Ledakan Nuklir Supernova


Oleh Lawrence M. Krauss (Fisikawan Penulis Fisika Star Trek)

Ketika galaksi kita mulai memadat dari proses pemuaian jagat raya, kurang lebih sepuluh sampai dua-puluh milyar tahun lalu, sebagian besar generasi pertama bintang-bintang masih terbuat dari hidrogen dan helium, yang merupakan satu-satunya elemen yang terjadi dalam jumlah besar selama proses “Dentuman Akbar”.

Proses fusi di dalam bintang-bintang ini terus mengubah hidrogen menjadi helium. Ketika persediaan hidrogen habis, helium mulai “terbakar” untuk membentuk elemen yang lebih berat. Reaksi penyatuan ini akan terus berlangsung untuk memberi tenaga kepada bintang sampai seluruh inti berubah menjadi besi.

Besi tidak dapat melewati proses fusi untuk membentuk elemen yang lebih berat, sehingga habislah bahan-bakar bintang tersebut. Kecepatan bintang membakar persediaan nuklir tergantung kandungan massa. Setelah lima milyar tahun membakar hidrogen, matahari kita belum sampai separuh jalan fase pertama proses evolusi bintang.

Bintang-bintang bermassa sepuluh kali lipat Matahari, sepuluh kali seberat matahari, membakar bahan bakar seribu kali kecepatan Matahari. Bintang-bintang itu akan menghabiskan persediaan hidrogen kurang dari seratus juta tahun, tidak seperti Matahari yang membutuhkan sepuluh milyar tahun.

Apa yang terjadi dengan bintang-bintang ini jika kehabisan persediaan nuklir? Dalam tempo beberapa detik setelah bahan bakar nuklir habis, bagian luar bintang akan meledak dalam proses yang dikenal sebagai Supernova –salah satu kembang api yang paling spektakuler di jagat-raya. Supernova sejenak bersinar seperti gabungan milyaran bintang.

Pada saat sekarang, hal ini terjadi di galaksi pada kecepatan sekitar dua atau tiga kali seabad. Hampir seribu tahun yang lalu, astronom Cina mengamati bintang baru yang muncul di sianghari. Mereka namakan bintang itu “bintang tamu”.

Supernova menghasilkan sesuatu yang sekarang bisa kita amati lewat teleskop –bernama Crab Nebula (kelihatan seperti awan yang mirip bentuk kepiting). Sungguh menarik mengetahui bahwa obyek yang berumur singkat ini tidak tercatat di daerah mana pun di Eropa Barat.

Dogma gereja masa itu mengatakan bahwa surga bersifat abadi dan tidak pernah berubah. Oleh karena itu lebih enak membisu ketimbang dibakar sampai mati (di-inkuisisi seperti ribuan orang yang dituduh sebagai tukang sihir). Hampir lima ratus tahun kemudian, astronom Eropa memberontak, dan seorang astronom Denmark bernama Tycho Brahe, berhasil merekam Supernova berikutnya di galaksi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar