Kenapa Imam Ali Tidak Menuntut Hak Kekhalifahannya?


Seseorang telah bertanya kepada Imam Ali as, “Jika hak kekhilafahan Anda didasari nash-nash yang jelas, mengapa Anda tidak menuntut hak kekhilafahannya ketika Abu Bakar mengambil alih kekhilafahan setelah Rasulullah Saw wafat?” Imam Ali as menjawab pertanyaan ini: “Demi Allah, bukannya aku takut (tidak ada yang menghalangiku dari rasa takut) dan bukan pula aku takut mati, akan tetapi saudaraku, Rasulullah Saw telah mencegahku, seraya berkata kepadaku: “Wahai Abal Hasan, sesungguhnya umat ini akan mengingkari (hak kekhilafahan)mu sedangkan engkau melaksanakan janjiku sebagaimana Harun kepada Musa.”

Aku (Imam Ali) pun bertanya kepada Rasulullah Saw: “Apa yang akan engkau perintahkan kepadaku apabila hal ini terjadi?” Nabi Saw menjawab, “Apabila engkau mendapatkan sahabat-sahabat yang menolong maka tahanlah tanganmu dan peliharalah darahmu sampai engkau menyusulku sesudah engkau dizalimi.”

Ima Ali as berkata, “Sesungguhnya aku ini mengambil suri tauladan tujuh para nabi. Yang pertama, adalah Nabi Nuh as yang ketika mengadu kepada Tuhannya: “Maka dia (Nuh) mengadu kepada Tuhannya: Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah,” (QS Al-Qamar [54] ayat 10).

Dan yang kedua, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil as yang berkata, “Dan Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah,” (QS Maryam [19] ayat 48).

Dan yang ketiga adalah Nabi Luth as yang mengatakan, “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat,” (QS Hud [11] ayat 80).

Dan yang keempat, adalah Nabi Yusuf as yang mengatakan : “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh,” (QS Yusuf [12] ayat 33).

Dan yang kelima, Nabi Musa as yang berkata, “Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu,” (QS Al-Syu’ara [26] ayat 21).

Dan yang keenam, adalah Nabi Harun as yang berkata kepada Nabi Musa as, Sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku,” (QS Al-A’raf [7] ayat 150).

Adapun yang ke tujuh adalah Rasulullah Saw yang ketika menyelamatkan diri dari kaum Musyrik Quraisy menuju sebuah gua (Tsur).

Seseorang telah bertanya kepada Imam Ali al-Ridha as: “Mengapa Imam Ali tidak melawan (memerangi) musuh-musuhnya selama 25 tahun sesudah Rasulullah Saw wafat, akan tetapi beliau memerangi mereka saat beliau menjadi khalifah?”

Imam Ali al-Ridha as menjawab : “Karena beliau mengikuti jejak langkah Rasulullah Saw yang membiarkan kaum musyrikin dan tidak memerangi mereka di Makkah selama 13 tahun setelah kenabiannya. Dan itu beliau lakukan dikarenakan jumlah pendukung beliau masih teramat sedikit. Begitu pulalah yang dilakukan Imam Ali as.

Dan apabila kita megikuti Al-Quran yang mulia, kita akan menemukan 2 macam argumen yang sangat kuat. Yang pertama adalah al-Quran yang meyuruh beliau bersabar atas gangguan kaum musyrikin: “Bersabarlah dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” (QS Al-Nahl [16] ayat 126).

Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (QS Al-Muzzamil [73] ayat 10).

Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar.” (QS Al-Ahqaaf [46] ayat 35).

Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri.” (QS 52 : 48).

Dan satu macam lagi al-Quran yang mulia menyuruh beliau berperang: “Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas.” (QS Muhammad [47] ayat 35).

Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.” (QS Al-Taubah [9] ayat 14).

Apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang ingkar maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka.” (QS Muhammad [47] ayat 4).

Allah telah menyampaikan kepada Nabi-Nya ayat-ayat agar beliau bersabar ketika jumlah sahabat-sahabat beliau belum memadai, namun Dia juga memerintahkan Nabi-Nya menggunakan kekerasan ketika Nabi Saw telah memiliki kekuatan yang seimbang dengan musuh dan menghancurkan para mufsidin sampai ke akar-akarnya. Dan dengan hujjah-hujjah ini, jelaslah bahwa sesungguhnya sabar itu baik dalam beberapa keadaan tertentu, tapi tidak seluruhnya.

(Dikutip dari kitab Al-Syi’ah wa al-Hakimun hlm. 18, yang disusun oleh Syekh Muhammad Jawad al-Mughniyyah




Tidak ada komentar:

Posting Komentar