamanya. Kemudian dia mulai menertawakanku sambil mengatakan bahwa dia telah memonitorku sepanjang hari dengan satelit, dan bahwa mereka mampu melacak musuh-musuh mereka meskipun sedang berada di dalam kamar tidur mereka sendiri dengan teknologi Amerika.

Kemudian dia tertawa dan berkata, ”Aku mengawasimu ketika kamu bercinta dengan suamimu.” Aku menjawab dengan suara kebingungan “Tapi aku belum menikah dan aku belum pernah tidur dengan seorang lelaki”. Merasa dustanya terungkap dengan jawabanku itu, dia memukuliku selama lebih dari 1 jam dan dia memaksaku minum segelas air, yang kemudian kuketahui mereka memberi obat di air itu. Aku mendapatkan kembali kesadaranku setelah 2 hari dalam keadaan telanjang. Segera aku tahu jika aku telah kehilangan sesuatu yang hukum apapun di dunia tidak akan mampu mengembalikannya kepadaku lagi. Aku telah diperkosa. Aku kemudian histeris tak terkontrol, dan aku mulai memukulkan kepalaku dengan keras ke tembok sampai lebih dari lima tentara Amerika yang dikepalai tentara wanita itu memasuki sel dan mulai memukuliku, kemudian mereka memperkosaku bergantian sambil tertawa-tawa dan menperdengarkan musik dengan keras.

Hari demi hari skenario pemerkosaan terhadapku diulangi. Dan setiap hari mereka menemukan cara baru yang lebih kejam dibanding dengan yang sebelum-sebelumnya. Setelah sekitar satu bulan, seorang tentara negro memasuki selku dan melemparkan 2 potong pakaian militer Amerika kepadaku. Dalam bahasa Arab yang lemah dia mengatakan agar aku memakainya. Setelah dia menutup kepalaku dengan kantong hitam, dia menuntunku ke toilet umum yang ada pipa untuk air dingin dan panas, dan dia memintaku untuk mandi. Kemudian dia menutup pintu dan pergi. Aku menjadi sangat lelah dan merasakan kesakitan, tanpa mempedulikan banyaknya memar di tubuhku aku menuangkan sejumlah air ke badanku. Sebelum aku selesai mandi, tentara negro tadi masuk ke dalam. Aku ketakutan dan memukul wajahnya dengan mangkok air. Namun dia sangat kuat, dia memperkosaku dengan kejam dan meludahi mukaku, kemudian dia pergi dan kembali lagi dengan 2 tentara yang membawaku kembali ke sel.

Perlakuan seperti itu terus berlanjut, yang paling parah kadang aku diperkosa sampai 10 kali dalam sehari, membuat kesehatanku sangat buruk. Setelah lebih dari 4 bulan, seorang tentara wanita datang, dan aku menyimpulkan dari percakapannya dengan tentara lainnya jika namanya adalah Mary. Dia berkata kepadaku,  “sekarang kamu memiliki kesempatan emas, karena seorang petugas yang memiliki posisi tinggi akan mengunjungi kita hari ini. Jika kamu menghadapinya dengan sikap yang positif kamu akan dibebaskan, terutama karena kami sekarang yakin kamu tidak bersalah.”

Aku menjawab, ”Jika kalian yakin aku tidak bersalah, mengapa kalian tidak membebaskan aku?” Dia menjerit dengan gelisah, ”Satu-satunya yang menjamin terbebasnya kamu adalah sikap positifmu terhadap mereka.” Dia membawaku ke toilet umum, dan dia mengawasiku mandi sambil membawa tongkat tebal untuk memukulku jika aku tidak melakukan perintahnya. Kemudian, dia memberiku make up, dan memperigatkanku untuk tidak menangis dan merusak make up-ku. Lalu dia membawaku ke sebuah ruangan kosong yang di situ tidak ada apapun kecuali sebuah penutup lantai. Setelah satu jam dia datang dengan ditemani 4 tentara dengan memegang kamera. Dia melepas bajunya dan mulai menggangguku seoalah-olah dia adalah seorang lelaki. Tentara lainnya tertawa dan memperdengarkan musik yang ribut, mengambil photoku dalam berbagai pose, dan mereka menunjuk-nunjuk wajahku. Yang wanita menyuruhku tersenyum, jika tidak dia akan membunuhku. Dia mengambil pistol dari salah satu temannya dan menembakkan empat peluru di dekat kepalaku seraya bersumpah bahwa peluru yang kelima akan ditembakkan tepat di kepalaku.

Setelah itu, keempat tentara lainnya memperkosaku secara bergantian sampai aku kehilangan kesadaranku. Ketika kesadaranku pulih aku menemukan diriku di sel dengan bekas-bekas gigitan, kuku dan rokok ada di sekujur tubuhku. Kemudian suatu hari Mary datang dan mengatakan kepadaku bahwa aku kooperatif dan akan dibebaskan setelah aku menonton film yang mereka rekam. Aku merasa sakit setelah menonton filmnya, dan Mary mengatakan, ”Kamu telah diciptakan hanya untuk membuat kami bersenang-senang”. Saat itu aku menjadi sangat marah dan aku menyerangnya meskipun aku takut akan reaksinya, aku akan membunuhnya kalau saja tentara lain tidak turut campur. Ketika para tentara melepaskanku, Mary menghujaniku dengan pukulan, kemudian mereka meninggalkanku.

Setelah kejadian itu, tidak ada seorangpun yang menggangguku selama lebih dari satu bulan. Aku menghabiskan masa itu dengan beribadah dan berdoa Allah Swt yang memiliki seluruh kekuatan untuk menolongku. Mary datang dengan beberapa tentara yang memberiku pakaian yang kukenakan ketika mereka menangkapku dan membawaku ke sebuah mobil Amerika. Kemudian mereka melemparkanku di sebuah jalan raya setelah memberiku 10.000 dinar Iraq. Aku pergi ke sebuah rumah yang berdekatan dengan tempat aku dibuang, dan untuk mengetahui reaksi keluargaku, aku memilih mengunjungi salah seorang kerabatku supaya mereka mengetahui apa yang telah menimpaku ketika menghilang. Aku mengetahui bahwa saudaraku telah memasang papan tanda duka untukku selama lebih dari 4 bulan, mereka menganggapku sebagai orang yang sudah mati.

Aku memahami jika tikaman malu sudah menungguku. Maka, aku pergi ke Baghdad dan menemukan sebuah keluarga yang baik yang menampungku, dan aku bekerja pada keluarga ini sebagai pembantu dan guru privat bagi anak-anaknya. Siapa yang akan memuaskan dahagaku? Siapa yang akan mengembalikan keperawananku? Apa salah keluarga dan familiku? Kini aku mengandung seorang bayi, bahkan akupun tidak tahu siapa ayahnya.